{"id":7884,"date":"2014-11-06T16:12:20","date_gmt":"2014-11-06T08:12:20","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=7884"},"modified":"2014-11-06T16:12:20","modified_gmt":"2014-11-06T08:12:20","slug":"safar-dalam-rangka-ziarah-kubur-apakah-disyariatkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=7884","title":{"rendered":"Safar Dalam Rangka Ziarah Kubur, Apakah Disyariatkan?"},"content":{"rendered":"<p><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Safar-Dalam-Rangka-Ziarah-Kubur.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-7928\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Safar-Dalam-Rangka-Ziarah-Kubur-300x156.jpg\" alt=\"Safar Dalam Rangka Ziarah Kubur\" width=\"300\" height=\"156\" srcset=\"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Safar-Dalam-Rangka-Ziarah-Kubur-300x156.jpg 300w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Safar-Dalam-Rangka-Ziarah-Kubur.jpg 500w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>SAFAR DALAM RANGKA ZIARAH KUBUR, APAKAH DISYARIATKAN?<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"color: #993300;\"><em>Ditulis oleh:\u00a0Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman<\/em><\/span><\/p>\n<p>Wisata ziarah atau perjalanan khusus untuk melakukan ziarah ke makam tertentu seperti makam orang-orang yang dianggap wali atau \u201csetengah\u201d wali, masih banyak ditemukan dalam masyarakat kita. Benarkah perilaku demikian disyariatkan?<\/p>\n<p>Seiring dengan bergulirnya waktu, dari hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun berganti abad, seluruhnya menjadi saksi atas segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia ini. Musibah demi musibah, fitnah demi fitnah, datang silih berganti. Yang besar menggantikan yang kecil dan yang kecil tidak memiliki nilai karena besarnya fitnah yang datang setelahnya.<\/p>\n<p>\u0648\u064e\u062a\u064e\u062c\u0650\u064a\u0621\u064f \u0641\u0650\u062a\u0652\u0646\u064e\u0629\u064c \u0641\u064e\u064a\u064f\u0631\u064e\u0642\u0650\u0651\u0642\u064f \u0628\u064e\u0639\u0652\u0636\u064f\u0647\u064e\u0627 \u0628\u064e\u0639\u0652\u0636\u064b\u0627<\/p>\n<p>\u201cDan datanglah fitnah yang sebagiannya lebih besar dari yang lain.\u201d (HR. Muslim no. 4882 dari sahabat Abdullah bin \u2018Amr bin \u2018Ash radhiyallahuanhu)<\/p>\n<p>Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: \u201cSebagiannya menjadi kecil dikarenakan fitnah berikutnya lebih besar. Fitnah kedua menjadikan fitnah pertama tidak berarti.\u201d (Syarah Shahih Muslim, 6\/318)<\/p>\n<p>Fitnah besar telah melanda kaum muslimin dan menelan korban beratus juta manusia. Tidaklah berlebihan jika dikatakan mayoritas isi dunia berada dalam ancaman fitnah besar tersebut. Bergelimpangan tubuh dan jasad manusia yang tidak lagi memiliki daya dan upaya untuk menyelamatkan diri. Seandainya pun hidup, itu adalah jasadnya, sedangkan qalbunya telah mati. Itulah fitnah kejahilan tentang agama. Seiring dengan badai fitnah besar ini, muncul badai yang mengempaskan ke jurang kebinasaan dan kecelakaan yang abadi, mencabut akar-akar keimanan yang telah menancap dalam sanubari. Memorakporandakan ketulusan niat dan kelurusan jalan menuju Allah Subhanahuwata\u2019ala. Itulah para penyeru kesesatan, da\u2019i di pintu neraka jahannam, seperti yang telah disinyalir Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam akan kemunculannya.<\/p>\n<p><strong><em>Pembunuhan Akal dan Keyakinan<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Usaha pendangkalan akal dan keyakinan ini kian hari kian meruyak, sehingga tidak ada jenjang tingkat pemahaman yang luput dari upaya ini. Banyak cara yang ditempuh dan banyak jalan yang dilalui untuk sampai pada tujuan itu. Tersebarnya khurafat dan tahayul adalah salah satu cara pendangkalan serta pembunuhan akal dan keyakinan ini. Demikian juga dengan pengultusan individu, merupakan wasilah paling mulus untuk mewujudkan pendangkalan ini.