{"id":8718,"date":"2014-12-09T06:32:18","date_gmt":"2014-12-08T22:32:18","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=8718"},"modified":"2014-12-09T06:32:18","modified_gmt":"2014-12-08T22:32:18","slug":"mewaspadai-bahaya-gerakan-syiah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=8718","title":{"rendered":"Mewaspadai Bahaya Gerakan Syi&#8217;ah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><b><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/Mewaspadai-Bahaya-Gerakan-Syiah.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-8736\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/Mewaspadai-Bahaya-Gerakan-Syiah-300x165.jpg\" alt=\"Mewaspadai Bahaya Gerakan Syi'ah\" width=\"300\" height=\"165\" srcset=\"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/Mewaspadai-Bahaya-Gerakan-Syiah-300x165.jpg 300w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/Mewaspadai-Bahaya-Gerakan-Syiah.jpg 500w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>MEWASPADAI BAHAYA GERAKAN SYI&#8217;AH<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #993300;\"><em><span style=\"color: #000000;\">Ditulis oleh:<\/span> Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Permasalahan Syiah, sungguh tak bisa dipisahkan dari agama. Bahkan, sangat bersentuhan dengan akidah yang merupakan fondasi agama. Maka dari itu, cara menilainya pun harus dengan timbangan agama. Hal-hal lain terkait dengan hukum, keamanan, dan ketertiban masyarakat harus disesuaikan dengannya. Lantas, bagaimanakah penilaian agama tentang Syiah?<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Penilaian agama tentang Syiah sebenarnya sudah final. Para ulama yang mulia, sejak dahulu sudah melakukan kajian yang panjang dan cermat tentang Syiah. Hasilnya, Syiah adalah kelompok sesat yang telah menyimpang dari kebenaran. Mereka berambisi untuk menghancurkan Islam dengan cara menghujat al-Qur\u2019an, menjatuhkan Rasulullah <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>, dan mengafirkan para sahabat beliau yang mulia. Mereka beragama dengan perkataan dusta dan persaksian palsu (<i>taqiyah<\/i>). Simaklah keterangan para ulama berikut ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>1. Al-Imam Amir asy-Sya\u2019bi\u00a0<i>rahimahullah<\/i><\/strong> berkata, \u201cAku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syiah.\u201d (<i>as-Sunnah <\/i>karya Abdullah bin al-Imam Ahmad 2\/549)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>2. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri\u00a0<i>rahimahullah<\/i><\/strong> ketika ditanya tentang seseorang yang mencela Abu Bakr dan Umar (yakni Syiah<i>, pen.<\/i>) berkata, \u201cIa telah kafir kepada Allah <i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i><\/i>.\u201d Kemudian ditanya, \u201cApakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?\u201d Beliau berkata, \u201cTidak, tiada kehormatan (baginya)\u2026.\u201d (<i>Siyar A\u2019lamin Nubala <\/i>karya al-Imam adz-Dzahabi 7\/253)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>3. Al-Imam Malik bin Anas\u00a0<i>rahimahullah<\/i><\/strong> berkata, \u201cMereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> namun tidak mampu. Akhirnya, mereka mencela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>) seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orangorang saleh.\u201d (<i>ash-Sharimul Maslul \u2018ala<\/i> <i>Syatimirrasul <\/i>karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 580)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>4. Al-Imam asy-Syafi\u2019i\u00a0<i>rahimahullah<\/i><\/strong> berkata, \u201cAku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah (Syiah) dalam persaksian palsu.\u201d (<i>Mizanul I\u2019tidal <\/i>karya al-Imam adz-Dzahabi 2\/27\u201428)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>5. Al-Imam Ahmad bin Hanbal\u00a0<i>rahimahullah<\/i><\/strong> berkata, \u201cAku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah ) itu orang Islam.