Benarkah Ungkapan: “Lihatlah Apa Yang Dikatakannya Dan Jangan Melihat Siapa Yang Mengatakannya”

 

Lihatlah Yang Di Ucapkan1

BENARKAH UNGKAPAN “LIHATLAH APA YANG DIKATAKAN DAN JANGAN MELIHAT SIAPA YANG MENGATAKAN!”

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady Al-Madkhaly hafizhahullah

| | |

.

Penanya: Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang mengatakan: “Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan melihat siapa yang mengatakan!”

Asy-Syaikh:

Ini mungkin memiliki sisi kebenarannya, karena serupa dengan ucapan orang: “Kenalilah manusia dengan cara menilainya dengan kebenaran, dan jangan mengenali kebenaran dengan cara menilainya dengan manusia!”

Mungkin dia menginginkan makna ini, yaitu jika engkau mengetahui kebenaran maka engkau akan mengetahui siapa yang berada di atasnya. Jadi hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin untuk mengetahui kebenaran, agar dia bisa membedakan antara ahlul haq dan ahlul bathil. Adapun jika engkau mengatakan: “Kenalilah kebenaran dengan cara menilainya dengan manusia!” Maka sesungguhnya ini merupakan jalan kesesatan. Karena ucapan ini maknanya apa yang dikatakan oleh si fulan maka itulah kebenaran, sedangkan yang tidak dia katakan dan justru menyelisihinya maka itulah kebathilan. Maka ini merupakan kesesatan.

Jadi mungkin saja orang yang mengatakan ucapan di atas maksudnya adalah ini (kenalilah manusia dengan cara menilainya dengan kebenaran, dan jangan mengenali kebenaran dengan cara menilainya dengan manusia –pent), jika ini yang dia maksudkan maka tidak masalah.
Hanya saja, dugaan kuat saya orang yang mengatakan ini termasuk orang yang membela kebathilan. Jadi dia ingin agar para tokoh kebathilan tidak disebut dengan ucapan yang sesuai dengan hakekat mereka dan agar mereka tidak ditahdzir. Maka kelakuan dia ini menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah serta manhaj Salaf yang saleh dalam mencela orang-orang kafir, orang-orang munafik, para ahli bid’ah, dan orang-orang fasik, serta memberikan vonis kepada mereka dengan yang sepantasnya mereka terima.

Penanya: Ada perkataan lain: “Ambillah faedah, namun jangan menjadikannya sandaran!”

Asy-Syaikh:

Maksudnya: ambillah faedah dari seseorang, namun jangan bersandar kepadanya dalam segala hal! Ambillah yang benar dan ambillah kebaikan, jika orang tersebut memang ahlinya. Hanya saja jangan membebek kepadanya! Sepertinya ini yang dia maksudkan, wallahu a’lam. Karena semua orang bisa diambil ucapannya dan bisa juga ditolak, kecuali Rasulullah shallallahu alaihi was sallam. Jadi mungkin dia memaksudkan makna ini, wallahu a’lam.

Sumber artikel:
Kasyfus Sitaar, hal. 124

Alih bahasa: Abu Almass
Selasa, 12 Sya’ban 1435 H

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.