{"id":7131,"date":"2014-10-08T11:26:39","date_gmt":"2014-10-08T03:26:39","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=7131"},"modified":"2014-10-08T11:26:39","modified_gmt":"2014-10-08T03:26:39","slug":"bisakah-kirim-pahala","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=7131","title":{"rendered":"Bisakah Kirim Pahala"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/Bisakah-Kirim-Pahala.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-7176\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/Bisakah-Kirim-Pahala-300x168.jpg\" alt=\"Bisakah Kirim Pahala\" width=\"300\" height=\"168\" srcset=\"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/Bisakah-Kirim-Pahala-300x168.jpg 300w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/Bisakah-Kirim-Pahala.jpg 500w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>BISAKAH KIRIM PAHALA<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #0000ff;\"><em>Pertanyaan dari orang Sudan yang tinggal di Kuwait, ia mengatakan: \u201cApa hukumnya membaca Al-Fatihah untuk dihadiahkan kepada mayit, juga menyembelih hewan untuknya, demikian pula memberikan uang untuk keluarga mayit?\u201d<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Mendekatkan diri kepada mayit dengan sembelihan, uang, nadzar, dan ibadah-ibadah lainnya, semacam meminta kesembuhan darinya, pertolongan, atau bantuan, ini merupakan syirik akbar (menyekutukan Allah subhanahu wa ta\u2019ala). Tidak boleh bagi seorang pun untuk melakukannya, karena syirik adalah dosa dan kejahatan terbesar. Berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta\u2019ala:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.\u201d<\/em> (An-Nisa: 116)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya jannah (surga), dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.\u201d<\/em> (Al-Maidah: 72)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSeandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.\u201d<\/em> (Al-An\u2019am: 88)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dan banyak ayat yang semakna dengannya. Maka yang wajib dilakukan adalah mengikhlaskan\/meniatkan ibadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta\u2019ala satu-satunya, baik itu berupa sembelihan, nadzar, doa, shalat, puasa, atau ibadah-ibadah selainnya. Di antara syirik juga adalah mendekatkan diri kepada para penghuni kuburan dengan nadzar atau makanan (sesajen), berdasarkan ayat-ayat yang lalu. Juga berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta\u2019ala:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Katakanlah:<em> \u201cSesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).\u201d<\/em> (Al-An\u2019am: 162-163)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun menghadiahkan Al-Fatihah atau selainnya dari Al-Qur\u2019an kepada mayit, hal itu tidak ada dalilnya (landasan hukumnya dari Al-Qur\u2019an atau Hadits). Maka yang wajib dilakukan adalah meninggalkan hal tersebut. Karena tidak pernah dinukilkan dari Nabi shalallahu\u2019alaihi wa sallam atau para sahabatnya, sesuatu yang menunjukkan bolehnya hal tersebut. Yang disyariatkan adalah mendoakan untuk mayit dan menshadaqahkan untuk mereka dengan cara berbuat baik kepada para fakir miskin. Dengan itu, seorang hamba mendekatkan kepada Allah subhanahu wa ta\u2019ala dan memohon kepada-Nya agar pahalanya dijadikan untuk ayah atau ibunya, atau orang yang mati atau masih hidup selain keduanya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu\u2019alaihi wa sallam:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0625\u0630\u0627 \u0645\u064e\u0627\u062a\u064e \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u0646\u0652\u0633\u064e\u0627\u0646\u064f \u0627\u0646\u0652\u0642\u064e\u0637\u064e\u0639\u064e \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064f \u0639\u064e\u0645\u064e\u0644\u064f\u0647\u064f \u0625\u0650\u0644\u064e\u0651\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u062b\u064e\u0644\u064e\u0627\u062b\u064e\u0629\u064d \u0625\u0650\u0644\u064e\u0651\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0635\u064e\u062f\u064e\u0642\u064e\u0629\u064d \u062c\u064e\u0627\u0631\u0650\u064a\u064e\u0629\u064d \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0639\u0650\u0644\u0652\u0645\u064d \u064a\u064f\u0646\u0652\u062a\u064e\u0641\u064e\u0639\u064f \u0628\u0650\u0647\u0650 \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0648\u064e\u0644\u064e\u062f\u064d \u0635\u064e\u0627\u0644\u0650\u062d\u064d \u064a\u064e\u062f\u0652\u0639\u064f\u0648 \u0644\u064e\u0647\u064f<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cBila anak Adam meninggal maka amalnya terputus kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Telah shahih bahwa seseorang berkata:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u064a\u064e\u0627 \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0652\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650\u060c \u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0623\u064f\u0645\u0650\u0651\u064a \u0645\u064e\u0627\u062a\u064e\u062a\u0652 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0645\u0652 \u0652\u062a\u064f\u0648\u0652\u0635\u0650 \u0648\u064e\u0623\u064e\u0638\u064f\u0646\u064f\u0651\u0647\u064e\u0627 \u0644\u064e\u0648\u0652 \u062a\u064e\u0643\u064e\u0644\u064e\u0651\u0645\u064e\u062a\u0652 \u0644\u064e\u062a\u064e\u0635\u064e\u062f\u064e\u0651\u0642\u064e\u062a\u0652\u060c \u0623\u064e\u0641\u064e\u0644\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0623\u064e\u062c\u0652\u0631\u064c \u0625\u0650\u0646\u0652 \u062a\u064e\u0635\u064e\u062f\u064e\u0651\u0642\u0652\u062a\u064f \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064e\u0627\u061f \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0646\u064e\u0639\u064e\u0645\u0652.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cWahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dan belum sempat berwasiat, dan aku kira kalau dia sempat bicara ia akan bersedekah, apakah dia dapat pahala jika aku bersedekah atas namanya?\u201d Beliau menjawab: \u201cYa.\u201d (Muttafaqun \u2018alaih)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikian pula halnya menghajikan mayit serta mengumrahkannya juga membayarkan utangnya. Semuanya itu bisa memberi manfaat bagi mayit sesuai dengan keterangan yang datang dalam dalil-dalil syariat.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun jika yang dimaksud penanya dengan pertanyaannya adalah untuk berbuat baik kepada keluarga mayit serta bersedekah dengan uang dan sembelihan, maka itu boleh bila mereka itu orang-orang fakir. Yang utama adalah tetangga dan kerabat membuatkan makanan di rumah mereka masing-masing lalu menghadiahkannya kepada keluarga mayit. Karena telah shahih dari Nabi shalallahu\u2019alaihi wa sallam bahwa ketika sampai kepada Nabi shalallahu\u2019alaihi wa sallam berita kematian Ja\u2019far bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dalam peperangan Mu\u2019tah, beliau shalallahu\u2019alaihi wa sallam memerintahkan kerabatnya untuk membuatkan makanan untuk keluarga Ja\u2019far dan beliau mengatakan: \u201cKarena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun bila keluarga mayit yang membuat makanan untuk orang-orang \u00a0(masyarakat) karena kematian (semacam peringatan tujuh hari, red.) maka itu tidak boleh. Hal itu termasuk amalan jahiliah, baik itu pada hari kematian, hari keempatnya atau kesepuluh atau setelah genap setahun. Semua itu tidak boleh. Ini berdasarkan riwayat yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu anhu, salah seorang sahabat Nabi shalallahu\u2019alaihi wa sallam, bahwa beliau berkata:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0643\u064f\u0646\u064e\u0651\u0627 \u0646\u064e\u0639\u064f\u062f\u064f\u0651 \u0627\u0644\u0652\u0627\u0650\u062c\u0652\u062a\u0650\u0645\u064e\u0627\u0639\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0623\u064e\u0647\u0652\u0644\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u064a\u0650\u0651\u062a\u0650 \u0648\u064e\u0635\u064e\u0646\u0650\u064a\u0652\u0639\u064e\u0647\u064f \u0627\u0644\u0637\u064e\u0651\u0639\u064e\u0627\u0645\u064e \u0628\u064e\u0639\u0652\u062f\u064e \u062f\u064e\u0641\u0652\u0646\u0650\u0647\u0650 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0646\u0650\u0651\u064a\u064e\u0627\u062d\u064e\u0629\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cKami menganggap bahwa berkumpul-kumpul ke keluarga mayit dan membuat makanan setelah pemakaman adalah termasuk niyahah<span style=\"font-size: 11.111111640930176px;\">\u00a0<strong><span style=\"color: #0000ff;\">[1]<\/span><\/strong><\/span>(meratapi mayit).\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun jika ada tamu mendatangi keluarga mayit pada hari-hari berkabung (saat takziyah) maka tidak mengapa keluarga mayit membuat makanan untuk mereka sebagai suguhan untuk tamu. Sebagaimana tidak mengapa bagi keluarga mayit untuk mengundang siapa yang mereka kehendaki dari tetangga atau kerabat untuk makan bersama mereka dari makanan yang dihadiahkan kepada mereka. Allah subbhanahu wa ta\u2019ala lah yang memberi taufiq.