\u201d (<i>as-<\/i> <i>Sunnah <\/i>karya al-Khallal 1\/493)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>6. Al-Imam al-Bukhari\u00a0<i>rahimahullah<\/i><\/strong> berkata, \u201cBagiku sama saja shalat di belakang Jahmi (seorang penganut akidah Jahmiyah) dan Rafidhi (Syiah) atau di belakang Yahudi dan Kristen. Mereka tidak boleh diberi salam, tidak boleh pula dikunjungi ketika sakit, dinikahkan, dijadikan saksi, dan dimakan sembelihannya.\u201d (<i>Khalqu<\/i> <i>Af\u2019alil \u2018Ibad<\/i>, hlm. 125)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Bisa jadi, Anda berkata, \u201cItu kan versi ulama Sunni! Bagaimanakah keterangan ulama ahlul bait tentang mereka?\u201d Baiklah, kalau begitu simaklah keterangan berikut ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>1. Khalifah Ali bin Abi Thalib\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i><\/strong><\/span> berdoa, \u201cYa Allah, aku telah bosan dengan mereka (Syiah) dan mereka pun telah bosan denganku. Maka dari itu, gantikanlah untukku orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan gantikan untuk mereka seorang yang lebih jelek dariku\u2026\u201d (<i>Nahjul Balaghah<\/i>, hlm. 66\u201467, dinukil dari <i>asy-Syiah wa Ahlul Bait <\/i>karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>2. Hasan bin Ali\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>ma<\/strong> <\/span>berkata, \u201cDemi Allah! Menurutku, Mu\u2019awiyah lebih baik daripada orang-orang yang mengaku sebagai Syiah-ku, mereka berupaya untuk membunuhku dan mengambil hartaku.\u201d (<i>al-Ihtijaj<\/i>, karya ath-Thabrisi hlm. 148, dinukil dari <i>asy-Syiah Wa<\/i> <i>Ahlul Bait<\/i>karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>3. Husain bin Ali\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i><\/strong><\/span> berdoa, \u201cYa Allah, jika Engkau memberi mereka (Syiah) kehidupan hingga saat ini, porakporandakan mereka dan jadikan mereka berkeping-keping. Janganlah Engkau jadikan para pemimpin (yang ada) ridha kepada mereka (Syiah) selama-lamanya. Sebab, kami diminta untuk membantu mereka, namun akhirnya mereka justru memusuhi kami dan menjadi sebab terbunuhnya kami.\u201d (<i>al-Irsyad<\/i><b>, <\/b>karya al-Mufid hlm. 341, dinukil dari <i>asy-<\/i> <i>Syiah wa Ahlul Bait<\/i>karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 302)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>4. Al-Imam Ali bin Husain Zainal Abidin <\/strong><\/span><i><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>rahimahullah<\/strong><\/span>\u00a0<\/i>berkata, \u201cMereka (Syiah) bukan dari kami, dan kami pun bukan dari mereka.\u201d (<i>Rijalul Kisysyi<\/i>, hlm. 111, dinukil dari <i>asy-Syiah wa Ahlul Bait<\/i> karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>5. Al-Imam Muhammad al-Baqir <i>rahimahullah<\/i><\/strong><\/span> berkata, \u201cSeandainya semua manusia ini Syiah, niscaya tiga perempatnya adalah orang-orang yang ragu dengan kami, dan seperempatnya adalah orang-orang dungu.\u201d (<i>Rijalul Kisysyi<\/i>, hlm. 179, dinukil dari <i>asy-Syiah wa Ahlul Bait <\/i>karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>6. Al-Imam Ja\u2019far ash-Shadiq\u00a0<i>rahimahullah<\/i><\/strong><\/span> berkata, \u201cAllah\u00a0<i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i><\/i> berlepas diri dari orang-orang yang membenci Abu Bakr dan Umar <i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>ma.\u201d (<i>Siyar A\u2019lamin Nubala\u2019<\/i> karya al-Imam adz-Dzahabi 6\/260) Bisa jadi, Anda heran terhadap kesimpulan para ulama terkemuka di atas. Sejauh itukah kesimpulan mereka? Apa yang melandasi berbagai kesimpulan itu? Mengapa Syiah bisa seperti itu? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang menggelitik di hati Anda. Jawaban ringkasnya, karena Syiah adalah sekte (baca: agama) tersendiri yang sangat bertolak belakang dengan Islam. Mengapa demikian? Untuk lebih jelasnya ikutilah pembahasan berikut ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><b>Kedekatan Syiah dengan Yahudi<\/b><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Syiah sangat dekat dengan Yahudi. Kedekatan itu setidaknya dalam dua hal yang sangat prinsip:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Pendirinya<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Prinsip keyakinannya (akidahnya).