{"id":5381,"date":"2014-08-15T18:20:08","date_gmt":"2014-08-15T10:20:08","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=5381"},"modified":"2014-08-15T18:20:08","modified_gmt":"2014-08-15T10:20:08","slug":"kelompok-hizbut-tahrir-dan-khilafah-sorotan-ilmiah-tentang-selubung-sesat-suatu-gerakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=5381","title":{"rendered":"Kelompok Hizbut Tahrir dan Khilafah (Sorotan Ilmiah Tentang Selubung Sesat Suatu Gerakan)"},"content":{"rendered":"<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Hizbut-Tahrir.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-5490\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Hizbut-Tahrir-300x180.jpg\" alt=\"Hizbut Tahrir\" width=\"300\" height=\"180\" srcset=\"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Hizbut-Tahrir-300x180.jpg 300w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Hizbut-Tahrir.jpg 500w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>KELOMPOK HIZBUT TAHRIR DAN KHILAFAH (SOROTAN ILMIAH TENTANG SELUBUNG SESAT SUATU GERAKAN)<\/strong><\/p>\n<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><em>Ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi\u2019 bin Sulaimi Lc.<\/em><\/p>\n<div class=\"wrap-post\" style=\"color: #444444;\">\n<p style=\"text-align: left;\">Bagi orang yang tidak mengenal secara mendalam tentang kelompok Hizbut Tahrir, tentu akan menganggap tujuan mereka yang ingin mendirikan Khilafah Islamiyyah sebagai cita-cita mulia. Namun bila mengkaji lebih jauh siapa mereka, siapa pendirinya, bagaimana asas perjuangannya dan sebagainya, kita akan tahu bahwa klaim mereka ingin mendirikan Khilafah Islamiyyah ternyata tidak dilakukan dengan cara-cara yang Islami.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Apa Itu Hizbut Tahrir?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hizbut Tahrir (untuk selanjutnya disebut HT) telah memproklamirkan diri sebagai kelompok politik (parpol), bukan kelompok yang berdasarkan kerohanian semata, bukan lembaga ilmiah, bukan lembaga pendidikan (akademis) dan bukan pula lembaga sosial (Mengenal HT, hal. 1). Atas dasar itulah, maka seluruh aktivitas yang dilakukan HT bersifat politik, baik dalam mendidik dan membina umat, dalam aspek pergolakan pemikiran dan dalam perjuangan politik. (Mengenal HT, hal. 16)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun aktivitas dakwah kepada tauhid dan akhlak mulia, sangatlah mereka abaikan. Bahkan dengan terang-terangan mereka nyatakan: \u201cDemikian pula, dakwah kepada akhlak mulia tidak dapat menghasilkan kebangkitan\u2026, dakwah kepada akhlak mulia bukan dakwah (yang dapat) menyelesaikan problematika utama kaum muslimin, yaitu menegakkan sistem khilafah.\u201d(Strategi Dakwah HT, hal. 40-41). Padahal dakwah kepada tauhid dan akhlak mulia merupakan misi utama para nabi dan rasul.<br \/>\nAllah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0menegaskan:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): \u2018Beribadahlah hanya kepada Allah dan jauhilah segala sesembahan selain-Nya\u2019.\u201d<\/em> (An-Nahl: 36)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0juga menegaskan:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cAku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang bagus.\u201d (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Ahmad, dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 45)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Tujuan dan Latar Belakang<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Mewujudkan kembali Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi, merupakan tujuan utama yang melatarbelakangi berdirinya HT dan segala aktivitasnya. Yang dimaksud khilafah adalah kepemimpinan umat dalam suatu Daulah Islam yang universal di muka bumi ini, dengan dipimpin seorang pemimpin tunggal (khalifah) yang dibai\u2019at oleh umat. (Lihat Mengenal HT, hal. 2, 54 )<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Para pembaca, tahukah anda apa yang