{"id":7885,"date":"2014-11-06T12:41:16","date_gmt":"2014-11-06T04:41:16","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=7885"},"modified":"2015-06-07T14:26:42","modified_gmt":"2015-06-07T06:26:42","slug":"safar-duniawi-menuju-safar-ukhrawi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=7885","title":{"rendered":"Safar Duniawi Menuju Safar Ukhrawi"},"content":{"rendered":"<p><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Safar-duniawi-Menuju-Safar-Ukhrawi.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-7903\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Safar-duniawi-Menuju-Safar-Ukhrawi-300x150.jpg\" alt=\"Safar duniawi Menuju Safar Ukhrawi\" width=\"300\" height=\"150\" srcset=\"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Safar-duniawi-Menuju-Safar-Ukhrawi-300x150.jpg 300w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Safar-duniawi-Menuju-Safar-Ukhrawi.jpg 500w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>SAFAR DUNIAWI MENUJU SAFAR UKHRAWI<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"color: #993300;\"><em>Ditulis oleh:\u00a0Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin hafizhahullah<\/em><\/span><\/p>\n<p><em>\u201cMaha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami.\u201d<\/em> (Az-Zukhruf: 13-14)<\/p>\n<p><strong><em>Penjelasan Mufradat Ayat<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Maha Suci Allah. Kata ini merupakan kata dasar (mashdar\/maf\u2019ul muthlaq) dalam kedudukan manshub (dengan alamat harakat fathah) disebabkan oleh sebuah fi\u2019il (kata kerja) yang tersembunyi, yaitu:<\/p>\n<p>\u0623\u064f\u0633\u064e\u0628\u0650\u0651\u062d\u064f \u0627\u0644\u0644\u0647\u064e \u0633\u064f\u0628\u0652\u062d\u064e\u0627\u0646\u064b\u0627 \u0623\u064e\u064a\u0652 \u062a\u064e\u0633\u0652\u0628\u0650\u064a\u062d\u064b\u0627<\/p>\n<p>(Saya benar-benar menyucikan Allah). Secara bahasa at-tasbih bermakna menjauhkan dari segala keburukan. Adapun secara syar\u2019i bermakna menyucikan dari segala apa yang tidak layak bagi kebesaran Allah Subhanahuwata\u2019ala dan kesempurnaan-Nya. (lihat Adhwa\u2019ul Bayan tafsir Surat Al-Isra\u2019 ayat 1)<\/p>\n<p>\u201cYang telah menundukkan semua ini bagi kami.\u201d<\/p>\n<p>Bermakna \u0630\u064e\u0644\u064e\u0651\u0644\u064e yaitu menundukkan. Adapun \ufb7a merupakan isim isyarat\/kata tunjuk yang kembali kepada lafadz \u0645\u064e\u0627 pada ayat sebelumnya (Az-Zukhruf: 12) yaitu \u00a0 \u00a0 \ufb68 \u00a0\ufb69 \u00a0 artinya apa-apa yang kamu tunggangi (kapal\/perahu dan binatang ternak).<\/p>\n<p>Bermakna \u0645\u064f\u0637\u0650\u064a\u0642\u0650\u064a\u0646\u064e, yaitu mampu menguasai, sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Abbas \u00a0radhiyallahuanhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim. Pendapat serupa juga diucapkan oleh Qatadah, Mujahid, dan As-Suddi. Mujahid -dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Al-Firyabi, \u2018Abd bin Humaid, dan Ibnu Jarir- juga berkata: \u201cMakna \ufb7e \u00a0 adalah unta, kuda, bighal (peranakan kuda dan keledai), dan keledai.\u201d<\/p>\n<p>Kata \ufb7e \u00a0 diambil dari \u0623\u064e\u0642\u0652\u0631\u064e\u0646\u064e \u0644\u0650\u0644\u0652\u0623\u064e\u0645\u0652\u0631\u0650 \u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0637\u064e\u0627\u0642\u064e\u0647\u064f \u0648\u064e\u0642\u064e\u0648\u0650\u064a\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 artinya menguasai perkara apabila ia mampu dan kuat. Maknanya adalah kalau bukan karena Allah Subhanahuwata\u2019ala yang menundukkan perahu dan binatang ternak sebagai tunggangan bagi kita, kita tidak mampu melakukannya. Akan tetapi karena kelembutan dan kemuliaan-Nya, Allah Subhanahuwata\u2019ala tundukkan dan mudahkan sebab-sebabnya.