{"id":5670,"date":"2014-08-20T08:29:57","date_gmt":"2014-08-20T00:29:57","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=5670"},"modified":"2014-08-20T08:29:57","modified_gmt":"2014-08-20T00:29:57","slug":"sabar-tidak-berarti-diam-dari-kemungkaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=5670","title":{"rendered":"Sabar Tidak Berarti Diam Dari Kemungkaran"},"content":{"rendered":"<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Sabar-Tidak-Berarti-Diam.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-5679\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Sabar-Tidak-Berarti-Diam-300x180.jpg\" alt=\"Sabar Tidak Berarti Diam\" width=\"300\" height=\"180\" srcset=\"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Sabar-Tidak-Berarti-Diam-300x180.jpg 300w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Sabar-Tidak-Berarti-Diam.jpg 500w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>SABAR TIDAK BERARTI DIAM DARI KEMUNGKARAN<\/strong><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><em>Ditulis oleh: \u00a0Al-Ustadz Abdurrahman Abu Usamah<\/em><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><i>Sabar itu pahit, namun akibatnya lebih manis daripada madu.\u00a0<\/i>Ungkapan yang sangat indah dan memesona apabila dicermati dan dikaji. Sabar itu memang pahit, bagaikan menggenggam bara api dan seperti diiris sembilu. Bagaimana tidak, di saat kita dihadapkan pada sesuatu yang disenangi oleh hawa nafsu, kesempatan dan peluang terbuka lebar untuk melampiaskannya, kemampuan untuk melaksanakannya ada, tidak ada mata manusia yang melihatnya, gejolak nafsu membara, oleh Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0kita diperintahkan untuk mengerem diri dan menahannya. Sungguh, betapa berat.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Di saat kita berada dalam amal saleh dan ketaatan, bisa jadi amal itu berisikopada hilangnya nyawa, harta benda, dan keturunan, kita diperintahkan untuk tegar di atasnya. Tidak boleh mundur dan goyah, menerima segala kemungkinan yang akan terjadi dalam pelaksanaannya. Lebih-lebih, ketaatan tersebut sangat tidak disenangi oleh hawa nafsu serta dibenci oleh iblis dan bala tentaranya dari kalangan manusia dan jin. Sungguh, betapa berat sabar di atasnya. Di saat kita mengerahkan segala kemampuan untuk mengejar sebuah cita-cita dalam hidup ini, pengorbanan yang tidak sedikit telah dikeluarkan, usaha dengan segala cara sudah ditempuh, segala yang dibutuhkan untuk mengejar cita-cita tersebut telah dikerahkan, keberhasilan sudah di ujung tanduk dan di pelupuk mata\u2014menurut perkiraan\u2014, teman teman dan saudara telah menyaksikan akan terjadinya sebuah keberhasilan, sanjungan dan pujian kerap kali menyapa dan menggiurkan seolah-olah dunia berada dalam genggaman, tiba-tiba tanpa diduga terjadi sebaliknya. Kegagalan yang sangat dalam. Luluh lantak segala usaha yang kita bangun. Setelah itu Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0memerintah kita untuk bersabar dan menerimanya dengan lapang dada. Itulah sabar, betapa beratnya. Sungguh, pahit dan berat, namun akibatnya di kemudian hari akan manis nan indah.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong>Sabar, Lentera Jiwa<\/strong><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0berfirman,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"color: #444444; text-align: left;\">\u06d7 \u0648\u064e\u0645\u064e\u0646 \u064a\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u064a\u064e\u0647\u0652\u062f\u0650 \u0642\u064e\u0644\u0652\u0628\u064e\u0647\u064f \u06da<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><i>\u201cBarang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya petunjuk di dalam hatinya.\u201d\u00a0<\/i>(at-Taghabun: 11)<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Abu Hatim dari Alqamah, ia berkata, \u201cYaitu seseorang yang ditimpa oleh sebuah musibah dan dia mengetahui bahwa semuanya datangnya dari Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>, lalu dia ridha dan menerimanya.\u201d<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Saudaraku, adakah nikmat yang lebih besar daripada nikmat hidayah yang telah merasuk dalam sanubari? Adakah nikmat yang lebih besar daripada hati yang telah dilumuri hidayah Allah<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>? Tentu, tidak ada akhir dan akibat dari kesabaran selain kebahagiaan dan kelezatan. Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0 akan menggantikan dunia yang telah luput darinya dengan petunjuk di dalam hati, keyakinan yang penuh kejujuran. Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0pun akan mengganti apa yang telah diambil-Nya.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Al-Imam Ahmad\u00a0<i>rahimahumallah<\/i>\u00a0berkata, \u201cAllah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0telah menyebutkan sabar dalam sembilan puluh tempat di dalam kitab-Nya.\u201d<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong>Sabar, Senjata yang Ampuh dan Berharga<\/strong><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya,\u00a0<i>Majmu\u2019 Fatawa\u00a0<\/i>(10\/48), menjelaskan, \u201cMusibah-musibah adalah nikmat. Sebab, ia akan menghapus dosa-dosa dan mendorong seseorang untuk bersabar sehingga mendapatkan ganjaran. Musibah akan mengajakseseorang untuk bertobat kepada Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0dan merendah diri di hadapan-Nya, berpaling dari makhluk (yang tidakmampu berbuat apa-apa, -pen.), dan\u00a0 berbagai maslahat lain. Cobaan itu sendiri berfungsi menghapuskan segala dosa dan kesalahan, dan ini sendiri sudah termasuk nikmat yang sangat besar.\u201d<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Musibah-musibah adalah rahmat dan nikmat bagi seluruh manusia, kecualiapabila musibah itu menyeretnya ke\u00a0 dalam kubangan maksiat, tentu ini adalah musibah yang lebih besar lagi dibanding sebelumnya. Dari sisi inilah, yaitu akibat yang akan merusak agamanya, musibah itu menjadi kejelekan baginya. Di antara manusia ada yang ditimpa oleh kefakiran, penyakit, atau rasa sakit lalu timbullah pada dirinya kemunafikan, keluh kesah, penyakit di dalam hati, meninggalkan beberapa kewajiban, dan melaksanakan hal-hal yang diharamkan. Ini mengakibatkan kemudaratan bagi agamanya.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Karena itu, sehat lebih baik baginya ditinjau dari musibah yang terjadi setelahnya, bukan ditinjau dari esensi musibah itu sendiri. Sebagaimana halnya jika musibah itu membuahkan kesabaran dan ketaatan, berarti di dalamnya terkandung nikmat agama. Musibah itu merupakan perbuatan Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0yang akan menjadi rahmat bagi si makhluk.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Allah Maha Terpuji atas semuanya. Barang siapa diuji oleh Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0dengan musibah dan diberi kesabaran, kesabaran itu menjadi sebuah nikmat dalam agamanya. Setelah kesalahankesalahannya dihapuskan, niscaya dia akan mendapatkan taburan rahmat. Bila dia memuji Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0atas ujian yang dia derita, niscaya Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0akan memujinya. Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0berfirman,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"color: #444444; text-align: left;\">\u0623\u064f\u0648\u0644\u064e\u0670\u0626\u0650\u0643\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0635\u064e\u0644\u064e\u0648\u064e\u0627\u062a\u064c \u0645\u0651\u0650\u0646 \u0631\u0651\u064e\u0628\u0651\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0631\u064e\u062d\u0652\u0645\u064e\u0629\u064c<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><i>\u201cMereka mendapatkan shalawat dan rahmat dari Rabb mereka.\u201d\u00a0<\/i>(al- Baqarah: 157)<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Dia akan memetik buahnya, yaitudiampuni kesalahan-kesalahannya dan diangkat derajatnya. Karena itu, barang siapa menerima musibah itu dengan kesabaran yang wajib, niscaya dia akan\u00a0 memperoleh semuanya.\u201d<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong>Sabar dan Cinta, Teman Sejoli?<\/strong><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Ibnul Qayyim\u00a0<i>rahimahumallah<\/i>\u00a0dalam kitab beliau\u00a0<i>Madarijus Salikin\u00a0<\/i>(2\/162) menjelaskan, \u201cSesungguhnya kesabarandalam menanggung beban derita untuk mengejar keinginan yang dicintai Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0 adalah bukti kebenaran cinta kepada Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>. Dari sinilah, bisa dikatakan bahwa cinta mayoritas orang adalah dusta.