{"id":6803,"date":"2014-09-27T12:13:41","date_gmt":"2014-09-27T04:13:41","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=6803"},"modified":"2014-09-27T12:15:53","modified_gmt":"2014-09-27T04:15:53","slug":"mizan-yang-kita-nantikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=6803","title":{"rendered":"MIZAN, yang Kita Nantikan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Mizan.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-6858\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Mizan-300x168.jpg\" alt=\"Mizan\" width=\"300\" height=\"168\" \/><\/a>MIZAN, YANG KITA NANTIKAN<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #800000;\"><em>Ditulis oleh:\u00a0Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Makna Mizan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Mizan secara etimologi (bahasa) adalah alat yang digunakan untuk mengukur (bobot) segala sesuatu, sehingga benda tersebut dapat diketahui beratnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun makna mizan menurut syariat adalah timbangan yang Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0letakkan pada hari kiamat nanti untuk menimbang amalan para hamba-Nya. (Syarh Lum\u2019atul I\u2019tiqad hlm. 120)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Dalil-Dalil Adanya Mizan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dalil-dalil al-Qur\u2019an dan as-Sunnah yang menunjukkan adanya mizan pada hari kiamat cukup banyak jumlahnya. Tidak mungkin disebutkan\u00a0semuanya di sini. Di antara dalil-dalil tersebut adalah:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cKami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.<\/em>\u201d (al-Anbiya: 47)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0juga berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cTimbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.\u201d<\/em> (al-A\u2019raf: 8)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3. Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0mengisahkan dalam hadits bithaqah (selembar kartu) yang masyhur, yang beliau <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sesungguhnya Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0akan menyelamatkan\/membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, yang dipampangkan kepadanya 99 catatan amalannya, setiap catatan amalan panjangnya sejauh mata memandang.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dia (Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>) berkata kepadanya, \u201cApakah engkau akan mengingkari sesuatu dari catatan-catatan ini? Apakah para malaikat-Ku yang bertugas mencatat amal menzalimimu?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dia menjawab, \u201cTidak, wahai Rabbku.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berkata, \u201cApakah engkau memiliki uzur (alasan) atau kebaikan?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Orang tersebut bingung, kemudian dia menjawab, \u201cTidak, wahai Rabbku.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0kemudian berkata, \u201cJustru engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku. Tidak ada sedikit pun kezaliman yang akan menimpamu pada hari ini.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kemudian dikeluarkan satu kartu (bithaqah) miliknya yang ada padanya ucapan syahadatnya. Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berkata, \u201cDatangkanlah kartu itu!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Orang itu berkata, \u201cWahai Rabbku, apa artinya kartu ini dibandingkan dengan lembaran catatan amalan itu?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0menjawab, \u201cSesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kemudian diletakkan lembaran-lembaran tersebut di salah satu sisi timbangan, sedangkan kartu itu diletakkan di sisi timbangan lainnya. Sisi timbangan yang ada lembaran-lembaran naik dan bagian lain yang berisi kartu turun. (HR. at-Tirmidzi)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0juga bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0627\u0644\u0637\u064f\u0651\u0647\u064f\u0648\u0631\u064f \u0634\u064e\u0637\u0652\u0631\u064f \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u064a\u0645\u064e\u0627\u0646\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0645\u0652\u062f\u064f \u0644\u0650\u0644\u0647\u0650 \u062a\u064e\u0645\u0652\u0644\u064e\u0623\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u0650\u064a\u0632\u064e\u0627\u0646\u064e<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cBersuci itu setengah dari iman, ucapan \u2018alhamdulillah\u2019 itu memenuhi mizan\u2026.