{"id":6959,"date":"2014-10-06T06:28:46","date_gmt":"2014-10-05T22:28:46","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=6959"},"modified":"2014-10-06T06:28:46","modified_gmt":"2014-10-05T22:28:46","slug":"buku-buku-sesat-perusak-agama-umat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=6959","title":{"rendered":"Buku-buku Sesat Perusak Agama Umat"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/Buku-buku-sesat-Perusak-Agama-Umat.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-7092\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/Buku-buku-sesat-Perusak-Agama-Umat-300x168.jpg\" alt=\"Buku-buku sesat Perusak Agama Umat\" width=\"300\" height=\"168\" srcset=\"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/Buku-buku-sesat-Perusak-Agama-Umat-300x168.jpg 300w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/Buku-buku-sesat-Perusak-Agama-Umat.jpg 500w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>BUKU-BUKU SESAT PERUSAK AGAMA UMAT<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #800000;\"><em>Ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi\u2019 bin Sulaimi, Lc<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Buku (agama) adalah pengikat ilmu. Adagium demikian memang tidak ada yang mengingkarinya. Namun persoalannya, tak semua yang ada di buku adalah ilmu dan tak semua buku layak baca. Karena, di tengah kita, banyak bertebaran buku-buku \u2018agama\u2019 yang justru menyesatkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Awas Buku-buku Sesat!<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Bertebarannya beragam buku sesat di tengah umat merupakan bahaya laten yang mesti diwaspadai. Terlebih jika buku-buku itu dikemas dan diberi judul menarik serta berkesan ilmiah. Maka tanpa terasa, pembaca pun akan terbawa, terpola oleh isi buku, dan ujung-ujungnya terjerumus ke dalam kesesatan. Pasalnya, buku-buku sesat merupakan salah satu media paling efektif yang digunakan musuh-musuh Islam untuk merusak agama umat dan menyesatkan mereka dari jalan kebenaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Asy-Syaikh Muhammad bin Nashir Al-\u2019Uraini rahimahullah berkata: \u00a0\u201cSesungguhnya di antara media terkuat yang mereka gunakan untuk menyebarkan pemikiran menyimpang dan menyesatkan hamba-hamba Allah adalah buku-buku yang dihiasi dengan judul-judul menarik untuk mengesankan kepada para pembaca bahwa ia baik, padahal isinya racun yang mematikan.\u201d (At-Tahdzir Minat Tasarru\u2019 Fittakfir, hal. 51) Mungkin anda terheran-heran, seraya bergumam: \u201cApalah arti sebuah buku, benda yang tak mampu berbicara apalagi berceramah. Mungkinkah ia menjadi salah satu media paling efektif untuk merusak agama umat?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sebagai jawabannya, simaklah keterangan berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: left;\">Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (ketika menjelaskan kronologi terjadinya kesesatan di muka bumi, pen.) berkata:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">\u201c \u2026 Hingga sampailah pada awal abad ke-3 Hijriah, ketika kaum muslimin dipimpin khalifah Abdullah Al-Ma`mun (salah seorang khali-fah Bani \u2018Abbasiyyah,-pen.). Dia adalah seorang yang mencintai ilmu dan majelisnya selalu diramaikan para pakar dari berbagai disiplin ilmu, hingga akhirnya (terpengaruh dengan sebagian mereka,-pen.) dan terkondisikan untuk gandrung dengan hal-hal yang berbau akal (mengedepankan logika). Dia pun akhirnya memerintahkan penerjemahan buku-buku sesat Yunani Kuno. Bahkan demi programnya ini, ia datangkan para penerjemah dari berbagai negeri hingga terciptalah terjemahan dalam bahasa ArabAkibatnya kaum muslimin disibukkan dengan (membaca) buku-buku sesat tersebut. Sedangkan Al-Ma`mun sendiri, yang memprakarsai program tersebut, semakin larut dan terbawa buku-buku sesat itu hingga majelisnya pun didominasi gerombolan Jahmiyyah (yang banyak mengandalkan akal dalam memahami agama, -pen.) yang justru pada masa khalifah Al-Amin, kakak Al-Ma`mun, merupakan buronan. Ada yang tertangkap kemudian dipenjara, dan ada pula yang dibunuh. Orang-orang inilah yang meracuni dan membisikkan bid\u2019ah Jahmiyyah ke telinga dan hati Al-Ma`mun, hingga merasuklah bid\u2019ah itu pada dirinya dan dianggap sebagai kebaikan. Bahkan dia ajak manusia kepada bid\u2019ah tersebut dan menghukum siapa saja yang tidak menyambut ajakannya.