melandasi HT untuk mewujudkan Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi? Landasannya adalah bahwa semua negeri kaum muslimin dewasa ini \u2013tanpa kecuali\u2013 termasuk kategori Darul Kufur (negeri kafir), sekalipun penduduknya kaum muslimin. Karena dalam kamus HT, yang dimaksud Darul Islam adalah daerah yang di dalamnya diterapkan sistem hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam urusan pemerintahan, dan keamanannya berada di tangan kaum muslimin, sekalipun mayoritas penduduknya bukan muslim. Sedangkan Darul Kufur adalah daerah yang di dalamnya diterapkan sistem hukum kufur dalam seluruh aspek kehidupan, atau keamanannya bukan di tangan kaum muslimin, sekalipun seluruh penduduknya adalah muslim. (Lihat Mengenal HT, hal. 79)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Padahal tolok ukur suatu negeri adalah keadaan penduduknya, bukan sistem hukum yang diterapkan dan bukan pula sistem keamanan yang mendominasi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: \u201cKeberadaan suatu bumi (negeri) sebagai Darul Kufur, Darul Iman, atau Darul Fasiqin, bukanlah sifat yang kontinu (terus-menerus\/langgeng) bagi negeri tersebut, namun hal itu sesuai dengan keadaan penduduknya. Setiap negeri yang penduduknya adalah orang-orang mukmin lagi bertakwa maka ketika itu ia sebagai negeri wali-wali Allah. Setiap negeri yang penduduknya orang-orang kafir maka ketika itu ia sebagai Darul Kufur, dan setiap negeri yang penduduknya orang-orang fasiq maka ketika itu ia sebagai Darul Fusuq. Jika penduduknya tidak seperti yang kami sebutkan dan berganti dengan selain mereka, maka ia disesuaikan dengan keadaan penduduknya tersebut.\u201d <strong>(Majmu\u2019 Fatawa, 18\/282)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Para pembaca, mengapa \u2013menurut HT\u2013 harus satu khilafah? Jawabannya adalah, karena seluruh sistem pemerintahan yang ada dewasa ini tidak sah dan bukan sistem Islam. Baik itu sistem kerajaan, republik presidentil (dipimpin presiden) ataupun republik parlementer (dipimpin perdana menteri). Sehingga merupakan suatu kewajiban menjadikan Daulah Islam hanya satu negara (khilafah), bukan negara serikat yang terdiri dari banyak negara bagian. (Lihat Mengenal HT, hal. 49-55)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ahlus Sunnah Wal Jamaah berkeyakinan bahwa pada asalnya Daulah Islam hanya satu negara (khilafah) dan satu khalifah. Namun, jika tidak memungkinkan maka tidak mengapa berbilangnya kekuasaan dan pimpinan.<\/p>\n<ul style=\"text-align: left;\">\n<li>Al-\u2019Allamah Ibnul Azraq Al-Maliki, Qadhi Al-Quds (di masanya) berkata: \u201cSesungguhnya persyaratan bahwa kaum muslimin (di dunia ini) harus dipimpin oleh seorang pemimpin semata, bukanlah suatu keharusan bila memang tidak memungkinkan.\u201d <strong>(Mu\u2019amalatul Hukkam, hal. 37)<\/strong><\/li>\n<li>Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: \u201cPara imam dari setiap madzhab bersepakat bahwa seseorang yang berhasil menguasai sebuah negeri atau beberapa negeri maka posisinya seperti imam (khalifah) dalam segala hal. Kalaulah tidak demikian maka (urusan) dunia ini tidak akan tegak, karena kaum muslimin sejak kurun waktu yang lama sebelum Al-Imam Ahmad sampai hari ini, tidak berada di bawah kepemimpinan seorang pemimpin semata.\u201d <strong>(Mu\u2019amalatul Hukkam, hal. 34)<\/strong><\/li>\n<li>Al-Imam Asy-Syaukani berkata: \u201cAdapun setelah tersebarnya Islam dan semakin luas wilayahnya serta perbatasan-perbatasannya berjauhan, maka dimaklumilah bahwa kekuasaan di masing-masing daerah itu di bawah seorang imam atau penguasa yang menguasainya, demikian pula halnya daerah yang lain. Perintah dan larangan sebagian penguasapun tidak berlaku pada daerah kekuasaan penguasa yang lainnya. Oleh karenanya (dalam kondisi seperti itu -pen) tidak mengapa berbilangnya pimpinan dan penguasa bagi kaum muslimin (di daerah kekuasaan masing-masing -pen). Dan wajib bagi penduduk negeri yang terlaksana padanya perintah dan larangan (aturan -pen) pimpinan tersebut untuk menaatinya.