{"id":6280,"date":"2014-09-14T05:26:06","date_gmt":"2014-09-13T21:26:06","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=6280"},"modified":"2015-08-10T08:15:24","modified_gmt":"2015-08-10T00:15:24","slug":"hukum-isbal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/hukum-isbal\/","title":{"rendered":"HUKUM ISBAL"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><strong>HUKUM ISBAL<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #800000;\"><em>Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar ibnu Rifai<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> bersabda,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: left;\">\u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0633\u0652\u0641\u064e\u0644\u064e \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0643\u064e\u0639\u0652\u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u0632\u064e\u0627\u0631\u0650 \u0641\u064e\u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0631\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><i>\u201cSarung yang berada di bawah kedua mata kaki, ada di dalam neraka (kaki tersebut).\u201d<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sarung, celana, jubah, atau yang semisal, biasanya dikenakan oleh kaum musbil hingga menutupi mata kaki. Kebiasaan yang perlu dikritisi secara tinjauan syariat Islam. Mengapa hal \u201cremeh\u201d semacam ini dibahas? Itulah kesempurnaan ajaran Islam. Cara berpakaian pun ada aturannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Takhrij Hadits<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hadits dengan lafadz di atas diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5450), an-Nasa\u2019i (no. 5330), dan Ahmad (2\/498), dari sahabat Abu Hurairah <i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>. Seluruhnya dari riwayat Syu\u2019bah, dari Sa\u2019id al-Maqburi, dari Abu Hurairah <i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>. Hadits lain yang lafadznya senada cukup banyak, antara lain,<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Hadits Ibnu Abbas\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>ma riwayat ath-Thabarani dalam <i>al-Kabiir <\/i>(3\/138).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Hadits Hudzaifah bin al-Yaman\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i> riwayat an-Nasa\u2019i dan Ibnu Majah (no. 3572).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3. Hadits Aisyah x riwayat Ahmad (6\/59, 254, 257).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">4. Hadits Abu Sa\u2019id al-Khudri\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i> riwayat Ahmad dan lainnya. (<i>ash-<\/i> <i>Shahihah, <\/i>no. 2037) Isbal dan Musbil <i>Isbal <\/i>artinya menggunakan pakaian yang menutupi mata kaki, baik dalam bentuk sarung, celana, maupun jubah. <i>Musbil <\/i>adalah sebutan untuk orang yang melakukan isbal. Isbal telah menjadi pandangan sehari-hari dari kalangan kaum muslimin. Ada yang sama sekali tidak mengerti tentang keharamannya, ada yang sekadar mengikuti mode dan tren, juga ada yang tidak menaruh perhatian sedikit pun tentang hal ini. Sebenarnya, bagaimanakah hukum isbal itu? Hukuman apa yang diancamkan atas kaum musbil? Apakah hal ini termasuk masalah <i>furu\u2019<\/i>\u2014menurut kalangan tertentu\u2014, sehingga tidak layak untuk diperdebatkan? Benarkah hal ini hanya masalah adat dan budaya orang Arab yang tidak berlaku di negeri kita, Indonesia? Adakah perbedaan antara musbil yang sombong dan musbil yang tidak sombong? Simaklah penjelasan ringkas berikut ini, <i>barakallahu fikum.<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Hukum Isbal<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Isbal hukumnya haram, bahkan dapat dikategorikan sebagai <i>kabair<\/i> (dosa besar). Hukum ini berlandaskan pada keterangan Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> di dalam hadits Abu Dzar\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i> riwayat Muslim (no. 106) dan lainnya, <i>\u201cAda tiga golongan<\/i> <i>manusia pada hari kiamat nanti. Allah<\/i>\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i> <i>tidak berbicara kepada mereka, tidak<\/i> <i>memandang ke arah mereka, juga tidak<\/i> <i>menyucikan mereka. Untuk mereka azab<\/i> <i>yang pedih.\u201d<\/i> Kata-kata ini diulang sebanyak tiga kali oleh Rasulullah <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>. Sampai-sampai para sahabat bertanya, \u201cSiapakah ketiga golongan tersebut, wahai Rasulullah?