\u201d (Ash-Shawa\u2019iq Al-Mursalah, 1\/148)<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\" start=\"2\">\n<li>Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayat-kan dengan sanad sampai kepada Al-Fadhl bin Ziyad. Ia berkata:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">\u201cAku bertanya kepada Abu Abdillah (Al-Imam Ahmad) tentang Al-Karabisi dan pemikiran yang ia lontarkan. Muka beliau pun tampak masam seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berkata: \u201cOrang ini telah menyuarakan pemikiran Jahmiyyah \u2026 Sesungguhnya kesesatan yang menimpa mereka itu disebabkan buku-buku sesat yang mereka susun. Mereka tinggalkan atsar Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam dan para shahabatnya, kemudian mendalami buku-buku sesat tersebut.\u201d (Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama\u2019ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawa`if karya Asy-Syaikh Rabi\u2019 bin Hadi \u2018Umair Al-Madkhali hal.132)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Para pembaca, dari keterangan di atas dapatlah diambil pelajaran yang sangat berharga bahwa buku-buku sesat sangat berbahaya bagi umat, merusak agama mereka, dan dapat menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan. Sampai-sampai Al-Ma`mun yang ketika itu menjabat khalifah dan sejak kecil hafal Al-Qur`an menjadi sesat akibat buku-buku sesat Yunani Kuno dan buku-buku sesat karya tokoh-tokoh Jahmiyyah di masanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Sikap Ahlus Sunnah Wal Jama\u2019ah Terhadap Buku-buku Sesat<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Setiap muslim berkewajiban untuk membentengi dirinya dari kesesatan dan segala bentuk medianya. Allah subhanahu wa ta\u2019ala berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cKatakanlah: \u2018Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat sebelumnya (sebelum kedatangan Nabi Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka telah tersesat dari jalan yang lurus.\u201d<\/em> (Al-Ma`idah: 77)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikian pula Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam, sebagaimana dikatakan shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu\u2019anhu : \u201cOrang-orang (para shahabat) selalu bertanya kepada Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam tentang kebaikan. Sedangkan aku selalu bertanya kepada beliau tentang kejelekan, karena aku khawatir kejelekan itu akan menimpaku. Maka aku pun berkata: \u2018Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu tenggelam dalam kehidupan jahiliyyah dan kejelekan, kemudian Allah menganugerahkan kepada kami kebaikan (Al-Islam) ini. Apakah setelah adanya kebaikan ini akan ada kejelekan?\u2019 Beliau bersabda: \u2018Ya.\u2019 Aku pun berkata: \u2018Dan apakah setelah kejelekan itu akan ada kebaikan lagi?\u2019 Beliau bersabda: \u2018Ya, namun padanya terdapat kesuraman (pergeseran dalam agama).\u2019 Aku berkata: \u2018Apa bentuk kesuraman itu?\u2019 Beliau bersabda: \u2018Adanya suatu kaum yang berprinsip dengan selain Sunnahku dan mengambil petunjuk dengan selain petunjukku. Engkau mengetahui apa yang datang dari mereka dan bisa mengingkari.\u2019 Aku pun berkata: \u2018Apakah setelah adanya kebaikan itu akan ada kejelekan lagi?\u2019 Beliau bersabda: \u2018Ya, munculnya sekelompok da\u2019i yang berada di pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa menyambut ajakan mereka, niscaya mereka akan melemparkannya ke dalam Jahannam itu.\u2019 Aku berkata: \u2018Wahai Rasulullah, apa nasehatmu jika aku mendapati kondisi seperti itu?