\u201d (HR. Muslim dari Abu Malik al-Asy\u2019ari <em>Radhiyallahu &#8216;anhu<\/em>)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Jumlah Mizan untuk Menimbang Amalan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kalau kita perhatikan seluruh dalil dari al-Qur\u2019an dan as-Sunnah yang menunjukkan adanya mizan, kita akan mendapatkan bahwa lafadz mizan kadang disebutkan jamak (banyak) dan kadang disebutkan mufrad (tunggal). Bagaimana cara mendudukkan masalah ini?<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-\u2018Utsaimin rahimahullah\u00a0berkata, \u201cPenyebutan lafadz mizan dalam bentuk jamak adalah berdasarkan amalan yang akan ditimbang. Amalan yang ditimbang banyak jumlahnya. Adapun penyebutan dalam bentuk tunggal adalah berdasarkan jumlah mizan (timbangan), yaitu satu.\u201d (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah 2\/139)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikian pula arahan al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah\u00a0tatkala menafsirkan ayat ke-47 dari surat al-Anbiya. Beliau berkata, \u201cKami (Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>) meletakkan timbangan amal yang adil nanti pada hari kiamat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa jumlah mizan hanya satu. Hanya saja, disebut dalam bentuk jamak berdasarkan jumlah amalan yang akan ditimbang.\u201d (Tafsir Ibnu Katsir 3\/161)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Ciri-Ciri Mizan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Berdasarkan dalil-dalil al-Qur\u2019an dan as-Sunnah, para ulama menjelaskan ciri-ciri mizan tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Di antara ulama yang menjelaskan ciri-ciri mizan adalah asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Beliau berkata, \u201cPenimbangan amalan-amalan hamba benar-benar akan terjadi dengan mizan hakiki yang memiliki dua daun timbangan, sebagaimana yang disebutkan oleh hadits-hadits. Akan tetapi, Allah lebih tahu tentang kaifiahnya (bentuknya), karena hal ini termasuk perkara gaib yang akan terjadi di akhirat. Adapun makna yang jelas, yaitu mizan hakiki memiliki dua daun timbangan. Amalan kebaikan akan diletakkan pada satu sisi, sedangkan amalan kejelekan diletakkan pada sisi yang lain. Pemiliknya akan mendapatkan balasan yang baik atau buruk sesuai dengan amalan yang lebih berat.\u201d (Syarhul Lum\u2019ah hlm. 205)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah\u00a0berkata bahwa Abu Ishaq az-Zajjaj rahimahullah\u00a0mengatakan, \u201cAhlus Sunnah bersepakat mengimani adanya mizan dan bahwa amalan para hamba akan ditimbang dengannya pada hari kiamat. Mizan tersebut memiliki lisan (neraca) dan dua daun timbangan. Salah satunya akan turun karena amalan-amalan (yang diletakkan padanya).\u201d (Fathul Bari 13\/548)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Yasin bin Ali al-\u2018Adni berkata di dalam catatan kakinya terhadap Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah karya Muhammad Khalil Harras rahimahullah, \u201cDi antara dalil yang menunjukkan bahwa mizan memiliki dua daun timbangan adalah hadits bithaqah yang diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi (2639) dan lainnya. Hadits ini disebutkan dalam kitab ash-Shahihul Musnad dari sahabat Abdullah bin \u2018Amr <em>Radhiyallahu &#8216;anhuma<\/em>.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun dalil yang menunjukkan bahwa mizan tersebut memiliki \u201clisan\u201d, sebatas kemampuan kami dalam meneliti rujukan-rujukannya, kami belum menemukannya selain riwayat dari Ibnu Abbas <em>Radhiyallahu &#8216;anhuma<\/em>\u00a0dalam kitab Syu\u2019abul Iman lil Baihaqi (1\/263).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Akan tetapi, (riwayat tersebut) dari jalan al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas <em>Radhiyallahu &#8216;anhuma<\/em>. Al-Kalbi bernama Muhammad bin as-Sa\u2019ib, seorang perawi yang muttaham bil kadzib (dituduh berdusta).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun riwayat Abu Shalih dari Ibnu Abbas adalah riwayat yang terputus sanadnya. Nama beliau adalah Badam.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Apa Saja yang Ditimbang?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah Maha Mengetahui amalan para hamba secara rinci sebelum Dia menciptakannya dengan ilmu-Nya yang sempurna, walaupun tanpa hisab dan mizan. Hanya saja, Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dengan hikmah-Nya yang sempurna berkehendak menunjukkan keadilan-Nya di hadapan seluruh makhluk-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>, yang akan ditimbang dengan mizan itu di akhirat adalah:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Amalan yang baik dan yang buruk<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cPada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) perbuatan mereka. Barang siapa yang melakukan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Barang siapa yang melakukan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.