{"id":5667,"date":"2014-08-19T10:36:10","date_gmt":"2014-08-19T02:36:10","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=5667"},"modified":"2014-08-19T10:36:10","modified_gmt":"2014-08-19T02:36:10","slug":"keindahan-akhlak-dan-sifat-tawadhu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=5667","title":{"rendered":"Keindahan Akhlak dan Sifat Tawadhu\u2019"},"content":{"rendered":"<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Keindahan-Akhlak-Dan-Sifat-Tawadhu.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-5675\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Keindahan-Akhlak-Dan-Sifat-Tawadhu-300x180.jpg\" alt=\"Keindahan Akhlak Dan Sifat Tawadhu\" width=\"300\" height=\"180\" srcset=\"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Keindahan-Akhlak-Dan-Sifat-Tawadhu-300x180.jpg 300w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Keindahan-Akhlak-Dan-Sifat-Tawadhu.jpg 500w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>KEINDAHAN AKHLAK DAN SIFAT TAWADHU&#8217;<\/strong><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><em>Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.<\/em><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Tidak hanya ucapan, perbuatan beliau pun menjadi bukti sifat tawadhu dan akhlak mulianya. Beliau berkata, \u201cDemikianlah seorang dai, hendaknya bersifat lembut dan wajah berseri serta berlapang dada. Dengan demikian, ia lebih mudah diterima oleh orang yang didakwahi menuju jalan Allah<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u2026 Maka dari itu, nasihat saya kepada saudara-saudara saya para dai, hendaknya memiliki perasaan ini. Hendaknya mereka mendakwahi manusia dengan perasaan kasih sayang kepada mereka, dan dalam rangka mengagungkan agama Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>, serta menolong agama-Nya.\u201d Inilah yang kemudian beliau terapkan dalam diri beliau. Beliau adalah sosok yang menyenangkan, sederhana, murah senyum, tawadhu\u2019, menghormati manusia, bahkan kepada yang lebih muda sekali pun.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Tidak hanya itu, beliau juga suka bercanda dengan mereka. Dikisahkan bahwa suatu ketika beliau datang ke Jeddah. Setelah pertemuan, beliau diundang oleh sekian banyak orang-orang berpangkat. Namun, dengan baik beliau menolak tanpa menyinggung perasaan mereka dan mengatakan, \u201cUndangan kalian telah didahului. Aku sudah diundang oleh salah seorang anak muda.\u201d Lalu beliau berjalan menuju seorang anak muda yang masih sekolah di bangku\u00a0<i>tsanawiyah\u00a0<\/i>(setingkat SMA di sini,\u00a0<i>-red.<\/i>), kemudian memegang tangannya dan mengatakan kepada mereka, \u201cDia lebih dahulu mengundangku daripada kalian, dan aku menyambut undangannya.\u201d Orang-orang sangat heran terpana melihat ketawadhuannya. Di kesempatan yang lain, saat beliau di Makkah di musim haji, seseorang bertemu beliau dan mengundangnya, \u201cYa Syaikh, saya berharap, Anda mau menyambut undangan saya walau sekali saja, dan Anda mau duduk bersama saudara-saudara dan keluarga saya,\u201d pinta orang itu. Beliau pun menjawab, \u201cDi mana alamatmu?\u201d \u201cDi Jeddah,\u201d jawabnya. Syaikh menyahut, \u201cKalau engkau mau menunggu sampai selesai haji, saya akan datang. Atau kalau engkau undang saya di Makkah, saya juga akan datang.\u201d<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Akhirnya orang tersebut mengundang beliau di Makkah seraya berucap, \u201cWahai syaikh, kapan saya mesti datang untuk menjemput Anda?\u201d tanya orang itu. Beliau justru mengatakan, \u201cTidak, aku yang akan mendatangimu.\u201d Lalu beliau mengambil alamat rumahnya. Pada waktu yang ditentukan beliau datang. Beliau dipersilahkan masuk. Tuan rumah pun menyiapkan perekam untuk merekam nasihat-nasihat beliau. Sejenak, tuan rumah masuk untuk mengambil suguhan teh dan memanggil saudarasaudaranya. Setelah keluar, ternyata Syaikh telah pindah dari tempat duduknya dan menyiapkan sendiri alat rekam untuk didekatkan ke stopkontak. Tuan rumah pun begitu terkesan dengan sikap tawadhu beliau. Syaikh lalu mengatakan, \u201cJangan kamu memberat-beratkan diri. Bubur kacang di Makkah ini enak. Itu sudah cukup untuk makan malamnya.\u201d Tawadhu yang luar biasa. Ibarat sihir, kata-kata dan sikap yang sangat mengena pada jiwa tuan rumah.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong>Sesekali Bercanda<\/strong><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Walau asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berwibawa, terkadang kewibawaannya diselingi oleh canda yang membuat orang-orang dekatnya tidak merasa kaku bergaul dengan beliau. Pernah terjadi kejadian unik yang membuat beliau tertawa. Suatu saat, datang kepada beliau seseorang dari salah satu negara Arab. Serta-merta dia bertanya, \u201cAnda asy-Syaikh Ibnu Utsaimin?