Dakwah Kepada Sunnah dan Memerangi Taklid

Dakwah Kepada SunnahDAKWAH KEPADA SUNNAH DAN MEMERANGI TAKLID

Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Orang seperti beliau tentu aktif di medan dakwah, kendati ayahnya cenderung mengarahkannya kepada mazhab Hanafi untuk menjadi ulamanya. Namun, Allah Subhanahu wa ta’ala mengehendaki lain. Ketekunan terhadap ilmu hadits menyebabkan beliau tidak mau terikat dengan mazhab tertentu. Bahkan, beliau terikat dengan empat mazhab sekaligus dalam hal prinsip mereka, yaitu mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahih dengan pemahaman as-salafush shalih, para pendahulu yang saleh. Karena itu, jangan heran apabila beliau termasuk ulama yang sangat getol menyerukan paham salaf. Ini bukan hal baru dari beliau. Tidak lain beliau hanya mengikuti pendahulunya dan imam pertamanya, yaitu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Simaklah tutur katanya, “Sesungguhnya kata salaf sangat dikenal dalam bahasa Arab dan syariat. Yang kami anggap penting di sini adalah pembahasannya dari sisi syariat. Sungguh, telah sahih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berpesan kepada putrinya, Sayyidah Fathimah Radhiyallahu ‘anhA, di saat sakitnya yang berakhir dengan kematiannya, ‘Bertakwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah, sebaik-baik salaf untukmu adalah aku’.

Ulama pun sangat sering menggunakan kata ini. Terlalu banyak untuk dihitung. Cukup bagi kita satu contoh, yaitu apa yang mereka pakai sebagai hujah dalam memerangi bid’ah,

Segala kebaikan adalah dengan mengikuti orang salaf (yang terdahulu) dan segala kejelekan adalah dalam hal perbuatan bid’ah orang-orang belakangan

Akan tetapi, ada sebagian orang yang menganggap dirinya sebagai ulama mengingkari penyebutan ini (salafi) dengan dalih bahwa itu tidak ada dasarnya. Katanya, ‘Tidak boleh seorang muslim mengatakan, ‘Saya salafi’.’ Seolah-olah dia mengatakan, ‘Tidak boleh seorang muslim mengatakan, ‘Saya mengikuti as-salafush shalih dalam hal akidah, ibadah, atau suluk mereka.’

Tidak diragukan bahwa pengingkaran semacam ini—kalau dia benar-benar sengaja—maka konsekuensinya adalah berlepas diri dari Islam yang benar, yang para pendahulu kita yang saleh berada padanya, yang pada ujungnya adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam seperti diisyaratkan oleh hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mutawatir yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, serta selain keduanya,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

‘Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang setelah mereka kemudian orang-orang yang setelah mereka.’
Maka dari itu, seseorang justru tidak boleh berlepas diri dari penisbatan kepada as-salafush shalih.”

Beliau sadar bahwa siapa pun yang menelusuri jalan ini, pastilah menghadapi berbagai penentangan, bahkan celaan, cercaan, dan tuduhan yang tidak sepantasnya. Namun, itu semua tidak membuat beliau gentar.

Dengan penuh kesadaran sekaligus kesiapan, beliau ungkapkan, “Sungguh, ketika aku canangkan manhaj ini pada diriku, yaitu berpegang teguh dengan sunnah yang sahih, dan kupraktikkan dalam buku-buku karyaku, aku sadar bahwa kelak semua kelompok dan mazhab tidak akan ridha terhadapnya. Bahkan, sebagian atau mayoritas kelak akan mengarahkan celaan dan tulisan yang mencacatku. Akan tetapi, itu tidak masalah bagiku, karena aku juga tahu bahwa mencari ridha manusia adalah sebuah tujuan yang tidak mungkin dicapai dan bahwa, “Barang siapa yang mencari ridha manusia dengan melakukan hal yang dimurkai oleh Allah maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia,”sebagaimana disabdakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh indah ucapan seseorang yang mengatakan,

Dan aku tidak akan selamat dari ucapan orang yang mencela

Walaupun aku berada di dalam gua, di atas gunung yang berlumpur

Siapakah yang selamat dari ucapan manusia

Walaupun bersembunyi dari mereka di antara dua sayap burung elang.

Namun, yang sangat menyakitkan beliau adalah bilamana permusuhan itu muncul dari seorang yang mengaku bermanhaj salaf juga. “Sungguh aku terzalimi oleh banyak orang yang mengaku berilmu, bahkan bisa jadi sebagiannya adalah dari orang yang disangka bahwa dia bersama kita di atas manhaj salaf. Tapi bila memang benar dia di atas manhaj salaf, bararti dia adalah orang yang hatinya telah dimakan oleh kebencian dan iri.”

Hasil Karyanya

“Apabila jiwa-jiwa itu besar, niscaya jasmani-jasmani pun letih saat mengikuti kemauannya.”