\u201d (az-Zalzalah: 6\u20148)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0643\u064e\u0644\u0650\u0645\u064e\u062a\u064e\u0627\u0646\u0650 \u062d\u064e\u0628\u0650\u064a\u0628\u064e\u062a\u064e\u0627\u0646\u0650 \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0631\u064e\u0651\u062d\u0652\u0645\u064e\u0646\u0650\u060c \u062e\u064e\u0641\u0650\u064a\u0641\u064e\u062a\u064e\u0627\u0646\u0650 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0650\u0651\u0633\u064e\u0627\u0646\u0650\u060c \u062b\u064e\u0642\u0650\u064a\u0644\u064e\u062a\u064e\u0627\u0646\u0650 \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0645\u0650\u064a\u0632\u064e\u0627\u0646\u0650: \u0633\u064f\u0628\u0652\u062d\u064e\u0627\u0646\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0628\u0650\u062d\u064e\u0645\u0652\u062f\u0650\u0647\u0650\u060c \u0633\u064f\u0628\u0652\u062d\u064e\u0627\u0646\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0638\u0650\u064a\u0645\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cDua kalimat yang dicintai ar-Rahman yang keduanya ringan dalam ucapan, tetapi berat di dalam timbangan (di akhirat); yaitu, \u2018Subhanallah wa bihamdihi dan subhanallahil \u2018azhim\u2019.\u201d (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu<\/em>)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Catatan-Catatannya<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hal ini berdasarkan hadits bithaqah yang masyhur yang telah disebutkan sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3. Orangnya<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Al-Imam al-Bukhari rahimahullah\u00a0meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu<\/em>, dari Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>, beliau bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cSungguh, pada hari kiamat akan datang seseorang yang gemuk dan besar. (Kemudian dia ditimbang), ternyata beratnya di sisi Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0tidak lebih dari berat sehelai sayap nyamuk.\u201d Beliau <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0berkata, \u201cBacalah, \u2018Maka Kami tidak akan menegakkan bagi mereka timbangan pada hari kiamat.\u2019 (al-Kahfi: 105).\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-\u2018Utsaimin rahimahullah\u00a0berkata, \u201cAda tiga hal yang akan ditimbang: amal, orang yang beramal, dan catatan amal.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sebagian ulama berkata, \u2018Untuk mendudukkan riwayat itu semua, bisa dikatakan bahwa untuk sebagian orang, yang ditimbang adalah amalannya. Orang yang lain ditimbang catatan amalannya. Yang lain lagi ditimbang dirinya\/pemiliknya.\u2019<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sebagian ulama berpendapat, \u2018Untuk mendudukkan riwayat itu semua, dikatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ditimbang amalannya adalah amalan yang dicatat di dalam lembaran-lembaran catatan amal itu. Adapun ditimbangnya pemilik amalan hanya terjadi pada sebagian orang\u2019.\u201d<br \/>\nKemudian beliau rahimahullah\u00a0berkomentar, \u201cAkan tetapi, ketika diteliti, kita akan mendapati bahwa mayoritas dalil menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah amalan dan sebagian orang yang dikhususkan. Dengan demikian, yang ditimbang adalah catatan-catatan amalannya atau pemilik amalan itu sendiri.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun hadits kisah Ibnu Mas\u2019ud <em>Radhiyallahu &#8216;anhu<\/em>\u00a0(tentang ditimbangnya manusia) dan hadits bithaqah (ditimbangnya catatan amal), hal ini adalah sesuatu yang dikhususkan oleh Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0bagi hamba-Nya yang Dia kehendaki. (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah 2\/143)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Amalan yang Akan Memenuhi dan Memberati Timbangan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Secara umum, seluruh amalan yang baik dengan berbagai jenisnya, baik amalan hati maupun anggota badan, baik ucapan hati maupun ucapan lisan, akan memenuhi dan mengisi timbangan. Terlebih lagi, kalau Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dengan rahmat dan keutamaan-Nya melipatgandakan amalan-amalan seorang hamba yang Dia kehendaki.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.