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Pendiri agama Syiah adalah seorang peranakan Yahudi kota Shan\u2019a, Yaman. Dia bernama Abdullah bin Saba\u2019 al- Yahudi al-Himyari.2 Ibunya seorang wanita yang berkulit hitam, sehingga dikenal pula dengan sebutan Ibnu Sauda\u2019 (putra seorang wanita yang berkulit hitam). Layaknya keumuman bangsa Yahudi, Abdullah bin Saba\u2019 berkarakter buruk, licik, dan penuh makar terhadap Islam dan umat Islam. Dia menyusup di tengah-tengah umat Islam untuk merusak tatanan agama dan masyarakat. Awal kemunculannya di akhir masa Khalifah Utsman bin Affan <i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>. Dengan kedok keislaman, semangat amar ma\u2019ruf nahi mungkar, dan bertopengkan <i>tanassuk<\/i> (giat beribadah) dia kemas berbagai misi jahatnya. Tak hanya akidah sesat yang dia tebarkan di tengah umat, gerakan provokasi massa pun dilakukannya untuk menggulingkan Khalifah Utsman bin Affan\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i> hingga terbunuhlah beliau.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib <i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>, dia menampakkan kecintaan dan loyalitas yang tinggi terhadap sang Khalifah dan ahlul bait. Dia dan komplotannya menamakan diri sebagai <i>syi\u2019atu<\/i>Ali (para pengikut Ali). Dengan kedok kecintaan dan loyalitas terhadap Ali bin Abi Thalib\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i> dan ahlul bait itulah agama Syiah terus menggurita di tengah umat. (Lihat <i>Minhajus Sunnah<\/i>karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 8\/479, <i>Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah <\/i>karya al-Imam Ibnu Abil \u2018Iz, hlm. 490, dan <i>Kitab at-Tauhid <\/i>karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, hlm. 123)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah\u00a0<i>rahimahullah<\/i> menegaskan, \u201cPara ulama menyebutkan bahwa latar belakang Rafdh (Syiah) adalah dari seorang zindiq (Abdullah bin Saba\u2019) yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan identitas Yahudinya. Dia berupaya merusak Islam sebagaimana Paulus (seorang Yahudi, -pen.) yang menampakkan diri sebagai seorang kristiani untuk merusak agama Kristen.\u201d (<i>Majmu\u2019 Fatawa <\/i>28\/483)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun prinsip keyakinan (akidah) Syiah, banyak kesamaannya dengan prinsip keyakinan (akidah) Yahudi. Hal ini tentu tidak aneh, sebab pendirinya adalah seorang Yahudi. Di antara prinsip keyakinan (akidah) mereka yang sama dengan Yahudi adalah sebagai berikut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><b>1. Tentang <i>washiy<\/i><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><i>Washiy <\/i>adalah seseorang yang mendapat wasiat untuk melanjutkan tugas atau misi si pemberi wasiat. Dalam agama Yahudi, adanya <i>washiy <\/i>adalah satu keharusan. Demikian pula dalam agama Syiah. Kalau <i>washiy <\/i>dalam agama Yahudi adalah Yusya\u2019 bin Nun yang didaulat sebagai pengganti Nabi Musa \u2018Alaihissalam, maka <i>washiy <\/i>dalam agama Syiah adalah Ali bin Abi Thalib\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>sebagai pengganti Nabi Muhammad <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>. Jadi, dalam prinsip keyakinan (akidah) Syiah, para khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib <i>rahimahullah<\/i>, yaitu Abu Bakr, Umar, dan Utsman g adalah perampas kekuasaan dan mereka telah kafir. