PERINGATAN BAGI PARA PEMILIK AKAL YANG BERSIH DARI APA YANG ADA DALAM WATSIQAH MUHAMMAD AL-IMAM BERUPA PENYIMPANGAN DAN SERAMPANGAN (Bagian 9-Selesai)

PERINGATAN BAGI PARA PEMILIK AKAL YANG BERSIH DARI APA YANG ADA DALAM WATSIQAH MUHAMMAD AL-IMAM BERUPA PENYIMPANGAN DAN SERAMPANGAN (Bagian 9-Selesai)

Ditulis oleh: Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhafiry hafizhahullah

YANG KETUJUH

Diantara isinya, ada bahaya yang sangat besar, yaitu apa yang dilakukan oleh pengikut Muhammad al-Imam berupa penyesatan manusia dengan mengada-adakan perkataan dusta atas nama Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, kalau beliau mendukung watsiqah ini. Dan termasuk hal ini adalah apa yang dimuat dalam situs As-Salafiyah, yang dinukilkan oleh Utsman As-Salimi dan Jamil Al-Hamili, dan sesungguhnya mereka menunjukkan kepada (Asy-Syaikh) Al-Fauzan sebagian poin-poin watsiqah. Bahwasanya karena sebab ini beliau mendukung Muhammad al-Imam, bahwasanya beliau mengatakan [¹]:

[”Karena sebab (perjanjian ini) sudah ditanda tangani, maka selesai urusan.”]

bahwasanya beliau berkata : [”Sesungguhnya Asy-Syaikh Muhammad al-Imam itu lebih tahu keadaannya yakni keadaan negeri (Yaman).”]
bahwasanya beliau berkata : [”Karena Asy-Syaikh Muhammad al-Imam sudah menanda-tangani watsiqah ini maka ini adalah perkara yang dicari, dalam rangka menjaga dakwah, darah dan kehormatan.”]

Maka aku katakan : Jika memang mereka jujur dalam menukilkan. Maka mereka tidaklah menjelaskan kepada Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan isi watsiqah secara lengkap.

Kalau seandainya mereka menunjukkan kepada Asy-Syaikh Al-Fauzan secara lengkap dengan apa yang nampak jelas belakangan hari dari sikap-sikap Muhammad Al-Imam terhadap Ashifatul Hazm, niscaya sikap Asy-Syaikh akan menolak watsiqah ini.

Bagaimana mungkin Asy-Syaikh Al-Fauzan akan menyetujui poin-poinnya dalam keadaan isinya seperti itu penuh dengan bencana dan penyimpangan akidah ?!

Dan cara-cara ini merupakan tadlis/penipuan yang ditempuh oleh pengikut hawa nafsu. Mengada-adakan perkataan dusta  atas nama ulama yang mereka berlepas diri darinya. Semisal mereka adalah orang yang menjadikan persetujuan Al-Fauzan terhadap rujuknya mereka (dari kesalahan) sebagai suatu tazkiyah dan pujian buat mereka. Atau menjadikan ucapan Al-Fauzan yang mengambil kebenaran dari orang yang mengatakannya, dianggap sebagai tazkiyah secara mutlak bagi orang yang mengeluarkan ucapan kebenaran tadi.

Dan Rasul shallallahu alaihi wasallam mengatakan kepada Abu Hurairah ketika syaithan mengkabarkan kepadanya tentang keutamaan ayat kursi : ”Dia telah berkata benar kepadamu padahal dia pendusta.” (HR. Al-Bukhary dalam shahihnya).

Maka mengambil kebenaran dari siapa saja yang mengucapkannya bukanlah tazkiyah baginya, dan tidak perlu lagi untuk pergi kepadanya dan mengambil ilmu darinya.
Dan ini adalah akhir bantahan terhadap perjanjian ini.

Kita memohon kepada Allah semoga Allah menunjuki orang yang tersesat dari kaum muslimin, menjauhkan kita dari fitnah yang menyesatkan.

Wallahu a’lam. Dan semoga shalawat,salam  dan barakah terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya semua.

Ditulis oleh  Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhafiri. Fajar hari selasa 26 syawal 1436

Sumber : https://app.box.com/s/sdt0df4l4laj7073c7rpkfjt3a1ed2sf

* Alih bahasa : Ustadz Abu Hafs Umar al Atsary

——————-

Catatan Kaki:

  1. Berkata al Allamah al Fauzan hafizhahullah:  Saya tidak pernah menelaah perjanjian tersebut dan bahkan tidak pernah saya melihatnya Dan wajib bagi (yang mengaku, bahwa saya menguatkan perjanjian tersebut) untuk mendatangkan bukti rekaman suaraku, tulisan tanganku atau tanda tanganku.

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.