\u201d (As-Sailul Jarrar, 4\/512)<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikian pula yang dijelaskan Al-Imam Ash-Shan\u2019ani, sebagaimana dalam Subulus Salam (3\/347), cet. Darul Hadits.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Kapan HT Didirikan?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kelompok sempalan ini didirikan di kota Al-Quds (Yerusalem) pada tahun 1372 H (1953 M) oleh seorang alumnus Universitas Al-Azhar Kairo (Mesir) yang berakidah Maturidiyyah <strong>[1]<\/strong> dalam masalah asma` dan sifat Allah, dan berpandangan Mu\u2019tazilah dalam sekian permasalahan agama. Dia adalah Taqiyuddin An-Nabhani, warga Palestina yang dilahirkan di Ijzim Qadha Haifa pada tahun 1909. Markas tertua mereka berada di Yordania, Syiria dan Lebanon (Lihat Mengenal HT, hal. 22, Al-Mausu\u2019ah Al-Muyassarah, hal. 135, dan Membongkar Selubung Hizbut Tahrir (1) hal. 2, Asy-Syaikh Abdurrahman Ad-Dimasyqi). Bila demikian akidah dan pandangan keagamaan pendirinya, lalu bagaimana keadaan HT itu sendiri?! Wallahul musta\u2019an.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Landasan Berpikir Hizbut Tahrir<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Landasan berpikir HT adalah Al Qur\u2018an dan As Sunnah, namun dengan pemahaman kelompok sesat Mu\u2019tazilah bukan dengan pemahaman Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>dan para shahabatnya. Mengedepankan akal dalam memahami agama dan menolak hadits ahad dalam masalah akidah merupakan ciri khas keagamaan mereka. Oleh karena itu tidaklah berlebihan bila ahli hadits zaman ini, Asy-Syaikh Al-Albani t, menjuluki mereka dengan Al-Mu\u2019tazilah Al-Judud (Mu\u2019tazilah Gaya Baru).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Padahal jauh-jauh hari, shahabat \u2018Ali bin Abi Thalib \u00a0telah berkata: \u201cKalaulah agama ini tolok ukurnya adalah akal, niscaya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya.\u201d<strong>[2]<\/strong> (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 162, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)<br \/>\nDemikian pula menolak hadits ahad dalam masalah akidah, berarti telah menolak sekian banyak akidah Islam yang telah ditetapkan oleh ulama kaum muslimin. Di antaranya adalah: Keistimewaan Nabi Muhammad <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0atas para nabi, syafaat Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0\u00a0untuk umat manusia dan untuk para pelaku dosa besar dari umatnya di hari kiamat, adanya siksa kubur, adanya jembatan (ash-shirath), telaga dan timbangan amal di hari kiamat, munculnya Dajjal, munculnya Al-Imam Mahdi, turunnya Nabi \u2018Isa <em>\u2018alaihissalam<\/em>\u00a0di akhir zaman, dan lain sebagainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun dalam masalah fiqih, akal dan rasiolah yang menjadi landasan. Maka dari itu HT mempunyai sekian banyak fatwa nyeleneh. Di antaranya adalah: boleh mencium wanita non muslim, boleh melihat gambar porno, boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, boleh bagi wanita menjadi anggota dewan syura mereka, boleh mengeluarkan jizyah (upeti) untuk negeri kafir, dan lain sebagainya. <strong>(Al-Mausu\u2019ah Al-Muyassarah, hal. 139-140)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Langkah Operasional untuk Meraih Khilafah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Bagi HT, khilafah adalah segala-galanya. Untuk meraih khilafah tersebut, HT menetapkan tiga langkah operasional berikut ini:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. <strong>Mendirikan Partai Politik<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dengan merujuk Surat Ali \u2018Imran ayat 104, HT berkeyakinan wajibnya mendirikan partai politik. Untuk mendirikannya maka harus ditempuh tahapan pembinaan dan pengkaderan (Marhalah At-Tatsqif) (Lihat Mengenal HT hal. 3). Pada tahapan ini perhatian HT tidaklah dipusatkan kepada pembinaan tauhid dan akhlak mulia. Akan