\u2019 Beliau bersabda: \u2018Berpegangteguhlah dengan jamaah kaum muslimin dan imam (pemimpin) mereka.\u2019 Aku berkata: \u2018Bagaimana jika mereka (kaum muslimin) tidak mempunyai jamaah dan imam?\u2019 Beliau bersabda: \u2018Hendaknya engkau tinggalkan semua kelompok-kelompok (yang menyeru kepada kesesatan) itu, walaupun engkau terpaksa harus menggigit akar pohon, sampai kematian mendatangimu dan engkau dalam keadaan seperti itu.\u2019 (HR. Al-Bukhari, no. 7084 dan Muslim no. 1847, dengan lafadz Muslim)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah, mereka adalah orang-orang yang seperti Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam gambarkan dalam sabdanya: \u00a0\u201cIlmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang adil (terpercaya) dari tiap-tiap generasi yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari pemutarbalikan pemahaman agama yang dilakukan orang-orang yang menyimpang, kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama, dan dari pentakwilan agama yang salah yang dilakukan orang-orang jahil.\u201d (HR. Al-Khathib Al Baghdadi dalam Syaraf Ash-habil Hadits hal. 11. Asy-Syaikh Al-Albani menukilkan penshahihan dari Al-Imam Ahmad dan Al-\u2019Ala`i dalam Misykatul Mashabih) Sehingga ketika mereka rasakan adanya bahaya terselubung dari buku-buku sesat tersebut, merekapun tampil untuk membentengi umat dari kesesatan-kesesatannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em> Hal itu bisa dilihat dari sikap dan pernyataan mereka berikut ini:<\/em><\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\">\n<li>Al-Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">\u201cAsy-Syaikh Muwaffaquddin Ibnu Qudamah rahimahullah melarang (umat -pen) membaca buku-buku ahlul bid\u2019ah. Beliau berkata: \u2018Dahulu salafus shalih melarang duduk-duduk bersama ahlul bid\u2019ah, membaca buku mereka, dan mendengarkan ucapan mereka\u2019.\u201d (Al-Adab Asy-Syar\u2019iyyah, dinukil dari kitab Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama\u2019ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawa`if hal.132)<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\" start=\"2\">\n<li>Al-Marrudzi rahimahullah berkata:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">\u201cAku sampaikan kepada Al-Imam Ahmad, bahwa aku telah meminjam sebuah buku yang di dalamnya banyak sekali kejelekan, setujukah engkau bila aku merobek atau membakarnya? Beliau menjawab: \u2018Ya.\u2019 Maka akupun membakarnya.\u201d (Ath-Thuruq Al-Hukmiyyah, karya Ibnul Qayyim hal. 282)<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\" start=\"3\">\n<li>Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">\u201cNabi Shalallahu\u2019alaihi wa sallam pernah melihat di tangan \u2018Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu\u2019anhu, sebuah buku yang disadur dari Taurat. Ketika itu \u2018Umar merasa takjub akan kesesuaiannya dengan Al-Qur`an. Maka memerahlah wajah Nabi Shalallahu\u2019alaihi wa sallam (karena marah) hingga akhirnya \u2018Umar membawa buku tersebut lalu memasuk-kannya ke dalam tungku. Bagaimana seandainya Nabi Shalallahu\u2019alaihi wa sallam melihat buku-buku yang ditulis sepeninggal beliau yang menyelisihi kandungan Al-Qur`an dan As-Sunnah? Wallahul Musta\u2019an.<\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">Nabi Shalallahu\u2019alaihi wa sallam pun pernah memerintahkan siapa saja yang menulis sesuatu dari beliau selain Al-Qur`an agar menghapusnya, walaupun akhirnya beliau mengijinkan penulisan As-Sunnah dan tidak mengijinkan selain itu. Semua buku-buku yang menye-lisihi Sunnah Nabi tidaklah diperbolehkan, bahkan selayaknya untuk dihapus atau dimusnahkan karena buku-buku sesat itu demikian berbahaya bagi umat. Para shahabat pun pernah membakar seluruh mushaf yang menyelisihi mushaf \u2018Utsmani karena kekhawatiran mereka akan perselisihan umat. Bagaimanakah bila mereka melihat buku-buku sesat yang dapat menjerumuskan umat kepada perselisihan dan perpecahan\u2026?!