Mengenal Fitnah Sama Pentingnya Dengan Mengenal Kebenaran

Mengenal Fitnah Sama Dengan Mengenal KebenaranMENGENAL FITNAH SAMA PENTINGNYA DENGAN MENGENAL KEBENARAN

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah

Orang yang mengetahui penyakit-penyakit hati dan obatnya, permisalannya adalah seperti seorang dokter yang bermanfaat bagi orang-orang yang sakit untuk mengobati dan berupaya menyembuhkannya. Seorang dokter yang mengetahui sebuah penyakit secara langsung dan mengetahui obatnya dan cara penyembuhannya, tentu dia lebih professional dan lebih berpengalaman dibandingkan seorang dokter yang hanya mengetahui penyakit sekedar sifatnya saja. Ini berkaitan dengan penyakit badan. Demikian pula yang berkaitan dengan penyakit-penyakit hati dan pengobatannya. Dan ini merupakan makna sebagian orang-orang Shufi: “Orang yang paling mengetahui kekurangan-kekurangannya adalah yang paling banyak memiliki kekurangan.”

Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu mengatakan:

إِنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً إِذَا نَشَأَ فِيْ الْإِسْلَامِ مَنْ لَا يَعْرِفُ الْجَاهِلِيَّةَ.

“Hanyalah ikatan tali Islam itu terurai seutas demi seutas jika telah tumbuh pada masa Islam seseorang yang tidak pernah mengerti perkara-perkara jahiliyah.”

Oleh karena inilah di umat ini para Shahabat adalah manusia yang paling mengetahui Islam, rincian detailnya, pintu-pintunya dan jalan-jalannya. Mereka juga yang paling menyukainya, paling mencintainya, terdepan dalam berjihad melawan musuh-musuhnya, paling semangat membicarakan syi’ar-syi’arnya, dan paling keras dalam memperingatkan hal-hal yang menyelisihinya. Hal itu karena sempurnanya ilmu mereka tentang hal-hal yang merupakan lawannya. Maka bertambahlah ma’rifat dan kecintaan mereka terhadap Islam serta semangat mereka dalam berjihad membelanya, karena pengetahuan mereka terhadap hal-hal yang merupakan lawannya tersebut. Jadi Islam datang kepada mereka dengan membawa semua sifat yang bertentangan dengan semua sifat yang dahulu mereka berada di atasnya.

Hal itu keadaannya seperti seseorang yang sebelumnya terkepung, menderita, sakit, fakir, takut, dan di pengasingan, lalu Allah bangkitkan untuknya orang yang memindahkannya ke tempat yang lapang dan luas, penuh keamanan, keselamatan, kecukupan, kebahagiaan, dan kegembiraan. Ketika itu maka bertambahlah kegembiraan dan kecintaannya atas kepindahannya atau berubahnya keadaannya sesuai dengan kadar pengetahuannya tentang keadaan dia sebelumnya.

Hal ini tidak sama keadaannya dengan seseorang yang dilahirkan dalam keadaan aman, selamat, berkecukupan, dan dalam kebahagiaan. Hal itu karena dia belum pernah merasakan selainnya. Dan bisa jadi terkadang akan datang kepadanya sebab-sebab yang akan melenyapkan semua kenikmatan itu darinya dan berganti menjadi keabalikannya (kesengsaraan) tanpa dia sadari. Bisa jadi justru dia menyangka bahwa banyak dari sebab-sebab kebinasaan dan kesengsaraan itu akan mengantarkannya kepada keselamatan, keamanan, dan kebahagiaan, sehingga kebinasaannya justru disebabkan oleh dirinya sendiri tanpa dia sadari.

Alangkahnya banyaknya manusia yang jenisnya semacam ini. Jadi jika seseorang benar-benar mengenal dengan baik dua hal yang saling berlawanan (kebaikan dan keburukan –pent), mengetahui perbedaan besar antara dua pihak tersebut, dan dia benar-benar mengenali sebab-sebab kebinasaan secara detail dan rinci, maka dia lebih layak untuk tetap berada dalam kenikmatan dengan syarat dia tidak lebih mengutamakan atau memilih sebab-sebab yang melenyapkan kenikmatan tersebut dalam keadaan mengetahui dan menyadarinya.

Hal ini seperti ucapan seorang penyair:

عَرَفْتُ الشَّرَّ لَا لِلشَّرِّ لَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ ***** وَمَنْ لَا يَعْرِفْ الشَّرَّ مِنْ النَّاسِ يَقَعْ فِيْهِ

Aku mengenali keburukan bukan untuk keburukan
Tetapi semata-mata untuk menjaga diri darinya
Karena seseorang yang tidak mengetahui keburukan
Sangat rawan dia akan terperosok ke dalamnya

Seperti inilah keadaan seorang mu’min, dia menjadi seseorang yang cerdas dan peka atau tanggap. Dia paling mengetahui keburukan dan paling jauh darinya. Jadi jika dia menjelaskan keburukan dan sebab-sebabnya, engkau menyangka dia termasuk orang yang paling buruk. Namun jika engkau bergaul dengannya dan mengetahui kepribadiannya, engkau akan melihatnya termasuk orang yang paling baik.

Maksud dari pemaparan ini bahwasanya siapa yang ditimpa keburukan maka dia akan menjadi termasuk orang yang paling mengetahui sebab-sebabnya, dan akan memungkinkan baginya untuk membentengi dirinya dan orang yang meminta nasehat kepadanya maupun yang tidak meminta nasehat kepadanya.

Sumber artikel: Miftaah Daaris Sa’adah, II/288-289

Alih bahasa: Abu Almass

Jum’at, 10 Dzulqa’dah 1435 H

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.