\u201d Beliau menjawab,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: left;\">\u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0633\u0652\u0628\u0650\u0644\u064f \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0646\u0651\u064e\u0627\u0646\u064f \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0646\u064e\u0641\u0650\u0651\u0642\u064f \u0633\u0650\u0644\u0652\u0639\u064e\u062a\u064e\u0647\u064f \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0644\u0650\u0641\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0643\u064e\u0627\u0630\u0650\u0628\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><i>\u201cOrang musbil, orang yang selalu mengungkit-ungkit kebaikan, dan orang yang menjual barang dagangan dengan sumpah palsu.\u201d <\/i>(<i>Fatwa al-Utsaimin, Nur \u2018alad Darb<\/i>)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Artinya, masalah isbal bukanlah masalah kecil. Tidak tepat juga jika masalah isbal dinilai sebagai masalah <i>furu\u2019<\/i>. Anggapan sebagian kalangan bahwa masalah isbal hanyalah adat dan budaya orang Arab juga tidak benar. Ternyata, isbal termasuk dosa besar sesuai dengan sabda Nabi Muhammad<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>. Hukum isbal hanya berlaku untuk kalangan laki-laki. Sebab, ada hukum tersendiri bagi kaum wanita. Kekhususan hukum ini untuk kaum laki-laki telah dinukilkan ijma\u2019 ulama oleh Ibnu Raslan dalam <i>Syarah Sunan<\/i>. (<i>Aunul Ma\u2019bud,<\/i> <i>Syarah Sunan Abi Dawud<\/i>)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Apakah Isbal Hanya Berlaku untuk Sarung?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sesuai lafadz hadits di atas, seolaholah, zahirnya menunjukkan hukum isbal hanya berlaku untuk sarung saja. Benarkah demikian? Al-Imam al-Bukhari\u00a0<i>rahimahullah<\/i> memberi judul bab untuk hadits di atas bab \u201cPakaian yang Berada di Bawah Mata Kaki Akan Masuk Neraka.\u201d Kemudian al-Hafizh Ibnu Hajar <i>rahimahullah<\/i> menjelaskan, \u201dDemikianlah, al-Bukhari\u00a0<i>rahimahullah<\/i> menyebutkan secara <i>mutlak<\/i>dan tidak memberikan <i>taqyid <\/i>(pembatasan) dengan \u2018sarung\u2019 sebagaimana yang terdapat di dalam lafadz hadits. Ini adalah isyarat bahwa hukum isbal berlaku secara umum baik untuk sarung, jubah, maupun pakaian lainnya. Sepertinya, al-Bukhari\u00a0<i>rahimahullah<\/i> mengisyaratkan pada lafadz hadits Abu Sa\u2019id\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i> yang diriwayatkan oleh Malik, Abu Dawud, an-Nasa\u2019i, dan Ibnu Majah; yang dinyatakan sahih oleh Abu Awanah dan Ibnu Hibban.\u201d (<i>Fathul Bari,<\/i> <i>Syarah Shahih al-Bukhari<\/i>) Hukum isbal yang tidak hanya terbatas pada sarung juga dapat dipahami dari hadits-hadits lain tentang isbal yang disebutkan pada kajian kita ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Musbil Tanpa Disertai Sikap Sombong<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ada sekelompok orang yang kurang bisa menerima hukum isbal secara mutlak. Alasan mereka adalah sebuah hadits dari Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3665) dan Muslim (no. 2085) dari sahabat Ibnu Umar <i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>ma. Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> bersabda,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: left;\">\u0645\u064e\u0646\u0652 \u062c\u064e\u0631\u0651\u064e \u062b\u064e\u0648\u0652\u0628\u064e\u0647\u064f \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u062e\u064f\u064a\u064e\u0644\u064e\u0627\u0621\u0650 \u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0646\u0652\u0638\u064f\u0631\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0625\u0650\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u0627\u0644\u0652\u0642\u0650\u064a\u064e\u0627\u0645\u064e\u0629\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><i>\u201cBarang siapa menyeret pakaiannya (melebihi mata kaki) karena sombong, Allah\u00a0<\/i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i> <i>tidak akan memandangnya pada hari kiamat nanti.\u201d<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kata mereka, \u201cLarangan isbal hanya berlaku untuk orang yang sombong saja! Jika tidak disertai sikap sombong, tidak mengapa.