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Sebab, mereka mengaku cinta kepada Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>, namun saat Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0menguji mereka dengan sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka lepas dari hakikat cinta dan tidak ada yang kokoh bersama-Nya, selain orang-orang yang bersabar. Kalaulah tidak sabar memikul segala beban berat dan yang tidak disukai, niscaya cinta mereka adalah dusta. Jelaslah bahwa orang yang paling tinggi tingkat cintanya adalah yang paling besar tingkat kesabarannya. Berdasarkan hal ini, Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0memuji secara khusus para wali dan kekasih-Nya dengan kesabaran. Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0berfirman, tentang kekasih-Nya Ayyub \u2018Alaihissalam,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"color: #444444; text-align: left;\">\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0627 \u0648\u064e\u062c\u064e\u062f\u0652\u0646\u064e\u0627\u0647\u064f \u0635\u064e\u0627\u0628\u0650\u0631\u064b\u0627 \u06da \u0646\u0651\u0650\u0639\u0652\u0645\u064e \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u064f \u06d6 \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0647\u064f \u0623\u064e\u0648\u0651\u064e\u0627\u0628\u064c<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><i>\u201cSesungguhnya Kami dapati dia dalam keadaan bersabar, dia adalah sebaik-baik hamba dan sesungguhnya dia orang yang banyak bertobat.\u201d\u00a0<\/i>(Shad: 44)<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0memerintahkan hamba- Nya yang terbaik untuk bersabar terhadap segala hukum-Nya. Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>memberitakan pula bahwa Dia yang telah menjadikan beliau bersabar. Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0memuji orang-orang yang bersabar dengan sebaik-baik pujian dan telah menjamin dengan ganjaran yang besar. Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0menjadikan ganjaran selain orang-orang yang bersabar terbilang, sedangkan ganjaran untuk mereka tidak terbatas. Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0menggandengkan sabar dengan Islam, iman, dan ihsan.Allah menjadikan sabar sebagai saudara yakin, tawakal, iman, amalan-amalan, dan takwa.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0memberitakan bahwa orang yang bersabarlah yang akan mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya. Da memberitakan juga bahwa kesabaran itu benar-benar sebuah keberuntunganbagi pemiliknya, dan para malaikat mengucapkan salam kepada mereka di dalam surga karena kesabaran mereka.\u201d<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong>Kesabaran Sebagian Ulul \u2018Azmi<\/strong><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0 berfirman,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"color: #444444; text-align: left;\">\u0641\u064e\u0627\u0635\u0652\u0628\u0650\u0631\u0652 \u0643\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0635\u064e\u0628\u064e\u0631\u064e \u0623\u064f\u0648\u0644\u064f\u0648 \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0632\u0652\u0645\u0650 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0631\u0651\u064f\u0633\u064f\u0644\u0650 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0633\u0652\u062a\u064e\u0639\u0652\u062c\u0650\u0644 \u0644\u0651\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u06da \u0643\u064e\u0623\u064e\u0646\u0651\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u064a\u064e\u0631\u064e\u0648\u0652\u0646\u064e \u0645\u064e\u0627 \u064a\u064f\u0648\u0639\u064e\u062f\u064f\u0648\u0646\u064e \u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0644\u0652\u0628\u064e\u062b\u064f\u0648\u0627 \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0633\u064e\u0627\u0639\u064e\u0629\u064b \u0645\u0651\u0650\u0646 \u0646\u0651\u064e\u0647\u064e\u0627\u0631\u064d \u06da \u0628\u064e\u0644\u064e\u0627\u063a\u064c \u06da \u0641\u064e\u0647\u064e\u0644\u0652 \u064a\u064f\u0647\u0652\u0644\u064e\u0643\u064f \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0642\u064e\u0648\u0652\u0645\u064f \u0627\u0644\u0652\u0641\u064e\u0627\u0633\u0650\u0642\u064f\u0648\u0646\u064e<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><i>\u201cMaka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul. Janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.