<\/p>\n<p>Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. Maknanya:<\/p>\n<p>\u0623\u064e\u064a\u0652 \u0644\u064e\u0635\u064e\u0627\u0626\u0650\u0631\u064f\u0648\u0646\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0628\u064e\u0639\u0652\u062f\u064e \u0645\u064e\u0645\u064e\u0627\u062a\u0650\u0646\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0625\u0650\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0633\u064e\u064a\u0652\u0631\u064f\u0646\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0643\u0652\u0628\u064e\u0631\u064f<\/p>\n<p>yaitu kita kembali kepada-Nya setelah kematian kita dan hanya kepada-Nya perjalanan kita yang terbesar (perjalanan menuju akhirat, pen.). Hal ini sebagai bentuk peringatan terhadap perjalanan dunia atas perjalanan akhirat. Sebagaimana yang Allah Subhanahuwata\u2019ala peringatkan tentang bekal yang sifatnya duniawi atas bekal yang sifatnya ukhrawi, dalam surat Al-Baqarah ayat 197:<\/p>\n<p>\u201cBerbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.\u201d<\/p>\n<p>Demikian pula terhadap pakaian yang sifatnya duniawi atas pakaian yang sifatnya ukhrawi, seperti pada surat Al-A\u2019raf ayat 26:<\/p>\n<p>\u201cHai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.\u201d<\/p>\n<p>Bermakna \u0631\u064e\u0627\u062c\u0650\u0639\u064f\u0648\u0646\u064e artinya kembali, sebagaimana disebutkan oleh jumhur (kebanyakan) ahli tafsir seperti Ibnu Katsir, Al-Alusi, Al-Baidhawi, Ath-Thabari, Ibnul Jauzi, Abu Hayyan, Asy-Syaukani, dan Asy-Syinqithi dalam kitab tafsir mereka.<\/p>\n<p>Asy-Syinqithi rahimahullah dalam tafsir surat Al-Mulk ayat 15 berkata: \u201cAyat Allah Subhanahuwata\u2019ala:<\/p>\n<p>\u2018Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.\u2019 Allah Subhanahuwata\u2019ala sebutkan ayat ini setelah adanya perintah (kepada manusia) untuk melakukan perjalanan di segala penjuru bumi, mencari rezeki, melihat dan mencermati akibat dari suatu sebab serta ditundukkannya bumi. Ayat ini seperti ayat:<\/p>\n<p><em>\u201cDan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami.\u201d<\/em> (Az-Zukhruf: 14)<\/p>\n<p>setelah ayat:<\/p>\n<p><em>\u201c(Yaitu) Yang Menciptakan seluruh yang berpasang-pasangan serta menundukkan kapal dan binatang ternak sebagai kendaraan.\u201d<\/em> (Az-Zukhruf: 12)<\/p>\n<p>Pada ayat ini terdapat kandungan makna yang menetapkan adanya kekuasaan Allah Subhanahuwata\u2019ala atas hari kebangkitan (menghidupkan orang mati), sehingga seseorang dapat melakukan perjalanan di segala penjuru bumi, menggunakan dan memanfaatkan kebaikan darinya. Semua itu bukan semata-mata untuk mencari rezeki, namun dalam rangka menjalani sebab dan melihat kepada akibat, serta mengambil pelajaran terhadap seluruh ciptaan(Nya). Yang terpenting (dari semua itu) adalah mencari bekal untuk kehidupan akhirat.\u201d<\/p>\n<p>Abu Hayyan rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Bahrul Muhith ketika menafsirkan surat Az-Zukhruf ayat 14: \u201cMakna ayat \u2018Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami,\u2019 adalah ikrar (pengakuan) untuk kembali kepada Allah Subhanahuwata\u2019ala dan adanya hari kebangkitan. Karena tatkala seorang penumpang menaiki kapal (dalam pelayarannya) berisiko binasa karena tenggelam. Menunggangi hewan juga berisiko tergelincir, membahayakan dan tidak menjamin keselamatannya. Oleh karenanya, ayat ini mengingatkan kepada seseorang untuk senantiasa merasa (ingat\/sadar) bahwa kembalinya hanya kepada Allah Subhanahuwata\u2019ala, siap untuk berjumpa dengan-Nya, dalam keadaan ia tidak melupakan perkara itu baik dalam hati maupun lisan (dengan cara berdoa).