\u201d<\/em> (an-Nisa: 40)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0meriwayatkan dari Rabbnya <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064e \u0643\u064e\u062a\u064e\u0628\u064e \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0633\u064e\u0646\u064e\u0627\u062a\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0633\u0650\u0651\u064a\u0650\u0651\u0626\u064e\u0627\u062a\u0650 \u062b\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0628\u064e\u064a\u064e\u0651\u0646\u064e \u0630\u064e\u0644\u0650\u0643\u064e\u060c \u0641\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0647\u064e\u0645\u064e\u0651 \u0628\u0650\u062d\u064e\u0633\u064e\u0646\u064e\u0629\u064d \u0641\u064e\u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0639\u0652\u0645\u064e\u0644\u0652\u0647\u064e\u0627 \u0643\u064e\u062a\u064e\u0628\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0644\u064e\u0647\u064f \u0639\u0650\u0646\u0652\u062f\u064e\u0647\u064f \u062d\u064e\u0633\u064e\u0646\u064e\u0629\u064b \u0643\u064e\u0627\u0645\u0650\u0644\u064e\u0629\u064b\u060c \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u0647\u064f\u0648\u064e \u0647\u064e\u0645\u064e\u0651 \u0628\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0641\u064e\u0639\u064e\u0645\u0650\u0644\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0643\u064e\u062a\u064e\u0628\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0644\u064e\u0647\u064f \u0639\u0650\u0646\u0652\u062f\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u0634\u0652\u0631\u064e \u062d\u064e\u0633\u064e\u0646\u064e\u0627\u062a\u064d \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0633\u064e\u0628\u0652\u0639\u0650 \u0645\u0650\u0627\u0626\u064e\u0629\u0650 \u0636\u0650\u0639\u0652\u0641\u064d \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0623\u064e\u0636\u0652\u0639\u064e\u0627\u0641\u064d \u0643\u064e\u062b\u0650\u064a\u0631\u064e\u0629\u064d\u060c \u0648\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0647\u064e\u0645\u064e\u0651 \u0628\u0650\u0633\u064e\u064a\u0650\u0651\u0626\u064e\u0629\u064d \u0641\u064e\u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0639\u0652\u0645\u064e\u0644\u0652\u0647\u064e\u0627 \u0643\u064e\u062a\u064e\u0628\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0644\u064e\u0647\u064f \u0639\u0650\u0646\u0652\u062f\u064e\u0647\u064f \u062d\u064e\u0633\u064e\u0646\u064e\u0629\u064b \u0643\u064e\u0627\u0645\u0650\u0644\u064e\u0629\u064b\u060c \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u0647\u064f\u0648\u064e \u0647\u064e\u0645\u064e\u0651 \u0628\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0641\u064e\u0639\u064e\u0645\u0650\u0644\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0643\u064e\u062a\u064e\u0628\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0644\u064e\u0647\u064f \u0633\u064e\u064a\u0650\u0651\u0626\u064e\u0629\u064b \u0648\u064e\u0627\u062d\u0650\u062f\u064e\u0629\u064b<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cSungguh, Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan lalu menjelaskannya. Barang siapa meniatkan satu kebaikan, namun tidak melakukannya, Allah mencatat satu kebaikan penuh baginya di sisi-Nya. Jika dia meniatkannya lalu melakukannya, Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, hingga jumlahnya berkali-kali lipat. Barang siapa meniatkan satu keburukan, namun tidak melakukannya, Allah mencatat satu kebaikan penuh baginya di sisi-Nya. Jika dia meniatkannya lalu melakukannya, Allah mencatat baginya satu keburukan saja.\u201d (Muttafaqun alaih dari Ibnu Abbas <em>Radhiyallahu &#8216;anhuma<\/em>)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun amalan kebaikan yang dinyatakan oleh Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0secara tegas dan jelas akan memenuhi dan memberatkan timbangan adalah sebagai berikut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #339966;\"><em>1. Ucapan dua kalimat syahadat yang benar dan ikhlas dari hatinya<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hal ini sebagaimana disebutkan oleh hadits bithaqah di atas.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #339966;\"><em>2. Akhlak yang baik<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0623\u064e\u062b\u0652\u0642\u064e\u0644\u064e \u0634\u064e\u064a\u0652\u0621\u064d \u0641\u0650\u064a \u0645\u0650\u064a\u0652\u0632\u064e\u0627\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u0650 \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u0627\u0644\u0652\u0642\u0650\u064a\u064e\u0627\u0645\u064e\u0629\u0650 \u062e\u064f\u0644\u064f\u0642\u064c \u062d\u064e\u0633\u064e\u0646\u064c\u060c \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064e \u064a\u064e\u0628\u0652\u063a\u064e\u0636\u064f \u0627\u0644\u0652\u0641\u064e\u0627\u062d\u0650\u0634\u064e \u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u0630\u0650\u0626\u064e<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cSesungguhnya sesuatu yang paling berat yang akan diletakkan di dalam timbangan amalan seorang hamba pada hari kiamat adalah akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0membenci orang yang keji dan jelek ucapannya.