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat<i>Badzlul<\/i> <i>Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah<\/i> <i>lil Yahudi <\/i>karya Abdullah al-Jumaili 1\/169\u2014197)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><b>2. Tentang kepemimpinan umat<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dalam agama Yahudi, kepemimpinan umat hanya berada pada keturunan Nabi Dawud &#8216;alaihissalam. Dalam agama Syiah, kepemimpinan umat hanya berada pada keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>. Demikianlah kondisi 12 imam mereka yang diyakini <i>ma\u2019shum<\/i> (terlindungi dari dosa), termasuk Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman. Dalam pandangan Islam, Imam Mahdi adalah keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib <i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>ma, bukan keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib <i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>ma. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat <i>Badzlul<\/i> <i>Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah<\/i> <i>lil Yahudi <\/i>karya Abdullah al-Jumaili 1\/201\u2014224)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><b>3. Tentang <i>raj\u2019ah<\/i><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><i>Raj\u2019ah <\/i>adalah hidup kembali setelah mati sebelum hari kiamat. Dalam agama Yahudi, orang yang sudah mati dapat hidup kembali. Demikian pula menurut agama Syiah. Mereka meyakini bahwa orang-orang yang sudah mati dan tinggi keimanannya akan dihidupkan kembali di masa Imam Mahdi (akhir zaman) untuk dimuliakan. Demikian pula orang-orang yang sudah mati dan tinggi tingkat kejahatannya akan dihidupkan kembali untuk dihinakan. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat <i>Badzlul Majhud fi Itsbat<\/i> <i>Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi <\/i>karya Abdullah al-Jumaili 1\/275\u2014312)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><b>4. Tentang <i>al-bada\u2019<\/i><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><i>Al-bada\u2019 <\/i>adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Dalam agama Yahudi, <i>al-bada\u2019<\/i>terjadi pada Allah <i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i><\/i>. Demikian pula menurut agama Syiah. Bahkan, mereka menjadikannya bagian dari tauhid. Berbeda halnya dengan agama Islam, ilmu Allah\u00a0<i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i><\/i> sangat luas, tak dibatasi oleh sesuatu pun. Ilmu Allah\u00a0<i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i><\/i> bersifat azali (tak bermula dan berakhir). Tidak ada sesuatu pun yang terluput dari ilmu- Nya. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat <i>Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir<\/i> <i>Rafidhah lil Yahudi <\/i>karya Abdullah al- Jumaili 1\/317\u2014352)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><b>5. Tentang mengubah Kitab Suci<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Mengubah Kitab Suci adalah sifat tercela yang melekat pada ulama Yahudi, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala<\/em>\u00a0dalam banyak ayat-Nya. Demikian pula halnya dengan kaum Syiah. Mereka mengubah al-Qur\u2019an hingga berlipat jumlah ayatnya. Anehnya, mereka mengklaim bahwa al-Qur\u2019an yang ada di tangan umat Islamlah yang telah mengalami pengubahan. <i>Wallahul<\/i> <i>musta\u2019an. <\/i>(Lebih lanjut, lihat <i>Badzlul<\/i> <i>Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah<\/i> <i>lil Yahudi <\/i>karya Abdullah al-Jumaili 1\/355\u2014438)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><b>6. Tentang kecintaan dan<\/b><b> <\/b><b>kebencian<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kaum Yahudi berlebihan dalam hal mencintai sebagian nabi mereka dan membenci sebagian yang lainnya. Demikian pula sikap mereka terhadap para ulama yang membimbing mereka. Kaum Syiah tak jauh berbeda. Mereka berlebihan mencintai para imam mereka, bahkan memosisikan mereka di atas para malaikat dan para nabi. Di sisi lain, mereka membenci para sahabat , bahkan mengafirkan mereka. (Lebih lanjut, lihat <i>Badzlul Majhud fi Itsbat<\/i> <i>Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi <\/i>karya Abdullah al-Jumaili 2\/443\u2014513)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><b>7. Tentang pengagungan diri mereka<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kaum Yahudi meyakini bahwa mereka adalah manusia terbaik, bahkan mereka mengklaim sebagai anak-anak Allah\u00a0<i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i><\/i> dan lebih mulia dari para malaikat. Demikian pula halnya dengan kaum Syiah. Mereka mengklaim sebagai orang-orang pilihan Allah\u00a0<i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i><\/i> dan lebih mulia dari para malaikat. Kaum Yahudi mengklaim bahwa merekalah manusia yang seutuhnya, sedangkan selain mereka hina dina.