\u201d \u201cYa,\u201d jawab beliau. Orang itu pun menyambung dengan pertanyaan, \u201cDemi Nabi, wahai Syaikh, apa hukumnya thawaf wada\u2019?\u201d Sebelum menjawab, karena orang itu bersumpah dengan selain nama Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>, terlebih dahulu Syaikh mengingkari kebiasaan tersebut dan mengatakan, \u201cWahai saudara, semoga Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0membalasi Anda dengan kebaikan. Tidak boleh bagimu mengatakan, \u2018Demi Nabi\u2019. Anda harus membiasakan diri meninggalkan kebiasaan mengucapkan kata-kata ini, karena ini adalah kalimat kesyirikan.\u201d Beliau juga menasihatinya dengan lembut dan bagus. Orang itu pun berterima kasih seraya berkata, \u201cSiap, wahai syaikh. Tetapi, apa hukum thawaf wada\u2019 itu, demi Nabi?\u201d Akhirnya Syaikh tertawa. Ternyata lisan orang tersebut memang terlalu terbiasa mengucapkan sumpah yang salah. Di waktu lain datang kepada beliau seorang wartawan dan mengatakan, \u201cWahai Syaikh, kami berharap, bisa menjalankan bersama Anda\u00a0<i>hiwar<\/i>\u00a0(maksud si wartawan: wawancara, tetapi kata tersebut memiliki makna lain, yaitu anak unta).\u201d Syaikh menjawab, \u201cWahai anakku,\u00a0<i>hiwar\u00a0<\/i>itu\u00a0<i>kan\u00a0<\/i>anak unta. Bagaimana engkau akan menjalankannya bersama saya?! Yang mungkin, engkau ingin melakukan\u00a0<i>muhawarah\u00a0<\/i>(wawancara) bersamaku.\u201d<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong>Unik dan Berkesan<\/strong><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Suatu saat seorang wanita dari Maroko menemuinya ketika di Masjidil Haram dan mengatakan, \u201cAnda Ibnu Utsaimin?\u201d tanyanya. \u201cYa, saya,\u201d jawab beliau. Wanita itu pun menukas, \u201cOrangorang mengatakan bahwa Anda sudah mati dan kami telah menyalati Anda dengan shalat gaib ba\u2019da maghrib.\u201d \u201cTidak\u2014<i>wallahi<\/i>\u2014inilah saya,\u201d tegas Ibnu Utsaimin. Wanita itu heran sambil mengatakan, \u201cJadi, bagaimana?\u201d Dengan bercanda beliau mengatakan, \u201cYa, saya setiap hari mati, lalu Rabbku menghidupkanku.\u201d Terdiamlah wanita itu dan kaget. Sambil berpaling wanita itu mengatakan, \u201cSyaikh telah pergi, syaikh telah pergi, syaikh telah pergi.\u201d Sementara itu, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin tersenyum melihatnya. Namun, Syaikh khawatir wanita itu menanggapinya serius dan salah paham, maka beliau utus seseorang untuk memanggilnya. Setelah wanita itu datang lagi, beliau menjelaskan, \u201cSaya tadi bercanda denganmu. Saya mati lalu hidup tiap hari. Artinya, saya tidur lalu bangun tiap hari, karena Allah berfirman,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"color: #444444; text-align: left;\">\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u064a\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0641\u0651\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0646\u0641\u064f\u0633\u064e \u062d\u0650\u064a\u0646\u064e \u0645\u064e\u0648\u0652\u062a\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0651\u064e\u062a\u0650\u064a \u0644\u064e\u0645\u0652 \u062a\u064e\u0645\u064f\u062a\u0652 \u0641\u0650\u064a \u0645\u064e\u0646\u064e\u0627\u0645\u0650\u0647\u064e\u0627 \u06d6 \u0641\u064e\u064a\u064f\u0645\u0652\u0633\u0650\u0643\u064f \u0627\u0644\u0651\u064e\u062a\u0650\u064a \u0642\u064e\u0636\u064e\u0649\u0670 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0648\u0652\u062a\u064e \u0648\u064e\u064a\u064f\u0631\u0652\u0633\u0650\u0644\u064f \u0627\u0644\u0652\u0623\u064f\u062e\u0652\u0631\u064e\u0649\u0670 \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0623\u064e\u062c\u064e\u0644\u064d \u0645\u0651\u064f\u0633\u064e\u0645\u0651\u064b\u0649 \u06da \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0641\u0650\u064a \u0630\u064e\u0670\u0644\u0650\u0643\u064e \u0644\u064e\u0622\u064a\u064e\u0627\u062a\u064d \u0644\u0651\u0650\u0642\u064e\u0648\u0652\u0645\u064d \u064a\u064e\u062a\u064e\u0641\u064e\u0643\u0651\u064e\u0631\u064f\u0648\u0646\u064e<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><i>\u201cAllah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya<\/i><i>\u00a0<\/i><i>pada yang demikian itu terdapat tandatanda<\/i><i>\u00a0<\/i><i>kekuasaan Allah bagi kaum yang<\/i><i>\u00a0<\/i><i>berpikir.\u201d\u00a0<\/i>(az-Zumar: 42)<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Menjadi tenanglah wanita tersebut. Ia berterima kasih kepada syaikh lalu pergi.