tetapi mereka memusatkannya kepada pembinaan kerangka Hizb (partai), memperbanyak pendukung dan pengikut, serta membina para pengikutnya dalam halaqah-halaqah dengan tsaqafah (materi pembinaan) Hizb secara intensif, hingga akhirnya berhasil membentuk partai. <strong>(Lihat Mengenal HT hal. 22, 23)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun pendalilan mereka dengan Surat Ali \u2018Imran ayat 104 tentang wajibnya mendirikan partai politik, maka merupakan pendalilan yang jauh dari kebenaran. Adakah di antara para shahabat Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>, para tabi\u2019in, para tabi\u2019ut tabi\u2019in dan para imam setelah mereka yang berpendapat demikian?! Kalaulah itu benar, pasti mereka telah mengatakannya dan saling berlomba untuk mendirikan parpol! Namun kenyataannya mereka tidak seperti itu. Apakah HT lebih mengerti tentang ayat tersebut dari mereka?!<br \/>\nCukup menunjukkan batilnya pendalilan ini adalah bahwa parpol terbangun di atas asas demokrasi, yang amat bertolak belakang dengan Islam. Bagaimana ayat ini dipakai untuk melegitimasi sesuatu yang bertolak belakang dengan makna yang dikandung ayat? Wallahu a\u2019lam.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. <strong>Berinteraksi dengan Umat (Masyarakat)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Berinteraksi dengan umat (Tafa\u2019ul Ma\u2019al Ummah) merupakan tahapan yang harus ditempuh setelah berdirinya partai politik dan berhasil dalam tahapan pembinaan dan pengkaderan. Pada tahapan ini, sasaran interaksinya ada empat:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Pertama<\/em>: Pengikut Hizb, dengan mengadakan pembinaan intensif agar mampu mengemban dakwah, mengarungi medan kehidupan dengan pergolakan pemikiran dan perjuangan politik (Lihat Mengenal HT, hal. 24). Pembinaan intensif di sini tidak lain adalah doktrin \u2018ashabiyyah (fanatisme) dan loyalitas terhadap HT.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Kedua:<\/em> Masyarakat, dengan mengadakan pembinaan kolektif\/umum yang disampaikan kepada umat Islam secara umum, berupa ide-ide dan hukum-hukum Islam yang diadopsi oleh Hizb. Dan menyerang sekuat-kuatnya seluruh bentuk interaksi antar anggota masyarakat, tak luput pula interaksi antara masyarakat dengan penguasanya. Taqiyuddin An-Nabhani berkata: \u201cOleh karena itu, menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antar sesama anggota masyarakat dalam rangka mempengaruhi masyarakat tidaklah cukup, kecuali dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan rakyatnya dan harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian.\u201d (Lihat Mengenal HT, hal. 24, Terjun ke Masyarakat, hal. 7) Betapa ironisnya, Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0memerintahkan kita agar menjadi masyarakat yang bersaudara dan taat kepada penguasa, sementara HT justru sebaliknya. Mereka memecah belah umat dan memporakporandakan kekuatannya. Lebih parah lagi, bila hal itu dijadikan tolok ukur keberhasilan suatu gerakan sebagaimana yang dinyatakan pendiri mereka: \u201cKeberhasilan gerakan diukur dengan kemampuannya untuk membangkitkan rasa ketidakpuasan (kemarahan) rakyat, dan kemampuannya untuk mendorong mereka menampakkan kemarahannya itu setiap kali mereka melihat penguasa atau rezim yang ada menyinggung ideologi, atau mempermainkan ideologi itu sesuai dengan kepentingan dan hawa nafsu penguasa.\u201d (Pembentukan Partai Politik Islam, hal. 35-36)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Ketiga<\/em>: Negara-negara kafir imperialis yang menguasai dan mendominasi negeri-negeri Islam, dengan berjuang menghadapi segala bentuk makar mereka (Lihat Mengenal HT, hal. 25).