\u201d<\/p>\n<p><strong><em>Penjelasan Ayat dan Faedahnya<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa\u2019di rahimahullah berkata: \u201cAyat ini menjelaskan bahwa Rabb yang disifati dengan sifat-sifat ini (sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya seperti Pencipta langit dan bumi, Dzat Yang menurunkan air hujan dari langit menurut kadar yang diperlukan, Dzat Yang menciptakan segala yang berpasangan, Yang menjadikan kapal dan binatang ternak yang dapat ditunggangi, dst, lihat Az-Zukhruf: 9-11, pen.), semua itu termasuk bagian dari limpahan nikmat Allah Subhanahuwata\u2019ala kepada hamba-Nya. Sehingga, hanya Dia-lah yang paling berhak untuk diibadahi, dan hanya kepada-Nya lah dilakukan doa dan sujud.\u201d (Taisir Al-Karimir Rahman).<\/p>\n<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu Al-Fatawa (4\/462): \u201cTermasuk perkara Sunnah Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam (yang beliau ajarkan) adalah memakan makanan yang dijumpai (yang ada) di negeri tempat ia tinggal, memakai pakaian serta mengendarai kendaraan yang dijumpai (yang ada) yang Allah Subhanahuwata\u2019ala bolehkan. Barangsiapa menggunakan apa yang ia jumpai di negerinya (tempat ia tinggal), maka ia telah mengikuti sunnah. Sebagaimana beliau Shalallahu\u2019alaihi wa sallam menunaikan ibadah haji dari kota Madinah. Barangsiapa menunaikan haji dari kota asalnya, ia telah mengikuti sunnah, walaupun kota-kota lain itu tidak sama dengan kota Madinah Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam.<\/p>\n<p>Demikian pula ayat (pada surat Az-Zukhruf ayat 12-13), (mengajarkan) etika apabila seseorang menaiki kendaraan di atas lautan (kapal), daratan (binatang ternak\/kendaraan), dan udara (pesawat terbang, pen.). Meskipun Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam, demikian pula Abu Bakr dan Umar radhiyallahuanhu, belum pernah berlayar di atas lautan (menaiki kapal laut). Akan tetapi beliau Shalallahu\u2019alaihi wa sallam pernah mengabarkan kepada Ummu Haram bintu Milhan radhiyallahuanha tentang sekelompok orang dari umatnya yang berperang di jalan Allah Subhanahhuwata\u2019ala, mereka menaiki kapal laut layaknya raja-raja di atas singgasana. Lalu Ummu Haram berkata: \u201cBerdoalah kepada Allah Subhanahuwata\u2019ala agar menjadikanku termasuk mereka.\u201d Beliau bersabda: \u201cEngkau termasuk mereka.\u201d<\/p>\n<p>Ayat ini termasuk bagian dari rangkaian doa ketika seseorang menaiki kendaraan baik di darat, di udara maupun di lautan dalam rangka safar (bepergian). Ada beberapa hadits yang dibawakan oleh para ulama dalam bab adab ketika seseorang menaiki kendaraan untuk safar. Di antaranya hadits Ibnu \u2018Umar radhiyallahuanhu, apabila Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam telah berada di atas unta\/kendaraannya bermaksud untuk safar, beliau bertakbir tiga kali kemudian membaca:<\/p>\n<p>\ufb76 \u00a0 \ufb77 \u00a0\ufb78 \u00a0 \ufb79 \u00a0\ufb7a \u00a0\ufb7b \u00a0\ufb7c \u00a0\ufb7d \u00a0 \u00a0\ufb7e \u00a0\ufb7f \u00a0\ufb80 \u00a0\ufb81 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \ufb82 \u00a0 \ufb83 \u00a0\ufb84 \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0625\u0650\u0646\u064e\u0651\u0627 \u0646\u064e\u0633\u0652\u0623\u064e\u0644\u064f\u0643\u064e \u0641\u0650\u064a \u0633\u064e\u0641\u064e\u0631\u0650\u0646\u064e\u0627 \u0647\u064e\u0630\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0628\u0650\u0631\u064e\u0651 \u0648\u064e\u0627\u0644\u062a\u064e\u0651\u0642\u0652\u0648\u064e\u0649 \u0648\u064e\u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0645\u064e\u0644\u0650 \u0645\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0631\u0652\u0636\u064e\u0649\u060c \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0647\u064e\u0648\u0650\u0651\u0646\u0652 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0633\u064e\u0641\u064e\u0631\u064e\u0646\u064e\u0627 \u0647\u064e\u0630\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0627\u0637\u0652\u0648\u0650 \u0639\u064e\u0646\u064e\u0651\u0627 \u0628\u064f\u0639\u0652\u062f\u064e\u0647\u064f\u060c \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0623\u064e\u0646\u0652\u062a\u064e \u0627\u0644\u0635\u064e\u0651\u0627\u062d\u0650\u0628\u064f \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0633\u064e\u0651\u0641\u064e\u0631\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u062e\u064e\u0644\u0650\u064a\u0641\u064e\u0629\u064f \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0647\u0652\u0644\u0650\u060c \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0625\u0650\u0646\u0650\u0651\u064a \u0623\u064e\u0639\u064f\u0648\u0630\u064f \u0628\u0650\u0643\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0648\u064e\u0639\u0652\u062b\u064e\u0627\u0621\u0650 \u0627\u0644\u0633\u064e\u0651\u0641\u064e\u0631\u0650 \u0648\u064e\u0643\u064e\u0622\u0628\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0646\u0652\u0638\u064e\u0631\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064f\u0648\u0621\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0646\u0652\u0642\u064e\u0644\u064e\u0628\u0650 \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0627\u0644\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0647\u0652\u0644\u0650. \u0648\u064e\u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0631\u064e\u062c\u064e\u0639\u064e \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e\u0647\u064f\u0646\u064e\u0651 \u0648\u064e\u0632\u064e\u0627\u062f\u064e \u0641\u0650\u064a\u0647\u0650\u0646\u064e\u0651: \u0622\u064a\u0650\u0628\u064f\u0648\u0646\u064e \u062a\u064e\u0627\u0626\u0650\u0628\u064f\u0648\u0646\u064e \u0639\u064e\u0627\u0628\u0650\u062f\u064f\u0648\u0646\u064e \u0644\u0650\u0631\u064e\u0628\u0650\u0651\u0646\u064e\u0627 \u062d\u064e\u0627\u0645\u0650\u062f\u064f\u0648\u0646\u064e<\/p>\n<p>\u201cMaha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam safar kami ini kebaikan, ketakwaan, dan amal perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah dalam safar kami ini dan dekatkanlah jauhnya jarak bepergian. Ya Allah, Engkaulah Dzat yang menyertai dalam safar dan pengganti keluarga yang kami tinggalkan. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kepayahan\/kesukaran dalam safar, jeleknya pandangan dan jeleknya kembali, baik pada harta maupun keluarga.\u201d<\/p>\n<p>Apabila beliau kembali (hendak pulang), beliau juga membaca doa dengan diberi tambahan: \u201cKami orang-orang yang akan kembali, orang yang taat, bertaubat, beribadah dan hanya untuk Rabb kami, kami memuji.\u201d (HR. Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)<\/p>\n<p>Hadits lain adalah hadits yang diriwayatkan Al-Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari jalan Ali bin Rabi\u2019ah, ia berkata: Aku menyaksikan Ali radhiyallahuanhu, didatangkan kepada beliau tunggangan agar (beliau) menungganginya. Ketika akan menaiki tunggangan itu, beliau membaca: \u0628\u0650\u0633\u0652\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650. Ketika sudah berada di atas punggungnya (duduk di atas kendaraan) beliau membaca: \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0645\u0652\u062f\u064f \u0644\u0650\u0644\u0647\u0650. Lalu membaca \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0645\u0652\u062f\u064f \u0644\u0650\u0644\u0647\u0650 tiga kali, \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0623\u064e\u0643\u0652\u0628\u064e\u0631\u064f tiga kali, lalu membaca:<\/p>\n<p>\u0633\u064f\u0628\u0652\u062d\u064e\u0627\u0646\u064e\u0643\u064e \u0625\u0650\u0646\u0650\u0651\u064a \u0642\u064e\u062f\u0652 \u0638\u064e\u0644\u064e\u0645\u0652\u062a\u064f \u0646\u064e\u0641\u0652\u0633\u0650\u064a \u0641\u064e\u0627\u063a\u0652\u0641\u0650\u0631\u0652 \u0644\u0650\u064a \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651\u0647\u064f \u0644\u064e\u0627 \u064a\u064e\u063a\u0652\u0641\u0650\u0631\u064f \u0627\u0644\u0630\u064f\u0651\u0646\u064f\u0648\u0628\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u0651\u0627 \u0623\u064e\u0646\u0652\u062a\u064e<\/p>\n<p>\u201cMaha Suci Engkau ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri. Ampunilah aku, karena tidak ada yang akan mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.