{"id":5290,"date":"2014-08-06T06:00:16","date_gmt":"2014-08-05T22:00:16","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=5290"},"modified":"2015-03-14T00:18:19","modified_gmt":"2015-03-13T16:18:19","slug":"mengenal-lebih-dekat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baz-rahimahullah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=5290","title":{"rendered":"Mengenal Lebih Dekat Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Mengenal-Syaikh-Bin-Baz.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-5321\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Mengenal-Syaikh-Bin-Baz-300x195.jpg\" alt=\"Mengenal Syaikh Bin Baz\" width=\"300\" height=\"195\" \/><\/a>MENGENAL LEBIH DEKAT ASY SYAIKH ABDUL AZIZ BIN BAZ RAHIMAHULLAH<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Ditulis oleh: \u00a0Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Akidah (Prinsip Keyakinan) Beliau<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah<\/em> adalah seorang yang berakidah lurus. Akidah beliau tegak di atas al-Qur\u2019an dan Sunnah Rasulullah <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em> serta bimbingan generasi terbaik umat ini (as-salafush shalih). Di antara akidah yang mulia itu adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Meyakini bahwa Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em> Rabb semesta alam, Maha Esa (tunggal) dan Mahakuasa. Tiada yang berhak diibadahi selain Dia semata. Dialah satu-satunya tempat bergantung. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan- Nya. Barang siapa mempersembahkan sebuah ibadah kepada selain-Nya, ia telah musyrik dan kafir.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang mulia bagi Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0sebagaimana yang terdapat dalam al- Qur\u2019an dan Sunnah Rasulullah <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>. Semua nama Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0mengandung sifat yang dikandung oleh nama itu. Demikian pula semua sifat Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0menunjukkan makna zahir (yang tampak) yang dikandungnya tanpa dipalingkan dari makna zahirnya (takwil), atau dianalogikan dengan sesuatu (takyif). Semua itu dinilai sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>, tanpa menyerupakannya sedikit pun dengan makhluk-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3. Meyakini bahwa Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berada di atas Arsy-Nya, dan terpisah dengan makhluk sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Dia berbicara dengan sifat bicara yang azali (tidak berawal) dan berbicara kapan saja sesuai dengan kehendak-Nya, sebagaimana akidah salaf.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">4. Meyakini bahwa al-Qur\u2019an adalah kalamullah (firman Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>) bukan makhluk. Dari Allah-lah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0al-Qur\u2019an itu berasal dan kepada-Nya ia kembali. Barang siapa meyakini bahwa al-Qur\u2019an itu makhluk, ia telah kafir dan keluar dari Islam.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">5. Meyakini bahwa Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0mempunyai sifat cinta dan ridha, suka dan tidak suka, menghidupkan dan mematikan, marah dan senang, turun setiap malam ke langit dunia dengan sifat turun yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, tidak serupa dengan makhluk-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">6. Meyakini bahwa Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dapat dilihat oleh orang-orang yang beriman pada hari kiamat dengan pandangan mata mereka, sebagaimana yang terdapat dalam hadits-hadits sahih.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">7. Meyakini bahwa Nabi Muhammad <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em> adalah hamba Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dan rasul-Nya yang diutus kepada seluruh manusia dan jin (tsaqalain). Risalah Islam telah beliau sampaikan seutuhnya, amanat pun telah beliau tunaikan dengan sebaik-baiknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">8. Meyakini bahwa para malaikat benar adanya, kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para rasul pilihan benar adanya, para nabi dan rasul benar adanya, hari kebangkitan setelah kematian benar adanya, surga dan neraka benar adanya, timbangan amal di hari kiamat benar adanya, dan telaga Rasulullah <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em> di hari kiamat benar adanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">9. Meyakini bahwa syafaat Rasulullah <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>, para nabi, dan orang-orang saleh di hari kiamat benar adanya. Namun, semua itu bergantung pada izin Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0terhadap yang memberi syafaat dan keridhaan-Nya kepada yang diberi syafaat.