\u201d (HR. Abu Dawud dan Ahmad, lihat ash-Shahihah no. 876)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em><span style=\"color: #339966;\">3. Berzikir kepada Allah Subhanahu wa ta\u2019ala, seperti tahmid dan tasbih<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0643\u064e\u0644\u0650\u0645\u064e\u062a\u064e\u0627\u0646\u0650 \u062d\u064e\u0628\u0650\u064a\u0628\u064e\u062a\u064e\u0627\u0646\u0650 \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0631\u064e\u0651\u062d\u0652\u0645\u064e\u0646\u0650\u060c \u062e\u064e\u0641\u0650\u064a\u0641\u064e\u062a\u064e\u0627\u0646\u0650 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0650\u0651\u0633\u064e\u0627\u0646\u0650\u060c \u062b\u064e\u0642\u0650\u064a\u0644\u064e\u062a\u064e\u0627\u0646\u0650 \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0645\u0650\u064a\u0632\u064e\u0627\u0646\u0650: \u0633\u064f\u0628\u0652\u062d\u064e\u0627\u0646\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0628\u0650\u062d\u064e\u0645\u0652\u062f\u0650\u0647\u0650\u060c \u0633\u064f\u0628\u0652\u062d\u064e\u0627\u0646\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0638\u0650\u064a\u0645\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cDua kalimat yang dicintai oleh ar-Rahman, ringan di lisan, berat di mizan: Subhanallahi wabihamdihih dan Subhanallahil \u2018azhim.\u201d (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu<\/em>)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0juga bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0627\u0644\u0637\u064f\u0651\u0647\u064f\u0648\u0631\u064f \u0634\u064e\u0637\u0652\u0631\u064f \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u064a\u0645\u064e\u0627\u0646\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0645\u0652\u062f\u064f \u0644\u0650\u0644\u0647\u0650 \u062a\u064e\u0645\u0652\u0644\u064e\u0623\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u0650\u064a\u0632\u064e\u0627\u0646\u064e<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cBersuci itu setengah dari iman, ucapan \u2018alhamdulillah\u2019 itu memenuhi mizan\u2026.\u201d (HR. Muslim dari Abu Malik al-Asy\u2019ari <em>Radhiyallahu &#8216;anhu<\/em>)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>4. Memelihara kuda untuk berjihad di jalan Allah\u00a0Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0645\u064e\u0646\u0650 \u0627\u062d\u0652\u062a\u064e\u0628\u064e\u0633\u064e \u0641\u064e\u0631\u064e\u0633\u064b\u0627 \u0641\u0650\u064a \u0633\u064e\u0628\u0650\u064a\u0644\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0625\u0650\u064a\u0645\u064e\u0627\u0646\u064b\u0627 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0648\u064e\u062a\u064e\u0635\u0652\u062f\u0650\u064a\u0642\u064b\u0627 \u0628\u0650\u0648\u064e\u0639\u0652\u062f\u0650\u0647\u0650 \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0634\u0650\u0628\u064e\u0639\u064e\u0647\u064f \u0648\u064e\u0631\u0650\u064a\u064e\u0651\u0647\u064f \u0648\u064e\u0631\u064e\u0648\u0652\u062b\u064e\u0647\u064f \u0648\u064e\u0628\u064e\u0648\u0652\u0644\u064e\u0647\u064f \u0641\u0650\u064a \u0645\u0650\u064a\u0632\u064e\u0627\u0646\u0650\u0647\u0650 \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u0627\u0644\u0652\u0642\u0650\u064a\u064e\u0627\u0645\u064e\u0629\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cBarang siapa memelihara dan mempersiapkan seekor kuda untuk berperang fi sabilillah karena iman kepada Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dan membenarkan janji-Nya, maka kenyang dan tidak hausnya (kuda itu), kotoran dan air kencingnya menjadi kebaikan-kebaikan yang akan (diletakkan) di dalam timbangan amalannya pada hari kiamat.\u201d (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu<\/em>)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Adakah Mizan bagi Orang Kafir?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cBarang siapa yang ringan timbangannya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.\u201d (al-Mu\u2019minun: 103)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-\u2018Utsaimin rahimahullah\u00a0berkata, \u201cOrang-orang kafir adalah orang yang akan mendapatkan kerugian (di akhirat). Mereka tidak mendapatkan manfaat sedikit pun dari keberadaan mereka di dunia yang fana ini. Bahkan, mereka tidak akan mendapatkan apa pun selain kerugian. Di akhirat, mereka akan rugi dengan harta-hartanya karena mereka tidak bisa mengambil manfaat dengannya. Meskipun mereka memberikan harta kepada orang lain untuk mendapatkan pahala, harta tersebut tidak akan bermanfaat bagi mereka di akhirat.