\u201d Jika berdasarkan ilmu kita berbicara, bukan hawa nafsu; jika di atas sikap hormat kepada hadits Nabi\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> kita berhukum, tidak dengan menurutkan kesenangan hati; jika tidak mengambil sikap seenaknya kita sendiri, menerima satu hadits dan menolak hadits yang lain, walau tidak diakui secara lisan; tentu setiap hadits dapat diposisikan sebagaimana mestinya. Lihat dan teladanilah sikap para ulama. Mengenai hal ini, mereka merincinya menjadi dua masalah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>\u00a0<i>1. Musbil disertai sikap sombong<\/i><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Orang semacam inilah yang dimaksud oleh hadits Abu Dzar\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i> di atas. Orang seperti inilah yang diancam dalam sabda Nabi <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>, \u201c<i>Ada tiga golongan<\/i> <i>manusia pada hari kiamat nanti. Allah<\/i>\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i> <i>tidak berbicara kepada mereka, tidak<\/i> <i>memandang ke arah mereka, dan tidak<\/i> <i>menyucikan mereka. Untuk mereka azab<\/i> <i>yang pedih.\u201d<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong><i>2. Musbil tanpa diikuti oleh sikap sombong<\/i><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Orang semacam ini siksanya di bawah tingkatan siksa jenis orang pertama. Orang seperti inilah yang dimaksud dalam hadits Abu Hurairah\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i> di atas. Orang semacam inilah yang diancam dalam sabda Nabi <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>, \u201c<i>Sarung yang<\/i> <i>berada di bawah kedua mata kaki, ada<\/i><i>di dalam neraka.<\/i>\u201d (<i>Fatwa al-Utsaimin,<\/i> <i>Nur \u2018alad Darb<\/i>)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Pendapat para ulama di atas didukung oleh sebuah riwayat dari Abu Sa\u2019id\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i> yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4093), an-Nasa\u2019i (no. 9714\u20149717), Ibnu Majah (no. 3573), dan yang lain, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam <i>ash-Shahihah<\/i> (no. 2017). Di dalam riwayat tersebut, dua keadaan di atas disabdakan oleh Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> secara berbeda dalam satu konteks. Beliau\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> bersabda,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: left;\">\u0645\u064e\u0627 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0623\u064e\u0633\u0652\u0641\u064e\u0644\u064e \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0643\u064e\u0639\u0652\u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650 \u0641\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0631\u0650\u060c \u0645\u064e\u0646\u0652 \u062c\u064e\u0631\u0651\u064e \u0625\u0650\u0632\u064e\u0627\u0631\u064e\u0647\u064f \u0628\u064e\u0637\u064e\u0631\u064b\u0627 \u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0646\u0652\u0638\u064f\u0631\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0625\u0650\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><i>\u201cPakaian yang berada di bawah mata kaki, ada di dalam neraka. Barang siapa menyeret pakaiannya (melebihi mata kaki) karena sombong, Allah\u00a0<\/i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i><i> tidak akan memandangnya.\u201d<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Jadi, sabda Nabi, \u201c<i>Barang siapa menyeret pakaiannya (melebihi mata kaki) karena sombong, Allah<\/i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i> <i>tidak akan memandangnya<\/i>\u201d, tidak berarti<i> <\/i>apabila isbal tidak disertai sikap sombong<i> <\/i>maka boleh. Bukan seperti itu hadits<i> <\/i>Nabi\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> dipahami!<i> <\/i>Hal lain yang perlu dicermati juga<i> <\/i>adalah Abdullah bin Umar <i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>. Beliau<i> <\/i>adalah sahabat yang meriwayatkan hadits<i> <\/i>larangan isbal dengan disertai sikap<i> <\/i>sombong. Bagaimanakah praktik Abdullah<i><\/i>bin Umar\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i> dalam hal ini? Bukankah<i> <\/i>beliau lebih layak untuk diteladani dalam<i><\/i>memahami hadits tersebut?<i> <\/i>Ternyata, Abdullah bin Umar\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>ma <\/i>yang meriwayatkan hadits tentang<i> <\/i>larangan musbil dengan disertai sikap<i> <\/i>sombong, pada praktiknya menggunakan<i> <\/i>kain sarung di atas mata kaki, bahkan<i> <\/i>di pertengahan betis.<i> <\/i>Al-Imam Muslim\u00a0<i>rahimahullah<\/i> (no. 2086)<i><\/i>meriwayatkan dari Ibnu Umar <i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>, beliau<i> <\/i>bercerita, \u201cAku pernah bertemu Rasulullah<i><\/i><i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>, sedangkan kain sarungku turun.<i> <\/i>Lantas Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> menegur, \u2018Wahai<i> <\/i>Abdullah, tinggikan kain sarungmu!\u2019<i> <\/i>Aku pun mengangkatnya.<i><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> tetap mengatakan,<i> <\/i>\u2018Naikkan lagi!