<\/p>\n<p>Dari manakah datangnya keyakinan bahwa orang yang telah meninggal, berada dalam alam lain yaitu alam kubur, bisa berbuat untuk orang yang hidup di dunia? Dari manakah asalnya keyakinan bahwa kuburan tertentu mengandung berbagai macam karamah, barakah, dan keajaiban? Dari manakah asalnya keyakinan bahwa roh-roh orang yang telah mati bergentayangan dan akan mendatangi siapa saja yang dikehendakinya? Dari manakah asalnya keyakinan bahwa orang yang mati bisa menjadi perantara orang hidup kepada Allah Subhanahuwata\u2019ala dalam banyak hal? Dari manakah asalnya keyakinan bahwa orang yang telah mati bisa menyapa orang yang hidup di dunia?<\/p>\n<p>Sungguh semuanya ini merupakan perangkap setan dan tipu muslihatnya untuk menyesatkan kaum muslimin dari kebenaran agamanya. Merusak akal dan mendangkalkannya agar tidak bisa memikirkan kemaslahatan dirinya, padahal Allah Subhanahuwata\u2019ala berfirman:<\/p>\n<p><em>\u201cDan tidaklah sama antara orang yang hidup dan orang yang telah mati. Sesungguhnya Allah akan memperdengarkan siapa saja yang dikehendakinya dan kamu tidak akan bisa memperdengarkan siapa yang ada di dalam kubur.\u201d<\/em> (Fathir: 22)<\/p>\n<p>Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam bersabda:<\/p>\n<p>\u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0645\u064e\u0627\u062a\u064e \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u0646\u0652\u0633\u064e\u0627\u0646\u064f \u0627\u0646\u0652\u0642\u064e\u0637\u064e\u0639\u064e \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064f \u0639\u064e\u0645\u064e\u0644\u064f\u0647\u064f \u0625\u0650\u0644\u0627\u064e\u0651 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u062b\u064e\u0644\u0627\u064e\u062b\u064e\u0629\u064d\u061b \u0625\u0650\u0644\u0627\u064e\u0651 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0635\u064e\u062f\u064e\u0642\u064e\u0629\u064d \u062c\u064e\u0627\u0631\u0650\u064a\u064e\u0629\u064d \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0639\u0650\u0644\u0652\u0645\u064d \u064a\u064f\u0646\u0652\u062a\u064e\u0641\u064e\u0639\u064f \u0628\u0650\u0647\u0650 \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0648\u064e\u0644\u064e\u062f\u064d \u0635\u064e\u0627\u0644\u0650\u062d\u064d \u064a\u064e\u062f\u0652\u0639\u064f\u0648 \u0644\u064e\u0647\u064f<\/p>\n<p>\u201cBila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) shadaqah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak shalih yang mendoakan kedua orangtuanya.\u201d (HR. Muslim no. 4310 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahuanhu)<\/p>\n<p><strong><em>Ziarah Kubur adalah Kebaikan yang Disyariatkan<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Ziarah kubur telah disyariatkan Allah Subhanahuwata\u2019ala dan Rasul-Nya Shalallahu\u2019alaihi wa sallam. Bahkan telah disebutkan pula tujuan disyariatkannya ziarah tersebut. Hal ini menunjukkan tidak ada yang tersisa dari amalan yang sekiranya mendatangkan maslahat melainkan telah dijelaskan di dalam syariat. Ziarah kubur termasuk amalan besar yang memiliki nilai yang tinggi di dalam syariat.<\/p>\n<p>Dari Sulaiman bin Burdah dari bapaknya berkata, Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam bersabda:<\/p>\n<p>\u0643\u064f\u0646\u0652\u062a\u064f \u0646\u064e\u0647\u064e\u064a\u0652\u062a\u064f\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0632\u0650\u064a\u064e\u0627\u0631\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0642\u064f\u0628\u064f\u0648\u0631\u0650 \u0641\u064e\u0632\u064f\u0648\u0631\u064f\u0648\u0647\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0644\u0627\u064e \u062a\u064e\u0642\u064f\u0648\u0644\u064f\u0648\u0627 \u0647\u064f\u062c\u0652\u0631\u064b\u0627<\/p>\n<p>\u201cDulu aku melarang kalian untuk ziarah kubur, maka sekarang berziarahlah dan janganlah kalian mengatakan hujr (kata-kata yang keji).