“Inilah martabat yang sesungguhnya. Inilah kedudukan dan kehormatan yang sebenar-benarnya!”

“Inilah martabat yang sesungguhnya. Inilah kedudukan dan kehormatan yang sebenar-benarnya!”

Seandainya kita mengira bahwa ucapan tersebut ditujukan kepada seorang khalifah kaum muslimin, pemimpin umat Islam seantero dunia, niscaya kalimat itu telah menempatkan dirinya pada tempat yang layak.

Namun sayangnya, telah salah dugaan kita kali ini.

Percayakah Anda bila yang mengucapkannya justru seorang khalifah kaum muslimin, sang pemegang tampuk kekuasaan tertinggi umat islam seantero dunia?

Percayakah pula anda jika ucapan tersebut tertuju kepada seseorang yang tak lebih dari sekadar bekas hamba sahaya?

Bahkan, apabila melihat kondisi fisik beliau, seharusnya membuat kedudukan beliau kurang diperhitungkan. Sebab, beliau memiliki kekurangan pada jasmaninya.

Kepada lelaki semacam itulah kalimat itu terucap.

Jika Anda merasa heran, cermati dan izinkanlah kisah berikut menghapus keheranan itu.

Al Ashma’iy berkisah, “Suatu ketika Atha’ bin Abi Rabah datang menghadap Abdul
Malik bin Marwan, sang khalifah kaum muslimin ketika itu. Kebetulan beliau tengah melaksanakan ibadah haji di Makkah, kota di mana Atha’ bermukim.

Saat itu sang khalifah tengah duduk di atas dipannya. Sementara itu, para pejabat dan orang-orang penting berada di sekelilingnya.

Ketika pandangan Abdul Malik menangkap kedatangan Atha’, sang khalifah pun berdiri menyambutnya, seraya bersegera mendahului mengucap salam.

Sejurus kemudian, beliau didudukkan di tempat di mana khalifah duduk.
Dengan takzim, sang khalifah duduk menghadap Atha’ sembari berkata, “Wahai Abu Muhammad (julukan Atha’) adakah keperluanmu yang bisa aku bantu?”

Atha’ menjawab, “Wahai amirul mukminin, bertakwalah engkau kepada Allah dalam urusan dua tanah suci (Makkah & Madinah) dan berjanjilah engkau untuk senantiasa memakmurkannya.

Bertakwalah pula engkau dalam perkara anak keturunan kaum Muhajirin dan Anshar. Sungguh, dengan sebab merekalah engkau bisa mencapai kedudukanmu saat ini.

Bertakwalah juga engkau dalam urusan para penjaga perbatasan negeri kaum muslimin.
Sebab, merekalah benteng umat islam.

Senantiasalah engkau perhatikan secara saksama bagaimana kondisi kaum muslimin. Karena kelak engkau akan bersendiri ditanya oleh Allah tentang mereka.

Dan bertakwalah dirimu atas orang-orang yang mengetuk pintumu. Janganlah engkau halangi mereka untuk menyampaikan hajatnya.”

Setelah mendengar itu semua, Abdul Malik bin Marwan dengan tegas menjawab, “Ya. Akan aku lakukan itu semua.”

Seketika itu, bangkitlah Atha’ berdiri hendak pergi. Melihatnya, tak urung sang khalifah menahannya seraya berkata, “Wahai Abu Muhammad, engkau telah memohonkan kepada kami apa yang merupakan kepentingan orang lain. Sungguh, telah kami sanggupi itu semua. Oleh karena itu, sebutkanlah apa yang menjadi kebutuhan pribadimu!”

Atha’ menjawab, “Aku tidak memiliki kebutuhan yang harus aku pinta kepada makhluk.”

Kemudian, beliau pun keluar dari majelis tersebut.

Saat itulah, Abdul Malik sang khalifah berucap,

“Inilah martabat yang sesungguhnya. Inilah kedudukan dan kehormatan yang sebenar-benarnya!”
……………………………………..

Benar. Beliau adalah Abu Muhammad Atha’ bin Abi Rabah. Pemuka tabiin pada masanya. Sosok yang menjadi kebanggaan para ulama dan fukaha ketika itu.

Mantan budak belian yang dibebaskan oleh tuannya saat melihat kesungguh-sungguhannya dalam menimba ilmu dari para shahabat Nabi di kota Makkah. Sosok yang kelak menjadi muftinya kota itu.

Demikianlah ilmu agama, memuliakan yang hina saat memilikinya dan merendahkan yang mulia saat berpaling darinya.

(Disarikan dari kitab Siyar A’lamin Nubala’ karya adz-Dzahabi, ketika menjelaskan biografi Atha’ bin Abi Rabah)

© 1442 / 2020 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.
Enable Notifications    Ok No thanks