Menjemput Hidayah

Menjemput HidayahMENJEMPUT HIDAYAH

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Al-haq dan al-batil merupakan dua perkara yang bertolak belakang, tidak akan bisa bertemu apalagi menyatu. Al-haq adalah sesuatu yang sudah jelas sebagaimana jelasnya al-batil, sehingga tidak ada pertengahan di antara keduanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (al-Balad: 10)

As-Sa’di berkata, “Kami menunjukkan kepadanya dua jalan yaitu jalan kebaikan dan jalan kejelekan serta Kami jelaskan antara petunjuk dan kesesatan serta antara kebenaran dan penyimpangan. Nikmat yang besar ini menuntut agar setiap hamba melaksanakan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mensyukuri nikmat-Nya serta tidak mempergunakannya dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun manusia tidak mau melaksanakannya.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 855)

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (al-Insan: 3)

As-Sa’di berkata, “Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus kepada manusia para rasul dan menurunkan kepada mereka kitab-kitab dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah kepada jalan yang akan menyampaikan kepada-Nya, menjelaskannya dan menganjurkan dengannya, dan Dia telah menerangkan apa yang akan didapatkan bila telah sampai kepada-Nya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan jalan kebinasaan dan memperingatkan darinya, serta memberitakan apa yang didapatkan bila dia menempuh jalan kebinasaan dan malapetaka tersebut.

Manusia pun terbagi. Ada yang mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melaksanakan segala apa yang merupakan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada pula yang kufur terhadap nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahinya nikmat agama dan dunia, namun dia menolaknya dan kufur kepada Rabb-nya. Dia justru menempuh jalan menuju kebinasaan.” (Tafsir as-Sa’di)

Kejelasan dua jalan yang berbeda ini sesungguhnya bagaikan matahari di siang bolong dan bulan purnama di malam hari. Akan tetapi, hanya sedikit orang yang mengenalnya apalagi mengilmuinya. Hal ini karena beberapa faktor, di antaranya:

  1. Kebodohan yang menguasai setiap muslim.
  2. Kelalaian manusia sehingga tidak mau mencari dan mempelajarinya.
  3. Tidak memiliki niat untuk mendapatkannya.
  4. Munculnya para penyeru kesesatan yang mengaku pengikut Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam namun berjiwa iblis.

Masih banyak lagi faktor lain yang menyebabkan tidak jelasnya kebenaran dan kebatilan. Apabila kita memerhatikan dengan saksama, kita bisa menyimpulkan bahwa seseorang bisa mendapatkan al-haq, berjalan di atasnya, dan terjauhkan dari kebatilan, adalah semata hidayah dari Sang Pencipta.

Hakikat Hidayah dan Macamnya

Kata hidayah berasal dari kata al-hadyu yang bermakna bimbingan hidup, perilaku, dan jalan, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Sebagai pembimbing hidup bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 2)

Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah berkata kepadaku:

يَا عَلِيُّ سَلِ اللهَ الْهُدَى

‘Wahai ‘Ali, mintalah bimbingan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala’.” (HR. al-Imam an-Nasa’i no. 5225 dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i no. 5210)

Dalam hadits yang lain disebutkan:

إِنَّ أَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya sebaik-baik bimbingan adalah bimbingan Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam.” (HR. al-Bazzar dalam Musnad-nya no. 2076, asalnya dalam riwayat Muslim no. 867 dari sahabat Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu)

إِنَّ الْهَدْيَ الصَّالِحَ وَالسَّمْتَ الصَّالِحَ وَالْاِقْتِصَادَ جُزْءٌ مِنْ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

“Bimbingan yang baik dan perilaku yang baik serta berlaku lurus adalah satu bagian dari 25 bagian kenabian.” (Lihat Shahih wa Dhaif al-Jami’ no. 3756 dari sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma)

Kita mengetahui bahwa salah satu nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah “Al-Haadi” yang artinya Dialah yang telah memperlihatkan dan mengajarkan jalan untuk mengenal-Nya sehingga mereka mengakui rububiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang membimbing makhluk kepada apa yang dibutuhkannya untuk mempertahankan hidupnya.

Terkadang al-hadyu berarti ketaatan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Mereka itulah orang-orang yang telah dibimbing menuju ketaatan, maka ikutilah ketaatan mereka.” (al-An’am: 90) (Lihat al-Qamus bab “Ha” dan an-Nihayah karya Ibnu Atsir 5/253)

Ada dua macam bentuk hidayah.

