{"id":9148,"date":"2014-12-31T06:01:04","date_gmt":"2014-12-30T22:01:04","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=9148"},"modified":"2014-12-31T06:25:45","modified_gmt":"2014-12-30T22:25:45","slug":"sikap-seorang-muslim-terhadap-hari-raya-orang-orang-kafir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=9148","title":{"rendered":"Sikap Seorang Muslim Terhadap Hari Raya Orang-orang Kafir"},"content":{"rendered":"<p class=\"post-title\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/Sikap-Seorang-Muslim-Terhadap-Hari-Raya-Orang-orang-Kafir.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-9173\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/Sikap-Seorang-Muslim-Terhadap-Hari-Raya-Orang-orang-Kafir-300x150.jpg\" alt=\"Sikap Seorang Muslim Terhadap Hari Raya Orang-orang Kafir\" width=\"300\" height=\"150\" srcset=\"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/Sikap-Seorang-Muslim-Terhadap-Hari-Raya-Orang-orang-Kafir-300x150.jpg 300w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/Sikap-Seorang-Muslim-Terhadap-Hari-Raya-Orang-orang-Kafir.jpg 600w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR<\/strong><\/p>\n<p><em>Penulis:\u00a0<span style=\"color: #993300;\">Asy Syaikh Soleh Al Fauzan hafizhahullah<\/span><\/em><\/p>\n<p>Di negeri kaum muslimin tak terkecuali negeri kita ini, momentum hari raya biasanya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh orang-orang kafir (dalam hal ini kaum Nashrani) untuk menggugah bahkan menggugat tenggang rasa atau toleransi \u2013 ala mereka &#8211; terhadap kaum muslimin. Seiring dengan itu, slogan-slogan manis seperti: menebarkan kasih sayang, kebersamaan ataupun kemanusiaan sengaja mereka suguhkan sehingga sebagian kaum muslimin yang lemah iman dan jiwanya menjadi buta terhadap makar jahat dan kedengkian mereka.<\/p>\n<p>Maskot yang bernama Santa Claus ternyata cukup mewakili \u201ckedigdayaan\u201d mereka untuk meredam militansi kaum muslimin atau paling tidak melupakan prinsip Al Bara\u2019 (permusuhan atau kebencian) kepada mereka. Sebuah prinsip yang pernah diajarkan Allah dan Rasul-Nya.<span id=\"more-89\"><\/span><\/p>\n<p><strong>HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR IDENTIK DENGAN AGAMA MEREKA<\/strong><\/p>\n<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: \u201cBahwasanya hari-hari raya itu merupakan bagian dari lingkup syariat, ajaran dan ibadah\u2026.seperti halnya kiblat, shalat dan puasa. Maka tidak ada bedanya antara menyepakati mereka didalam hari raya mereka dengan menyepakati mereka didalam segenap ajaran mereka\u2026.bahkan hari-hari raya itu merupakan salah satu ciri khas yang membedakan antara syariat-syariat (agama) yang ada. Juga (hari raya) itu merupakan salah satu syiar yang paling mencolok.\u201d (Iqtidha\u2019 Shiratil Mustaqim hal. 292)<\/p>\n<p><strong>SETIAP UMAT BERAGAMA MEMILIKI HARI RAYA<\/strong><\/p>\n<p>Perkara ini disitir oleh Allah didalam firman-Nya (artinya): <em>\u201cUntuk setiap umat (beragama) Kami jadikan sebuah syariat dan ajaran\u201d.<\/em> (Al Maidah: 48). Bahkan dengan tegas Rasulullah bersabda:<\/p>\n<p>\u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0644\u0650\u0643\u064f\u0644\u0651\u0650 \u0642\u064e\u0648\u0652\u0645\u064d \u0639\u0650\u064a\u0652\u062f\u0627\u064b \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0647\u064e\u0630\u064e\u0627 \u0644\u064e\u0639\u0650\u064a\u0652\u062f\u064f\u0646\u0627\u064e<\/p>\n<p>\u201cSesungguhnya bagi setiap kaum (beragama) itu memiliki hari raya, sedangkan ini (Iedul Fithri atau Iedul Adha) adalah hari raya kita.