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikianlah yang mereka munculkan. Namun kenyataannya, di dalam upaya penggulingan para penguasa kaum muslimin, tak segan-segan mereka meminta bantuan kepada orang-orang kafir dan meminta perlindungan dari negara-negara kafir. (Lihat Membongkar Selubung Hizbut Tahrir (1) hal. 5)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Keempat<\/em>: Para penguasa di negeri-negeri Arab dan negeri-negeri Islam lainnya, dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan rakyatnya dan harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian. Menentang mereka, mengungkapkan pengkhianatan, dan persekongkolan mereka terhadap umat, melancarkan kritik, kontrol, dan koreksi terhadap mereka serta berusaha menggantinya apabila hak-hak umat dilanggar atau tidak menjalankan kewajibannya terhadap umat, yaitu bila melalaikan salah satu urusan umat, atau mereka menyalahi hukum-hukum islam. (Terjun Ke Masyarakat, hal. 7, Mengenal HT, hal. 16,17).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Para pembaca, inilah hakikat manhaj Khawarij yang diperingatkan Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>. Tidakkah diketahui bahwa Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0menjuluki mereka dengan \u201cSejahat-jahat makhluk\u201d dan \u201cAnjing-anjing penduduk neraka\u201d! Semakin parah lagi di saat mereka tambah berkomentar: \u201cBahkan inilah bagian terpenting dalam aktivitas amar ma\u2019ruf nahi munkar.\u201d (Mengenal HT, hal. 3)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Tidakkah mereka merenungkan sabda Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>: \u201cAkan ada sepeninggalku para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara\/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan dalam bentuk manusia.\u201d Hudzaifah berkata: \u201cApa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?\u201d Rasulullah bersabda (artinya): \u201cHendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut! Walaupun dicambuk punggungmu dan dirampas hartamu maka (tetap) dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).\u201d (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman <em>Radhiyallahu &#8216;anhu<\/em>, 3\/1476, no. 1847)?!<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikian pula, tidakkah mereka renungkan sabda Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>: \u201cBarangsiapa ingin menasehati penguasa tentang suatu perkara, maka janganlah secara terang-terangan. Sampaikanlah kepadanya secara pribadi, jika ia menerima nasehat tersebut maka itulah yang diharapkan. Namun jika tidak menerimanya maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya (nasehatnya).\u201d (HR. Ahmad dan Ibnu Abi \u2018Ashim, dari shahabat \u2018Iyadh bin Ghunmin <em>Radhiyallahu &#8216;anhu<\/em>, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah, hadits no. 1096)?!<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Namun sangat disayangkan, HT tetap menunjukkan sikap kepala batunya, sebagaimana yang mereka nyatakan: \u201cSikap HT dalam menentang para penguasa adalah menyampaikan pendapatnya secara terang-terangan, menyerang dan menentang. Tidak dengan cara nifaq (berpura-pura), menjilat, bermanis muka dengan mereka, simpang siur ataupun berbelok-belok, dan tidak pula dengan cara mengutamakan jalan yang lebih selamat. Hizb juga berjuang secara politik tanpa melihat lagi hasil yang akan dicapai dan tidak terpengaruh oleh kondisi yang ada.\u201d (Mengenal HT, hal. 26-27)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Mereka gembar-gemborkan slogan \u201cJihad yang paling utama adalah mengucapkan kata-kata haq di hadapan penguasa yang zalim.\u201d Namun sayang sekali mereka tidak bisa memahaminya dengan baik. Buktinya, mereka mencerca para penguasa di mimbar-mimbar dan tulisan-tulisan. Padahal kandungan kata-kata tersebut adalah menyampaikan nasehat \u201cdi hadapan\u201d sang penguasa, bukan di mimbar-mimbar dan lain sebagainya. Tidakkah mereka mengamalkan wasiat Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0yang diriwayatkan shahabat \u2018Iyadh bin Ghunmin di atas?! Dan jangan terkecoh dengan ucapan mereka, \u201cMeskipun demikian, Hizb telah membatasi aktivitasnya dalam aspek politik tanpa menempuh cara-cara kekerasan (perjuangan bersenjata) dalam menentang para penguasa maupun orang-orang yang menghalangi dakwahnya.