1. Hidayah al-irsyad (ad-dilalah) dan al-bayan

Hidayah ini artinya penjelasan dan keterangan kepada sebuah jalan. Hidayah ini dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan oleh makhluk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (al-Isra: 9)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang Nabi-Nya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (asy-Syura: 52)

“Orang yang beriman itu berkata, ‘Wahai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar’.” (Ghafir: 38)

2. Hidayah taufik

Hidayah ini hanya dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Dia akan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan tidak memberikannya kepada yang tidak dikehendaki-Nya pula.

Tentang hidayah ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.” (al-Baqarah: 142)

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (al-Qashash: 56)

Orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mendapatkan kedua jenis hidayah ini. Adapun selain orang yang bertakwa tidak mendapatkan hidayah taufik. Tentu saja, hidayah bayan tanpa hidayah taufik untuk mengamalkannya, maka dia bukanlah hidayah yang hakiki dan sempurna.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 23)

Syaikhul Islam bin Taimiyah Rahimahullah mengatakan, “Jika hanya sekadar berilmu tentang kebenaran tanpa mengamalkannya maka dia belum mendapatkan hidayah.” (Amradhul Qulub hlm. 32)

Contoh riil kedua jenis hidayah ini adalah ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya menjelaskan tentang keharaman sesuatu perkara melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lalu seorang dai menyampaikan ilmunya kepada umat tentang keharaman hal ini. Ini termasuk jenis hidayah yang pertama, hidayah dilalah dan bayan. Apabila umat ini menaati larangan tersebut dengan meninggalkannya, inilah hidayah taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Abu Thalib, paman Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam sekaligus pembela beliau dalam berdakwah, mendapatkan hidayah ad-dilalah dan al-bayan dari Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam. Dia mengetahui agama yang benar. Namun, dia tidak mendapatkan hidayah taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sekalipun dia dekat dengan Rasul dari sisi nasab dan usaha untuk melindunginya. Hal itu bukan penjamin untuk dia beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Ya Allah, tunjukilah kami ke jalan Engkau yang lurus”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Kendatipun manusia mengaku bahwa Muhammad adalah rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Al-Qur’an adalah benar secara global, namun dia tidak mengetahui berbagai ilmu tentang hal yang bermanfaat dan yang memudaratkannya. Dia tidak mengetahui segala perintah dan larangan berikut segala cabangnya secara rinci. Kalaupun ada yang telah diketahuinya, sangat jauh dari pengamalan. Jika ditakdirkan sampai kepadanya segala perintah dan larangan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya menjelaskan hal-hal yang bersifat umum dan menyeluruh. Tidak mungkin selainnya, tidak disebutkan segala hal yang menjadi kekhususan setiap hamba.

Berdasarkan ini semua, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan manusia untuk meminta hidayah ke jalan-Nya yang lurus. Hidayah kepada jalan yang lurus mencakup pengetahuan tentang segala yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam secara rinci. Termasuk pula mengilmui segala perintahnya secara menyeluruh. Bahkan, mencakup pula ilham untuk mengamalkan ilmu tersebut, karena jika hanya mengilmui kebenaran tanpa mengamalkannya maka itu bukanlah hidayah.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya setelah perdamaian Hudaibiyah:

“Sesungguhnya Kami telah membukakan kemenangan yang nyata bagimu agar Allah mengampuni dosamu yang telah lewat dan yang akan datang serta agar Allah menyempurnakan nikmatnya atasmu dan memberimu hidayah kepada jalan yang lurus.” (al-Fath: 1—2)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang nabi Musa dan Harun ‘alaihissalam:

“Dan Kami telah memberi keduanya kitab yang jelas, dan Kami menunjuki keduanya ke jalan yang lurus.” (ash-Shaffat: 117—118)
Akan tetapi, kaum muslimin berselisih tentang berita yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, ilmu yang terkait dengan keyakinan dan amalan, padahal mereka bersepakat bahwa Muhammad adalah haq dan Al-Qur’an adalah haq. Jika masing-masing mereka mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus niscaya mereka tidak akan berselisih. Bahkan, kebanyakan orang mengetahui perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun mereka memaksiatinya. Sekiranya mereka mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus, niscaya mereka akan mengamalkan segala perintah tersebut dan meninggalkan segala yang dilarang. Orang-orang yang telah mendapatkan hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala dari umat ini, merekalah wali-wali Allah yang bertakwa. Termasuk salah satu sebab besar mereka mendapatkan hidayah itu adalah doa mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setiap shalat. Mereka juga mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membutuhkan hidayah kepada jalan yang lurus.” (Amradhul Qulub hlm. 31—33)

