Dan Kebanyakan Manusia…

DAN KEBANYAKAN MANUSIA…

Paparan penting dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

Hendaknya kita perhatikan !!

Beliau rahimahullah berkata : “Kebanyakan manusia menjadikan tolok ukur (benar atau salahnya) ucapan seseorang berdasarkan tokoh-tokoh tertentu.

Sehingga jika dia meyakini bahwa seseorang itu ditokohkan, maka dia terima pendapatnya meskipun itu batil dan menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah.

Bahkan saat itu dia tidak mempedulikan siapa yang membantah pendapat tersebut, walaupun berdasarkan al Kitab dan as Sunnah.

Justru dia posisikan seakan tokoh yang berpendapat tadi seorang yang ma’shum, terbebas dari dosa.

Dan jika dia tidak meyakini pada  seseorang itu ketokohan maka ia pun menolak berbagai pendapatnya meskipun itu kebenaran.

Sehingga ia menempatkan siapa yang berpendapat itu faktor diterima atau tertolaknya (pendapat), dengan tanpa menimbang berdasar al Kitab dan as Sunnah.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada al Harits bin Huth, saat dia bertanya pada beliau (Ali bin Abi Tholib) :

“Wahai Ali, apakah menurut Anda bahwa Tholhah dan az Zubair keliru sedangkan Andalah yang benar?

Beliau menjawab:

“Tidak Harits, hanya saja kebenaran itu samar bagimu.

اعرف الحق تعرف أهله، إن الحق لا يُعرف بالرجال، وإنما الرجال يُعرفون بالحق.

“Kenalilah kebenaran maka kamu akan mengenal siapa orang yang benar.

Kebenaran tidaklah diketahui berdasarkan orang-orang tertentu, tetapi orang-orang itulah yang mesti dikenali berdasarkan (tolok ukur) kebenaran.”

Dan setiap orang yang menjadikan seorang syaikh atau alim sebagai orang yang diikuti pada semua ucapan dan perbuatannya, memberikan wala’ (pembelaan, kesetiaan dan cinta) atas dasar kesamaan syaikh dan alim yang diikuti atau akan memusuhi atas dasar berbedanya syaikh atau alim yang diikuti, (justru) bukan kepada Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia seorang mubtadi’ sesat menyesatkan dan telah keluar dari (bimbingan) al Kitab dan as Sunnah.

Baik dia berasal dari kalangan ahlul ilmi dan diyanah; semisal: para masyaikh dan ulama, ataupun dari kalangan militer dan tata administrasi, semisal; para raja dan perdana menteri..

Inilah dasar pembeda antara Ahlus sunnah wal jama’ah dengan Ahlul bid’ah wal furqah.

Sebab Ahlus sunnah wal jamaah:

Mereka menempatkan Rasululloh shalallohu alaihi was sallam-lah imam yang sebenarnya, seorang yang mereka ikuti dalam segala perihalnya.

Mereka akan memberikan wala’ kepada siapa yang berwala’ pada beliau, dan akan memusuhi siapapun yang telah memusuhi beliau.
Mereka jadikan kitabulloh sebagai firman yang mereka ikuti sepenuhnya, mereka benarkan seluruh beritanya dan mereka taati semua perintahnya.

Mereka menjadikan petunjuk, jalan, sunah-sunah dan manhaj terbaik adalah sunnah Rasululloh sholallohu alaihi was sallam.

Dan adapun Ahlul bid’ah:

Maka mereka menempatkan sosok panutan untuk kalangan mereka sendiri yang akan mereka ikuti, menempatkan jalan yang akan mereka tempuh, memberikan wala’ dan permusuhan berdasar jalan tersebut, meski di dalamnya ada penyelisihan terhadap sunnah Rasul.

Akhirnya, mereka berwala’ pada siapa yang sepaham dengan mereka walaupun dia jauh dari sunnah dan akan memusuhi siapa yang menyelisihi mereka meskipun dia dekat dengan sunnah.

Sumber : Jaami’ al masa’il (1/463)

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.