\u201d (Mengenal HT, hal. 28). Karena mereka pun akan menempuh cara tersebut pada tahapannya (tahapan akhir).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3. <strong>Pengambilalihan Kekuasaan (Istilaamul Hukmi)<\/strong><br \/>\nTahapan ini merupakan puncak dan tujuan akhir dari segala aktivitas HT. Dengan tegasnya Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan: \u201cHanya saja setiap orang maupun syabab (pemuda) Hizb harus mengetahui, bahwasanya Hizb bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan secara praktis dari tangan seluruh kelompok yang berkuasa, bukan dari tangan para penguasa yang ada sekarang saja. Hizb bertujuan untuk mengambil kekuasaan yang ada dalam negara dengan menyerang seluruh bentuk interaksi penguasa dengan umat, kemudian dijadikannya kekuasaan tadi sebagai Daulah Islamiyyah.\u201d (Terjun ke Masyarakat, hal. 22-23)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dalam tahapan ini, ada dua cara yang harus ditempuh:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1) Apabila negara itu termasuk kategori Darul Islam, di mana sistem hukum Islam ditegakkan, tetapi penguasanya menerapkan hukum-hukum kufur, maka caranya adalah melawan penguasa tersebut dengan mengangkat senjata.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2) Apabila negara itu termasuk kategori Darul Kufur, di mana sistem hukum Islam tidak diterapkan, maka caranya adalah dengan Thalabun Nushrah (meminta bantuan) kepada mereka yang memiliki kemampuan (kekuatan). (Lihat Strategi Dakwah HT, hal. 38, 39, 72).\u00a0Subhanallah! Lagi-lagi prinsip Khawarij si \u201cSejahat-jahat makhluk\u201d dan \u201cAnjing-anjing penduduk neraka\u201d yang mereka tempuh. Wahai HT, ambillah pelajaran dari perkataan Al-Imam Ibnul Qayyim t\u00a0 berikut ini: \u201cBahwasanya Nabi <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0mensyariatkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran agar terwujud melalui pengingkaran tersebut suatu kebaikan (ma\u2019ruf) yang dicintai Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dan Rasul-Nya. Jika ingkarul mungkar mengakibatkan terjadinya kemungkaran yang lebih besar darinya dan lebih dibenci oleh Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dan Rasul-Nya, maka tidak boleh dilakukan walaupun Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0membenci kemungkaran tersebut dan pelakunya. Hal ini seperti pengingkaran terhadap para raja dan penguasa dengan cara memberontak, sungguh yang demikian itu adalah sumber segala kejahatan dan fitnah hingga akhir masa\u2026 Dan barangsiapa merenungkan apa yang terjadi pada (umat) Islam dalam berbagai fitnah yang besar maupun yang kecil, niscaya akan melihat bahwa penyebabnya adalah mengabaikan prinsip ini dan tidak sabar atas kemungkaran, sehingga berusaha untuk menghilangkannya namun akhirnya justru muncul kemungkaran yang lebih besar darinya.\u201d (I\u2019lamul Muwaqqi\u2019in, 3\/6)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Mungkin HT berdalih bahwa semua penguasa itu kafir, karena menerapkan hukum selain hukum Allah. Kita katakan bahwa tidaklah semua yang berhukum dengan selain hukum Allah itu kafir. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Abdul \u2018Aziz bin Baz: \u201cBarangsiapa berhukum dengan selain hukum Allah, maka tidak keluar dari empat keadaan:<\/p>\n<ol style=\"text-align: left;\">\n<li>Seseorang yang mengatakan: \u201cAku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam\u201d, maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.<\/li>\n<li>Seseorang yang mengatakan: \u201cAku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama\/sederajat dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam,\u201d maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.<\/li>\n<li>Seseorang yang mengatakan: \u201cAku berhukum dengan hukum ini dan berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah,\u201d maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.