\u201d<\/i>(al-Ahqaf: 35)<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">As-Sa\u2019di\u00a0<i>rahimahumallah<\/i>\u00a0menjelaskan, \u201cKemudian Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk bersabar dari gangguan para pendusta dan penentang agar beliau terus mendakwahi mereka ke jalan Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0dan mengambil ibrah dengan kesabaran ulul azmi dari para rasul\u2014para pemimpin makhluk ini. Mereka adalah orang-orang yang memiliki azam dan keinginan yang tinggi, kesabaran yang mendalam, keyakinan yang sempurna. Mereka paling berhak untuk diteladani, diikuti langkahlangkahnya dan diterima bimbingan mereka. Rasulullah n melaksanakan perintah Rabbnya, lalu bersabar dengan kesabaran yang tidak pernah terwujud pada nabi dan rasul sebelum beliau.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Para musuhnya melemparkan panahnya dari satu busur. Mereka bangkit untuk menghadapi beliau dalam berdakwah kepada Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>. Mereka berbuat apa saja yang bisa mereka lakukan sebagai bentuk permusuhan dan peperangan. Namun, beliau\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>senantiasa tabah melaksanakan perintah Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>, terus maju menghalau musuh-musuh Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>, bersabar menanggung beban gangguan hingga Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0mengokohkan beliau di muka bumi, memenangkan agamanya atas seluruh agama, dan memenangkan umatnya atas seluruh umat. Shalawat dan salam atas beliau. Jangan engkau tergesa-gesa terhadap para pendusta yang menantang azab Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0disegerakan.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Ini merupakan bukti kejahilan dan ketololan mereka. Jangan pula sekali-kali engkau berputus asa karena kejahilan mereka. Jangan pula permintaan mereka untuk disegerakannya azab Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0menyebabkanmu mendoakan kebinasaan mereka. Sesungguhnya apa yang pasti datang itu adalah dekat.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Di saat mereka melihat apa yang telah dijanjikan, mereka merasa tinggal di dunia ini hanyalah sesaat. Janganlah engkau sedih karena bernikmat-nikmatnya mereka di dunia, padahal mereka sedang berjalan menuju azab yang sangat pedih. Sementara itu, dunia ini, kenikmatan di dalamnya, syahwat-syahwatnya, hanya sementara dan penghilang dahaga yang berkamuflase. Kami telah jelaskan al-Qur\u2019an yang agung ini dengan terang dan gamblang sebagai bekal kalian (di dunia) serta sebagai bekal untuk ke negeri akhirat. Sebaik-baik bekal adalah bekal yang akan menyampaikan ke negeri kenikmatan dan yang menjaga dari azab yang pedih.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Sungguh, al-Qur\u2019an merupakan sebaik-baik bekal bagi setiap makhluk dan nikmat teragung yang diberikan oleh Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0kepada mereka. Tidaklah akan binasa dengan azab dan hukuman kecuali orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang tidak memiliki kebaikan. Mereka telah keluar dari ketaatan kepada Rabb mereka dan tidak mau menerima kebenaran yang dibawa oleh para rasul. Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0telah memberikan uzur kepada mereka dan memberikan peringatan, namun setelah itu mereka terus-menerus berada dalam pendustaan dan kekafiran. Kita meminta dari Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0perlindungan.\u201d (Lihat\u00a0<i>Tafsir as-Sa\u2019di\u00a0<\/i>hlm. 729)<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong>Kesabaran Nabi Nuh \u2018Alaihissalam<\/strong><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0banyak bercerita di dalam al-Qur\u2019an tentang kepribadian Nabi Nuh\u2019Alaihissalam sebagai rasul pertama kali di muka bumi ini. Ayat-ayat tersebut menggambarkan kepribadian yang tangguh, kesabaran yang tinggi, semangat yang kuat, dan tawakal kepada Allah<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>. Umur panjang yang dianugerahkan oleh Allah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>, 950 tahun, dipergunakan untuk melaksanakan tugas-tugas yangsuci, siang dan malam tanpa rasa lelah dan bosan.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Di sisi lain, keluarga beliau, yaitu istri dan anak, bangkit melakukan manuver-manuver penentangan dan pembangkangan terhadap segala yang dibawanya. Begitu pula mayoritas kaum beliau, menentang seruan beliau. Yang ada hanya kesedihan dan pasrah atas semuanya itu. Sebab, apa yang bisa diperbuat tatkala keputusan Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0 berbeda dengan keinginan diri. Beban derita yang didapatinya dalam mengemban amanat Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0tidak menyebabkan beliau putus asa dalam tugas yang berat itu. Justru sebaliknya, hal itu menambah keyakinan dan semangat beliau akan datangnya pertolongan Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>. Beragam ejekan, olokan, dan cemoohan kaumnya datang silih berganti, namun tidak menggoyahkan beliau sedikit pun. Kegigihan beliau berdakwah kepada Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0dan kesabaran menanggung beban derita di jalan dakwah tidak menjadi penghalang beliau untuk menegakkan amar ma\u2019ruf nahi mungkar.