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">10. Meyakini bahwa sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">11. Meyakini bahwa sejelek-jelek perkara dalam agama ini adalah yang diada-adakan (tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>). Setiap perkara dalam agama ini yang diada-adakan (tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>) adalah bid\u2019ah, setiap bid\u2019ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu di neraka.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">12. Meyakini bahwa iman adalah keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">13. Meyakini bahwa takdir Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0yang baik ataupun yang buruk benar adanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">14. Meyakini bahwa shalat, zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan haji bagi yang mampu ialah bagian dari rukun Islam yang melengkapi dua kalimat syahadat. Semua itu harus diimani dan diamalkan sesuai dengan bimbingan Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dan Rasul-Nya <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">15.Tidak boleh mengafirkan seorang pun dari kaum muslimin kecuali jika melakukan salah satu dari pembatal keislaman. Adapun pelaku dosa besar di bawah dosa syirik, seperti zina, mencuri, memakan harta riba, meminum minuman keras, durhaka kepada kedua orang tua, dll, tidaklah dikafirkan selama tidak menghalalkan kemaksiatan tersebut. Jika meninggal dunia dan belum bertobat dari dosanya, dia di bawah kehendak (masyi\u2019ah) Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>. Jika Allah<em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em> berkehendak untuk mengampuninya\u2014 secara langsung\u2014, ia akan mendapatkan ampunan dan masuk ke dalam surga tanpa disiksa; dan jika Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berkehendak untuk menyiksanya, dia akan disiksa terlebih dahulu, namun tempat kembalinya adalah surga. Tidak seperti Khawarij yang mengkafirkannya, dan tidak pula seperti Murji\u2019ah yang meyakini bahwa pelaku dosa besar\u2014di bawah dosa syirik itu\u2014adalah mukmin yang sempurna keimanannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">16. Wajib menaati pemerintah kaum muslimin yang adil atau yang jahat sekalipun, selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Jika memerintahkan kepada kemaksiatan, pemerintah tidak boleh ditaati (dalam urusan tersebut) namun masih wajib ditaati dalam hal lain yang bukan kemaksiatan. Disyariatkan jihad bersamanya, walaupun dia seorang yang jahat. Boleh menyalurkan harta sedekah kepadanya (untuk dibagikan kepada yang berhak). Demikian pula, boleh shalat Jum\u2019at dan shalat berjamaah di belakangnya, tanpa harus mengulanginya. Barang siapa mengulanginya, dia tergolong mubtadi\u2019 (pelaku bid\u2019ah).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">17. Tidak boleh memberontak kepada penguasa kaum muslimin walaupun dia seorang yang jahat. Berbeda halnya dengan prinsip sesat Khawarij yang mengafirkannya dan mewajibkan memberontak kepadanya. Berbeda pula halnya dengan prinsip sesat Mu\u2019tazilah yang mewajibkan memberontak, walaupun tidak mengafirkannya. Barang siapa memberontak, dia telah menghancurkan tongkat kesatuan kaum muslimin.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">18. Seseorang yang berhukum dengan selain hukum Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0maka tidak keluar dari empat keadaan:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">a. Seseorang yang mengatakan, \u201cAku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam,\u201d maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">b. Seseorang yang mengatakan, \u201cAku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam,\u201d maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">c. Seseorang yang mengatakan, \u201cAku berhukum dengan hukum ini, namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah,\u201d maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">d. Seseorang yang mengatakan, \u201cAku berhukum dengan hukum ini,\u201d namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">dengan selainnya. Tetapi, dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini) atau dia mengerjakannya karena perintah dari atasan, maka dia kafir dengan kekafiran kecil yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">19. Wajibnya menjaga hati dan lisan dari membenci, mencela, atau melecehkan para sahabat Rasulullah <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>. Sebab, mereka adalah generasi terbaik umat ini, bahkan manusia terbaik setelah para nabi dan rasul. Barang siapa membenci, mencela, atau melecehkan salah