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Firman Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cTidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak beribadah melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.\u201d (at-Taubah: 54)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Mereka juga akan rugi dengan keluarganya karena mereka berada di neraka. Penghuni neraka tidak akan mendapatkan kebahagiaan dengan sebab keluarganya. Mereka justru terkunci di dalamnya. Mereka tidak akan melihat seorang pun yang lebih dahsyat azabnya daripada dirinya.<br \/>\nYang dimaksud dengan \u201clebih ringan dalam timbangan\u201d adalah tatkala amalan-amalan yang jelek itu lebih berat daripada amalan-amalan yang baik, atau amalan yang baik sama sekali tidak ada.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hal ini berdasarkan pendapat bahwa orang-orang kafir akan ditimbang amalannya, sebagaimana yang tampak dalam ayat yang mulia ini dan yang semisalnya. Ini adalah salah satu pendapat dari dua pendapat ulama dalam masalah ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun pendapat kedua menyatakan bahwa orang-orang kafir tidak akan ditimbang amalan-amalannya. Mereka berdalilkan dengan firman Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cMereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan-Nya. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.\u201d<\/em> (al-Kahfi: 105) (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah 2\/145\u2014146)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dari penjelasan asy-Syaikh rahimahullah\u00a0di atas, disimpulkan bahwa terjadi perbedaan pendapat di antara ulama Ahlus Sunnah tentang hisab orang-orang kafir di akhirat.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah\u00a0merajihkan pendapat yang pertama bahwa orang-orang kafir tetap akan ditimbang amalan mereka, sebagaimana ucapan beliau rahimahullah\u00a0dalam kitabnya, at-Tadzkirah, berikut ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cKami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat.\u201d<\/em> (al-Anbiya: 47)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0(terkhusus dalam ayat ini) tidak membedakan antara satu jiwa dan yang lain dalam hal mizan. Kebaikan mereka akan ditimbang dan akan dibalas. Hanya saja, Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0mengharamkan surga bagi mereka sehingga balasan bagi kebaikan bagi mereka adalah diringankan azabnya (di dalam Jahannam).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hal ini berdasarkan kisah Abu Thalib, paman Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>. Beliau <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0pernah ditanya, \u201cWahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Thalib senantiasa melindungi dan menolongmu. Apakah hal itu bermanfaat baginya?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0menjawab, \u201cYa, aku melihatnya dalam kesengsaraan di neraka. Kemudian aku keluarkan dia ke derajat yang paling ringan (di neraka). Kalau bukan karena aku, niscaya dia akan berada di dalam kerak yang paling dalam.\u201d (at-Tadzkirah hlm. 363)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikian pula al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah\u00a0merajihkan pendapat yang pertama. Beliau menyatakannya tatkala menafsirkan firman Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cMereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan-Nya. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.\u201d (al-Kahfi: 105)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Maksudnya menurut beliau adalah Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0tidak akan menjadikan berat timbangan amalan-amalan mereka karena tidak ada kebaikannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Beliau rahimahullah\u00a0mendasari pendapat ini dengan hadits Abu Hurairah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu<\/em>, Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda, \u2018Sungguh akan datang nanti pada hari kiamat orang yang gemuk dan besar, namun tidak lebih berat di sisi Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0daripada sehelai sayap nyamuk.\u2019 (HR. al-Bukhari).\u201d (Tafsir Ibnu Katsir 3\/97)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Beliau rahimahullah\u00a0juga menyatakan, \u201cAmalan orang-orang kafir juga akan ditimbang, walaupun mereka tidak memiliki kebaikan-kebaikan yang bermanfaat bagi mereka yang sebanding dengan kekafirannya. (Akan tetapi, ditimbangnya amalan mereka) untuk menunjukkan kecelakaan dan mempermalukan mereka di hadapan seluruh makhluk.