<\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">Kemudian Ibnul Qayyim melanjutkan perkataannya: \u201cMaksud kami, buku-buku yang mengandung kedustaan dan kebid\u2019ah-an itu harus dimusnahkan. Dan memusnah-kannya lebih utama dari memusnahkan alat-alat musik dan bejana-bejana khamr. Karena bahaya buku-buku itu jauh lebih besar daripada bahaya alat-alat musik dan bejana khamr. Dan tidak ada denda bagi yang memusnahkannya, sebagaimana pula tidak ada denda bagi siapa saja yang memecahkan bejana-bejana khamr dan merusak tempat-tempat penyimpanan khamr lainnya.\u201d (Ath-Thuruq Al-Hukmiyyah hal. 282)<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\" start=\"4\">\n<li>Al-Hafizh Sa\u2019id bin \u2018Amr Al-Bardza\u2019i berkata:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">\u201cAku telah menyaksikan Abu Zur\u2019ah Ar-Razi ditanya tentang Al-Harits Al-Muhasibi dan buku-buku karya tulisnya. Maka beliau menjawab: \u2018Hati-hatilah engkau dari buku-buku itu, karena ia merupakan buku-buku bid\u2019ah dan sesat. Cukuplah bagimu hadits-hadits Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam karena engkau akan mendapati (di dalam hadits-hadits itu) apa yang memuaskanmu.\u2019 Kemudian disampaikanlah kepada Abu Zur\u2019ah bahwa di dalam buku-buku itu terdapat ibrah (pelajaran berharga). Maka beliaupun menjawab: \u2018Barangsiapa yang tidak bisa mendapatkan ibrah dari Al-Qur`an maka dia tidak akan bisa menda-patkan ibrah dari buku-buku tersebut.\u2019 Apakah telah sampai pada kalian bahwa Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, Al-Imam Malik, dan Al-Imam Al-Auza\u2019i pernah menulis buku-buku semacam ini? Betapa cepatnya umat manusia condong kepada kepada kebid\u2019ahan!\u201d (Mizanul I\u2019tidal fii Naqdir Rijal karya Al-Imam Adz-Dzahabi, 1\/431)<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\" start=\"5\">\n<li>Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">\u201cItu baru semacam Al-Harits?!\u201d Lalu bagaimanakah jika Abu Zur\u2019ah melihat buku-buku para mutaakhirin, seperti kitab Al-Quut karya Abu Thalib? Itu baru buku semacam Al-Quut?! Bagaimanakah jika beliau melihat kitab Bahjatul Asrar karya Ibnu Jahdham dan kitab Haqa`iq At-Tafsir karya As-Sulami?! Sungguh akan copot jantungnya. Bagaimanakah jika beliau melihat karya Abu Hamid At-Thusi (Al-Ghazali) yang tidak jauh dari itu dan sarat dengan hadits-hadits palsu di dalam kitab Ihya` \u2018Ulumiddin? Bagaimanakah jika beliau melihat kitab Al-Ghunyah karya Abdul Qadir? Dan bagaimana pula jika beliau melihat Fushushul Hikam dan Al-Futuhat Al-Makkiyyah\u2026?! (Mizanul I\u2019tidal, 1\/431)<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\" start=\"6\">\n<li>Asy-Syaikh Rabi\u2019 bin Hadi Al-Madkhali berkata:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">\u201cSemoga Allah merahmati Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah. Bagaimana seandainya beliau melihat kitab semacam At-Thabaqat karya Asy-Sya\u2019rani, Jawahirul Ma\u2019ani dan Bulughul Amani fii Faidhi Abil \u2018Abbas At-Tijani karya \u2018Ali bin Harazim Al-Fasi, Khazinatul Asrar karya Muhammad Haqqi An-Nazili, Nurul Abshar karya Asy-Syablanji, Syawahidul Haq fii Jawazi Al-Istighatsah bi Sayyidil Khalqi dan kitab Jami\u2019 Karamatil Auliya` karya An-Nabhani?!Bagaimanakah jika beliau melihat kitab Tablighi Nishab dan buku karangan tokoh-tokoh tarekat Shufi selainnya?! Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya Al-Ghazali masa kini yang menghujam Sunnah Nabi dan melecehkan para pembawanya dan para pemuda Salafi yang berpegang teguh dengannya, serta menikam mereka dengan tuduhan-tuduhan sangat keji dan julukan-julukan yang sangat jelek?!<\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">Bagaimanakah beliau jika melihat karya-karya Al-Maududi dan segala bentuk penyimpangannya baik dalam hal aqidah, akal, dan suluk?! Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya Al-Qardhawi yang membela ahlul bid\u2019ah dan memperjuangkan kebid\u2019ahan, bahkan mempromosikan prinsip-prinsip kebid\u2019ahan tersebut? Yusuf Qardhawi seorang yang sejalan dengan Al-Ghazali masa kini, bahkan lebih berbahaya!