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikian pula halnya dengan kaum Syiah, mereka mengklaim sebagai manusia yang seutuhnya, sedangkan selain mereka hina dina. (Lebih lanjut, lihat <i>Badzlul<\/i> <i>Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah<\/i> <i>lil Yahudi <\/i>karya Abdullah al-Jumaili 2\/517\u2014554)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><b>8. Tentang pengafiran selain<\/b><b> <\/b><b>mereka<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kaum Yahudi memvonis selain mereka sebagai orang kafir, halal darah dan hartanya. Demikian pula halnya kaum Syiah, memvonis selain mereka sebagai orang kafir, halal darah dan hartanya. (Lebih lanjut, lihat <i>Badzlul Majhud fi Itsbat<\/i> <i>Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi <\/i>karya Abdullah al-Jumaili 2\/559\u2014597)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><b>9. Tentang kedustaan yang ada<\/b><b> <\/b><b>pada mereka<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sifat dusta sudah menjadi karakter kaum Yahudi, baik dalam kehidupan beragama maupun keseharian. Tak beda jauh dengan kaum Syiah, mereka menjalankan kehidupan beragama dengan kedustaan yang mereka sebut dengan taqiyah. Oleh karena itu, al-Imam asy-Syafi\u2019i\u00a0<i>rahimahullah\u00a0<\/i>berkata, \u201cAku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah (Syiah) dalam hal persaksian palsu.\u201d (Untuk lebih rincinya, silakan lihat <i>Badzlul<\/i> <i>Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah<\/i> <i>lil Yahudi <\/i>karya Abdullah al Jumaili 2\/631\u2014669)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Patut dicatat di sini bahwa semua yang telah disebutkan tentang kesamaan agama Syiah dengan agama Yahudi di atas, tak didapati pada umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama\u2019ah. Sebab, mereka meyakini kewajiban menyelisihi kaum Yahudi dalam kehidupan ini, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak, adab, dan muamalah. Anehnya, seiring dengan banyaknya kesamaan antara agama Syiah dengan agama Yahudi, sebanyak itu pula perbedaannya dengan agama Islam. Perbedaan itu bukan dalam hal yang kecil, melainkan dalam hal mendasar yang merupakan prinsip dalam kehidupan beragama. Cobalah perhatikan! Al-Qur\u2019an mereka berbeda dengan al-Qur\u2019an umat Islam, azan dan iqamat mereka berbeda dengan azan dan iqamat umat Islam, tata cara berwudhu mereka berbeda dengan tata cara berwudhu umat Islam, kaifiyah shalat mereka berbeda dengan kaifiyah shalat umat Islam, dan hari wukuf mereka di Arafah (ketika berhaji) pun berbeda dengan hari wukuf umat Islam. (Lihat <i>VCD Bahaya Kesesatan Syiah <\/i>dan <i>VCD<\/i> <i>Ada Syiah di Indonesia<\/i>)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><b>Syiah Merobohkan Tiga Pilar Utama<\/b><b> <\/b><b>Umat Islam<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ada tiga pilar utama dalam agama Islam. Tanpa ketiganya agama seseorang menjadi rapuh dan sekejap akan runtuh. Tiga pilar utama itu adalah al-Qur\u2019an, Sunnah Rasulullah <em>Shallallahu `alaihi wa sallam<\/em>, dan pemahaman para sahabat (<i>salaful<\/i> <i>ummah<\/i>). Bagaimanakah upaya Syiah merobohkan tiga pilar itu? Al-Qur\u2019an yang merupakan Kitab Suci umat Islam tak lagi dianggap suci oleh mereka, bahkan tidak sah dan kurang dari yang aslinya. Disebutkan dalam kitab <i>al-Kafi<\/i> (yang kedudukannya di sisi mereka seperti <i>Shahih al-Bukhari <\/i>di sisi kaum muslimin) karya Abu Ja\u2019far Muhammad bin Ya\u2019qub al-Kulaini (2\/634) dari Abu Abdillah (Ja\u2019far ash-Shadiq), dia berkata, \u201cSesungguhnya al-Qur\u2019an yang dibawa Jibril kepada Muhammad\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> itu (ada) 17.000 ayat.