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em><span style=\"color: #0000ff;\">Bolehkah bagi saya untuk mengkhatamkan Al-Qur\u2019an dan saya hadiahkan untuk ayah ibu saya, untuk diketahui bahwa keduanya ummi (tidak bisa baca tulis). Dan bolehkah saya khatamkan Al-Qur\u2019an untuk saya hadiahkan kepada orang yang bisa baca tulis tapi saya (memang) bermaksud menghadiahkannya kepadanya? Juga apakah boleh bagi saya untuk mengkhatamkan Al-Qur\u2019an untuk saya hadiahkan kepada lebih dari satu orang?<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Jawab:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Tidak terdapat dalam Al-Qur\u2019an yang mulia ataupun dalam hadits yang suci dari Nabi shalallahu\u2019alaihi wa sallam, tidak pula dari para sahabatnya yang mulia, sesuatu yang menunjukkan disyariatkannya menghadiahkan bacaan Al-Qur\u2019an Al-Karim untuk kedua orangtua atau untuk yang lain. Allah subhanahuwata\u2019ala mensyariatkan membaca Al-Qur\u2019an untuk diambil manfaat darinya, diambil faedah darinya serta untuk dipahami maknanya lalu diamalkan. Allah subhanahuwata\u2019ala berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cIni adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang berakal.\u201d<\/em> (Shad: 29)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSesungguhnya Al-Qur\u2019an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.\u201d<\/em> (Al-Isra\u2019: 9)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Katakanlah: <em>\u201cAl-Qur\u2019an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin.\u201d<\/em> (Fushshilat: 44)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Nabi shalallahu\u2019alaihi wa sallam bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0627\u0642\u0652\u0631\u064e\u0621\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0642\u064f\u0631\u0652\u0622\u0646\u064e \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651\u0647\u064f \u064a\u064e\u0623\u0652\u062a\u0650\u064a\u0652 \u0634\u064e\u0641\u0650\u064a\u0652\u0639\u064b\u0627 \u0644\u0650\u0623\u064e\u0635\u0652\u062d\u064e\u0627\u0628\u0650\u0647\u0650 \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u0627\u0644\u0652\u0642\u0650\u064a\u064e\u0627\u0645\u064e\u0629\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cBacalah Al-Qur\u2019an karena sesungguhnya (amalan baca) Al-Qur\u2019an itu nanti akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.\u201d (Shahih, HR. Muslim no. 804)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Beliau shalallahu\u2019alaihi wa sallam juga bersabda (maknanya):<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cBahwa nanti akan didatangkan (amalan baca) Al-Qur\u2019an pada hari kiamat dan para ahli Al-Qur\u2019an yang mengamalkannya, akan datang kepadanya surat Al-Baqarah, Ali Imran, keduanya akan membela para pembacanya.\u201d (Shahih, HR. Muslim no. 804 dengan makna itu)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Jadi tujuan diturunkannya Al-Qur\u2019an adalah untuk diamalkan, dipahami, dan dipakai untuk ibadah dengan membacanya, serta memperbanyak membacanya. Bukan untuk menghadiahkannya kepada orang-orang yang telah wafat atau yang lain. Aku tidak mengetahui ada dasar yang bisa dijadikan sandaran dalam hal menghadiahkan bacaan Al-Qur\u2019an untuk kedua orangtua atau yang selain mereka. Padahal Nabi shalallahu\u2019alaihi wa sallam bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0639\u064e\u0645\u0650\u0644\u064e \u0639\u064e\u0645\u064e\u0644\u0627\u064b \u0644\u064e\u064a\u0652\u0633\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0623\u064e\u0645\u0652\u0631\u064f\u0646\u064e\u0627 \u0641\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e \u0631\u064e\u062f\u064c\u0651<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cBarangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan atas dasar ajaran kami maka itu tertolak.\u201d (Shahih, HR. Muslim)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sebagian ulama membolehkan hal itu dan mengatakan: \u201cTidak mengapa menghadiahkan pahala Al-Qur\u2019an dan amalan shalih yang lain.