\u201d<\/p>\n<p>Lalu beliau tertawa. Aku (Ali bin Rabi\u2019ah) bertanya: \u201cMengapa engkau tertawa, wahai Amirul Mu\u2019minin?\u201d Beliau berkata: \u201cAku melihat Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam berbuat sebagaimana aku berbuat, kemudian beliau Shalallahu\u2019alaihi wa sallam tertawa. Akupun bertanya: \u2018Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?\u2019 Beliau bersabda: \u2018Sesungguhnya Rabbmu sungguh merasa takjub dengan hamba-Nya apabila dia berdoa:<\/p>\n<p>\u0631\u064e\u0628\u0650\u0651 \u0627\u063a\u0652\u0641\u0650\u0631\u0652 \u0644\u0650\u064a \u0630\u064f\u0646\u064f\u0648\u0628\u0650\u064a \u0625\u0650\u0646\u064e\u0651\u0647\u064f \u0644\u064e\u0627 \u064a\u064e\u063a\u0652\u0641\u0650\u0631\u064f \u0627\u0644\u0630\u064f\u0651\u0646\u064f\u0648\u0628\u064e \u063a\u064e\u064a\u0652\u0631\u064f\u0643\u064e<\/p>\n<p>\u2018Wahai Rabbku, ampunilah aku atas dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada yang akan mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau\u2019.\u201d<\/p>\n<p>Adapun doa menaiki kendaraan yang tersebut pada surat Hud ayat 41:<\/p>\n<p>\u201cNuh berkata: \u2018Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang\u2019.\u201d<\/p>\n<p>Juga dalam surat Al-Mu\u2019minun ayat 29:<\/p>\n<p>\u201cDan berdoalah: \u2018Wahai Rabbku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat\u2019.\u201d<\/p>\n<p>Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah dalam tafsirnya Ad-Durrul Mantsur ketika menafsirkan ayat ini menyebutkan riwayat dari Mujahid rahimahullah, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, \u2018Abd bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim: \u201cAyat:<\/p>\n<p>Dan berdoalah: \u2018Wahai Rabbku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.\u2019 adalah doa yang Allah Subhanahuwata\u2019ala perintahkan kepada Nabi Nuh alaihissalam ketika turun dari perahunya.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian beliau menyebutkan juga riwayat \u2018Abd bin Humaid, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim dari Qatadah, beliau berkata: \u201cAllah Subhanahuwata\u2019ala mengajari kalian cara kalian berdoa ketika menaiki kendaraan dan ketika turun dari kendaraan. Ketika menaiki kendaraan, doa yang dibaca adalah ayat:<\/p>\n<p>dan ayat:<\/p>\n<p>Adapun ketika turun:<\/p>\n<p>Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah dalam tafsirnya Adhwa\u2019ul Bayan, pada tafsir surat Hud ayat 41 berkata: \u201cAllah Subhanahuwata\u2019ala menyebutkan dalam ayat yang mulia ini bahwa Nabi-Nya Nuh -semoga shalawat dan salam atas beliau serta atas Nabi kita Muhammad Shalallahu\u2019alaihi wa sallam &#8211; memerintahkan para sahabatnya, yaitu orang-orang yang telah dikatakan kepada mereka: \u2018Bawalah mereka dalam bahtera\u2019 supaya mereka naik ke dalamnya sambil berdoa. Pada surat Al-Falah (Al-Mu\u2019minun, pen.) menerangkan bahwa Allah Subhanahuwata\u2019ala memerintahkan apabila Nabi Nuh alaihissalam dan orang-orang yang bersamanya telah berada di atas perahu agar memuji Allah Subhanahuwata\u2019ala, yang telah menyelamatkan mereka dari orang-orang kafir yang zalim.<\/p>\n<p>Mereka juga diperintahkan untuk memohon kepada-Nya agar menempatkan mereka pada tempat yang diberkahi. Hal itu sebagaimana yang tersebut pada ayat:<\/p>\n<p><em>\u201cApabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera \u00a0(kapal) itu maka ucapkanlah: \u2018Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim\u2019, dan berdoalah: \u2018Wahai Rabbku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.