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Disebutkan juga dari Abu Abdillah ( 1 \/ 2 3 9 \u2014 2 4 0 ) , dia berkata , \u201cSesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fatimah <i>\u2018alaihas salam<\/i>, mereka tidak tahu apa mushaf Fatimah itu.\u201d Abu Bashir bertanya, \u201cApa mushaf Fatimah itu?\u201d Dia (Abu Abdillah) berkata, \u201cMushaf yang isinya tiga kali lipat dari yang ada di mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur\u2019an kalian.\u201d (Dinukil dari kitab <i>asy-Syiah<\/i> <i>wal Qur\u2019an <\/i>karya Dr. Ihsan Ilahi zhahir, hlm. 31\u201432)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Bahkan, salah seorang \u201cahli hadits\u201d mereka yang bernama Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath- Thabrisi dalam kitabnya <i>Fashlul Khithab<\/i> <i>Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab<\/i> mengumpulkan berbagai riwayat dari para imam mereka yang diyakini <i>ma\u2019shum<\/i> (terjaga dari dosa), bahwa al-Qur\u2019an yang ada di tangan umat Islam itu telah terjadi pengubahan dan penyimpangan. Adapun terhadap Sunnah Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> mereka merobohkannya dengan berbagai cara. Di antaranya:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Mengklaim bahwa para istri Rasul\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> adalah pelacur, agar timbul kesan bahwa beliau\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> adalah orang yang tidak baik, sehingga sunnahnya tak bisa diamalkan. Disebutkan dalam kitab mereka, <i>Ikhtiyar Ma\u2019rifatir Rijal, <\/i>karya ath-Thusi (hlm. 57\u201460), dinukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin Abbas\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>ma terhadap Ummul Mukminin Aisyah, \u201cKamu tidak lain adalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>.\u201d (Dinukil dari kitab <i>Daf\u2019ul Kadzibil Mubin al-Muftara<\/i> <i>Minarrafidhati \u2018ala Ummahatil Mukminin<\/i> karya Dr. Abdul Qadir Muhammad \u2018Atha, hlm. 11)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Mengafirkan para sahabat kecuali beberapa orang saja dari mereka. Tentu saja, dengan dikafirkannya para sahabat berarti gugur pula semua Sunnah Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>yang diriwayatkan melalui mereka. Disebutkan dalam kitab mereka <i>Rijalul Kisysyi <\/i>(hlm. 12\u201413) dari Abu Ja\u2019far Muhammad al-Baqir, dia berkata, \u201cManusia (para sahabat) sepeninggal Nabi\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.\u201d Aku (perawi) berkata, \u201cSiapa tiga orang itu?\u201d Dia (Abu Ja\u2019far) berkata, \u201cAl-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi\u2026.\u201d kemudian dia menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari <i>asy-<\/i> <i>Syiah al-Imamiyah al-Itsna \u2018Asyariyyah<\/i> <i>fi Mizanil Islam<\/i>, hlm. 89)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun sahabat Abu Bakr ash- Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab <i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>ma, dua manusia terbaik setelah Rasulullah <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>, mereka cela dan laknat. Bahkan, mereka berlepas diri dari keduanya adalah bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (<i>Miftahul Jinan<\/i>, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya:<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: left;\">\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f\u0645\u0651\u064e \u0635\u064e\u0644\u0650\u0651 \u0639\u064e\u0644\u0649\u064e \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u0651\u064e\u062f\u064d \u0648\u064e\u0639\u064e\u0644\u0649\u064e \u0622\u0644\u0650 \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u0651\u064e\u062f\u064d\u060c \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0646\u0652 \u0635\u064e\u0646\u064e\u0645\u064e\u064a\u0652 \u0642\u064f\u0631\u064e\u064a\u0652\u0634\u064d \u0648\u064e\u062c\u0650\u0628\u0652\u062a\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0637\u064e\u0627\u063a\u064f\u0648\u0652\u062a\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0627\u0628\u0652\u0646\u064e\u062a\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u064e\u0627<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><i>\u201cYa Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka\u2026. (yang dimaksud adalah Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah).\u201d <\/i>(Dinukil dari kitab <i>al-Khuthuth al- \u2018Aridhah <\/i>karya as-Sayyid Muhibbuddin<i> <\/i>al-Khatib, hlm. 18)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Oleh karena itu, al-Imam Malik bin Anas\u00a0<i>rahimahullah<\/i> berkata, \u201cMereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi Shallallahu \u2018alaihi wasallam, namun tidak mmampu. Akhirnya, mereka mencela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad) adalah seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh.\u201d (<i>ash-Sharimul Maslul \u2018ala Syatimir<\/i> <i>Rasul<\/i>, hlm. 580)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dengan robohnya pilar kepercayaan kepada para sahabat Nabi Shallallahu \u2018alaihi wasallam, akan roboh pula pilar kepercayaan kepada al-Qur\u2019an dan Sunnah Rasulullah <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>. Al-Imam Abu Zur\u2019ah ar-Razi\u00a0<i>rahimahullah<\/i> berkata, \u201cJika engkau melihat orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i><i>,<\/i> ketahuilah bahwa ia <i>zindiq <\/i>(seorang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Sebab, Rasul bagi kita adalah haq dan al-Qur\u2019an adalah haq. Sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur\u2019an dan as-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>. Mereka mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan al-Qur\u2019an dan as-Sunnah. Mereka (Syiah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah orang-orang <i>zindiq<\/i>.\u201d (<i>al-Kifayah <\/i>karya al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Lebih dari itu, dengan robohnya pilar kepercayaan kepada para sahabat Nabi <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>, siapa pun akan kesulitan untuk memahami agama Islam dengan baik dan benar. Sebab, melalui merekalah ilmu Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> diwariskan dan melalui mereka pula pemahaman yang benar tentang agama ini didapatkan. Tanpa itu, kesesatanlah kesudahannya. Allah\u00a0<i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i><\/i> berfirman,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: left;\">\u0648\u064e\u0645\u064e\u0646 \u064a\u064f\u0634\u064e\u0627\u0642\u0650\u0642\u0650 \u0627\u0644\u0631\u0651\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064e \u0645\u0650\u0646 \u0628\u064e\u0639\u0652\u062f\u0650 \u0645\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0628\u064e\u064a\u0651\u064e\u0646\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f \u0627\u0644\u0652\u0647\u064f\u062f\u064e\u0649\u0670 \u0648\u064e\u064a\u064e\u062a\u0651\u064e\u0628\u0650\u0639\u0652 \u063a\u064e\u064a\u0652\u0631\u064e \u0633\u064e\u0628\u0650\u064a\u0644\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646\u0650\u064a\u0646\u064e \u0646\u064f\u0648\u064e\u0644\u0651\u0650\u0647\u0650 \u0645\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0648\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649\u0670 \u0648\u064e\u0646\u064f\u0635\u0652\u0644\u0650\u0647\u0650 \u062c\u064e\u0647\u064e\u0646\u0651\u064e\u0645\u064e \u06d6 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0627\u0621\u064e\u062a\u0652 \u0645\u064e\u0635\u0650\u064a\u0631\u064b\u0627<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><i>\u201cBarang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.