<br \/>\nBagaimanakah jika beliau melihat sekelompok da\u2019i di zaman kita ini yang mereka justru mendalami buku-buku sesat, bahkan memperjuangkan dan membela kelompok-kelompok sesat dan tokoh-tokohnya dari kalangan ahlul bid\u2019ah?! Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya Sa\u2019id Hawwa dalam hal kesufian dan politik yang jauh menyimpang?!<\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya Al-Kautsari dan murid-muridnya Abu Ghuddah cs dari kalangan gembong (bid\u2019ah, -pen.) yang sangat fanatik kepada sufi dan madzhab?! Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya Al-Buuthi dan sejenisnya dari musuh-musuh As-Sunnah, musuh-musuh madrasah tauhid, dan madrasah Ibnu Taimiyyah?! Bagaimanakah jika beliau melihat umat ini bahkan pemudanya yang condong kepada tauhid, tidak mengerti manhaj salaf, bahkan tidak mengerti Al-Qur`an dan As-Sunnah dan menyambut baik buku-buku yang menyesatkan tersebut?!<\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">Duhai kiranya\u2026! Adakah orang-orang yang tampil untuk membantah buku-buku sesat tersebut dengan suatu misi pemben-tengan agama dan aqidah para pemuda dari kesesatan buku-buku itu?!<\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">Duhai kiranya\u2026! Adakah orang-orang yang menjaga agama ini dari bidikan panah tokoh-tokoh sesat itu dan tuduhan-tuduhan keji mereka yang sangat keterlaluan?! (Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama\u2019ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawaif hal.132)<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\" start=\"7\">\n<li>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">\u201cKetika menjelaskan hadits yang diriwayatkan Abdul Malik bin Harun: \u2018Akan tetapi hadits ini juga diriwayatkan para ulama yang menulis tentang amalan-amalan pagi dan petang seperti Ibnu Sunni dan Abu Nu\u2019aim. Di dalam buku-buku semacam ini banyak sekali hadits-hadits palsu yang tidak boleh dijadikan sandaran dalam syariat, sesuai kesepakatan ulama. Hadits ini juga diriwayatkan Abusy Syaikh Al-Ashbahani di dalam kitabnya Fadha`il A\u2019mal, dan di dalam kitab ini juga terdapat hadits-hadits dusta dan palsu yang cukup banyak\u2019.\u201d (Al-Qa\u2019idah Al-Jalilah fit Tawassul Wal Wasilah hal.164-165)<\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">Dan masih banyak lagi buku-buku yang diperingatkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t di dalam tulisan dan fatwa-fatwa beliau. Hal itu semata-mata untuk membentengi umat dari berbagai macam kesesatan.<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\" start=\"8\">\n<li>Para imam Islam pun sepanjang masa juga senantiasa berpegang teguh dengan prinsip ini. Bahkan tak segan-segan menulis buku bantahan atas buku-buku sesat itu. Lihatlah apa yang ditulis Al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya Ar-Raddu \u2018Alal Jahmiyyati Waz Zana-diqah. Lihatlah bantahan Al-Imam Ad-Darimi terhadap Bisyr Al-Marisi, dan juga bantahan Ibnu Abdil Hadi, salah seorang murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, terhadap As-Subki.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun bantahan-bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah terhadap Ahlul Ahwa` tidak terhitung banyaknya. Beliau benar-benar seperti pedang terhunus bagi mereka. Lihatlah kitabnya Ar-Raddu \u2018alal Akhna\u2019i dan Ar-Raddu \u2018alal Bakri, bantahannya terhadap Imamul Haramain dalam kitab Dar`u Ta\u2019arudhil \u2018Aqli wan Naqli, ban-tahan terhadap Ar-Razi dalam kitab Talbisul Jahmiyyah, dan bantahannya terhadap Al-Ghazali dan Ibnul Muthahhar dalam kitab Minhajus Sunnah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikianlah secara berkesinambungan hingga zaman kita ini, para ulama As-Sunnah selalu mengangkat tinggi bendera As-Sunnah dan membelanya, memerangi bid\u2019ah, memperingatkan (umat) dari ahlul bid\u2019ah dan buku-buku mereka. Dan segala puji hanya milik Allah yang telah menjadikan di zaman kita ini orang-orang yang menjaga kemurnian agama dan membela aqidah salafiyah sehingga tidak tercemari oleh berbagai macam kotoran.