seorang dari mereka, dia adalah mubtadi\u2019, hingga benar-benar bertobat dan mendoakan kebaikan untuk sahabat tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">20. Sahabat terbaik adalah Abu Bakr ash-Shiddiq, kemudian \u2018Umar bin al-Khaththab, kemudian \u2018Utsman bin \u2018Affan, kemudian \u2018Ali bin Abi Thalib, kemudian yang tersisa dari sepuluh orang yang diberitakan oleh Rasulullah <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0sebagai penduduk jannah (yaitu Sa\u2019d bin Abi Waqqash, Thalhah bin \u2018Ubaidillah, \u2018Abdurrahman bin \u2018Auf, Abu \u2018Ubaidah bin al-Jarrah, Zubair bin al-Awwam, dan Sa\u2019id bin Zaid bin \u2018Amr bin Nufail), kemudian para sahabat lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">21. Menahan hati dan lisan terhadap perselisihan yang terjadi di antara para sahabat <em>Nabi Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>, dan meyakini bahwa pihak yang benar mendapatkan dua pahala dan pihak yang salah mendapatkan satu pahala. Sebab, mereka semua adalah ahli ijtihad (orang-orang yang berhak berijtihad dalam urusan agama dan umat).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">22. Mencintai semua ahlul bait (keluarga Nabi <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>) yang beriman, baik dari generasi sahabat maupun yang setelah mereka. Selain itu juga memuliakan para istri Nabi <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>, karena mereka adalah para ibu kaum mukminin (ummahatul mukminin) dan termasuk ahlul bait (keluarga Nabi <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>). Berbeda halnya dengan kelompok Syi\u2019ah yang membenci, bahkan mengafirkan para sahabat Nabi <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em> termasuk ummahatul mukminin, di sisi lain memuliakan ahlul bait (orangorang tertentu yang mereka kehendaki) dan berlebihan memuliakan mereka. Tidak pula seperti kelompok Nawashib yang beragama dengan menyakiti ahlul bait (keluarga Nabi <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>) baik dengan perkataan maupun perbuatan. (Lihat Situs Resmi asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz seputar akidah beliau dan berbagai kitab, risalah, ta\u2019liq, atau fatwa tentang akidah yang terdapat dalam Majmu\u2019 Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Akhlak dan Perangai Beliau<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Asy-Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah<\/em> kesohor akan akhlak dan perangainya yang mulia. Pertemuan dengan beliau selalu menghadirkan pesan dan meninggalkan kesan. Hal itu karena banyaknya akhlak dan perangai mulia yang terkumpul pada diri beliau. Suatu keistimewaan yang sulit didapati pada diri seorang ulama di zaman ini. Di antara akhlak dan perangai beliau yang mulia itu adalah:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Ikhlas dalam beramal karena Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Sangat tawadhu\u2019 (rendah hati), walaupun berkedudukan mulia dan berilmu tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3. Berpikiran jernih.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">4. Tegar, tabah, dan mempunyai etos kerja yang tinggi hingga di usianya yang lanjut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">5. Berbudi pekerti luhur dan penuh pengertian.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">6. Dermawan dalam segala hal yang dimiliki; harta, waktu, kesempatan, ilmu, kebaikan, mediator untuk kebaikan, kemurahan, dll.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">7. Berkepribadian tenang dan mempunyai daya ingat yang kuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">8. Stabil dalam hal semangat dan kemauan, tidak goyah dengan berbagai perubahan situasi dan kondisi.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">9. Adil dalam memberikan keputusan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">10. Teguh di atas kebenaran dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">11. Berwawasan luas, berpandangan jauh, dan selalu mengikuti berbagai perkembangan peristiwa di dunia internasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">12. Keyakinan yang kuat kepada Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">13. Zuhud terhadap dunia; harta, pangkat, kedudukan, pujian, dll.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">14. Semangat yang tinggi dalam merealisasikan Sunnah (bimbingan) Nabi <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">15. Berjiwa sabar.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">16. Murah senyum dan selalu tampak ceria.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">17. Sangat menjaga adab dalam berbicara, bermajelis, dll.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">18. Setia terhadap guru, kawan, dan orang yang beliau kenal.