\u201d <\/i><b>(an-Nisa\u2019: 115)<\/b><i><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Al-Imam Ibnu Abi Jamrah al- Andalusi\u00a0<i>rahimahullah<\/i> berkata, \u201cPara ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah\u00a0<i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i><\/i> (di atas) bahwa yang dimaksud orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> dan generasi pertama dari umat ini.\u201d (<i>al-Marqat fi<\/i> <i>Nahjis Salaf Sabilun Najah, <\/i>hlm. 36\u201437)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><b>Pengkhianatan Syiah Terhadap Umat<\/b><b> <\/b><b>Islam<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Syiah tercatat kerap melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam. Mereka telah berkhianat terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib <i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>, Khalifah Hasan bin Ali <i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>ma, dan Husain bin Ali radhiyallahu \u2018anhuma. (Lihat ungkapan kekecewaan mereka pada pembahasan sebelumnya)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sejarah pun mencatat bahwa runtuhnya Daulah Abbasiyah (tahun 656 H) yang mengendalikan kepemimpinan umat Islam dalam skala internasional, adalah karena pengkhianatan sang Perdana Menteri, Muhammad Ibnul Alqami, yang beragama Syiah. Akibatnya, Khalifah Abdullah bin Manshur yang bergelar al-Musta\u2019shim Billah dan para pejabat pentingnya tewas mengenaskan dibantai oleh pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulaghu Khan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kota Baghdad (ibu kota Daulah Abbasiyah) porak-poranda. Kebakaran terjadi di mana-mana. Umat Islam yang tinggal di Kota Baghdad dibantai secara massal; tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, orang awam, dan ulama. Selama 40 hari pembantaian terus menerus terjadi. Kota Baghdad bersimbah darah. Tumpukan mayat umat Islam berserakan di mana-mana. Bau mayat yang sudah membusuk semakin menambah duka nestapa. Nyaris sungai Tigris menjadi merah karena simbahan darah umat Islam. Sementara itu, sungai Dajlah nyaris menjadi hitam karena lunturan tinta kitab-kitab berharga umat Islam yang mereka buang ke dalamnya. <i>Wallahul musta\u2019an<\/i>. (Untuk lebih rincinya, silakan membaca <i>al-<\/i> <i>Bidayah wan Nihayah <\/i>karya al-Imam Ibnu Katsir, 13\/200\u2014211, <i>Tarikhul Islam<\/i> <i>wa Wafayatul Masyahir wal A\u2019lam <\/i>karya al-Imam adz-Dzahabi 48\/33\u201440, dan <i>Tarikhul Khulafa\u2019<\/i>karya al-Imam as-Suyuthi, hlm. 325\u2014335)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikianlah sekelumit tentang agama Syiah, kesesatan, kejahatan, dan bahayanya terhadap umat Islam. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran. Amin\u2026.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber: <a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/manhaji-mewaspadai-bahaya-gerakan-syiah\/\" target=\"_blank\"><strong>Majalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MEWASPADAI BAHAYA GERAKAN SYI&#8217;AH Ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi Permasalahan Syiah, sungguh tak bisa dipisahkan dari agama. Bahkan, sangat bersentuhan dengan akidah yang merupakan fondasi agama. Maka dari itu, cara menilainya pun harus dengan timbangan agama. Hal-hal lain terkait dengan hukum, keamanan, dan ketertiban masyarakat harus disesuaikan dengannya. Lantas, bagaimanakah penilaian agama tentang Syiah? [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8736,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2111],"tags":[2112],"class_list":["post-8718","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-syiah-2","tag-mewaspadai-bahaya-gerakan-syiah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8718","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8718"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8718\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/8736"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8718"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8718"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8718"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}