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Perhatikanlah kitab-kitab Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, penuh dengan bantahan-bantahan terhadap ahlul ahwa`. Perhatikanlah bantahan beliau terhadap Al-Kautsari dan muridnya Abdul Fattah Abu Ghuddah serta Ash-Shabuni dalam hal sifat-sifat Allah! Niscaya anda akan menda-patinya dengan jelas di dalam kitab Majmu\u2019 Fatawa Wa Maqalat Mutanawwi\u2019ah. Al-Mu\u2019allimi juga membantah Al-Kautsari dalam kitab At-Tankil.Perhatikan pula bantahan-bantahan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah terhadap ahlul bid\u2019ah, seperti bantahannya terhadap Abu Ghuddah di dalam Muqaddimah kitab Al-\u2019Aqidah Ath-Thahawiyyah dan dalam kitab beliau Kasyfun Niqab, dan juga bantahan beliau terhadap Muhammad Al-Buthi. Kaset-kaset beliau pun penuh dengan diskusi tentang ahlul bid\u2019ah serta membongkar tipu daya dan kerancuan-kerancuan mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikian pula bantahan-bantahan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan terhadap ahlul ahwa`, seperti bantahan beliau terhadap Al-Buthi dalam kitab As-Salafiyyah dan bantahan beliau terhadap Ash-Shabuni.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Bantahan-bantahan Asy-Syaikh Al \u2018Allamah Hamud At-Tuwaijiri t terhadap ahlul bid\u2019ah pun sangat banyak. Di antaranya kitab Ar-Raddul Qawi \u2018Alal Mujrimil Atsim, Al-Qaulul Baligh Fit Tahdzir Min Jama\u2019atit Tabligh, dan kitab Al-Ihtijaj Bil Atsar \u2018Ala Man Ankaral Mahdi Al-Muntazhar.<br \/>\nDan lihatlah apa yang telah ditulis Asy-Syaikh Rabi\u2019 bin Hadi Al-Madkhali dalam menyingkap aqidah Sayyid Quthub dan bantahan terhadap orang-orang yang berlebihan terhadapnya dalam empat kitab yang sangat berharga: Adhwa` Islamiyah \u2018Ala \u2018Aqidati Sayyid Quthub Wa Fikrihi, Matha\u2019in Sayyid Quthub Fi Ash-habi Rasulillah n, Al-\u2018Awashim Mimma Fi Kutubi Sayyid Quthub Minal Qawashim, dan Al-Hadddul Fashil Bainal Haqqi Wal Bathil. Dan masih banyak lagi para ulama selain mereka yang membongkar buku-buku sesat, siang dan malam, baik secara sembunyi dan terang-terangan, dengan mengharap pahala dari Allah U. (Untuk lebih rincinya lihat Majalah Asy Syariah, edisi Al-Jarh wat Ta\u2019dil)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong><em>Prinsip Al-Muwazanah, Sebuah Metode Sesat yang Mengatasnamakan Ahlus Sunnah<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Belakangan juga marak al-muwa-zanah, sebuah metode dalam mengkritisi buku-buku dan yang lainnya, di mana mengharuskan penyebutan kebaikan di samping penyebutan kesalahan\/ kesesatan-nya. Metode ini diusung para tokoh Sururiyyah semacam Salman Al-\u2019Audah dalam bukunya Akhlaqud Da\u2019iyah dan Ahmad bin Abdurrahman Ash-Shuwayyan dalam bukunya Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama\u2019ah fi Taqwiimir Rijali Wal Mu`allafat, serta para pengekornya. Tak ayal, dengan metode bid\u2019ah ini terlindungi-lah para penyeru kesesatan dan buku-buku sesat mereka. Umat pun bingung, karena tidak adanya ketegasan dalam menyikapi para penyeru kesesatan dan buku-buku sesat mereka itu.<br \/>\nBerikut ini fatwa para ulama tentang prinsip sesat al-muwazanah:<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\">\n<li><strong>Asy-Syaikh Abdul \u2018Aziz bin Baz<\/strong> ditanya berkaitan dengan manhaj Ahlus Sunnah di dalam mengkritik ahlul bid\u2019ah dan buku-buku mereka. Apakah harus menyebutkan kebaikan dan kejelekan-kejelekan mereka sekaligus, ataukah hanya menyebutkan kejelekannya saja?