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">19. Menjalin hubungan silaturahmi dengan segenap keluarga.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">20. Memerhatikan hak-hak tetangga.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">21. Bertutur kata mulia.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">22. Jauh dari sikap bangga diri, merendahkan orang lain, atau mencela makanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">23. Tidak menerima berita kecuali dari orang yang dapat dipercaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">24. Selalu berbaik sangka terhadap orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">25. Sedikit bicara dan banyak diam.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">26. Banyak berzikir dan berdoa.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">27. Tidak mengangkat suara ketika tertawa.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">28. Sering menangis ketika mendengar bacaan al-Qur\u2019an, dibacakan kepada beliau sejarah para ulama, atau hal-hal yang berkaitan dengan keagungan al-Qur\u2019an dan as-Sunnah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">29. Menerima hadiah dari orang lain dan berusaha untuk membalasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">30. Mencintai orang-orang miskin, dekat dengan mereka, dan kerap kali makan bersama-sama mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">31. Sangat menjaga efesiensi waktu.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">32. Selalu bersemangat mengajak orang lain kepada kebaikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">33. Jauh dari sifat iri\/dengki kepada orang yang mendapatkan nikmat dari Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">34. Membalas kejelekan dengan kebaikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">35. Tidak berlebihan dalam hal menu makanan dan minuman.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">36. Memerhatikan janji dan selalu menjaganya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">37. Penuh harap, jauh dari sifat putus asa.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sepenggal Kisah Cerminan Akhlak Beliau<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u2022 Kira-kira 30 tahun sebelum wafat, beliau pernah mendatangi sebuah masjid untuk menyampaikan ceramah. Alas masjid tersebut menggunakan tikar, sedangkan khusus untuk beliau disediakan alas berupa sajadah (permadani). Ketika beliau merasa bahwa alas beliau berbeda dengan keumuman alas di masjid tersebut, digulunglah sajadah itu oleh beliau. Hal itu karena karakter beliau yang tidak suka diistimewakan atas orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u2022 Pada suatu hari ada seorang pemuda yang menghubungi beliau via telepon seraya berkata, \u201cWahai Samahatusy Syaikh, umat Islam sangat membutuhkan para ulama yang mempunyai kemampuan berfatwa (mufti). Untuk itu saya mengusulkan kepada Anda agar menempatkan seorang mufti di setiap kota.\u201d Beliau berkata, \u201cMasya Allah, semoga Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0memperbaikimu. Berapa umurmu?\u201d Pemuda itu menjawab, \u201c13 tahun.\u201d Beliau pun berkata, \u201cIni usulan yang bagus, berhak untuk mendapat perhatian.\u201d Kemudian beliau menyuruh sang sekretaris pribadi untuk menulis surat kepada penanggung jawab di Hai\u2019ah Kibar Ulama yang isinya, \u201cAmma ba\u2019du, ada masukan dari seorang penasihat bahwa sudah saatnya ada seorang mufti di setiap kota. Kami memandang, usulan ini perlu diteruskan ke al-Lajnah ad- Daimah (Komite Tetap Fatwa) agar bisa kita diskusikan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u2022 Ketika asy-Syaikh Dr. Muhammad Taqiyuddin al-Hilali <em>rahimahullah<\/em> menulis bait-bait syair yang secara berlebihan memuji beliau dan dimuat di Majalah al-Jami\u2019ah as-Salafiyyah India edisi<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">09\/Sya\u2019ban 1397 H, beliau mengirim surat kepada redaksi majalah tersebut, menyampaikan ketidakrelaan beliau terhadap pujian itu dan meminta redaksi memuat ketidakrelaan beliau itu pada edisi berikutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u2022 Pada musim haji tahun 1418 H, saat beliau duduk di sebuah mushalla di Padang Arafah dan dikitari oleh ratusan orang, dihidangkanlah di hadapan beliau buah-buahan yang sudah dipotongpotong. Mengingat, kebiasaan beliau di hari-hari itu (mayoritasnya) tidak makan<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">selain buah-buahan, kurma, dan yoghurt. Ketika buah-buahan telah terhidang di hadapan beliau, beliau pun bertanya, \u201cApakah semua yang hadir di sini juga mendapatkan hidangan seperti ini?\u201d Mereka menjawab, \u201cTidak.\u201d Beliau marah seraya berkata, \u201cJauhkanlah hidangan ini!