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong>Kesabaran Nabi Ibrahim \u2018Alaihissalam<\/strong><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Nabi Ibrahim \u2018Alaihissalam adalah sosok nabi yang tabah dan sabar. Hal itu tergambar dalam\u00a0<i>sirah<\/i>(sejarah) hidupnya yang diceritakan oleh Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0di dalam al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Tatkala bertambah umur dan belum dikaruniai keturunan, beliau bermunajat kepada Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0 agar mendapatkan keturunan. Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0mendengar dan mengabulkan permintaannya. Tatkala si buah hati tumbuh berkembang hingga menjadi dewasa, Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala\u00a0<\/i>menguji beliau. Allah perintahkan si buah hati yang diidam-idamkannya disembelih. Bagaimanakah beliau menyikapi perintah tersebut?<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Ternyata, perintah itu sedikit pun tidak menggoyahkan keimanan beliau kepada Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>, tidak melemahkan dan menodai cintanya kepada Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>. Perintah itu beliau junjung tinggi dan laksanakan tanpa keraguan sedikit pun. Sungguh, sangat berat ujian menimpa beliau. Beliau lulus dan berhasil menjalani ujian tersebut. Itulah akhir bagi orang-orang yang bertakwa.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0menguji beliau dengan kekafiran sang bapak dan penentangan kaumnya yang sangat besar. Beliau menghadapi semuanya dengan penuh keberanian, kesabaran, ketabahan, dan tawakal yang tinggi kepada Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>. Sang bapak mengancam untukmerajam dan mengusirnya jika tidak berhenti dari seruannya. Kaumnya sendiri dengan angkara murka mengobarkan api menggunung untuk membakarnya. Semua itu tidak menjadikan beliau berhenti mengingkari kemungkaran dan menyeru kepada kebaikan.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong>Kesabaran Nabi Muhammad\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i><\/strong><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Beliau adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus oleh Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>. Beliau adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelah beliau. Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0menyempurnakan agama-Nya dengan pengutusan beliau sekaligus sebagai penyempurna atas agama yang lain. Nasib beliau dalam dakwah tidaklah berbeda dengan para rasul sebelumnya. Bahkan, beliau mendapatkan ujian yang lebih berat dibandingkan dengan para nabi dan rasul sebelum beliau. Orang yang pernah membaca\u00a0<i>sirah\u00a0<\/i>beliau pasti mengetahuinya.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Siang dan malam, tanpa rasa lelah dan bosan beliau menyeru umatnya untuk menyembah Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0semata. Keluarga terdekat beliau bangkit menghadang dakwahnya. Celaan dan caci makian bertubi-tubi datang dengan berbagai bentuk. Bahkan, tindak kekerasan dan ancaman kerap menimpa beliau. Sekali lagi, kemenangan bagi hamba-Nya yang bertakwa. Semuanya tidak menjadikan beliau takut untuk menyuarakan wahyu dari Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Sa\u2019ad bin Abi Waqqash\u00a0<i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>\u00a0berkata, \u201cWahai Rasululah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?\u201d Beliau menjawab,\u00a0<i>\u201cPara nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka dari kalangan manusia. Seseorang akan diuji sesuai dengan agamanya. Jika agamanya kokoh, bertambahlah ujian itu. Jika pada agamanya kelemahan, dikurangi ujiannya. Terus-menerus ujian itu menyertai seorang hamba sampai dia berjalan di muka bumi ini tanpa membawa kesalahan.