PERINGATAN BAGI PARA PEMILIK AKAL YANG BERSIH DARI APA YANG ADA DALAM WATSIQAH MUHAMMAD AL-IMAM BERUPA PENYIMPANGAN DAN SERAMPANGAN (Bagian 5)

PERINGATAN BAGI PARA PEMILIK AKAL YANG BERSIH DARI APA YANG ADA DALAM WATSIQAH MUHAMMAD AL-IMAM BERUPA PENYIMPANGAN DAN SERAMPANGAN (Bagian 5)

Ditulis oleh: Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhafiry hafizhahullah

***

YANG KEEMPAT

Ucapan mereka : [”Saling hidup berdampingan dengan damai antara kedua pihak, tidak saling memancing konflik, tidak saling benturan, tidak saling menyerang, tidak saling memfitnah bagaimanapun situasinya dan alasan-alasannya, kebebasan berfikir dan berwawasan itu terjamin untuk semua pihak.”]

Dan ini juga termasuk bencana, dan atasnya ada beberapa kritikan:

1. Ucapan mereka dengan mutlak : [”Dan tidak saling memancing konflik, tidak saling berbenturan, tidak saling menyerang, tidak saling memfitnah, bagaimanapun keadaan dan alasannya.”] secara mutlak. Hal ini menunjukkan kebodohan, kelemahan dan sifat penakut.

Karena itu mengharuskan tidak bolehnya memerangi huthi sekalipun apa saja yang mereka perbuat, sampai sekalipun mereka memerangi dan membunuh Ahlussunnah di seluruh negeri Yaman. Atau biarpun kaum muslimin Ahlussunnah telah membuat seruan umum untuk berperang melawan hutsi, maka sesungguhnya Muhammad al-Imam akan tetap komitmen dengan watsiqahnya, tidak berperang bersama saudaranya kaum muslimim Ahlussunnah, sekalipun jihadnya itu fardhu ‘ain.

Demikian juga mengharuskan Muhammad al-Imam dan orang yang di bawahnya untuk komitmen dengan watsiqah ini dan kesepakatan mutlak ini, walaupun Huthi telah melakukan pengkhianatan dan pelanggaran. Dan berikutnya, mereka adalah para pemberontak terhadap daerah kesepakatan kaum muslimin dan daerah ketaatan kepada penguasa yang kaum muslimin telah bersatu dibawah kepemimpinannya di Yaman.

Dan ini apa yang harus dipegangi oleh Muhammad al-Imam bersama huthi berdasarkan atas kesepakatan yang telah ditetapkan. Bahkan sampai sekarang!! Maka sesungguhnya ia setelah  jumat pertama setelah operasi Militer Ashifatul hazm, ia berdiri mengingkari serangan ini-yang dilaksanakan karena huthi telah berkhianat dan melanggar perjanjian dan kesepakatan internasional- ia menamakannya sebagai perang fitnah, dan ia terus demikian. Dia tandaskan lagi pada khutbah yang ia sampaikan pada jumat 15 Syawal 1436. Ia menggambarkan pada khutbah tersebut, bahwasanya perang yang terjadi sekarang melawan Hutsi itu adalah perang fitnah.

Dan barang siapa yang tidak ikut perang berarti dia adalah orang berakal dan berilmu-yang dia maksud adalah dirinya dan orang yang bersamanya- dan ia menyebutkan beberapa dalil dan atsar yang berkaitan dengan itu, yang menunjukkan kalau dia hanya hafal dalil semata dan menukilkannya tanpa memahami isinya. Dia tidak membedakan antara perang jihad melawan para perusak dengan perang fitnah.

Maka diantara apa yang ia katakan dalam khutbahnya- yang saya dengar dan saya baca transkripnya:

a. Setelah menyebutkan hadits-hadits tentang pembunuhan, ia mengatakan : [”Ini adalah penjelasan Nabi yang agung tentang keadaan orang yang menghalalkan, berlezat-lezat, menerima dan tetap tenang dalam fitnah, dan mereka masuk ke dalamnya sehingga mereka terseret dalam fitnah yang besar ini.”] hingga ucapannya : [”Seperti kalian lihat, Yang mendorong kepada fitnah pembunuhan dan peperangan, tatkala kemarin (mulanya) itu adalah fitnah antara sebagian kelompok pada sebagian tempat, tiba-tiba pada hari ini menjadi pembunuhan dan peperangan antar negara dan bangsa”]

b. Ia berkata : [”Maka sesungguhnya aku di tempatku ini mengajak kepada kaum muslimin secara umum dan Ahlussunnah secara khusus agar mereka mengembalikan diri mereka ke posisi ini, agar mereka tahu apa yang Allah bukakan kepada siapa saja yang Allah kehendaki dari hamba-hambaNya dalam mengenali fitnah, pencegahannya, akibat-akibatnya, bahaya-bahayanya baik duniawi maupun ukhrawi.”]