\u201d (an-Nihayah hlm. 246)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Syubhat Mu\u2019tazilah<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Golongan sesat Mu\u2019tazilah dengan akalnya yang rusak dan logikanya yang terbalik, mengingkari adanya mizan di akhirat. Di antara syubhat-syubhat (kerancuan berpikir) mereka adalah sebagai berikut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Di akhirat tidak ada mizan yang hakiki karena tidak dibutuhkan. Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0telah mengetahui amalan para hamba dan telah menghitungnya. Akan tetapi, yang dimaksud dengan mizan adalah mizan (timbangan) maknawi, yaitu keadilan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-\u2018Utsaimin rahimahullah\u00a0berkata, \u201cTidak ada keraguan bahwa pernyataan Mu\u2019tazilah tersebut batil karena bertentangan dengan zahir lafadz mizan (dalam dalil-dalil al-Qur\u2019an dan as-Sunnah) serta ijma\u2019 salaf (para ulama terdahulu). Di samping itu, kalau yang dimaksud dengan \u2018mizan\u2019 adalah \u2018keadilan\u2019, maka tidak perlu diungkapkan dengan sebutan \u2018mizan\u2019.Cukuplah diungkapkan dengan \u2018keadilan\u2019 karena ungkapan \u2018keadilan\u2019 itu lebih disenangi oleh jiwa daripada kata \u2018mizan\u2019.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.\u201d<\/em> (an-Nahl: 90) (Syarh Aqidah Wasithiyah 2\/139\u2014140)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Syubhat yang lain: Amalan adalah perkara maknawi yang tidak berjasad sehingga tidak mungkin bisa ditimbang. Yang bisa ditimbang adalah benda-benda yang ada wujudnya. Sampai-sampai mereka berani menyatakan, \u201cTidak ada yang membutuhkan mizan (timbangan) selain para penjual sayur atau kacang.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Asy-Syaikh Muhamad Khalil Harras rahimahullah\u00a0berkata, \u201cDi akhirat, Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0akan mengubah amalan-amalan para hamba yang maknawi dan tidak berwujud menjadi amalan yang berwujud dan memiliki berat. Lalu diletakkanlah amalan yang baik di salah satu sisi timbangan dan amalan yang jelek di sisi lainnya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cKami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat.\u201d (al-Anbiya: 47) (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah hlm. 211)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3. Syubhat berikutnya: Sebagian mereka mengatakan bahwa hadits-hadits yang menunjukkan adanya mizan adalah hadits-hadits ahad, bukan mutawatir, sehingga tidak memberikan faedah keyakinan dalam masalah akidah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah\u00a0berkata, \u201cSesungguhnya mizan (yang akan diletakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan) adalah sesuatu yang benar-benar akan terjadi. Mizan tersebut memiliki dua daun timbangan. Hal ini merupakan keyakinan Ahlus Sunnah. Berbeda halnya dengan keyakinan Mu\u2019tazilah dan para pengikutnya di masa kini yang tidak meyakini perkara akidah yang ada dalam hadits-hadits sahih, karena menganggap hadits-hadits tersebut adalah hadits ahad yang tidak memberikan faedah berupa keyakinan. Sungguh, saya telah menjelaskan kebatilan anggapan ini di dalam kitab saya Bersama al-Ustadz ath-Thanthawi.\u201d (as-Silsilah as-Shahihah 1\/260)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kita memohon kesehatan dan keselamatan kepada Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Wallahu a\u2019lam bish-shawab.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber: \u00a0<a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/mizan-yang-kita-nantikan\/\" target=\"_blank\"><strong>Majalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MIZAN, YANG KITA NANTIKAN Ditulis oleh:\u00a0Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan Makna Mizan Mizan secara etimologi (bahasa) adalah alat yang digunakan untuk mengukur (bobot) segala sesuatu, sehingga benda tersebut dapat diketahui beratnya. Adapun makna mizan menurut syariat adalah timbangan yang Allah Subhanahu wa ta\u2019ala\u00a0letakkan pada hari kiamat nanti untuk menimbang amalan para hamba-Nya. (Syarh Lum\u2019atul I\u2019tiqad [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[1654,1655],"class_list":["post-6803","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-akidah","tag-mizan","tag-yang-kita-nantikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6803","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6803"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6803\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6803"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6803"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6803"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}