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong>Rindu yang Terobati<\/strong><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Musim haji 1416 H.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Sebagaimana biasa, beliau menemui para jamaah haji, bertanya dan menjawab pertanyaan mereka. Beliau mencurahkan perhatian kepada mereka. Suatu saat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, beliau masuk ke ruang tunggu. Di sana ada rombongan jamaah haji dari salah satu negara yang dahulu masuk wilayah Uni Soviet. Yang paling kecil di antara mereka berumur dua tahun. Tidak seorang pun dari mereka yang bisa berbicara dengan bahasa Arab. Syaikh bertanya, kalau-kalau ada orang yang bisa berbahasa Arab yang dapat menerjemahkan apa yang hendak beliau sampaikan. Ternyata tidak didapati selain seorang anak muda warga negara Saudi yang menyambut mereka. Dialah yang kemudian menerjemahkan.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Di sela-sela ceramah, datang seorang anak muda dari mereka sambil berlari kecil dan meminta agar dia yang menerjemahkan. Ternyata, anak muda ini pandai berbahasa Arab dan kemudian diketahui bahwa dialah pimpinan rombongan ini. Penerjemahan lantas dia ambil alih. Setelah selesai, barulah dia diberi tahu bahwa syaikh yang dia terjemahkan nasihatnya adalah asy-Syaikh Ibnu Utsaimin. Terkejutlah dia. Kedua matanya terbelalak sambil menatap Syaikh dengan penuh keheranan. Rupa-rupanya, terjadi sesuatu yang tidak pernah dia kira sebelumnya. Sambil terheran, dia memastikan, \u201cAsy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin?\u201d Para pendamping Syaikh pun terheran-heran, dari mana anak muda ini tahu nama tersebut.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Mereka pun mengiyakan. Saat itulah, dengan segera, dia memeluk Syaikh erat-erat. Air mata bercucuran dari kedua matanya seraya berucap, \u201cAsy-Syaikh al-Utsaimin.\u201d Berulang-ulang dia ucapkan dengan penuh kebahagiaan. Segera dia mengambil pengeras suara dan mengumumkan kepada jamaah rombongannya dengan bahasa mereka yang tak terpahami, selain sebutan nama Syaikh yang terulang-ulang. Linangan air mata mereka berderai. Suara mereka bersahutan, mengulang-ulang nama \u2018asy-Syaikh Ibnu Utsaimin\u2019.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Anak muda itu lalu berkata, \u201cWahai Syaikh, mereka adalah murid-muridmu. Mereka bersama-sama mempelajari kitab-kitabmu di persembunyian bawah tanah saat kami dilarang mempelajari Islam. Mereka sangat rindu untuk mengucapkan salam kepadamu. Apakah Anda mengizinkan?\u201d Syaikh pun mengizinkan. Segeralah mereka mendatangi Syaikh, satu demi satu. Mereka kecup dahi beliau dengan air mata yang berlinangan dan mulut mereka yang terus bergumam, \u201cSyaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Ibnu Utsaimin.\u201d Tidak ada seorang pun dari mereka yang tidak menangis. Mereka sangat terkesan dengan apa yang mereka dengar dan lihat. (<i>al-Imam az-Zahid<\/i>\u00a0hlm. 110) Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, semoga Allah\u00a0<i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i>\u00a0senantiasa merahmati Anda dan menempatkan Anda di surga-Nya, surga Firdaus\u2026.<\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\">Sumber: <strong><a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/kajian-utama-keindahan-akhlak-dan-sifat-tawadhu\/\" target=\"_blank\">Majalah Asy Syariah<\/a> online<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KEINDAHAN AKHLAK DAN SIFAT TAWADHU&#8217; Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc. Tidak hanya ucapan, perbuatan beliau pun menjadi bukti sifat tawadhu dan akhlak mulianya. Beliau berkata, \u201cDemikianlah seorang dai, hendaknya bersifat lembut dan wajah berseri serta berlapang dada. Dengan demikian, ia lebih mudah diterima oleh orang yang didakwahi menuju jalan AllahSubhanahu wata\u2019ala\u2026 Maka dari itu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5675,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[1448],"class_list":["post-5667","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akidah","tag-keindahan-akhlak-dan-sifat-tawadhu"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5667","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5667"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5667\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5675"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5667"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5667"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5667"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}