\u201d<\/em> (Al-Mu\u2019minun: 28-29)<\/p>\n<p>Adapun dalam surat Az-Zukhruf ayat 12-14, Allah Subhanahuwata\u2019ala menerangkan apa yang seharusnya diucapkan ketika menaiki perahu dan kendaraan lainnya, dengan membaca:<\/p>\n<p>Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibnul Hajjaj: \u201cBab: Disunnahkan berdoa apabila menaiki tunggangan (kendaraan) dalam rangka safar untuk ibadah haji atau yang lainnya, dan penjelasan yang paling utama dari doa tersebut.\u201d Kemudian beliau menyebutkan hadits Ibnu \u2018Umar radhiyallahuanhu di atas, yang menyebutkan doa bagi seorang yang menaiki kendaraan.<\/p>\n<p>Asy-Syaikh As-Sa\u2019di rahimahullah berkata dalam kitabnya Bahjah Qulubil Abrar pada hadits yang ke-85: \u201cHadits ini (hadits Abdullah bin Umar radhiyallahuanhu riwayat Muslim, pen.) mengandung faedah-faedah yang agung berkaitan dengan safar. Doa yang tersebut dalam hadits ini mencakup permohonan dalam hal kemaslahatan agama (yang merupakan perkara paling penting) dan kemaslahatan dunia, tercapainya perkara yang disenangi serta terhindarnya dari perkara yang buruk serta tidak disukai, mensyukuri nikmat-nikmat Allah Subhanahuwata\u2019ala, mengingat kebesaran dan kemuliaan-Nya. Doa ini mencakup pula safar yang berada di atas ketaatan Allah \u00a0Subhanahuwata\u2019ala dan dalam perkara yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya.<\/p>\n<p>Di akhir doa ini terdapat bentuk pengakuan terhadap nikmat Allah Subhanahuwata\u2019ala, sebagaimana yang terdapat di awal doa. Maka sebagaimana wajib bagi seorang hamba untuk memuji Allah Subhanahuwata\u2019ala atas dimudahkannya melakukan ibadah dan dalam memulai hajatnya, wajib pula bagi hamba tadi untuk memuji Allah \u00a0Subhanahuwata\u2019ala atas disempurnakan dan dicukupkannya hajatnya, serta setelah selesai darinya. Karena sesungguhnya keutamaan, kebaikan, dan sebab itu semua adalah milik-Nya semata, dan Allah Subhanahuwata\u2019ala adalah pemilik keutamaan yang mulia. Beliau pun memulai dan mengakhiri safarnya dengan doa, yang dimulai dengan membesarkan Allah Subhanahuwata\u2019ala dan memuji-Nya.\u201d<\/p>\n<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan: \u201cSebagaimana yang diketahui dalam doa-doa Nabi Shalallahu\u2019alaihi wa sallam bahwa kalimat tahmid (Alhamdulillah) seiring dengan kalimat tasbih (Subhanallah), sedangkan kalimat tahlil seiring dengan kalimat takbir. Namun pada sebagian keadaan, beliau Shalallahu\u2019alaihi wa sallam mengumpulkan takbir dengan tahlil, dan takbir dengan tahmid, sebagaimana yang beliau lakukan dalam doa beliau ketika menaiki kendaraan, seperti dalam hadits Ibnu Umar \u00a0radhiyallahuanhu riwayat Al-Imam Muslim dan hadits \u2018Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi.<\/p>\n<p>Perpaduan ini mengingatkan kepada kenikmatan Allah Subhanahuwata\u2019ala, yang mengharuskan kita\u00a0untuk mensyukuri-Nya disertai memuji-Nya. Karena menunggangi kendaraan termasuk keutamaan dari sekian keutamaan dan merupakan bagian nikmat, maka Nabi Shalallahu\u2019alaihi wa sallam menggabungkan dalam doa tersebut antara dua perkara, sebagaimana firman Allah Subhanahuwata\u2019ala: <em>\u201cSupaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Rabbmu apabila telah duduk di atasnya dan supaya kamu mengucapkan: \u2018Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya\u2019.\u201d<\/em> (Az-Zukhruf: 14)<\/p>\n<p>Pada ayat ini Allah Subhanahuwata\u2019ala memerintahkan untuk mengingat nikmat Allah Subhanahuwata\u2019ala dan mengingat-Nya, yaitu dengan cara memuji-Nya (mengucapkan Alhamdulillah). Allah Subhanahuwata\u2019ala perintahkan untuk bertasbih, dan tasbih adalah kalimat yang seiring dengan pujian. Ketika didatangkan tunggangan (kendaraan) kepada Nabi Shalallahu\u2019alaihi wa sallam, saat akan menaiki beliau membaca Bismillah. Ketika sudah duduk berada di atas punggungnya, beliau membaca Alhamdulillah. Kemudian beliau Shalallahu\u2019alaihi wa sallam membaca:<\/p>\n<p>Kemudian beliau membaca \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0645\u0652\u062f\u064f \u0644\u0650\u0644\u0647\u0650 tiga kali dan \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0623\u064e\u0643\u0652\u0628\u064e\u0631\u064f tiga kali, lalu membaca:<\/p>\n<p>\u0644\u0627\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u0647\u064e \u0625\u0650\u0644\u0627\u064e\u0651 \u0623\u064e\u0646\u0652\u062a\u064e \u0633\u064f\u0628\u0652\u062d\u064e\u0627\u0646\u064e\u0643\u064e \u0638\u064e\u0644\u064e\u0645\u0652\u062a\u064f \u0646\u064e\u0641\u0652\u0633\u0650\u064a \u0641\u064e\u0627\u063a\u0652\u0641\u0650\u0631\u0652\u0644\u0650\u064a<\/p>\n<p>\u201cTiada ilah yang berhak disembah selain-Mu, Maha Suci Engkau, aku telah berbuat zalim terhadap diriku, maka ampunilah aku.\u201d<\/p>\n<p>Setelah beliau Shalallahu\u2019alaihi wa sallam menyebutkan kemuliaan-kemuliaan Allah Subhanahuwata\u2019ala berupa takbir dan tahlil, beliau menutup dengan istighfar, karena seiring dengan tauhid. Sehingga doa yang dibaca di atas kendaraan mencakup empat kalimat (tahmid, tasbih, tahlil, dan takbir) dan disertai dengan istighfar.\u201d (Diringkas dari Majmu\u2019 Al-Fatawa, 24\/240-241)<\/p>\n<p>Wallahu a\u2019lam bish-shawab.<\/p>\n<p>Sumber: <a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/safar-duniawi-menuju-safar-ukhrawi\/\" target=\"_blank\"><strong>Majalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n<p>********************************<\/p>\n<ol>\n<li>Kisah ini diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam hadits no. 6272 dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu, beliau berkata: \u201cJika Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam pergi ke Quba, beliau singgah di tempat Ummu Haram bintu Milhan radhiyallahuanha. Dia pun menjamu beliau, dan Ummu Haram ketika itu adalah istri Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahuanhu. Pada suatu hari beliau Shalallahu\u2019alaihi wa sallam masuk ke rumahnya dan ia pun menjamunya. Kemudian Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam tidur, lalu terbangun sambil tertawa. Ummu Haram bertanya: \u201cApa yang membuatmu tertawa, ya Rasulullah?\u201d Beliau menjawab: \u201cAda sekelompok orang dari umatku, mereka ditampakkan kepadaku sedang berperang di jalan Allah Subhanahuwata\u2019ala. Mereka menaiki kapal laut layaknya raja-raja di atas singgasana.\u201d Ummu Haram berkata: \u201cBerdoalah kepada Allah agar menjadikanku termasuk bagian dari mereka\u2026.\u201d Kemudian beliau tidur kembali. Di akhir hadits beliau Shalallahu\u2019alaihi wa sallam bersabda: \u201cEngkau termasuk golongan yang pertama (dari mereka).\u201d Maka Ummu Haram ikut mengarungi lautan pada masa (pemerintahan) Mu\u2019awiyah, namun beliau terjatuh dari kendaraannya ketika berlabuh dan meninggal dunia.<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAFAR DUNIAWI MENUJU SAFAR UKHRAWI Ditulis oleh:\u00a0Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin hafizhahullah \u201cMaha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami.\u201d (Az-Zukhruf: 13-14) Penjelasan Mufradat Ayat Maha Suci Allah. Kata ini merupakan kata dasar (mashdar\/maf\u2019ul muthlaq) dalam kedudukan manshub (dengan alamat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7903,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[1949],"class_list":["post-7885","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akidah","tag-safar-duniawi-menuju-safar-ukhrawi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7885","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7885"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7885\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7903"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7885"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7885"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7885"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}