\u201d (HR. Ahmad no. 2032, 5\/361)<\/p>\n<p>Kata \u0647\u064f\u062c\u0652\u0631\u064b\u0627 diterangkan oleh As-Sindi rahimahullah, artinya sesuatu yang tidak pantas diucapkan yang akan menghilangkan tujuan ziarah yaitu sebagai peringatan.<\/p>\n<p>An-Nawawi rahimahullah mengatakan:<\/p>\n<p>\u201c \u0647\u064f\u062c\u0652\u0631\u064b\u0627 adalah ucapan yang batil (menyelisihi ajaran agama).\u201d (Ahkamul Jana\u2019iz, hal. 227)<\/p>\n<p>As-Suyuthi rahimahullah berkata: \u201c\u0647\u064f\u062c\u0652\u0631\u064b\u0627 artinya ucapan yang keji kotor, sebagaimana disebutkan dalam An-Nihayah.\u201d (lihat Syarah Sunan An-Nasa\u2019i, 3\/275)<\/p>\n<p>Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam juga bersabda:<\/p>\n<p>\u0623\u064e\u0644\u0627\u064e \u0625\u0650\u0646\u0650\u0651\u064a \u0643\u064f\u0646\u0652\u062a\u064f \u0646\u064e\u0647\u064e\u064a\u0652\u062a\u064f\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0639\u064e\u0646\u0652 \u062b\u064e\u0644\u0627\u064e\u062b\u064d\u060c \u0646\u064e\u0647\u064e\u064a\u0652\u062a\u064f\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0632\u0650\u064a\u064e\u0627\u0631\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0642\u064f\u0628\u064f\u0648\u0631\u0650 \u062b\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0628\u064e\u062f\u064e\u0627 \u0644\u0650\u064a \u0623\u064e\u0646\u064e\u0651\u0647\u064e\u0627 \u062a\u064f\u0631\u0650\u0642\u064f\u0651 \u0627\u0644\u0652\u0642\u064f\u0644\u064f\u0648\u0628\u064e \u0648\u064e\u062a\u064f\u062f\u0652\u0645\u0650\u0639\u064f \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e \u0641\u064e\u0632\u064f\u0648\u0631\u064f\u0648\u0647\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0644\u0627\u064e \u062a\u064e\u0642\u064f\u0648\u0644\u064f\u0648\u0627 \u0647\u062c\u0652\u0631\u064b\u0627<\/p>\n<p>\u201cKetahuilah bahwa aku telah melarang kalian dari tiga perkara: Aku melarang kalian dari ziarah kubur kemudian nampak padaku bahwa ziarah kubur akan melembutkan hati dan meneteskan air mata maka ziarahlah kalian dan jangan kalian mengatakan hujr (kata-kata yang keji).\u201d (HR. Ahmad no. 13640 dari sahabat Anas radhiyallahuanhu)<\/p>\n<p>\u0632\u064e\u0627\u0631\u064e \u0627\u0644\u0646\u064e\u0651\u0628\u0650\u064a\u064f\u0651 \u0642\u064e\u0628\u0652\u0631\u064e \u0623\u064f\u0645\u0650\u0651\u0647\u0650 \u0641\u064e\u0628\u064e\u0643\u064e\u0649 \u0648\u064e\u0623\u064e\u0628\u0652\u0643\u064e\u0649 \u0645\u064e\u0646\u0652 \u062d\u064e\u0648\u0652\u0644\u064e\u0647\u064f \u0641\u064e\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0623\u0652\u0630\u064e\u0646\u0652\u062a\u064f \u0631\u064e\u0628\u0650\u0651\u064a \u0641\u0650\u064a \u0623\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0633\u0652\u062a\u064e\u063a\u0652\u0641\u0650\u0631\u064e \u0644\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0641\u064e\u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064f\u0624\u0652\u0630\u0650\u0646\u0652 \u0644\u0650\u064a \u0648\u064e\u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0623\u0652\u0630\u064e\u0646\u0652\u062a\u064f\u0647\u064f \u0641\u0650\u064a \u0623\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0632\u064f\u0648\u0631\u064e \u0642\u064e\u0628\u0652\u0631\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0641\u064e\u0623\u064e\u0630\u0650\u0646\u064e \u0644\u0650\u064a \u0641\u064e\u0632\u064f\u0648\u0631\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0642\u064f\u0628\u064f\u0648\u0631\u064e \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651\u0647\u064e\u0627 \u062a\u064f\u0630\u064e\u0643\u0650\u0651\u0631\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0648\u0652\u062a\u064e<\/p>\n<p>Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam pernah berziarah ke kubur ibunya dan beliau menangis serta menangis pula orang-orang yang berada di sekelilingnya. Lantas beliau Shalallahu\u2019alaihi wa sallam bersabda: \u201cAku meminta kepada Rabbku untuk aku memintakan ampunan baginya dan Allah tidak memberikan izin serta aku meminta izin untuk menziarahi ibuku dan Allah mengizinkan. Maka ziarah kuburlah kalian karena sesungguhnya akan mengingatkan kepada kematian.\u201d (HR. Muslim no. 976 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahuanhu)<\/p>\n<p>Muhyiddin Al-Barkawi rahimahullah (wafat tahun 981 H) mengatakan: \u201cYang disyariatkan oleh Nabi kita dalam berziarah adalah untuk mengingat akhirat, sebagai peringatan serta untuk mengambil pelajaran dari orang yang diziarahi. Juga berbuat baik kepadanya dengan cara mendoakannya serta memintakan baginya kasih sayang dari Allah Subhanahuwata\u2019ala. Sehingga orang yang berziarah di samping berbuat baik untuk si mayit, juga berbuat baik bagi dirinya.\u201d (lihat Ziyarah Qubur Asy-Syar\u2019iyyah wa Asy-Syirkiyyah hal. 28)<\/p>\n<p><strong><em>Bentuk-bentuk Ziarah kubur<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Sebagaimana perkara yang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa ziarah kubur adalah sebuah ibadah dan bentuk taqarrub kepada Allah Subhanahuwata\u2019ala dengan berbagai macam hikmahnya. Akan tetapi ziarah ini memiliki macam\/bentuk. Telah disebutkan oleh para ulama di dalam kitab mereka bahwa ziarah itu ada tiga macam\/bentuk:<\/p>\n<p><strong>Pertama: <span style=\"color: #ff0000;\">Ziarah yang disyariatkan.<\/span><\/strong><\/p>\n<p>Artinya, ziarah yang dianjurkan oleh Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam yang bertujuan untuk mengingatkan akan akhirat dan kematian dengan adab-adab yang telah diajarkannya. Ziarah yang seperti ini dilakukan dengan tiga syarat:<\/p>\n<ol>\n<li>Tidak dengan syaddur rihal (safar).<\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"2\">\n<li>Tidak mengucapkan kalimat hujr (keji) seperti berdzikir dengan cara bid\u2019ah dan berdoa kepada penghuni kuburan.<\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"3\">\n<li>Tidak mengkhususkan waktu tertentu.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Kedua: <span style=\"color: #ff0000;\">Ziarah yang bid\u2019ah<\/span><\/strong><\/p>\n<p>Artinya bentuk ziarah yang tidak dicontohkan Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam dan sahabatnya. Atau dengan kata lain ziarah yang terdapat salah satu dari tiga hal yang disebutkan di atas.<\/p>\n<p><strong>Ketiga: <span style=\"color: #ff0000;\">Ziarah yang syirik<\/span><\/strong><\/p>\n<p>Artinya ziarah yang mengandung kesyirikan, seperti meminta kepada penghuni kuburan atau menjadikan penghuninya sebagai perantara antara dirinya dengan Allah Subhanahuwata\u2019ala. Atau menyembelih kurban di sisinya atau menunaikan nadzar, meminta terlepaskan dari belenggu yang melilit hidup, meminta perlindungan, dan lain sebagainya. (lihat Al-Qaulul Mufid Min Adillati At-Tauhid hal. 192-194)<\/p>\n<p><strong><em>Syaddur Rihal, Landasan dan Maknanya<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Kata syaddur rihal adalah istilah agama yang memiliki makna mempersiapkan dengan matang untuk melakukan sebuah safar\/ perjalanan. Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam bersabda:<\/p>\n<p>\u0648\u064e\u0644\u0627\u064e \u062a\u064f\u0634\u064e\u062f\u064f\u0651 \u0627\u0644\u0631\u0650\u0651\u062d\u064e\u0627\u0644\u064f \u0625\u0650\u0644\u0627\u064e\u0651 \u062b\u064e\u0644\u0627\u064e\u062b\u064e\u0629\u0650 \u0645\u064e\u0633\u064e\u0627\u062c\u0650\u062f\u064e\u060c \u0645\u064e\u0633\u0652\u062c\u0650\u062f\u0650 \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0631\u064e\u0627\u0645\u0650 \u0648\u064e\u0645\u064e\u0633\u0652\u062c\u0650\u062f\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0642\u0652\u0635\u064e\u0649 \u0648\u064e\u0645\u064e\u0633\u0652\u062c\u0650\u062f\u0650\u064a<\/p>\n<p>\u201cDan tidak boleh syaddur rihal kecuali tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Al-Aqsha, dan masjidku.\u201d (HR. Al-Bukhari no. 1132 dari Abu Sa\u2019id Al-Khudri z dan Muslim No. 1397 dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu)<\/p>\n<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: \u201cYang dimaksud dengan (\u0648\u064e\u0644\u0627\u064e \u062a\u064f\u0634\u064e\u062f\u064f\u0651 \u0627\u0644\u0631\u0650\u0651\u062d\u064e\u0627\u0644\u064f) adalah larangan melakukan safar menuju selainnya (tiga masjid itu). Ath-Thibi rahimahullah berkata:<\/p>\n<p>\u2018Larangan dengan kata ini lebih tinggi nilainya dari hanya kata larangan semata\u2019.\u201d (Fathul Bari 4\/190)<\/p>\n<p>Al-Qasthalani berkata:<\/p>\n<p>\u201cTelah terjadi perselisihan tentang syaddur rihal kepada selain tiga masjid, seperti ziarah kepada orang shalih yang masih hidup atau yang telah meninggal, serta tempat-tempat yang memiliki keutamaan untuk bertabaruk padanya. Abu Muhammad Al-Juwaini mengatakan, diharamkan berdasarkan makna lahiriah \u00a0(tekstual) hadits. Pendapat ini dipilih oleh Al-Qadhi Husain. Demikian juga pendapat Al-Qadhi \u2018Iyadh dan selain mereka. Yang shahih menurut Imam Al-Haramain dan selain beliau dari kalangan ulama Syafi\u2019iyyah adalah membolehkan hal itu, sedangkan larangannya hanya dikhususkan dalam masalah i\u2019tikaf pada selain tiga masjid. Namun saya berpendapat bahwa (pengkhususan pada i\u2019tikaf ini) tidak memiliki dalil.\u201d (Lihat \u2018Aunul Ma\u2019bud 4\/417)<\/p>\n<p><strong><em>Bolehkah Syaddur Rihal dalam rangka Ziarah Kubur?<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Nash yang menjelaskan adanya syaddur rihal dan arah tujuan yang dibolehkan telah jelas sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam di atas. Yang menjadi persoalan adalah syaddur rihal juga dilakukan pada selain ketiga masjid tersebut, seperti ziarah kubur tertentu atau mendatangi tempat-tempat yang dikeramatkan. Tentunya hal ini akan menimbulkan pertanyaan: apakah syariat membolehkannya atau tidak?<\/p>\n<p>Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata: \u201cDemikian juga, tidak boleh syaddur rihal kepada kuburan nabi, wali, atau semacamnya, karena hal itu merupakan sarana (wasilah) menuju kesyirikan, sementara wasilah itu hukumnya sama seperti hukum tujuannya. Oleh karena itu, kita menemukan Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam telah mengharamkan hal itu.<\/p>\n<p>Beliau bersabda:<\/p>\n<p>\u2018Dan jangan ada syaddur rihal melainkan kepada tiga masjid yaitu Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjid Al-Aqsha.\u2019 Ini maknanya bahwa safar tidak boleh dilakukan demi kuburan orang shalih, kuburan wali, atau selainnya. Benar bahwa kita mencintai Nabi Shalallahu\u2019alaihi wa sallam melebihi kecintaan kita pada diri, bapak, anak, keluarga dan harta. Kita juga mencintai sahabat, mencintai wali-wali Allah \u00a0Subhanahuwata\u2019ala yang shalih, dan kita mencintai orang yang mencintai mereka serta memusuhi orang yang memusuhi mereka. Kita juga mengetahui bahwa siapa saja yang memusuhi wali Allah Subhanahuwata\u2019ala maka Allah Subhanahuwata\u2019ala mengumumkan perang terhadapnya. Namun apakah cinta kepada mereka menyebabkan kita menjadikan mereka sebagai tandingan (bagi Allah Subhanahuwata\u2019ala), lalu kita bertawassul dengan mereka, kita thawaf di kuburan mereka, dan kita bernadzar serta berkorban untuk mereka?