<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">Beliau menjawab: \u00a0\u201cYang dikenal dari perkataan ulama adalah mengkritik kejelekan (kesesatan) dalam rangka peringatan (tahdzir). Dan menjelaskan kesalahan-kesalahan yang ada pada mereka (ahlul bid\u2019ah dan buku-buku mereka, -pen.) dalam rangka memperingatkan (umat, -pen.) dari kesalahan-kesalahan tersebut. Adapun hal-hal yang baik semuanya tahu dan bisa diterima. Namun tujuannya adalah memperingatkan (umat, -pen.) dari kesesatan-kesesatan mereka. Jahmiyyah\u2026 Mu\u2019tazi-lah\u2026 Syi\u2019ah Rafidhah\u2026 dan sejenisnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">Adapun jika mendesak untuk disebutkan sisi kebenaran yang ada pada mereka, maka boleh disebutkan. Dan juga bila ada yang bertanya: \u2018Apa sisi kebenaran yang ada pada mereka? Sisi mana saja yang sama dengan Ahlus Sunnah?\u2019 Sementara yang ditanya mengetahui hal tersebut, maka boleh untuk menyebutkannya. Namun tujuan utama dan terpenting dari ini semua adalah menjelaskan kebatilan yang ada pada mereka agar si penanya berhati-hati dari kebatilan tersebut dan tidak condong kepada mereka.\u201d (Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama\u2019ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawa`if, hal.8)<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\" start=\"2\">\n<li><strong>Asy-Syaikh Abdul \u2018Aziz bin Baz juga ditanya:<\/strong> \u201cAda orang-orang yang mewajibkan al-muwazanah. (Katanya) bila engkau mengkritik dan memperingatkan umat dari seorang ahlul bid\u2019ah karena kebid\u2019ahannya, maka kamu harus menyebutkan kebaikan-kebaikannya pula, agar tidak mendzalimi-nya!\u201d<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">Beliau menjawab: \u00a0\u201cTidak, tidak harus demikian, tidak harus demikian! Karena, jika engkau membaca buku-buku Ahlus Sunnah, niscaya engkau akan mendapati bahwa tujuan mereka itu adalah dalam rangka peringatan (tahdzir). Bacalah buku-buku Al-Imam Al-Bukhari Khalqu Af\u2019alil \u2018Ibad, Kitabul Adab dari Shahih Al-Bukhari, As-Sunnah karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad, Kitab At-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, bantahan \u2018Utsman bin Sa\u2019id Ad-Darimi terhadap ahlil bid\u2019ah\u2026 dan lain sebagainya. Mereka sebutkan (kebatilan-kebatilan ahlul bid\u2019ah) dalam rangka memperingatkan umat darinya. Tujuannya tidaklah untuk menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, namun tujuannya adalah sebagai peringatan dari kebatilan mereka. Adapun kebaikan-kebaikan mereka tidaklah bermanfaat bagi orang yang telah kafir. Jika bid\u2019ahnya dari jenis bid\u2019ah yang mengka-firkan maka sirnalah kebaikannya. Dan jika bid\u2019ahnya tidak menyebabkan kekafiran, maka dia berada pada kondisi yang membahayakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">Jadi tujuan dari itu semua adalah menerangkan kesesatan dan kesalahan yang umat wajib diperingatkan darinya.\u201d (Man-haj Ahlis Sunnah Wal Jama\u2019ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawaif hal. 9)<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\" start=\"3\">\n<li><strong>Asy-Syaikh Abdul \u2018Aziz Al-Muham-mad As-Salman berkata:<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">\u201cKetahuilah, semoga Allah I memberikan taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin, bahwa belum pernah ada sejarahnya satu orang pun dari kalangan Salafus Shalih baik dari kalangan shahabat ataupun tabi\u2019in yang mengagungkan seorang ahlul bid\u2019ah, mencintai mereka, dan mengajak orang untuk mencintai mereka. Karena ahlul bid\u2019ah adalah orang-orang yang berpenyakit hati dan siapa saja yang bergaul atau berhu-bungan dengan mereka, dikhawatirkan terjangkiti penyakit yang membahayakan itu. Karena seorang yang berpenyakit dapat menularkan penyakitnya pada orang sehat dan tidak sebaliknya. Maka hati-hatilah dan hati-hatilah dari seluruh ahlul bid\u2019ah\u2026\u201d (Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama\u2019ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawa`if hal. 9-10)<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\" start=\"4\">\n<li><strong>Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan ketika ditanya tentang prinsip al-muwazanah,<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">maka beliau menjawab:\u00a0\u201cJika engkau sebutkan kebaikan-kebaikan mereka, berarti engkau telah mengajak orang untuk mengikuti mereka. Jangan, jangan kamu sebutkan (kebaikan-kebaikan mereka)! Sebutkanlah kesalahan\/ kesesatan yang ada pada mereka saja. Karena sesungguhnya engkau tidaklah berkewajiban untuk mempelajari keadaan mereka dan meluruskannya\u2026 Tugasmu adalah menerangkan kesesatan yang ada pada mereka agar mereka bertaubat darinya dan agar orang-orang berhati-hati (dari kesesatan tersebut).