Lalu ia menyebutkan atsar-atsar untuk menggambarkan kalau peperangan ini adalah perang fitnah. Dan ia menyebutkan atsar-atsar yang ia berdalil dengannya, bahwasanya orang yang faqih adalah orang yang menjauhinya, dan ia mengisyaratkan kepada sikapnya seperti disebutkan diatas.

c. Dia berkata sambil menyinggung operasi Ashifatul Hazm: [”Sesungguhnya orang yang beriman itu tidak akan memerangi siapapun kecuali orang yang Allah perintahkan kita untuk memeranginya. Tidak memerangi seorangpun berdasarkan ijtihad dalam beberapa masalah. Masalah-masalah ini tidak bisa diijtihadi padanya, tidak cukup dengan ijtihad, akan tetapi perkara ini harus didasarkan pada kemantapan, kalau tidak boleh membunuh seorang muslim dan tidak boleh memerangi seorang muslim. Hanya saja hal ini bisa dilakukan tatkala ia memiliki dalil yang seperti matahari di siang hari.“]

Aku katakan : Subhaanallah! dimana dia dari sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

”Jika seorang hakim berijtihad lalu ia benar, maka dia mendapatkan dua pahala, dan jika salah maka dia mendapatkan satu pahala. (HR. Muslim dalam shahihnya )

Dan sabda Nabi shallallahualaihi wasallam:

”Dan jika engkau mengepung penghuni benteng, lalu mereka memintamu agar engkau menempatkankan mereka pada hukum Allah, maka janganlah engkau tempatkan mereka, akan tetapi tempatkanlah mereka dengan hukummu. Karena sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau telah menerapkan pada mereka hukum Allah atau tidak.” (HR. Muslim dari Buraidah radhiyallahu anhu)

d. Ucapannya : [”Apakah mau diremehkan perkara ini, dan pembunuhan seorang muslim dianggap sebagai kejayaan dan kemuliaan? Dan pembunuhan seorang muslim dianggap sebagai pertolongan dan kemenangan? Siapa yang membunuh seorang muslim lalu menampakkan kemenangan, menampakkan rasa bangga, bahwasanya itu adalah awal kemenangan, kemenangan apa?
KEMENANGAN MENUJU JAHANAM? Hati-hati wahai miskin jangan engkau tertipu fitnah, bersabda Nabi alaihish shalaatu wassalam : Barang siapa yang membunuh seorang mukmin, lalu ia menumpahkan darah dengan membunuhnya, maka Allah tidak akan menerima amalan wajibnya tidak pula amalan sunnahnya.”] Dan seterusnya…

e. Hingga ucapan dia, sembari memperingatkan agar tidak masuk ke dalam peperangan yang terjadi di Yaman sekarang : [”Maka hati-hatilah wahai warga Yaman khususnya, kaum muslimin secara umum dan lebih khusus Ahlussunnah waljamaah, aku peringatkan mereka dari berdiam diri (dalam fitnah), mendekati dan menerima fitnah, untuk masuk ke dalam fitnah ini. Janganlah kalian bangga diri.. Dan ulama itu bertingkat-tingkat dalam mengenali fitnah, dalam mengenali akibat-akibat dan bahaya fitnah.”]

Kemudian ia menyebutkan atsar-atsar, ia mendudukannya untuk mendukung yang ia ucapkan. Kemudian ia berkata : Perhatikanlah ini adalah fitnah yang besar, fitnah yang besar, fitnah yang besar, seorang yang santun tidak akan mengenteng-entengkannya, tidak tergesa-gesa menerimanya. Oleh karena itu kami nasihatkan masyarakat kami untuk meninjau kembali urusannya…dst”].

~

Sumber: https://app.box.com/s/sdt0df4l4laj7073c7rpkfjt3a1ed2sf

* Alih bahasa : Ustadz Abu Hafs Umar al Atsary

Bersambung In Sya Allah

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.