PENGGEMBOS DAKWAH LEBIH BERBAHAYA DARI AHLI BID’AH

PARA PENGGEMBOS DAKWAH LEBIH BERBAHAYA DARI AHLI BID’AH

Asy Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkhali حفظه الله

Sikap selalu mengikuti bimbingan ulama Ahlus Sunnah yang mengajak umat agar berpegang teguh dengannya, ini adalah satu-satunya jalan setelah taufik dari Allah untuk menempuh jalan yang benar serta selamat dari hawa nafsu dan bid’ah. Saya telah mengatakannya dan telah sering saya sampaikan kepada kalian bahwa sesungguhnya termasuk keutamaan dari Allah bagi kita di zaman ini adalah –bahkan di samping merupakan keutamaan hal itu juga sebagai bentuk penegakkan hujjah terhadap diri kita– yaitu dengan dicetaknya kitab-kitab As-Sunnah berupa kitab-kitab akidah, dan telah banyak di masa kita ini dalam bentuk cetakan maupun kumpulan yang tidak ada di masa lalu. Allah lah yang telah mengumpulkannya sehingga mudah didapatkan. Seandainya engkau ingin mengumpulkan kitab-kitab itu sebanyak satu perpustakaan lengkap tentu engkau akan bisa melakukannya. Baiknya yang bentuknya dengan disebutkan sanadnya secara lengkap maupun yang diringkas tanpa sanad. Maka apa lagi setelah ini?! Apakah para ulama itu mewariskan kitab-kitab itu kepada kita dengan tujuan agar kita gunakan untuk menghiasi rak-rak saja?!

Ataukah mereka mewariskannya kepada kita agar kita mengamalkannya?! Demi Allah, kitab-kitab itu tidaklah diwariskan kepada kita kecuali agar kita mengamalkannya.
Siapa yang menyatakan bahwa kandungan kitab-kitab itu memberatkan manusia, maka orang yang semacam ini dia adalah penggembos!

Mungkin sebenarnya dia merasakan kelemahan pada dirinya. Jika dia memang merasakan kelemahan pada dirinya, maka janganlah dia membuat orang lain ikut lemah!

Atau bisa jadi dia ingin hidup seperti yang dikatakan oleh guru kami Asy-Syaikh Hamud At-Tuwaijiry rahimahullah: “Dia hidup di tengah-tengah kaumnya dengan prinsip selalu mendapatkan keuntungan.” Yaitu orang yang semua pihak mendapatkan keuntungan darinya dan dia pun bisa mendapatkan keuntungan dari semua pihak.

Jadi dia memanfaatkan teman-temannya dan mencari penghasilan dari mereka, walaupun harus dengan cara melakukan hal-hal yang menyelisihi jalan para Salaf.

Pintu ini secara khusus adalah pintu yang sangat berbahaya di hari-hari ini. Dan inilah pintu yang merusak sekian banyak dari anak-anak dan para pemuda serta murid-murid kita.

Jadi engkau bisa melihat sebagian orang yang menyandarkan dirinya kepada manhaj Salafus Shalih dia tertimpa sebagian kelemahan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam telah menjelaskan bahwa ada seorang mu’min yang kuat dan ada juga mu’min yang lemah. Hanya saja seorang mu’min yang kuat dia lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dibandingkan mu’min yang lemah, walaupun semuanya memiliki kebaikan.

Jika orang ini lemah, maka janganlah kelemahannya itu menyeretnya untuk mengingkari jalan ini serta siapa saja yang ingin menempuhnya, orang yang sabar dan menguatkan kesabaran, mengajak manusia untuk menempuhnya, mengharapkan pahala serta siap menanggung gangguan atasnya. Karena sesungguhnya ilmu ini adalah agama, dan tidaklah ilmu agama ini sampai kepada kita kecuali setelah menimpa berbagai macam ujian terhadap pendahulu kita. Diantara mereka ada yang terbunuh, ada yang dipukul dan ada yang dipenjara. Walaupun demikian sampai juga As-Sunnah kepada kita dalam keadaan bersih dan murni sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi was sallam. Semua itu karena keutamaan dari Allah kemudian dengan sebab jihad para Salaf itu, semoga Allah merahmati dan meridhai mereka semua.

Adapun di masa ini keadaannya justru kebalikannya.

Telah muncul ucapan busuk, terlaknat dan mungkar, yang mensifati para masayikh dakwah Salafiyah sebagai orang-orang yang terlalu keras, karena para ulama tersebut senantiasa bangkit menghadang bid’ah dan para pengusungnya, menghadang orang-orang yang meremehkan bahayanya serta memberikan jalan yang lebar bagi para penyerunya.
Atau minimalnya orang-orang itu menyuruh agar orang lain diam membisu dan meremehkan apa yang dilakukan oleh para ulama itu.

Apa sikap terlalu keras yang mereka tuduhkan kepada para ulama itu?!

