Tak Kenal Maka Tak Sayang – Bagian 2

TAKKENAL2

Tak Kenal Maka Tak Sayang 

(bagian ke 2)

Abu Mulaikah rahimahullahu berkata : Ada seorang arob badui di zaman khalifah Umar radhiyallahu `anhu datang ke kota madinah. Kemudian badui tersebut bertanya kepada orang-orang di madinah : “Siapa yang mau membacakan kepada diriku dari apa-apa yang telah Allah turunkan kepada Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam? Maka ada seorang lelaki membacakan surat Baraah (surat At Taubah) sampai pada ayat …. Annallaha bariiun minal musyrikiina wa rasulihi [di baca dengan kasroh] artinya : bahwa sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrikun dan RasulNya , (yang betul di baca rofa` yaitu wa rasuluhu ,maka artinya : bahwa sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikun  _pen)  Seketika badui tersebut kaget sambil berkata:

“Sungguh Allah telah berlepas diri dari Rasulullah? Jika Allah telah berlepas dari RasulNya, maka akupun lebih berlepas diri dari Rasulullah , maka berita tentang kisah badui ini sampai kepada Amirul Mukminin Umar radhiyallahu `anhu, maka beliau pun memanggil badui tersebut dan berkata : Wahai badui, apakah engkau telah berlepas diri dari Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam ? kemudian badui tersebut menceritakan kisahnya, Wahai Amirul Mukminin, sungguh aku datang ke madinah dalam keadaan diriku tidak mengetahui tentang Alquran, maka aku pun bertanya kepada orang-orang madinah siapa yang bersedia mengajarkan diriku apa-apa yang Allah telah turunkan kepada RasulNya, maka ada lelaki yang mengajarkan surat Baraah (seperti kisah di atas_pen).

Umar radhiyallahu `anhu berkata kepada badui : “Wahai badui ,bukan seperti itu memahaminya “. Badui pun berkata : “bagaimana yang benar wahai Amirul Mukminin?

Maka Umar radhiyallahu `anhu mengajari dan membacakan bacaan yang benar dari surat Baraah. Akhirnya badui tersebut berkata:  “Maka aku demi Allah, berlepas diri dari apa-apa yang Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikun.” Sejak saat itu Umar radhiyallahu `anhu membuat peraturan yaitu : Tidak boleh seorang pun membacakan Alquran kepada manusia kecuali orang yang menguasai ilmu balaghoh (ilmu nahwu_pen), maka setelah peristiwa itu Umar radhiyallahu `anhu memerintahkan Abul Aswad Ad Dualy untuk meletakkan dasar-dasar ilmu nahwu. [Aljaami` Li Ahkaamil Quran 1/30 cet. Daarul kutub ilmiah],

Namun yang masyhur di kalangan ulama bahwasannya yang memerintahkan pertama kali kepada Abul Aswad Ad Dualy untuk meletakkan dasar-dasar ilmu nahwu, ialah Amirul Mukminin Ali radhiyallahu`anhu Wallohu a`lam.

Faedah yang bisa di ambil dari kisah di atas:

  1. Seorang muslim sepantasnya memiliki perhatian terhadap Alquran, dengan mempelajarinya,membacanya dan memahami makna-maknanya dan yang terpenting mengamalkan isi kandungan alquran dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Seorang pemimpin senantiasa memiliki perhatian terhadap masyarakatnya,terkhusus ketika pemimpin tersebut melihat adanya kemungkaran untuk segera dirubah ke arah yang baik sesuai syariat islam.
  3. Pentingnya mempelajari ilmu nahwu (hukum akhir bacaan dalam kalimat).

Akhirnya, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala agar senantiasa menjadikan diri kita mencintai Alquran dan ilmu Nahwu amin yaa mujibas saailin.

Akhukum fillah Abu Ibrahim Abdurrahman Alfasawy fi daarul hadits fiyusy.

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.