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus adalah hidayah al-bayan dan ad-dilalah kemudian taufik dan ilham. Hidayah taufik dan ilham ini datang setelah hidayah dilalah dan bayan. Tidak mungkin seseorang sampai kepada ad-dilalah dan al-bayan melainkan melalui para rasul. Apabila terwujud al-bayan dan ad-dilalah, lalu diilmui maka akan terwujud hidayah taufik. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan iman di dalam hati, mencintainya, menghiasinya, dan menjadikan hati itu mengutamakan iman tersebut, ridha dan berloyalitas kepadanya. Semua ini merupakan wujud dua hidayah (al-bayan wad-dilalah dan taufik). Keberhasilan tidak akan terwujud melainkan dengan keduanya.

Kedua hidayah ini mengandung ilmu terhadap kebenaran yang telah diketahuinya baik secara rinci maupun global, serta ilham dalam kebenaran dan menjadikan kita termasuk orang yang mengikutinya baik dalam bentuk lahiriah maupun batiniah, kemudian diberi kemampuan untuk melaksanakan konsekuensi dari petunjuk tersebut baik dengan ucapan, perbuatan, maupun tekad yang kuat. Hal ini terjadi secara berkesinambungan dan kokoh sampai kita meninggal dunia. Berdasarkan hal ini, diketahui bahwa seorang hamba sangat butuh untuk meminta melalui doa di atas: Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.

Dari sini pula diketahui kekeliruan orang yang mengatakan, “Apabila kita telah mendapatkan hidayah, untuk apa kita memintanya?”
Sungguh, kebenaran yang tidak kita ketahui lebih banyak daripada yang kita ketahui. Apa yang tidak ingin kita kerjakan karena malas atau menggampangkannya sama banyak dengan apa yang kita inginkan, atau lebih banyak, atau lebih sedikit. Apa yang kita inginkan namun tidak mampu kita lakukan juga demikian. Demikian juga apa yang tidak kita ketahui secara global dan tidak mendapatkan hidayah secara rinci, tidak terhitung.

Oleh karena itu, kita membutuhkan hidayah yang sempurna. Barang siapa telah mendapatkan kesempurnaan dalam masalah ini, maka meminta hidayah artinya meminta kekokohan dan selalu berada di atasnya.” (Lihat Tafsir al-Qayyim karya Ibnul Qayyim hlm. 9)

Hidayah Akan Memisahkan antara Hati yang Hidup dan Mati

Hati disifati dengan hidup dan mati. Hati memiliki tiga keadaan, sehat (selamat), berpenyakit, atau mati. Dari ketiga jenis hati ini, orang yang paling celaka adalah orang yang memiliki hati yang mati.

Banyak definisi dari ulama tentang hati yang sehat (selamat). Akan tetapi, definisi yang paling mencakup adalah hati yang selamat dari dorongan syahwat yang menyelisihi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan larangan-Nya, serta selamat dari segala syubhat yang mengotori berita (dari Allah dan Rasul-Nya), selamat dari bentuk penghambaan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, selamat dari berhukum kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, selamat dalam cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjadikan hukum Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam sebagai aturan dalam takut, harap, dan tawakalnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertaubat kepada-Nya, menghinakan diri di hadapan-Nya, mengutamakan ridha-Nya dalam setiap kondisi, dan menjauhkan diri dari murka-Nya dengan berbagai cara.

Inilah hakikat ubudiyah yang tidak boleh diberikan melainkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hati yang berpenyakit adalah hati yang hidup namun berpenyakit. Hati ini memiliki dua unsur. Terkadang unsur satu yang menariknya dan terkadang yang lain, tergantung mana yang sedang berkuasa.