Saya menuntut siapa saja yang menyatakan bahwa para ulama itu adalah orang-orang yang terlalu keras; pada masalah apa para ulama telah bersikap terlalu keras?!
Ini pertanyaan pertama. Mana tunjukkan jawabannya?! Perkara yang mana dan bagaimana konteks atau bentuk sikap atau pernyataan para ulama yang dianggap terlalu keras itu?! Sebutkan kepada saya!!

Ketika ada yang menyebutkannya, ternyata faktanya seperti yang dikatakan oleh seseorang bahwa:

وَلَا عَيْبَ فِيْهِمْ غَيْرَ أَنَّ سُيُوْفَهُمْ … بِهِنَّ فُلُوْلٌ مِنْ قِرَاعِ الْكَتَائِبِ

Tidak ada kesalahan mereka itu selain karena pedang-pedang mereka … Menjadi tumpul karena membentur perisai pasukan berkuda (Lihat: Mu’jam Maqayiisil Lughah, terbitan Daarul Fikr, 4/434 –pent)

Maksudnya para ulama itu sebenarnya tidak memiliki kesalahan, mereka hanya dituduh salah karena keberanian mereka menampakkan kebenaran dengan terang-terangan. Ini sikap terlalu keras menurut orang-orang yang menuduh itu.

Jadi menurut mereka dengan diam membiarkan dan tidak mengingkari pengikut Al-Ikhwan Al-Muslimun, Jamaa’ah Tabligh, Asy’ariyah, Shufiyah, Aqlany (orang-orang yang mengedapankan akal –pent), Thauran, serta siapa saja yang menyimpang, kemudian membaur dengan mereka dengan prinsip simbiosis mutualisme (saling menguntungkan), ini yang dianggap hikmah menurut mereka. Dan kejahatan ini dibalut dengan jilbab hikmah dengan tujuan untuk menyesatkan anak-anak kaum Muslimin.

Hikmah yang benar adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Yaitu dengan bersikap keras pada keadaan yang Allah juga bersikap keras padanya, serta bersikap lembut sesuai yang Allah perintahkan.

إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِيْ الأَمْرِ كُلِّهِ.

Sesungguhnya Allah lembut dan mencintai kelembutan pada semua perkara.” (HR. Al-Bukhary no. 6927 dan Muslim no. 2165 –pent)

Perkara ini tidak tersamar bagi kita, ini merupakan sikap asal

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِيْ الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ.

“Karena rahmat dari Allah sajalah engkau bersikap lembut terhadap mereka, seandainya engkau kasar dan keras hati, tentu mereka akan menjauh darimu. Maka maafkanlah mereka dan mintakanlah ampunan untuk mereka, serta ajaklah mereka bermusyawarah untuk menentukan keputusan. Lalu jika engkau telah membulatkan tekat pada sebuah keputusan, maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)

Allah memerintahkan perkara ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam, ini adalah sikap asal.

Tetapi jika ada orang berusaha mengangkat sengatnya dengan kebathilan dan dia terus-menerus membela kebathilan, atau berusaha menta’wil kebathilan serta mencari-carikan alasan untuk membela para pengusungnya, dia tidak mau membuat marah orang yang membawa kebathilan tersebut, yang akibatnya akan memakan korban dari kalangan anak-anak Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Jika datang orang yang membawa kebathilan semacam ini maka bagaimana cara kita membantahnya?! Kita ajak dia kepada jalan yang benar dan kita jelaskan kesalahannya. Tetapi jika dia mengabaikan, maka Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ.

“Wahai Nabi, berjihadlah memerangi orang-orang kafir dan munafik serta bersikap keraslah kepada mereka.” (QS. At-Taubah: 73)

Ahlus Sunnah berdalil dengan ayat yang memerintahkan untuk bersikap keras terhadap orang-orang munafik untuk bersikap keras terhadap para pengekor hawa nafsu dan ahli bid’ah, karena pada mereka terdapat keserupaan sifat munafik dan kelakuan orang-orang munafik. Dan bahayanya terhadap umat Islam yang muncul dari mereka ini lebih besar dibandingkan dengan orang yang memang asalnya kafir murni. Bahayanya terhadap umat Islam yang muncul dari mereka ini lebih besar dibandingkan dengan orang yang memang asalnya kafir.

Demikianlah prinsip-prinsip pokok ini dinyatakan oleh para imam Ahlus Sunnah.

Demikian pula bahayanya terhadap Ahlus Sunnah yang muncul dari orang-orang yang lembek – YANG MARAH TERHADAP PERKATAAN INI SILAHKAN MARAH – lebih besar dan lebih mengerikan dibandingkan dengan ahli bid’ah yang terang-terangan. Karena seorang mubtadi’ telah kita ketahui dengan jelas dan dengan seizin Allah kita bisa mewaspadainya. Tetapi orang yang berusaha mencari-carikan alasan untuk membela ahli bid’ah dan membolehkan kesesatannya, inilah yang berbahaya terhadap Ahlus Sunnah.

Download
Judul: MEWASPADAI PENGGEMBOS DAKWAH Pembicara: Asy Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkhali حفظه الله Tanggal: 30 Shawwal 1436
© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.