{"id":6967,"date":"2014-10-07T11:59:13","date_gmt":"2014-10-07T03:59:13","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=6967"},"modified":"2015-03-14T00:16:31","modified_gmt":"2015-03-13T16:16:31","slug":"hukum-berdiri-untuk-menyambut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=6967","title":{"rendered":"Hukum Berdiri Untuk Menyambut"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/Hukum-Berdiri-Untuk-Menyambut.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-7088\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/Hukum-Berdiri-Untuk-Menyambut-300x168.jpg\" alt=\"Hukum Berdiri Untuk Menyambut\" width=\"300\" height=\"168\" srcset=\"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/Hukum-Berdiri-Untuk-Menyambut-300x168.jpg 300w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/Hukum-Berdiri-Untuk-Menyambut.jpg 500w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>HUKUM BERDIRI UNTUK MENYAMBUT<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Pertanyaan: \u00a0<\/strong><span style=\"color: #0000ff;\"><em>Seseorang masuk dalam keadaan saya di suatu majelis. Para\u00a0hadirin kemudian berdiri, namun saya tidak berdiri. Haruskah saya berdiri? Apakah\u00a0orang yang berdiri berdosa?<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Jawab:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Anda tidak harus berdiri menyambut\u00a0orang yang datang. Namun hal ini termasuk\u00a0akhlak yang mulia. Barangsiapa yang\u00a0berdiri untuk menjabat tangannya dan\u00a0menuntunnya, terlebih lagi tuan rumah\u00a0dan para pemuka. Maka ini merupakan\u00a0akhlak yang mulia. Sungguh Nabi Shalallahu\u2019alaihi wa sallam telah\u00a0berdiri menyambut Fathimah radiyallahuanha (putri\u00a0beliau Shalallahu\u2019alaihi wa sallam, red), demikian juga Fathimah\u00a0radhiyallahuanha berdiri menyambut kedatangan beliau.\u00a0Para sahabat berdiri atas perintah Nabi\u00a0Shalallahu\u2019alaihi wa sallam untuk menyambut Sa\u2019d bin Mu\u2019adz\u00a0radhiyallahuanhu ketika dia datang untuk menghukumi\u00a0Bani Quraizhah. Thalhah bin Ubaidillah\u00a0radhiyallahuanhu berdiri di hadapan Nabi Shalallahu\u2019alaihi wa sallam ketika\u00a0Ka\u2019b bin Malik radhiyallahuanhu datang pada peristiwa\u00a0diterimanya taubat beliau oleh Allah Subhanahuwata\u2019ala.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Thalhah menjabat tangannya, mengucapkan\u00a0selamat kepadanya kemudian duduk.\u00a0Ini merupakan akhlak yang mulia, dan\u00a0perkaranya lapang. Yang dingkari adalah\u00a0berdiri untuk mengagungkan. Adapun\u00a0berdiri untuk menyambut tamu yang datang\u00a0dalam rangka memuliakannya, menjabat\u00a0tangannya, atau memberi salam hormat,\u00a0ini merupakan perkara yang disyariatkan.\u00a0Adapun dia berdiri untuk mengagungkan\u00a0sedangkan yang lain duduk, atau dia berdiri\u00a0ketika ada yang masuk tanpa menyambut\u00a0atau menjabat tangannya, ini tidak pantas.\u00a0Yang lebih keras (pelarangannya) adalah\u00a0berdiri untuk mengagungkannya dalam\u00a0keadaan (yang diagungkan itu) duduk,\u00a0bukan untuk menjaga tapi semata untuk\u00a0mengagungkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Berdiri ada tiga macam:\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Pertama: \u00a0<\/em>Berdiri terhadap seseorang\u00a0dalam keadaan orang itu duduk, seperti\u00a0orang-orang ajam (non Arab) mengagungkan\u00a0raja dan pembesar mereka. Hal ini tidak\u00a0diperbolehkan, sebagaimana diterangkan Nabi\u00a0Shalallahu\u2019alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Nabi Shalallahu\u2019alaihi wa sallam memerintahkan\u00a0para sahabat untuk duduk ketika beliau\u00a0Shalallahu\u2019alaihi wa sallam mengimami shalat sambil duduk. Nabi\u00a0Shalallahu\u2019alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk duduk dan shalat bersama beliau sambil duduk. Ketika mereka berdiri, Nabi Shalallahu\u2019alaihi wa sallam mengatakan:\u00a0\u201cHampir-hampir kalian mengagungkan\u00a0aku sebagaimana orang-orang ajam\u00a0mengagungkan pembesar mereka.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Kedua: \u00a0<\/em>Berdiri untuk kedatangan atau\u00a0kepergian seseorang, tanpa menyambut atau\u00a0menjabat tangannya, namun semata-mata\u00a0untuk mengagungkannya. Hal ini minimalnya\u00a0makruh. Dahulu para sahabat radhiyallahuanhuma tidak\u00a0berdiri untuk Nabi Shalallahu\u2019alaihi wa sallam ketika beliau masuk\u00a0kepada mereka, ketika mereka mengetahui\u00a0ketidaksukaan beliau Shalallahu\u2019alaihi wa sallam terhadap hal itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Ketiga: \u00a0<\/em>Berdiri untuk orang yang\u00a0datang untuk menjabat tangannya atau\u00a0menuntunnya untuk menempatkannya pada\u00a0tempat tertentu, atau mendudukkannya pada\u00a0tempatnya, atau yang serupa dengan itu. Hal ini tidak mengapa, bahkan termasuk\u00a0Sunnah (Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam, red) sebagaimana\u00a0telah lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong><em>\u00a0[Dimuat dalam majalah Al-Arabiyyah\u00a0dalam kolom Is`alu Ahla Adz-Dzikr, dari\u00a0Fatawa wa Maqalat Ibn Baz, jilid 6]<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ffffff;\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber: \u00a0<a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/hukum-berdiri-untuk-menyambut\/\" target=\"_blank\"><span style=\"color: #800000;\"><strong>Majalah Asy Syariah<\/strong><\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HUKUM BERDIRI UNTUK MENYAMBUT Pertanyaan: \u00a0Seseorang masuk dalam keadaan saya di suatu majelis. Para\u00a0hadirin kemudian berdiri, namun saya tidak berdiri. Haruskah saya berdiri? Apakah\u00a0orang yang berdiri berdosa? Jawab: Anda tidak harus berdiri menyambut\u00a0orang yang datang. Namun hal ini termasuk\u00a0akhlak yang mulia. Barangsiapa yang\u00a0berdiri untuk menjabat tangannya dan\u00a0menuntunnya, terlebih lagi tuan rumah\u00a0dan para pemuka. Maka ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7088,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[56],"tags":[1698],"class_list":["post-6967","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fatwa","tag-hukum-berdiri-untuk-menyambut"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6967","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6967"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6967\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7088"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6967"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6967"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6967"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}