Nabi Adam dikeluarkan Dari Jannah

Nabi Adam Di KEluarkan Dari JannahNABI ADAM DIKELUARKAN DARI JANNAH

Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Iblis telah bersumpah akan menghalangi manusia dari jalan Allah. Dengan berbagai cara, ia berusaha menyesatkan manusia. Namun Allah tidak membiarkan manusia begitu saja diperdayakan Iblis.

Bagi keturunan Adam yang terpilih, maka Allah tidak akan menguasakan Iblis atas mereka. Allah Subhanahu wa ta’ala membekalinya dengan senjata yang tidak mungkin musuh bisa menandinginya, yaitu kesempurnaan iman dan tawakal mereka kepada Rabbnya.

“Sungguh mereka tidak memiliki kekuatan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabb mereka.” (An-Nahl: 99)

Juga Allah Subhanahu wa ta’ala membantu mereka dalam menghadapi musuh yang nyata itu di antaranya dengan menurunkan kitab-kitab yang mencakup ilmu yang bermanfaat, nasehat yang mengena yang memberi semangat untuk melakukan kebajikan dan memperingatkan dari kejelekan.

Allah Subhanahu wa ta’ala juga mengutus para rasul yang membawa kabar gembira kepada mereka yang beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan menaati-Nya. Juga memperingatkan orang-orang kafir, yang mendustakan dan berpaling dari Allah dengan berbagai macam hukuman. Allah Subhanahu wa ta’ala menjamin bahwa orang yang mengikuti petunjuk yang terkandung di dalam kitab-Nya yang dibawa oleh Rasul-Nya tidak akan sesat di dunia dan tidak sengsara kelak di akhirat. Tidak merasa takut serta tidak tertimpa perasaan sedih.

Allah Subhanahu wa ta’ala membimbing mereka melalui kitab dan para rasul-Nya kepada hal-hal yang bisa melindungi mereka dari musuh yang nyata ini. Allah Subhanahu wa ta’ala pun menerangkan kepada hamba-Nya, misi yang dibawa setan dan strateginya dalam menjaring manusia ke dalam perangkapnya. Juga Allah Subhanahu wa ta’ala membimbing mereka kepada jalan yang menyelamatkan mereka dari kejahatan setan dan fitnahnya, dan membantu dengan bantuan yang di luar kemampuan mereka. Yaitu, ketika mereka mengeluarkan segala daya upaya dan minta bantuan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, jalan mana saja yang dituju akan mudah bagi mereka.

Setelah itu Allah Subhanahu wa ta’ala sempurnakan nikmat kepada Adam ‘alaihissalam dengan menciptakan Hawa, istrinya, dari dirinya dan jenisnya. Ini dimaksudkan agar tercapai ketenangan dan tujuan-tujuan lain seperti pernikahan, kebersamaan, dan adanya anak keturunan.

Allah Subhanahu wa ta’ala juga memperingatkan Adam dan istrinya untuk berhati-hati dari setan karena sesungguhnya setan adalah musuh bagi mereka berdua. Jangan sampai Iblis mengeluarkan Adam dan Hawa dari jannah (surga) Allah Subhanahu wa ta’ala. Ketika itu, Allah mempersilakan mereka makan buah-buahan apa saja yang ada di dalam jannah dan menikmati segala kenikmatan yang ada padanya, kecuali pohon tertentu yang dilarang Allah. Allah Subhanahu wa ta’ala katakan kepada mereka berdua:

“Dan jangan kalian dekati pohon ini sehingga kalian menjadi orang-orang yang dzalim.” (Al-A’raf: 19)

“Sungguh kamu tidak akan lapar padanya dan tidak telanjang, dan sungguh engkau tidak akan dahaga padanya dan tidak tertimpa panas matahari.” (Thaha: 118-119)

Maka keduanya tinggal di jannah selama dikehendaki Allah Subhanahu wa ta’ala dengan segala kenikmatannya. Akan tetapi musuh mereka berdua terus mengintai dan mencari kesempatan. Maka ketika setan melihat senangnya Adam di dalamnya dan keinginannya yang besar untuk tetap tinggal di dalamnya, setan datang dengan cara yang lembut seolah seorang yang jujur sedang menasehati, ia katakan: “Wahai Adam apakah engkau mau kutunjukkan sebuah pohon yang jika kamu memakannya kamu akan kekal di jannah ini dan akan langgeng kerajaan ini serta tidak akan rusak?”