<\/li>\n<li>Seseorang yang mengatakan: \u201c Aku berhukum dengan hukum ini,\u201d namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwasanya berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya, tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini), atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman, dan teranggap sebagai dosa besar. (At-Tahdzir Minattasarru\u2019 Fittakfir, Muhammad Al-\u2019Uraini hal. 21-22)<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikian pula, kalaulah sang penguasa itu terbukti melakukan kekufuran, maka yang harus ditempuh terlebih dahulu adalah penegakan hujjah dan nasehat kepadanya, bukan pemberontakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun dalih mereka dengan hadits Auf bin Malik <em>Radhiyallahu &#8216;anhu<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Lalu dikatakan kepada Rasulullah: \u201cWahai Rasulullah! Bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (membe-rontak)?\u201d Beliau bersabda: \u201cJangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian!\u201d (HR. Muslim, 3\/1481, no. 1855)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">bahwa \u201cmendirikan shalat di tengah-tengah kalian\u201d adalah kinayah dari menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, sehingga \u2013menurut HT\u2013 walaupun seorang penguasa mendirikan shalat namun dinilai belum menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, maka dianggap kafir dan boleh untuk digulingkan! Ini adalah pemahaman sesat dan menyesatkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Para pembaca, tahukah anda dari mana ta\u2018wil semacam itu? Masih ingatkah dengan landasan berpikir mereka? Ya, ta`wil itu tidak lain dari akal mereka semata\u2026 Bukan dari bimbingan para ulama. Wallahul musta\u2019an.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Akhir kata, demikianlah gambaran ringkas tentang HT dan selubung sesatnya tentang khilafah. Semoga menjadi titian jalan untuk meraih petunjuk Ilahi. Amin.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Catatan Kaki:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1 Menolak sifat-sifat Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dengan ta`wil, kecuali beberapa sifat saja. (ed)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2 Lanjutan riwayat tersebut: \u201cDan sungguh aku telah melihat Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0mengusap pungggung khufnya.\u201d (ed)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber : <a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/kelompok-hizbut-tahrir-dan-khilafah-sorotan-ilmiah-tentang-selubung-sesat-suatu-gerakan\/\" target=\"_blank\"><strong>Majalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KELOMPOK HIZBUT TAHRIR DAN KHILAFAH (SOROTAN ILMIAH TENTANG SELUBUNG SESAT SUATU GERAKAN) Ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi\u2019 bin Sulaimi Lc. Bagi orang yang tidak mengenal secara mendalam tentang kelompok Hizbut Tahrir, tentu akan menganggap tujuan mereka yang ingin mendirikan Khilafah Islamiyyah sebagai cita-cita mulia. Namun bila mengkaji lebih jauh siapa mereka, siapa pendirinya, bagaimana asas perjuangannya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5490,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[1428,1362,1399,1400],"class_list":["post-5381","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-manhaj","tag-kelompok-hizbut-tahrir-dan-khilafah","tag-khilafah","tag-mengenalhti","tag-selubungsesathti"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5381","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5381"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5381\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5490"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5381"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5381"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5381"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}