Doa Adalah Kunci Segala Kebaikan

DOA ADALAH KUNCI SEGALA KEBAIKAN

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

اساس كل خير أن تعلم أن ما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن؛ فتتيقن حينئذ أن الحسنات من نعمه؛ فتشكره عليها وتتضرع إليه أن لا يقطعها عنك، وأن السيئات من خذلانه وعقوبته، فتبتهل إليه أن يحول بينك وبينها، ولا يكلك في فعل الحسنات وترك السيئات إلى نفسك

Pangkal segala kebaikan adalah engkau mengetahui bahwa apa yang dikehendaki Allah terjadi pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki Allah terjadi pasti tidak akan terjadi. Di saat itu, engkau akan meyakini bahwa perbuatan baik adalah salah satu nikmat Allah, lalu engkau bersyukur dan merendahkan diri kepada-Nya agar nikmat itu tidak dicabut oleh-Nya. Engkau juga meyakini bahwa pebuatan jelek merupakan salah satu bentuk penelantaran dan hukuman Allah, lalu engkau memohon agar Allah meletakkan pemisah antara dirimu dan perbuatan jelek itu. Engkau juga memohon agar dalam mengerjakan kebaikan dan meinggalkan kejelekan, Allah tidak menyerahkanmu kepada dirimu sendiri (tidak mau menolong dan mengurusimu).

وقد أجمع العارفون على أن كل خير، فأصله بتوفيق الله للعبد، وكل شر، فأصله خذلانه لعبده

Para ahli makrifat sepakat bahwa asal segala kebaikan adalah taufik dari Allah kepada hamba, sementara asal segala kejelekan adalah bentuk penelantaran Allah kepada hamba.

وأجمعوا أن التوفيق أن لا يكلك الله إلى نفسك، وأن الخذلان أن يخلى بينك وبين نفسك

Mereka sepakat bahwa taufik adalah Allah tidak menyerahkanmu kepada dirimu sendiri, sementara bentuk penelantaran-Nya adalah Dia membiarkanmu berjalan bersama dirimu sendiri (tidak ditolong dan diurus Allah).

ﻓﺈﺫا ﻛﺎﻥ ﻛﻞ ﺧﻴﺮ ﻓﺄﺻﻠﻪ اﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻭﻫﻮ ﺑﻴﺪ الله ﻻ ﺑﻴﺪ اﻟﻌﺒﺪ ﻓﻤﻔﺘﺎﺣﻪ اﻟﺪﻋﺎء ﻭاﻻﻓﺘﻘﺎﺭ ﻭﺻﺪﻕ اﻟﻠﺠﺄ ﻭاﻟﺮﻏﺒﺔ ﻭاﻟﺮﻫﺒﺔ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻤﺘﻰ ﺃﻋﻄﻰ اﻟﻌﺒﺪ ﻫﺬا اﻟﻤﻔﺘﺎﺡ ﻓﻘﺪ ﺃﺭاﺩ ﺃﻥ ﻳﻔﺘﺢ ﻟﻪ ﻭﻣﺘﻰ ﺃﺿﻠﻪ ﻋﻦ اﻟﻤﻔﺘﺎﺡ ﺑﻘﻲ ﺑﺎﺏ الخير ﻣﺮﺗﺠﺎ ﺩﻭﻧﻪ

Jika asal (sumber) kebaikan adalah taufik, ketahuilah taufik itu berada di tangan Allah, bukan di tangan hamba.

Maka dari itu, kuncinya adalah doa.

Demikian pula (kuncinya adalah) merasa butuh, jujurnya penyandaran, rasa harap, dan rasa takut (semuanya hanya kepada Allah).

Oleh karena itu, ketika seorang hamba diberi kunci ini (yakni doa), sungguh Allah sedang menghendaki untuk membukakan (pintu-pintu kebaikan) untuknya.

Sebaliknya, apabila seorang hamba tidak diberi kunci ini (yakni doa); sungguh pintu-pintu kebaikan telah tertutup rapat baginya.

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu berkata,

ﺇِﻧِّﻲ ﻻَ ﺃَﺣْﻤِﻞُ ﻫَﻢَّ اﻹِْﺟَﺎﺑَﺔِ، ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻫَﻢَّ اﻟﺪُّﻋَﺎءِ، ﻓَﺈِﺫَا ﺃُﻟْﻬِﻤْﺖُ اﻟﺪُّﻋَﺎءَ ﻓَﺈِﻥَّ اﻹِْﺟَﺎﺑَﺔَ ﻣَﻌَﻪُ

“Sungguh, aku tidak terlalu merisaukan apakah doaku dikabulkan atau tidak (karena pasti dikabulkan). Akan tetapi, yang aku khawatirkan, apakah aku mendapatkan taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk berdoa ataukah tidak. Sebab, apabila aku telah diberi taufik untuk berdoa, sungguh pengabulan itu pasti menyertainya.”

(Al Fawaaid lil imam Ibnul Qayyim, hal. 182-183)

© 1442 / 2020 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.
Enable Notifications    Ok No thanks