Itulah yang terjadi pada beliau, beliau telah letihkan tubuhnya demi mengikuti kemauan jiwanya. Namun itu semua bukan dalam hal yang hampa atau sia-sia. Buktinya, lihatlah hasil kerja kerasnya. Tercatat kurang lebih dua ratus karya mulai ukuran satu jilid kecil, besar, hingga yang berjilid-jilid, baik dalam bentuk karya tulis pena beliau, takhrij (koreksi hadits) pada karya orang lain, buku khusus takhrij hadits, maupun tahqiq, yaitu penelitian atas kitab tertentu dari segala sisinya, lalu dituangkan dalam catatan kaki pada kitab tersebut. Sebagiannya telah lengkap, namun sebagian yang lain belum sempurna.

Di antara yang paling populer adalah:

1. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah wa Syai’un min Fiqhiha wa Fawaidiha, sampai jilid 9
Karya ini berisikan studi ilmiah terhadap hadits-hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk dinyatakan sahih, melalui ilmu musthalah hadits. Berdasarkan penomeran terakhir dari kitab itu, jumlah hadis yang tertera adalah 4.035 buah.

2. Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah wa Atsaruha as-Sayyi’ alal Ummah, sampai jilid 14
Karya ini berisikan studi ilmiah atas hadits-hadits untuk dinyatakan lemah atau palsu (maudhu’). Rata-rata setiap jilid berisi lima ratus hadits.

3. Irwa’ul Ghalil, 8 jilid
Kitab ini berisikan takhrij (studi ilmiah) atas hadits-hadits dalam kitab Manarus Sabil. Berdasarkan penomeran terakhir di jilid terakhir, jumlah haditsnya sebanyak 2.707 buah.

4. Shahih & Dha’if Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatihi
Keduanya berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh as-Suyuthi lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah sahih atau dhaif. Yang sahih berjumlah 8.202 hadits dan yang tidak sahih berjumlah 6.452 hadits.

5. Shahih Sunan Abi Dawud dan Dhaif Sunan Abi Dawud
Keduanya berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Abu Dawud lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah sahih, dhaif, atau yang lain, dengan jumlah hadits sebanyak 5.274 buah.

6. Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Dhaif Sunan at-Tirmidzi
Keduanya berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh at-Tirmidzi lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai apakah sahih, dhaif, atau yang lain, dengan jumlah hadits mencapai 3.956 buah.

7. Shahih Sunan an-Nasa’i dan Dhaif Sunan an-Nasa’i
Keduanya berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh an-Nasa’i, lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah sahih, dhaif, atau yang lain, sebanyak 5.774 hadits.

8. Shahih Sunan Ibnu Majah dan Dhaif Sunan Ibnu Majah
Kedua kitab ini berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Ibnu Majah lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai apakah sahih atau dhaif, jumlah haditsnya sebanyak 4.341 buah.

Bayangkan, dari kitab ini saja, sudah berapa ribu hadits yang beliau kaji secara ilmiah. Belum lagi buku-buku yang lain. Semuanya itu beliau lakukan dalam kurun waktu sekitar 65 tahun sejak usia 20-an tahun hingga akhir hayatnya. Sungguh umur yang berkah.

Semua ini sebagai realisasi proyek beliau yang besar, yang beliau sebut Taqribus Sunnah Baina Yadayil Ummah, “Mendekatkan sunnah ke hadapan umat.” Tujuannya adalah memudahkan umat secara umum untuk mengambil hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih secara instan, tanpa kepayahan untuk mempelajarinya dahulu.

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala membalasi jerih payahnya, niatan yang tulus, dari seorang yang mencintai sunnah. Sungguh, kemudahan itu betul-betul dirasakan oleh para penuntut ilmu, bahkan ulama dan bahkan musuh dakwahnya sekalipun yang mengambil faedah dari takhrij (studi hadits) beliau.
Prestasi yang Dicapai

Tentu bukan prestasi duniawi yang beliau cari, dan Allah Subhanahu wa ta’ala tentu lebih tahu. Namun, bagaimana pun dan siapa pun yang memuliakan sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa ta’ala akan memuliakannya di dunia dan di akhirat. Allah Subhanahu wa ta’ala akan memberikan kepadanya bagian dari ayat-Nya.

“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (Alam Nasyrah: 4)

Hal ini sebagai balasan yang segera di dunia.

Berikut ini beberapa prestasi yang beliau capai.

  1. Dipilih oleh Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus untuk melakukan studi hadits dalam fikih jual beli dalam Mausu’ah (ensiklopedi) Fiqh Islami.
  2. Terpilih sebagai anggota Dewan Hadits yang dibentuk di masa persatuan antara Mesir dan Syria untuk mengawasi penyebaran buku-buku hadits dan tahqiqnya.
  3. Diminta menjadi dosen di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, 1381—1383 H.
  4. Terpilih sebagai anggota al-Majlis al-A’la, majelis tertinggi di Univesitas Islam Madinah, 1395—1398 H.
  5. Ditawari untuk menjadi pengawas pada bagian pascasarjana di Universitas Ummul Qura Makkah, namun beliau menolaknya.
  6. Perguruan Tinggi Jami’ah Salafiyyah Binaris (Varanasi) di India menawari beliau untuk menjadi guru besar hadits, namun beliau menolaknya.
  7. Mendapat kehormatan untuk memperoleh piagam penghargaan (international award) Raja Faishal pada 1419 H karena karya-karya beliau dalam ilmu hadits.

—————————————-

Sumber:  Majalah Asy Syariah

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.