\u201d (Lihat Tawassul Al-Masyru\u2019 wal Mamnu\u2019, 1\/14)<\/p>\n<p>Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: \u201cContoh yang ketiga belas bahwa Nabi Shalallahu\u2019alaihi wa sallam melarang membangun masjid di atas kuburan dan melaknat orang yang melakukannya. Beliau juga melarang untuk mengapur kuburan, meninggikannya, dan menjadikannya sebagai masjid, shalat menghadapnya atau di sisinya. Beliau Shalallahu\u2019alaihi wa sallam melarang menyalakan lampu padanya dan memerintahkan untuk meratakannya, melarang menjadikannya sebagai ied (dikunjungi secara rutin), melarang untuk syaddur rihal kepadanya agar tertutup jalan untuk menjadikannya sebagai berhala dan kesyirikan, serta mengharamkan syaddur rihal bagi orang yang bermaksud demikian, ataupun bagi orang yang tidak bermaksud demikian dalam rangka menutup pintu kesyirikan.\u201d (I\u2019lamul Muwaqqi\u2019in 3\/139)<\/p>\n<p>Al-Lajnah Ad-Da\u2019imah (1\/493 pertanyaan no. 4230) berfatwa: \u201cTidak boleh syaddur rihal kepada kuburan para nabi, orang-orang shalih, dan selain mereka. Bahkan ini merupakan kebid\u2019ahan, dasarnya adalah sabda Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam: \u2018Tidak boleh syaddur rihal kecuali kepada tiga masjid yaitu Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjid Al-Aqsha\u2019. Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam bersabda: \u2018Barangsiapa melakukan satu amalan yang bukan dari perintahku maka amalan tersebut tertolak.\u2019 Adapun ziarah kubur tanpa syaddur rihal adalah sunnah berdasarkan hadits Nabi: \u2018Ziarahlah kubur karena akan mengingatkan kepada kematian.\u2019 (HR. Muslim)<\/p>\n<p>Seseorang tidak boleh untuk syaddur rihal menuju kuburan Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam, karena hukumnya yang paling ringan adalah menyia-nyiakan harta. Sedangkan menyia-nyiakan harta adalah haram.\u201d (lihat Durus wa Fatawa Al-Haramil Madani, 1\/131)<\/p>\n<p>Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: \u201cAdapun syaddur rihal untuk ziarah kubur maka tidak boleh. Yang disyariatkan syaddur rihal adalah ke tiga masjid secara khusus.\u201d (Lihat Majmu\u2019 Fatawa wa Maqalat, Ibnu Baz, 5\/317)<\/p>\n<p><strong><em>Mengapa Dilarang Syaddur Rihal?<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Telah jelas dari ucapan para ulama di atas akan larangan syaddur rihal menuju kuburan. Hikmahnya adalah tertutupnya pintu-pintu kesyirikan dan berbagai kerusakan lainnya, seperti menjadikannya sebagai ied (dikunjungi secara rutin), atau akan menjatuhkan kepada sikap ghuluw (berlebihan) serta melampaui batas dalam memuji, sebagaimana kebanyakan orang telah terjatuh di dalamnya disebabkan keyakinan mereka tentang bolehnya syaddur rihal untuk menziarahi makam Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam. (Lihat Majmu\u2019 Fatawa wa Maqalat, Ibnu Baz, 1\/71 dan Lihat Tawassul Al-Masyru\u2019 wal Mamnu\u2019, 1\/14, karya Ibnu Jarir Ath-Thabari)<\/p>\n<p><strong><em>Landasan yang Membolehkan<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah mengatakan: \u201cAdapun berbagai hadits yang telah diriwayatkan dalam bab ini, yang dijadikan sebagai hujjah disyariatkannya syaddur rihal ke kuburan Nabi adalah hadits-hadits yang lemah sanad-sanadnya, bahkan maudhu\u2019 (palsu), sebagaimana kelemahannya telah diingatkan oleh ulama huffazh (besar) dari ahli hadits seperti Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi, Al-Hafizh Ibnu Hajar, dan selain mereka rahimahumullah. Maka tidaklah boleh dipertentangkan dengan hadits-hadits shahih yang menjelaskan tidak bolehnya syaddur rihal kecuali ke tiga masjid tersebut.