\u2019<i> <\/i>Aku pun mengangkatnya lebih<i> <\/i>tinggi. Setelah itu, aku selalu menjaga<i> <\/i>kain sarungku dalam posisi seperti itu.\u201d<i> <\/i>Ada yang bertanya, \u201cSampai batas<i> <\/i>mana?\u201d<i> <\/i>Abdullah bin Umar\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>ma menjawab,<i> <\/i>\u00a0\u201cSampai pertengahan betis.\u201d<i> <\/i>Bagaimana dengan Atsar tentang<i> <\/i>Abu Bakr ash-Shiddiq <i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>?<i><\/i>Sekelompok kecil orang di atas<i> <\/i>ternyata masih berusaha mencari<i> <\/i>alasan dan pembenaran, walau sangat<i> <\/i>dipaksakan. Kata mereka, \u201cAbu Bakr<i> <\/i>juga terkadang musbil dan Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i><i> <\/i>menyatakan kepada beliau, <i>\u2018Sungguh, engkau tidak termasuk yang melakukan isbal dengan disertai sikap sombong\u2019.<\/i>\u201d<i> <\/i>Mereka memahami, \u201cJadi, larangan<i> <\/i>itu hanya berlaku pada orang musbil<i> <\/i>yang bersikap sombong. Jika tidak,<i> <\/i>boleh-boleh saja!\u201d<i> <\/i>Pembaca, semoga Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i> menjaga<i> <\/i>Anda, marilah kita mencermati hadits<i> <\/i>tentang Abu Bakr\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i> lebih dekat. Abu<i> <\/i>Bakr\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i> berkata,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: left;\">\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0623\u064e\u062d\u064e\u062f\u064e \u0634\u0650\u0642\u0651\u064e\u064a\u0652 \u062b\u064e\u0648\u0652\u0628\u0650\u064a \u064a\u064e\u0633\u0652\u062a\u064e\u0631\u0652\u062e\u0650\u064a \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u062a\u064e\u0639\u064e\u0627\u0647\u064e\u062f\u064e \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0643\u064e \u0644\u064e\u0633\u0652\u062a\u064e : \u0630\u064e\u0644\u0650\u0643\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652\u0647\u064f \u0641\u064e\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u062a\u064e\u0635\u0652\u0646\u064e\u0639\u064f \u0630\u064e\u0644\u0650\u0643\u064e \u062e\u064f\u064a\u064e\u0644\u064e\u0627\u0621\u064e<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><i>\u201cSungguh, salah satu bagian pakaianku selalu turun, namun aku selalu menjaganya agar tidak turun.\u201d Lalu Rasulullah\u00a0<\/i><i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> <i>bersabda, \u201cSesungguhnya engkau tidak termasuk yang melakukannya karena sikap sombong.\u201d <\/i>(HR. al-<i> <\/i>Bukhari no. 5447)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ada beberapa hal yang harus dicermati tentang keadaan Abu Bakr di atas:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Tidak ada faktor kesengajaan isbal dari Abu Bakr <i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Upaya Abu Bakr\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i> untuk selalu menaikkan kembali pakaiannya jika turun menutupi mata kaki.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3. Yang terkadang turun menutupi mata kaki Abu Bakr adalah salah satu sisi pakaiannya. Artinya, sisi pakaian yang lain berada di atas mata kaki.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">4. Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> merekomendasi Abu Bakr\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i> sebagai orang yang tidak sombong. Pertanyaannya, \u201dApakah riwayat tentang Abu Bakr\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i> dapat disamakan dengan kaum musbil yang dengan sengaja telah melakukan isbal? Apakah mereka selalu berusaha menaikkan celana jika mulai menutupi mata kaki? Siapa yang merekomendasi mereka bebas dari sikap sombong?\u201d Praktik Nabi\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> dan Para Sahabat Lihatlah praktik para sahabat dalam hal ini. Abu Ishaq bertutur, \u201cAku pernah melihat beberapa orang sahabat Rasulullah <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>. Mereka menggunakan sarung sampai di tengah betis, di antaranya Ibnu Umar, Zaid bin Arqam, Usamah bin Zaid, dan al-Bara\u2019 bin \u2018Azib .\u201d (<i>Majma\u2019 az-<\/i><i>Zawaid<\/i>) Beberapa saat sebelum Umar bin al-Khaththab\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i> meninggal dunia, seorang pemuda datang menjenguk untuk mendoakan dan menghibur Umar <i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>. Ketika pemuda itu mohon izin, Umar melihat pakaiannya menutupi mata kaki. Umar pun menegur, \u201cWahai anak saudaraku, angkatlah pakaianmu. Itu lebih bersih dan bisa menambah takwa kepada Allah<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>!