<\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">Adapun bila engkau sebutkan keba-ikan-kebaikan mereka, niscaya mereka akan berterima kasih padamu seraya menga-takan: Semoga Allah membalasimu dengan kebaikan, dan inilah yang kami inginkan\u2026\u201d (Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama\u2019ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawa`if hal.10)<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\" start=\"5\">\n<li><strong>Sementara Asy-Syaikh Rabi\u2019 bin Hadi Al-Madkhali,<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\">maka beliau benar-benar telah membantah prinsip sesat al-muwazanah ini hingga akar-akarnya dalam kitab beliau Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama\u2019ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawa`if.<\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #ffffff;\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Penutup:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dari bahasan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwasanya:<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\">\n<li>Buku-buku sesat dengan beragam jenisnya harus selalu diwaspadai, karena merupakan bahaya laten yang dapat meru-sak agama umat dan memalingkan mereka dari kebenaran.<\/li>\n<li>Kewajiban untuk membentengi diri dari segala jenis kesesatan, termasuk kesesatan yang terkandung dalam buku-buku sesat yang beredar di tengah umat.<\/li>\n<li>Di antara bentuk pembentengan diri dari buku-buku sesat adalah dengan tidak membacanya, tidak membelinya, tidak me-minjamnya ataupun dengan cara memus-nahkannya.<\/li>\n<li>Para ulama adalah pewaris para nabi. Di antara tugas mereka adalah membentengi umat dari buku-buku sesat, baik dengan cara memperingatkannya ataupun menulis secara khusus bantahan terhadap buku-buku sesat tersebut.<\/li>\n<li>Prinsip al-muwazanah di dalam menyikapi tokoh, buku, ataupun kelompok merupakan prinsip bid\u2019ah. Dengan prinsip ini, ahlul bid\u2019ah dan kesesatan mereka menjadi terlindungi. Akibatnya umat menjadi bingung dalam mensikapi para penyeru kebatilan dan karya tulis mereka.<br \/>\nWallahu a\u2019lam bish-shawab.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left;\">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber : <a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/buku-buku-sesat-peusak-agama-umat\/\" target=\"_blank\"><strong>Majalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BUKU-BUKU SESAT PERUSAK AGAMA UMAT Ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi\u2019 bin Sulaimi, Lc Buku (agama) adalah pengikat ilmu. Adagium demikian memang tidak ada yang mengingkarinya. Namun persoalannya, tak semua yang ada di buku adalah ilmu dan tak semua buku layak baca. Karena, di tengah kita, banyak bertebaran buku-buku \u2018agama\u2019 yang justru menyesatkan. Awas Buku-buku Sesat! Bertebarannya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7092,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[1696,1695],"class_list":["post-6959","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akidah","tag-bukubukusesat","tag-bukubukusesatperusakagamaumat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6959","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6959"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6959\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7092"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6959"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6959"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6959"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}