\u201d (Lihat Majmu\u2019 Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, 1\/71)<\/p>\n<p>Di antara contohnya:<\/p>\n<p>\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0632\u064e\u0627\u0631\u064e\u0646\u0650\u064a \u0648\u064e\u0632\u064e\u0627\u0631\u064e \u0623\u064e\u0628\u0650\u064a \u0625\u0650\u0628\u0652\u0631\u064e\u0627\u0647\u0650\u064a\u0645\u064e \u0641\u0650\u064a \u0639\u064e\u0627\u0645\u064d \u0648\u064e\u0627\u062d\u0650\u062f\u064d \u062f\u064e\u062e\u064e\u0644\u064e \u0627\u0644\u0652\u062c\u064e\u0646\u064e\u0651\u0629\u064e<\/p>\n<p>\u201cBarangsiapa berziarah kepadaku dan kepada bapakku Ibrahim dalam tahun yang sama maka dia akan masuk surga.\u201d<\/p>\n<p>Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: \u201cHadits ini maudhu\u2019 (palsu). Az-Zarkasyi rahimahullah berkata dalam kitab Al-La\u2019ali Al-Mantsurah no. 156: Sebagian huffazh berkata: \u2018Hadits ini maudhu\u2019 dan tidak ada seorang pun dari ahli ilmu hadits meriwayatkannya.\u2019 Demikian juga yang dikatakan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah: \u2018Maudhu\u2019, tidak memiliki asal.\u2019 Dibawakan juga oleh As-Suyuthi rahimahullah di dalam kitab Dzail Al-Ahadits Al-Maudhu\u2019ah no. 119, Ibnu Taimiyah dan An-Nawawi rahimahumallah berkata: \u2018Sesungguhnya haditsnya maudhu\u2019 dan disepakati oleh Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah\u2019.\u201d (Lihat Silsilah Adh-Dha\u2019ifah, 1\/120)<\/p>\n<p>Contoh lain adalah:<\/p>\n<p>\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0632\u064e\u0627\u0631\u064e\u0646\u0650\u064a \u0628\u064e\u0639\u0652\u062f\u064e \u0645\u064e\u0648\u0652\u062a\u0650\u064a\u060c \u0641\u064e\u0643\u064e\u0623\u064e\u0646\u064e\u0651\u0645\u064e\u0627 \u0632\u064e\u0627\u0631\u064e\u0646\u0650\u064a \u0641\u0650\u064a \u062d\u064e\u064a\u064e\u0627\u062a\u0650\u064a<\/p>\n<p>\u201cBarangsiapa yang berziarah kepadaku setelah matiku maka dia seolah-olah menziarahiku semasa hidupku.\u201d<\/p>\n<p>Asy-Syaikh Albani rahimahullah berkata hadits ini adalah batil. (lihat Silsilah Adh-Dha\u2019ifah 3\/89)<\/p>\n<p>Masih banyak lagi hadits-hadits dhaif dan maudhu\u2019 yang dijadikan hujjah atas bolehnya syaddur rihal dalam ziarah kubur, karena terbatasnya tempat sehingga tidak memungkinkan untuk membawakan seluruhnya. Wallahu a\u2019lam.<\/p>\n<p>Sumber:<a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/safar-dalam-rangka-ziarah-kubur-apakah-disyariatkan\/\" target=\"_blank\"><strong> Majalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAFAR DALAM RANGKA ZIARAH KUBUR, APAKAH DISYARIATKAN? Ditulis oleh:\u00a0Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman Wisata ziarah atau perjalanan khusus untuk melakukan ziarah ke makam tertentu seperti makam orang-orang yang dianggap wali atau \u201csetengah\u201d wali, masih banyak ditemukan dalam masyarakat kita. Benarkah perilaku demikian disyariatkan? Seiring dengan bergulirnya waktu, dari hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7928,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[1951,1950,1952],"class_list":["post-7884","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akidah","tag-apakah-disyariatkan","tag-safar-dalam-rangka-ziarah-kubur","tag-safar-dalam-rangka-ziarah-kubur-apakah-disyariatkan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7884","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7884"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7884\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7928"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7884"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7884"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7884"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}