PERINGATAN BAGI PARA PEMILIK AKAL YANG BERSIH DARI APA YANG ADA DALAM WATSIQAH MUHAMMAD AL-IMAM BERUPA PENYIMPANGAN DAN SERAMPANGAN [bagian 1]

PERINGATAN BAGI PARA PEMILIK AKAL YANG BERSIH DARI APA YANG ADA DALAM WATSIQAH MUHAMMAD AL-IMAM BERUPA PENYIMPANGAN DAN SERAMPANGAN (Bagian 1)

Ditulis oleh: Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhafiry hafizhahullah

***

Pengantar oleh: Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah.

Pengantar dari Asy-Syaikh Al-Allaamah Shahilh bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ta’ala.

Segala pujian kesempurnaan milik Allah. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad keluarga beliau dan shahabat beliau. Wa ba’du.

Saya telah meneliti risalah ini yang berjudul : ”Peringatan bagi orang yang memiliki akal yang bersih” karya Asy-Syaikh Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhafiri semoga Allah memberinya taufiq. Dan saya melihat telah mencukupi pada topik pembahasannya. Maka semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan dan memberi manfaat dengan ilmu beliau.

Ditulis oleh:  Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. Anggota Haiah Kibarul Ulama  Pada 1/11/1436

***

MUKADIMAH

Sesungguhnya segala pujian itu adalah milik Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, kita berlindung kepada Allah dari kejelekkan-kejelekkan jiwa-jiwa kita dan kejelekkan amalan-amalan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkanNya maka tidak ada yang bisa menunjukinya.

Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.

”Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran 102)

”Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian. (QS. An-Nisa 1)

”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagi kalian amalan-amalan kalian dan mengampuni bagimu dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS. Al-Ahzab 70-71)

Amma ba’du. Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kalamullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bidah dan setiap yang bidah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu di neraka.

Wa ba’du..

Maka sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendidik kita dalam kitab-Nya agar kita kembali kepada ulama ketika terjadi fitnah, karena mereka adalah ahli kebenaran dan petunjuk, mereka adalah pemilik pandangan dan hujjah. Mereka menghidupkan dengan Kitabullah orang-orang yang sudah mati hatinya, menjadikan  orang-orang yang sudah buta bisa melihat dengan cahaya Allah. Merekalah yang menepis dari Kitabullah penyimpangan orang-orang yang ekstrim, dan penyelewengannya orang-orang batil, penafsirannya orang-orang bodoh. Merekalah orang yang mengikat panji-panji bidah dan melepaskan tali-tali ikatan fitnah. Karena sebab ini, Rabb kita mewajibkan atas kita untuk merujuk kepada mereka.

Maka Allah berfirman yang artinya:

”Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).”(QS. An-Nisa 83)

Maka dari itu, tidaklah muncul suatu fitnah pada suatu kaum dan mereka menyalakan kobarannya, kecuali karena kehilangan ulama, atau tidak mau merujuk kepada mereka. Al-Imam Al-Bukhary rahimahullah berkata ;

”Bab bagaimana dicabutnya ilmu?” Dan Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Abu Bakr bin Hazm : ”Lihatlah apa-apa yang berasal dari hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka tulislah. Karena sesungguhnya saya takut akan hilangnya ilmu dan perginya tttpara ulama. Dan janganlah engkau menerima kecuali hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan agar kalian menyebarkan ilmu dan kalian duduk hingga orang yang tidak mengetahui menjadi tahu. Maka sesungguhnya ilmu itu tidak hilang sampai ia dalam keadaan tersembunyi.”

Kemudian Al-Imam Al-Bukhary  berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abi Uwais, berkata : Telah menceritakan kepadaku Malik dari Hisyam dari  Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin Amr bin Ash berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu alahi wasallam bersabda :

”Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekali cabut dari para hamba, akan tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sampai jika Dia tidak menyisakan seorang alimpun, maka manusia mengambil pemimpin dari orang-orang bodoh. Lalu mereka ditanya maka mereka berfatwa dengan tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan. (Fathul baari 1/93)

Maka saya (Syaikh Abdullah bin Shalfiq) katakan : ”Dan ini yang terjadi pada Muhammad bin Abddullah ar-Raimiy yang lebih dikenal dengan Muhammad al-Imam, penghuni markas An-Nuur di Ma’bar Yaman. Ketika ia menetapkan perjanjian kesepakatan bersama rafidhah dalam keadaan ia tidak merujuk kepada para ulama rabbaniyiin dan tidak meminta petunjuk kepada mereka.

Dan ia memposisikan dirinya di dalam perjanjian itu sebagai wakil dari salafiyiin. Seolah-olah salafiyah itu adalah sebuah kelompok seperti kelompok-kelompok yang menetapkan akad-akad dan perjanjian-perjanjian tanpa merujuk kepada pemerintah atau ulama rabbaniyiin, yang kita secara syariat diperintahkan untuk merujuk kepada mereka.

Oleh karena itu para ulama dan penuntut ilmu dari para masyayikh kita dan saudara-saudara kita ahlussunnah di Saudi dan Yaman telah mengingkari perjanjian yang berbahaya ini yang memuat di dalam kandungannya kemungkaran-kemungkaran yang besar. Dan sungguh mereka (yang membantah) telah mencukupi dan memuaskan bagi orang yang menginginkan al-haq dan mencurahkan pendengaran dalam keadaan ia menyaksikan. Diantara mereka adalah :

1.  Yang mulia Syaikh kami Robi’ bin hadi Al-Madkhali hafizhahullah
2. Yang mulia Syaikh kami Ubaid bin Abdillah Al-Jaabiry hafizhahullah
3. Yang mulia Asy-Syaikh Doktor Abdullah bin Abdirrahim Al-Bukhary hafizhahullah
4. Yang mulia Asy-Syaikh Doktor Arafat bin Hassan Al-Muhammady hafizhahullah
5. Yang mulia Asy-Syaikh Al-Mujahid Hani bin Ali Al-Buraik hafizhahullah.

Hanya saja saya akan menulis beberapa catatan atasnya dan menambahkan padanya apa yang belum mereka paparkan. Yang demikian itu karena dua perkara :

Yang pertama: Terus menerusnya Muhammad al-Imam membela watsiqah tersebut dan menerapkan poin-poin yang ditetapkan hingga sekarang. Padahal Pemerintah negeri Yaman dan Saudi serta negara-negara Teluk telah melakukan operasi peperangan melawan Hutsi yang telah melanggar kesepakatan-kesepakatan, mereka membunuh para ahlussunnah dan sering sekali berlaku curang terhadap mereka. Dan mereka berwala dengan negeri Iran, dalam keadaan Iran menyokong mereka dengan suplai senjata dan peralatan tempur.

Yang kedua: Penyesatan yang dilakukan pengikut Muhammad al-Imam kepada manusia, dengan mengada-adakan perkataan dusta atas nama yang mulia Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, bahwasanya beliau mendukung perjanjian ini.

Dan berikut ini adalah gambar watsiqah tersebut kemudian bantahan atasnya. (Gambar Watsiqah dan bantahan ada pada Risalah Syaikh Abdullah bin Shalfiq download pada link berikut : https://app.box.com/s/sdt0df4l4laj7073c7rpkfjt3a1ed2sf)

* Alih bahasa : Ustadz Abu Hafs Umar al Atsary

Bersambung In Sya Allah…

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.