Terus menerus ia rayu Adam ‘alaihissalam. Ia janjikan, ia bisikkan, ia berikan harapan dan seolah terus memberi nasehat padahal itu adalah penipuan yang besar. Hingga setan pun berhasil menipu mereka berdua dan akhirnya keduanya makan dari pohon terlarang itu.

Maka ketika makan, terlepaslah pakaian mereka berdua sehingga terlihat auratnya. Akhirnya keduanya cepat-cepat mengambil daun-daun jannah untuk menutupi badan mereka yang telanjang sebagai pengganti pakaian mereka. Seketika itu pula nampak hukuman Allah Subhanahu wa ta’ala atas maksiat yang mereka lakukan, lalu Allah Subhanahu wa ta’ala menyeru mereka berdua:

“Tidakkah Aku telah melarang kalian berdua makan dari pohon ini dan Aku katakan kepada kalian berdua sungguh setan adalah musuh yang nyata buat kalian berdua.” (Al-A’raf: 22)

Kemudian Allah tumbuhkan pada hati mereka taubat yang sungguh-sungguh.

“Adam memperoleh beberapa kalimat dari Rabb-nya.” (Al-Baqarah: 37)

Maka keduanya berkata:

“Wahai Rabb kami, sungguh kami telah berbuat dzalim pada diri kami, jikalau Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami, benar-benar kami akan menjadi orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 23)

Maka Allah terima taubat mereka dan Allah hapus dosa yang telah menodai mereka. Akan tetapi keluar dari jannah jika mereka memakan dari pohon itu, sudah menjadi keputusan yang pasti sehingga keluarlah mereka ke bumi yang kebaikannya dicampuri dengan keburukannya, kesenangannya dicampuri dengan kesusahannya.

Allah kabarkan kepada keduanya bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala pasti akan memberikan cobaan pada keduanya dan anak cucunya, serta orang-orang yang beriman. Yang beramal shalih akan mendapatkan balasan yang baik, sebaliknya yang mendustakan lagi berpaling, akibatnya adalah kesengsaraan yang abadi dan adzab yang kekal. Allah Subhanahu wa ta’ala ingatkan anak cucu Adam tentang hal itu, firman-Nya:

“Wahai anak Adam jangan sekali-kali kalian dapat ditipu oleh setan seperti telah mengeluarkan ayah ibu kalian dari jannah, ia tanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat. Sesungguhnya ia dan pengikutnya melihat kamu dari sesuatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)

Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian mengganti pakaian yang ditanggalkan oleh setan dari Adam dan Hawa dengan pakaian yang menutupi aurat mereka dan menghiasi mereka secara lahir.

Juga dengan pakaian yang lebih baik dari itu yaitu pakaian ketakwaan, yakni pakaian hati dan rohani dengan iman, keikhlasan, taubat dan hiasan dengan segala akhlak yang indah serta menanggalkan segala akhlak yang hina. Dari Adam ‘alaihissalam dan istrinya, Allah Subhanahu wa ta’ala tebarkan anak turun yang banyak, laki-laki maupun perempuan di muka bumi. Allah ganti mereka generasi demi generasi untuk Dia lihat apa yang mereka lakukan.

Faidah yang Dipetik

  1. Allah Subhanahu wa ta’ala jadikan kisah itu sebagai ibrah untuk kita yaitu bahwa sesungguhnya sombong, dengki, dan ambisi merupakan akhlak yang berbahaya buat seorang hamba. Kesombongan dan kedengkian Iblis membawanya kepada apa yang kita lihat. Demikian juga keinginan kuat Adam ‘alaihissalam dan istrinya mengantarkan mereka memakan buah pohon larangan Allah. Kalaulah rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala tidak segera menyelamatkan, sungguh perbuatan mereka itu akan menyampaikan kepada kebinasaan. Akan tetapi rahmat-Nya segera menyempurnakan yang kurang, memperbaiki yang rusak, menyelamatkan yang binasa dan mengangkat yang telah jatuh.
  2. Kisah Adam ini membantah teori evolusi Darwin, bahwasanya manusia berasal dari kera.
  3. Seseorang yang terjatuh dalam per­buatan dosa, agar cepat-cepat bertaubat kepada Allah dan mengucapkan sebagaimana yang diucapkan Adam dan Hawa, karena Allah menyebutkan kisah tersebut untuk kita teladani.

Wallahu a’lam.

Sumber Bacaan:
Taisir Al-Lathifil Mannan, karya Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di

Sumber: Majalah Asy Syariah

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.