\u201d (HR. al-Bukhari no. 3424) Hudzaifah bin al-Yaman\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>ma bercerita, \u201cRasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> pernah memegang otot betisku dan bersabda,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: left;\">\u0647\u064e\u0630\u064e\u0627 \u0645\u064e\u0648\u0652\u0636\u0650\u0639\u064f \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u0632\u064e\u0627\u0631\u0650\u060c \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0628\u064e\u064a\u0652\u062a\u064e \u0641\u064e\u0623\u064e\u0633\u0652\u0641\u064e\u0644\u064f\u060c \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0628\u064e\u064a\u0652\u062a\u064e\u060c \u0641\u064e\u0644\u0627\u064e \u062d\u064e\u0642\u0651\u064e \u0644\u0650\u0644\u0652\u0625\u0650\u0632\u064e\u0627\u0631\u0650 \u0641\u0650\u064a\u0652 \u0627\u0644\u0652\u0643\u064e\u0639\u0652\u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><i>\u2018Di sinilah letak sarung. Jika engkau tidak ingin, bisa di bawahnya sedikit. Jika engkau masih juga tidak ingin, tidak ada hak untuk sarung berada tepat pada mata kaki\u2019.\u201d <\/i>(HR. at-Tirmidzi dalam<i>Syamail Muhammadiyah <\/i>dan dinyatakan<i> <\/i>sahih oleh al-Albani no. 99)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sebagai penutup, marilah kita meresapi kata-kata Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> di bawah ini. Ubaid bin Khalid al-Muharibi berkisah, \u201cSaat aku berjalan di kota Madinah, tiba-tiba seseorang berkata dari belakangku, \u2018Angkatlah pakaianmu! Sungguh, itu bisa menambah takwamu\u2019.\u201d Ternyata, orang tersebut adalah Rasulullah <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>. Aku menjawab, \u201cWahai Rasulullah<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>, hanya sekadar <i>burdah<\/i> putih.\u201d Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>bersabda,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: left;\">\u0623\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0644\u064e\u0643\u064e \u0641\u0650\u064a\u0651\u064e \u0623\u064f\u0633\u0652\u0648\u064e\u0629\u064c\u061f<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><i>\u201cApakah engkau tidak ingin meneladani diriku?\u201d <\/i>Aku pun memerhatikan sarung<i> <\/i>beliau, ternyata sampai di pertengahan<i> <\/i>betis. (HR. at-Tirmidzi dalam <i>Syamail Muhammadiyah <\/i>dan dinyatakan sahih<i><\/i>oleh al-Albani no. 97)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sekarang, kita bisa menyampaikan kepada siapa saja yang bertanya tentang hukum isbal, \u201cApakah engkau tidak ingin meneladani diri Rasulullah <i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>? Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i> menggunakan pakaian di atas mata kaki, bahkan hingga di tengah betis.\u201d <i>Wallahu a\u2019lam.<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber: <a title=\"Hukum Isbal\" href=\"http:\/\/asysyariah.com\/hadits-hukum-isbal\/\" target=\"_blank\"><strong>Majalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HUKUM ISBAL Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar ibnu Rifai Rasulullah\u00a0Shallallahu \u2018alaihi wasallam bersabda, \u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0633\u0652\u0641\u064e\u0644\u064e \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0643\u064e\u0639\u0652\u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u0632\u064e\u0627\u0631\u0650 \u0641\u064e\u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0631\u0650 \u201cSarung yang berada di bawah kedua mata kaki, ada di dalam neraka (kaki tersebut).\u201d Sarung, celana, jubah, atau yang semisal, biasanya dikenakan oleh kaum musbil hingga menutupi mata kaki. Kebiasaan yang perlu dikritisi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10156,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[923],"tags":[1576],"class_list":["post-6280","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hadits-2","tag-hukum-isbal"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/WSI1.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p672A7-1Di","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6280","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6280"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6280\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10156"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6280"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6280"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6280"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}