\u201d (Muttafaqun \u2018alaihi)<\/p>\n<p>Akan tetapi muncul sebuah permasalahan tatkala kita mengingat bahwa orang-orang kafir (dalam hal ini kaum Nashrani) telah mengubah-ubah kitab Injil mereka sehingga sangatlah diragukan bahwa hari raya mereka yaitu Natal merupakan ajaran Nabi Isa ?. Kalaupun toh, Natal tersebut merupakan ajaran beliau, maka sesungguhnya hari raya tersebut -demikian pula seluruh hari raya orang-orang kafir- telah dihapus dengan hari raya Iedul Fithri dan Iedul Adha. Rasulullah bersabda:<\/p>\n<p>\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u064e \u0642\u064e\u062f\u0652 \u0623\u064e\u0628\u0652\u062f\u064e\u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0647\u0650\u0645\u064e\u0627 \u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u0627\u064b \u0645\u0650\u0646\u0652\u0647\u064f\u0645\u064e\u0627: \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u0627\u0652\u0644\u0623\u064e\u0636\u0652\u062d\u064e\u0649 \u0648\u064e \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u0627\u0644\u0652\u0641\u0650\u0637\u0652\u0631\u0650<\/p>\n<p>\u201cSesungguhnya Allah telah mengganti keduanya (dua hari raya Jahiliyah ketika itu-pent) dengan hari raya yang lebih baik yaitu: Iedul Adha dan Iedul Fithri.\u201d (H.R Abu Daud dengan sanad shahih)<\/p>\n<p><strong>SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR<\/strong><\/p>\n<p>Menanggapi upaya-upaya yang keras dari orang-orang kafir didalam meredam dan menggugurkan prinsip Al Bara\u2019 melalui hari raya mereka, maka sangatlah mendesak untuk setiap muslim mengetahui dan memahami perkara-perkara berikut ini:<\/p>\n<p><strong><span style=\"color: #ff0000;\">1. Tidak Menghadiri Hari Raya Mereka<\/span><\/strong><\/p>\n<p>Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata: \u201cBerbaurnya kaum muslimin dengan selain muslimin dalam acara hari raya mereka adalah haram. Sebab, dalam perbuatan tersebut mengandung unsur tolong menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan. Padahal Allah berfirman (artinya): <em>\u201cDan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kalian tolong menolong didalam dosa dan pelanggaran.\u201d<\/em> (Al Maidah:2)\u2026..Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa kaum muslimin tidak boleh ikut bersama orang-orang kafir dalam acara hari raya mereka karena hal itu menunjukan persetujuan dan keridhaan terhadap agama mereka yang batil.\u201d (Disarikan dari majalah Asy Syariah no.10 hal.8-9)<\/p>\n<p>Berkaitan dengan poin yang pertama ini, tidak sedikit dari para ulama ketika membawakan firman Allah yang menceritakan tentang sifat-sifat Ibadurrahman (artinya): \u201c(Yaitu) orang-orang yang tidak menghadiri kedustaan.\u201d (Al Furqan:73), mereka menafsirkan \u201ckedustaan\u201d tersebut dengan hari-hari raya kaum musyrikin (Tafsir Ibnu Jarir\u2026\/\u2026.)<\/p>\n<p>Lebih parah lagi apabila seorang muslim bersedia menghadiri acara tersebut di gereja atau tempat-tempat ibadah mereka. Rasulullah mengecam perbuatan ini dengan sabdanya:<\/p>\n<p>\u0648\u064e\u0644\u0627\u064e \u062a\u064e\u062f\u0652\u062e\u064f\u0644\u064f\u0648\u0652\u0627 \u0639\u064e\u0644\u0649\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0634\u0652\u0631\u0650\u0643\u064a\u0652\u0646\u064e \u0641\u0650\u064a\u0652 \u0643\u064e\u0646\u0627\u064e\u0626\u0650\u0633\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0645\u064e\u0639\u0627\u064e\u0628\u0650\u062f\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0633\u0651\u064f\u062e\u0652\u0637\u064e\u0629\u064e \u062a\u064e\u0646\u0652\u0640\u0632\u0650\u0644\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u0652<\/p>\n<p>\u201cDan janganlah kalian menemui orang-orang musyrikin di gereja-gereja atau tempat-tempat ibadah mereka, karena kemurkaan Allah akan menimpa mereka.