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Mereka mengkiaskan (menganalogikan) nya dengan shadaqah dan doa untuk mayit. Akan tetapi yang benar adalah pendapat yang pertama (tidak boleh), berdasarkan hadits yang telah disebutkan dan yang semakna dengannya. Seandainya menghadiahkan bacaan itu sesuatu yang disyariatkan, tentu akan dilakukan oleh as-salafush shalih (pendahulu kita yang baik). Juga, dalam hal ibadah tidak boleh digunakan qiyas (kias\/analogi), karena ibadah itu berhenti pada tuntunan Nabi shalallahu\u2019alaihi wa sallam. Tidak boleh ditetapkan kecuali dengan nash dari kalamullah atau hadits Nabi shalallahu\u2019alaihi wa sallam, berdasarkan hadits yang lalu dan yang semakna dengannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun menyedekahkan untuk orang yang sudah mati dan yang lain, demikian pula mendoakan mereka, menghajikan orang lain oleh yang sudah haji untuk dirinya sendiri, juga mengumrahkan oleh yang sudah umrah untuk dirinya sendiri, juga membayarkan utang puasa bagi yang telah wafat dan punya utang, maka semua ibadah ini (boleh), telah shahih hadits-hadits dari Rasulullah shalallahu\u2019alaihi wa sallam \u2026 Allah subhanahuwata\u2019ala lah yang memberikan taufiq. (Majmu\u2019 Fatawa Wa Maqalat Al-Mutanawwi\u2019ah)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Pendapat Al-Imam Syafi\u2019i rahimahullah<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Apa yang dipaparkan di atas juga merupakan pendapat Al-Imam Asy-Syafi\u2019i rahimahullah, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah sebagai salah seorang ulama bermadzhab Syafi\u2019i dalam tafsirnya. Beliau katakan, firman-Nya:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.\u201d<\/em> (An-Najm: 39)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Yakni, sebagaimana tidak dibebankan padanya dosa orang lain, demikian pula ia tidak mendapatkan ganjaran kecuali dari apa yang dia usahakan sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dari ayat ini, Al-Imam Asy-Syafi\u2019i rahimahullah dan yang mengikuti beliau mengambil kesimpulan, bahwa menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur\u2019an tidak sampai kepada mayit. Karena dia bukan dari amalan mayit dan usahanya. Oleh karenanya, Nabi shalallahu\u2019alaihi wa sallam tidak menganjurkan dan memotivasi umatnya untuk itu. Tidak pula membimbing ke arah tersebut, baik dengan nash (teks) yang jelas atau dengan isyarat. Tidak pula dinukilkan hal itu dari seorang pun dari kalangan sahabat. Seandainya memang baik, tentu mereka akan mendahului kita dalam hal itu. Sedangkan dalam perkara ibadah, kita harus membatasinya pada nash (ayat dan hadits), tidak boleh diberlakukan padanya berbagai macam analogi (qiyas) dan pendapat akal.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun shadaqah dan doa, hal ini telah disepakati bahwa bisa sampai. Dan telah disebutkan (bolehnya) oleh yang menetapkan syariat.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, ia berkata, Rasulullah shalallahu\u2019alaihi wa sallam bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0645\u064e\u0627\u062a\u064e \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u0646\u0652\u0633\u064e\u0627\u0646\u064f \u0627\u0646\u0652\u0642\u064e\u0637\u064e\u0639\u064e \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064f \u0639\u064e\u0645\u064e\u0644\u064f\u0647\u064f \u0625\u0650\u0644\u0627\u064e\u0651 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u062b\u064e\u0644\u064e\u0627\u062b\u064e\u0629\u064d\u061b \u0625\u0650\u0644\u064e\u0651\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0648\u064e\u0644\u064e\u062f\u064d \u0635\u064e\u0627\u0644\u0650\u062d\u064d \u064a\u064e\u062f\u0652\u0639\u064f\u0648 \u0644\u064e\u0647\u064f\u060c \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0635\u064e\u062f\u064e\u0642\u064e\u0629\u064d \u062c\u064e\u0627\u0631\u0650\u064a\u064e\u0629\u064d\u060c \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0639\u0650\u0644\u0652\u0645\u064d \u064a\u064f\u0646\u0652\u062a\u064e\u0641\u064e\u0639\u064f \u0628\u0650\u0647\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cBila anak Adam meninggal maka amalnya terputus kecuali dari tiga hal, anak shalih yang mendoakannya, shadaqah jariyah, dan ilmu yang bermanfaat.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Tiga perkara ini pada hakikatnya adalah bagian dari usahanya, jerih payah dan amalnya. Sebagaimana terdapat dalam hadits:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0623\u064e\u0637\u0652\u064a\u064e\u0628\u064e \u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0643\u064e\u0644\u064e \u0627\u0644\u0631\u064e\u0651\u062c\u064f\u0644\u064f \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0643\u064e\u0633\u0652\u0628\u0650\u0647\u0650\u060c \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0648\u064e\u0644\u064e\u062f\u064e\u0647\u064f \u0645\u0650\u0646 \u0643\u064e\u0633\u0652\u0628\u0650\u0647\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cDi antara yang terbaik dari apa yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya dan sungguh anaknya adalah termasuk dari usahanya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Shadaqah jariyah juga seperti wakaf dan sejenisnya, termasuk bagian dari amalnya. Allah subhanahuwata\u2019ala berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.