\u201d\u00a0<\/i>( HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selain mereka, dinyatakan sahih oleh asy- Syaikh al-Albani di dalam\u00a0<i>Silsilah Ahadits Shahihah\u00a0<\/i>no. 143)<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong>Contoh Ujian yang Menimpa Ulama<\/strong><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Umat Rasulullah adalah umat terbaik di tengah umat-umat yang ada. Mereka umat terakhir, namun menjadi umat yang pertama kelak di akhirat, sebagaimana halnya nabi dan rasul mereka adalah yang terbaik dan imam para rasul. Kemurnian dan kesempurnaan agama yang dibawa oleh beliau\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>\u00a0dijaga dan dipelihara oleh Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0sampai akhir zaman. Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0membangkitkan tokoh umat ini sebagai tentara-Nya untuk mengawal dan menjaga kesempurnaan serta kemurnian agama-Nya. Dia membangkitkan para<i>mujaddid\u00a0<\/i>yang akan melakukan pembaruan terhadap syariat Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0yang telah dirusak, dinodai, dikotori, dan dimatikan.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Tepatnya pada abad ke-3 H, Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0memunculkan sederetan\u00a0<i>mujaddid\u00a0<\/i>dan<i>mujtahid<\/i>, di antaranya al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Abu Abdillah. Beliau harus berhadapan dengan tiga penguasa bani Abbasiah yang telah terperosok ke jurang kesesatan, yaitu pemahaman bahwa al-Qur\u2019an adalah makhluk. Tiga pengausa itu adalah al- Ma\u2019mun, al-Mu\u2019tashim, dan al-Watsiq. Al-Baihaqi berkata, \u201cTidak ada khalifah sebelumnya (al-Ma\u2019mun) kecuali berada di atas mazhab dan manhaj salaf.\u201d Hidup di bawah kekuasaan mereka, al-Imam Ahmad\u00a0<i>rahimahumallah<\/i>\u00a0mendapatkan teror, ancaman, dan penyiksaan.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Mereka memaksa agar al-Imam Ahmad mau mengikrarkan, \u201cAl-Qur\u2019an itu makhluk.\u201d Al-Imam Ahmad\u00a0<i>rahimahumallah<\/i>\u00a0kokoh dalam prinsip, \u201cAl-Qur\u2019an adalah kalamullah bukan makhluk.\u201d Beliau tampil menghadapi ancaman tanpa rasa gentar dan takut, bagaikan kokohnya gunung batu yang menjulang tinggi. Bak pohon yang akarnya kokoh menancap di bumi, tidak diombang-ambingkan oleh badai. Bagaikan karang menggunung di lautan, tidak tergoyahkan oleh ombak yang dahsyat.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Al-Imam Ibnu Katsir\u00a0<i>rahimahumallah<\/i>\u00a0dalam kitab beliau\u00a0<i>al-Bidayah wa an-Nihayah\u00a0<\/i>(14\/396\u2014399) menceritakan perjalanan pahit hidup al-Imam Ahmad di bawah tekanan tiga penguasa bani Abbasiah tersebut. Semuanya menunjukkan tanda kebesaran Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0 di umat ini dan akhir yang baik bersama orang-orang yang bertakwa. Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0menjadi saksi. Ulamaulama di masa al-Imam Ahmad\u00a0<i>rahimahumallah<\/i>, serta umat ini turut menyaksikan kekokohan, kekuatan, kesabaran, keberanian, kecerdasan, keilmuan, kezuhudan, ketakwaan, ketawadhuan, serta berbagai sifat agung dan mulia lainnya. Kesabaran beliau menanggung beban hidup dalam memperjuangkan kebenaran tidak menghalangi beliau untuk menegakkan amar ma\u2019ruf nahi mungkar.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><i>Wallahu a\u2019lam<\/i>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SABAR TIDAK BERARTI DIAM DARI KEMUNGKARAN Ditulis oleh: \u00a0Al-Ustadz Abdurrahman Abu Usamah Sabar itu pahit, namun akibatnya lebih manis daripada madu.\u00a0Ungkapan yang sangat indah dan memesona apabila dicermati dan dikaji. Sabar itu memang pahit, bagaikan menggenggam bara api dan seperti diiris sembilu. Bagaimana tidak, di saat kita dihadapkan pada sesuatu yang disenangi oleh hawa nafsu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5679,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[1449],"class_list":["post-5670","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akidah","tag-sabar-tidak-berarti-diam-dari-kemungkaran"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5670","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5670"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5670\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5679"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5670"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5670"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5670"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}