Hati yang mati adalah hati yang tidak memiliki kehidupan. Hati yang tidak mengenal Rabbnya, tidak menyembah-Nya dengan perintah-Nya, tidak mencintai dan menerima-Nya. Hati yang selalu bersama syahwat dan kelezatannya, sekalipun hal itu mengandung kemurkaan dan kebencian Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apabila telah melampiaskan diri dengan syahwat dan segala keinginannya, dia tidak peduli apakah Allah lSubhanahu wa Ta’ala ridha atau murka. Hati ini berada dalam ketundukan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula cinta, rasa takut, harap, senang, benci, pengagungan, dan penghambaan dirinya. Jika mencintai sesuatu, dia mencintainya karena hawa nafsunya. Jika marah, dia marah juga karena hawa nafsu. Jika memberi, dia pun memberi karena hawa nafsu. Demikian pula jika dia tidak memberi, karena hawa nafsu. Hawa nafsulah yang lebih mendominasinya. Hawa nafsu lebih dia cintai daripada kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hawa nafsu pun menjadi pemimpinnya, syahwat menjadi pemandunya, kebodohan menjadi pengemudinya, dan kelalaian menjadi kendaraannya.” (Lihat Mawaridul Aman Muntaqa min Ighatsatul Lahafan hlm. 33—37)

Hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membedakan ketiga sifat hati tersebut dan akan tampak jelas pemilik-pemiliknya.

Agung dan Mahalnya Hidayah

Dari penjelasan di atas, tampak betapa agungnya hidayah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Apakah setelah hidayah yang agung dan besar ini Anda akan mau menukarnya dengan dunia? Apakah Anda akan mau menukarnya dengan kedudukan? Apakah Anda mau menukarnya dengan wanita? Apakah Anda mau menukarnya dengan harta kekayaan?

Tentu, orang yang beriman mengetahui bahwa harga hidayah itu adalah surga dan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia tidak akan mau menukarnya dengan apa pun. Bahkan, jika darah atau nyawa harus dikorbankan untuk mempertahankannya, dia akan memberikannya. Prinsip hidupnya, keselamatan agama dan diri tidak akan bisa ditukar oleh apa pun.

Lalu bagaimana dengan mahalnya?

Pembaca yang budiman ….

Kita mengetahui bahwa hidayah taufik hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Jika demikian keadaannya, maka tidak ada seorang pun yang akan bisa membeli hidayah, dengan harga berapa pun; atau memaksakan kehendak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dia mendapatkannya, walaupun dia adalah orang yang terkaya sejagat, keturunan bangsawan, keturunan raja, atau bahkan keturunan Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam.

Beliau Shallallahu `alaihi wa sallam telah diperintah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan berikanlah peringatan kepada karib kerabatmu terdekat.” (asy-Syu’ara: 214)

Itulah kehendak yang dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada ikatan, kaitan, atau campur tangan dari keinginan hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberinya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memberinya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Kita mengenal golongan kaum budak dan kaum fakir miskin seperti keluarga Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabah, dan sebagainya. Kepada merekalah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah-Nya. Di sisi lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikannya kepada keluarga dekat Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam.

Menjemput Hidayah

Sekali lagi, hidayah taufik hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Dia menganugerahkannya kepada seseorang sebagai karunia dan rahmat-Nya. Dia tidak memberikannya kepada hamba-Nya yang lain, ini adalah sebuah keadilan dan kebijaksanaan-Nya. Dia Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapatkannya dan siapa yang tidak.

“Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (Fathir: 8)

Termasuk hikmah-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengikat antara sebab dan akibat. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberitahukan tentang sebuah sebab melainkan Dia telah menjelaskan serta memberitahukan bahwa di antara sebab-sebab itu ada yang disyariatkan dan ada pula yang diharamkan-Nya. Termasuk juga sebab-sebab mendapatkan hidayah. Di antaranya adalah:

1. Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan keimanan yang benar, sebagaimana keimanan pendahulu kita yang saleh.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 137)

2. Membaca Al-Qur’an, mendalaminya, dan mengamalkan kandungannya, karena salah satu dari hikmah diturunkannya Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi manusia.

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (al-Baqarah: 2)

3. Berdoa dan memintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana diperintahkan dalam surat al-Fatihah.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 6)

4. Menaati Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam dalam semua aspek kehidupan.

“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (an-Nur: 54)

5. Bersemangat mengkaji ilmu agama.

Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki baginya kebaikan, niscaya Dia menjadikannya faqih dalam agama.” (HR. al-Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah Asy Syariah

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.