\u201d (H.R Al Baihaqi dengan sanad shahih)<\/p>\n<p><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>2. Tidak Memberikan Ucapan Selamat Hari Raya<\/strong><\/span><\/p>\n<p>Didalam salah satu fatwanya, beliau (Asy Syaikh Ibnu Utsaimin) mengatakan bahwa memberikan ucapan selamat hari raya Natal kepada kaum Nashrani dan selainnya dari hari-hari raya orang kafir adalah haram. Keharaman tersebut disebabkan adanya unsur keridhaan dan persetujuan terhadap syiar kekufuran mereka, walaupun pada dasarnya tidak ada keridhaan terhadap kekufuran itu sendiri. Beliau pun membawakan ayat yaitu (artinya): \u201cBila kalian kufur maka sesungguhnya Allah tidak butuh kepada kalian. Dia tidak ridha adanya kekufuran pada hamba-hamba-Nya. (Namun) bila kalian bersyukur maka Dia ridha kepada kalian.\u201d (Az Zumar:7). Juga firman-Nya (yang artinya):<\/p>\n<p><em>\u201cPada hari ini, Aku telah sempurnakan agama ini kepada kalian, Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kalian dan Aku ridhai Islam menjadi agama kalian.<\/em>\u201d (Al Maidah: 3)<\/p>\n<p>Beliau juga menambahkan bahwa bila mereka sendiri yang mengucapkan selamat hari raya tersebut kepada kita maka kita tidak boleh membalasnya karena memang bukan hari raya kita. Demikian pula, hal tersebut disebabkan hari raya mereka ini bukanlah hari raya yang diridhai Allah karena memang sebuah bentuk bid\u2019ah dalam agama asli mereka. Atau kalau memang disyariatkan, maka hal itu telah dihapus dengan datangnya agama Islam.\u201d (Majmu\u2019uts Tsamin juz 3 dan Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Shalih Al Fauzan 1\/255)<\/p>\n<p>Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir pada hari raya mereka, kalaupun dia ini selamat dari kekufuran maka dia pasti terjatuh kepada keharaman. Keadaan dia ini seperti halnya mengucapkan selamat atas sujud mereka kepada salib. (Ahkamu Ahlidz Dzimmah)<\/p>\n<p><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>3. Tidak Tukar Menukar Hadiah Pada Hari Raya Mereka<\/strong><\/span><\/p>\n<p>Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: \u201cTelah sampai kepada kami (berita) tentang sebagian orang yang tidak mengerti dan lemah agamanya, bahwa mereka saling menukar hadiah pada hari raya Nashrani. Ini adalah haram dan tidak boleh dilakukan. Sebab, dalam (perbuatan) tersebut mengandung unsur keridhaan kepada kekufuran dan agama mereka. Kita mengadukan (hal ini) kepada Allah.\u201d (At Ta\u2019liq \u2018Ala Iqtidha\u2019 Shiratil Mustaqim hal. 277)<\/p>\n<p><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>4. Tidak Menjual Sesuatu Untuk Keperluan Hari Raya Mereka<\/strong><\/span><\/p>\n<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan bahwa seorang muslim yang menjual barang dagangannya untuk membantu kebutuhan hari raya orang-orang kafir baik berupa makanan, pakaian atau selainnya maka ini merupakan bentuk pertolongan untuk mensukseskan acara tersebut. (Perbuatan) ini dilarang atas dasar suatu kaidah yaitu: Tidak boleh menjual air anggur atau air buah kepada orang-orang kafir untuk dijadikan minuman keras (khamr). Demikian halnya, tidak boleh menjual senjata kepada mereka untuk memerangi seorang muslim. (Iqtidha\u2019 Shiratil Mustaqim hal.325)<\/p>\n<p><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>5. Tidak Melakukan Aktivitas-Aktivitas Tertentu Yang Menyerupai Orang-Orang Kafir Pada Hari Raya Mereka<\/strong><\/span><\/p>\n<p>Didalam fatwanya, Asy Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan: \u201cDan demikian pula diharamkan bagi kaum muslimin untuk meniru orang-orang kafir pada hari raya tersebut dengan mengadakan perayaan-perayaan khusus, tukar menukar hadiah, pembagian permen (secara gratis), membuat makanan khusus, libur kerja dan semacamnya. Hal ini berdasarkan ucapan Nabi :<\/p>\n<p>\u0645\u064e\u0646\u0652 \u062a\u064e\u0634\u064e\u0628\u0651\u064e\u0647\u064e \u0628\u0650\u0642\u064e\u0648\u0652\u0645\u064d \u0641\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652\u0647\u064f\u0645\u0652<\/p>\n<p>\u201cBarangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut.\u201d (H.R Abu Daud dengan sanad hasan). (Majmu\u2019uts Tsamin juz 3)<\/p>\n<p><strong>DOSAKAH BILA MELAKUKAN HAL ITU DALAM RANGKA MUDAHANAH (BASA BASI)?<\/strong><\/p>\n<p>Selanjutnya didalam fatwa itu juga, beliau mengatakan: \u201cDan barangsiapa melakukan salah satu dari perbuatan tadi (dalam fatwa tersebut tanpa disertakan no 1,3 dan 4-pent) maka dia telah berbuat dosa, baik dia lakukan dalam rangka bermudahanah, mencari keridhaan, malu hati atau selainnya. Sebab, hal itu termasuk bermudahanah dalam beragama, menguatkan mental dan kebanggaan orang-orang kafir dalam beragama.\u201d (Majmu\u2019uts Tsamin juz 3)<\/p>\n<p>Sedangkan mudahanah didalam beragama itu sendiri dilarang oleh Allah . Allah berfirman (artinya): \u201cMereka (orang-orang kafir) menginginkan supaya kamu bermudahanah kepada mereka lalu mereka pun bermudahanah pula kepadamu.\u201d (Al Qalam:9)<\/p>\n<p><strong>ORANG-ORANG KAFIR BERGEMBIRA BILA KAUM MUSLIMIN IKUT BERPARTISIPASI DALAM HARI RAYA MEREKA<\/strong><\/p>\n<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: \u201cOleh karena itu, orang-orang kafir sangat bergembira dengan partisipasinya kaum muslimin dalam sebagian perkara (agama) mereka. Mereka sangat senang walaupun harus mengeluarkan harta yang berlimpah untuk itu.\u201d (Iqtidha\u2019 Shiratil Mustaqim hal.39).<\/p>\n<p><strong>BOLEHKAH SEORANG MUSLIM IKUT MERAYAKAN TAHUN BARU DAN HARI KASIH SAYANG (VALENTINE\u2019S DAY)?<\/strong><\/p>\n<p>Para ulama yang tergabung dalam Lajnah Da\u2019imah Lil Buhuts Al Ilmiyah Wal Ifta\u2019 (Komite Tetap Kajian Ilmiah Dan Fatwa) Arab Saudi dalam fatwanya no.21203 tertanggal 22 Dzul Qa\u2019dah 1420 menyatakan bahwa perayaan-perayaan selain Iedul Fithri dan Iedul Adha baik yang berkaitan dengan sejarah seseorang, kelompok manusia, peristiwa atau makna-makna tertentu adalah perayaan-perayaan bid\u2019ah. Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk berpartisipasi apapun didalamnya.<\/p>\n<p>Didalam fatwa itu juga dinyatakan bahwa hari Kasih Sayang (Valentine\u2019s Day)- yang jatuh setiap tanggal 14 Pebruari- merupakan salah satu hari raya para penyembah berhala dari kalangan Nashrani.<\/p>\n<p>Adapun Asy Syaikh Shalih Al Fauzan hafidzahullah (salah satu anggota komite tersebut) menyatakan bahwa penanggalan Miladi\/Masehi itu merupakan suatu simbol keagamaan mereka. Sebab, simbol tersebut menunjukan adanya pengagungan terhadap kelahiran Al Masih (Nabi Isa ?) dan juga adanya perayaan pada setiap awal tahunnya. (Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Shalih Al Fauzan 1\/257). Wallahu A&#8217;lam<\/p>\n<p>Sumber: <a href=\"http:\/\/mahad-assalafy.com\/2014\/12\/24\/sikap-seorang-muslim-terhadap-hari-raya-orang-orang-kafir\/\" target=\"_blank\"><strong>Mahad-assalafy.com<\/strong><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR Penulis:\u00a0Asy Syaikh Soleh Al Fauzan hafizhahullah Di negeri kaum muslimin tak terkecuali negeri kita ini, momentum hari raya biasanya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh orang-orang kafir (dalam hal ini kaum Nashrani) untuk menggugah bahkan menggugat tenggang rasa atau toleransi \u2013 ala mereka &#8211; terhadap kaum muslimin. Seiring dengan itu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":9173,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[2190],"class_list":["post-9148","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akidah","tag-sikapseorangmukmintehadapharirayaorangkafir"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9148","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9148"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9148\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/9173"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9148"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9148"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9148"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}