<\/em>\u201d (Yasin: 12)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Juga ilmu yang dia sebarkan di tengah manusia sehingga orang-orang mengikutinya setelah dia meninggal, itu juga termasuk dari usahanya. Dalam sebuah hadits di kitab shahih disebutkan:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0645\u064e\u0646\u0652 \u062f\u064e\u0639\u064e\u0627 \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0647\u064f\u062f\u064b\u0649 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u062c\u0652\u0631\u0650 \u0645\u0650\u062b\u0652\u0644\u064f \u0623\u064f\u062c\u064f\u0648\u0631\u0650 \u0645\u064e\u0646\u0652 \u062a\u064e\u0628\u0650\u0639\u064e\u0647\u064f \u0644\u064e\u0627 \u064a\u064e\u0646\u0652\u0642\u064f\u0635\u064f \u0630\u064e\u0644\u0650\u0643\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0623\u064f\u062c\u064f\u0648\u0631\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0634\u064e\u064a\u0652\u0626\u064b\u0627<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cBarangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka dia akan mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.\u201d<\/em> (Tafsir Ibnu Katsir, surat An-Najm: 39)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ffffff;\">*<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber :<a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/bisakah-kirim-pahala\/\" target=\"_blank\"><strong> Majalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Catatan Kaki:<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: left;\">HR. Ahmad dan Ibnu Majah, lafadz di atas adalah lafadz Ahmad. Niyahah atau meratapi mayit, telah dilarang oleh Rasulullah shalallahu\u2019alaihi wa sallam dengan larangan keras dan termasuk dosa besar, karena pelakunya telah diancam dengan ancaman keras sebagaimana dalam hadits:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">\u0627\u0644\u0646\u064e\u0651\u0627\u0626\u0650\u062d\u064e\u0629\u064f \u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0644\u064e\u0645\u0652 \u062a\u064e\u062a\u064f\u0628\u0652 \u0642\u064e\u0628\u0652\u0644\u064e \u0645\u064e\u0648\u0652\u062a\u0650\u0647\u064e\u0627 \u062a\u064f\u0642\u064e\u0627\u0645\u064f \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u0627\u0644\u0652\u0642\u0650\u064a\u064e\u0627\u0645\u064e\u0629\u0650 \u0648\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u064e\u0627 \u0633\u0650\u0631\u0652\u0628\u064e\u0627\u0644\u064c \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0642\u064e\u0637\u0650\u0631\u064e\u0627\u0646\u064d \u0648\u064e\u062f\u0650\u0631\u0652\u0639\u064c \u0645\u0650\u0646\u0652 \u062c\u064e\u0631\u064e\u0628\u064d<\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">\u201cSeorang wanita yang niyahah (meratapi mayit) bila tidak bertaubat sebelum matinya maka akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan memakai pakaian yang menutupi tubuhnya dari tembaga yang meleleh dan kulitnya terkena penyakit kudis (secara merata).\u201d (Shahih, HR. Muslim)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BISAKAH KIRIM PAHALA Pertanyaan dari orang Sudan yang tinggal di Kuwait, ia mengatakan: \u201cApa hukumnya membaca Al-Fatihah untuk dihadiahkan kepada mayit, juga menyembelih hewan untuknya, demikian pula memberikan uang untuk keluarga mayit?\u201d Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab: Mendekatkan diri kepada mayit dengan sembelihan, uang, nadzar, dan ibadah-ibadah lainnya, semacam meminta kesembuhan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7176,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[1724],"class_list":["post-7131","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akidah","tag-bisakah-kirim-pahala"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7131","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7131"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7131\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7176"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7131"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7131"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7131"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}