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u2022 Suatu hari (30 tahun sebelum wafat) beliau hendak menjual rumah karena utang yang menumpuk. Hal ini tercium oleh salah seorang pejabat kerajaan dan dia pun segera mengirimkan uang kepada beliau. Sang pejabat berkata, \u201cTelah sampai kepada saya berita bahwa Anda hendak menjual rumah karena kesempitan yang sedang mengimpit. Sungguh, berita itu membuat saya gelisah, kumohon Anda berkenan menerima hadiah dari saya ini3 dan izinkan saya untuk menyampaikan hal ini kepada Raja.\u201d Beliau balas ucapan pejabat itu\u00a0dengan banyak-banyak terima kasih dan doa kebaikan untuknya lalu berkata, \u201cBerita yang sampai kepada Anda itu benar, karena banyaknya tamu yang berdatangan dan orang-orang yang membutuhkan bantuan baik di kota Riyadh maupun di kota Madinah, namun saya\u00a0tidak ingin hal ini sampai kepada Raja.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u2022 Asy-Syaikh Ahmad bin Abdul Aziz bin Baz berkata, \u201cAku adalah salah seorang putra Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Aku dilahirkan saat ayahku telah berusia di atas 60 tahun. Usia beliau yang sudah lanjut itu, ditambah dengan aktivitas kantor, dakwah, dan fatwa yang sangat padat tidaklah menjadi penghalang bagi beliau untuk menjadi seorang ayah bagiku dan saudara-saudaraku, bahkan untuk umat Islam. Beliau sangat memerhatikan kami selaku anak. Layaknya seorang ayah terhadap anaknya, beliau mencurahkan segenap kasih sayang, pengawasan, nasihat, bimbingan, arahan, bahkan dakwah. Dengan segala cara beliau berupaya untuk menjadi seorang ayah yang dekat dengan anak-anaknya di tengah kesibukan beliau yang sangat padat.\u201d Untuk melengkapi berbagai kisah cerminan akhlak beliau yang mulia, silakan membaca rubrik \u201cAkhlak\u201d dan \u201cManhaji\u201d pada edisi ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Agenda Harian Beliau<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz mempunyai agenda harian yang sangat ketat dan bagus. Dengan taufik dari Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>, kemudian berkat agenda harian yang tertata itulah berbagai amanat yang berada di pundak beliau dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Berikut ini agenda harian beliau, semoga menjadi teladan bagi kita semua.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Beliau bangun pagi kurang lebih 1 jam sebelum shubuh. Kemudian shalat tahajjud 11 rakaat dengan khusyu\u2019 dan rendah diri kepada Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>. Beliau pun banyak berdoa, di antaranya mendoakan umat Islam dan kebaikan para penguasa mereka, berzikir, membaca al-Qur\u2019an, dan beristighfar.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Setelah azan subuh (terkadang sebelumnya), beliau pergi ke masjid dengan tenang dan penuh penghambaan kepada Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala\u00a0<\/em>dengan membaca doa keluar rumah (dan doa menuju masjid, -pen.) sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah <em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>. Sesampainya di masjid, beliau masuk dengan mendahulukan kaki kanan seraya membaca doa masuk masjid dan shalat sunnah qabliyah. Beliau kemudian memperbanyak doa hingga iqamat. Setelah itu, beliau menunaikan shalat shubuh berjamaah. Selepas shalat, beliau membaca zikir-zikir yang khusus dibaca setelah shalat, kemudian membaca wirid-wirid doa dan zikir yang dituntunkan untuk dibaca di setiap pagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3. Setelah dirasa cukup membaca wirid-wirid pagi, beliau memulai taklim (kajian) rutin di masjid tersebut dari beberapa kitab yang dibacakan kepada beliau. Taklim (kajian) rutin itu menghabiskan waktu sekitar 3 jam, bahkan terkadang lebih. Setelah itu, beliau menjawab berbagai pertanyaan agama yang diajukan kepada beliau dengan penuh perhatian dan ketelitian, kemudian pulang ke rumah. Jika berhalangan<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3 Permohonan tersebut disampaikan oleh sang pejabat karena asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz dikenal tidak mudah menerima bantuan. Dia khawatir jika bantuannya itu ditolak. mengajar, beliau langsung pulang ke rumah seusai membaca wirid doa dan zikir pagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">4. Beliau duduk di rumah sekitar dua jam. Beliau manfaatkan kesempatan itu untuk menjawab berbagai persoalan yang membutuhkan jawaban dari beliau, atau dibacakan kepada beliau beberapa kitab dan karya ilmiah. Setelah itu beliau masuk ke bagian dalam rumah guna beristirahat. Tepat pukul 08.00 pagi, beliau keluar dari tempat peristirahatan dan bersiap-siap untuk makan pagi. Setelah makan pagi, beliau berwudhu lalu shalat dua rakaat, kemudian berangkat ke kantor dengan tenang dan kemauan yang kuat. Begitu naik mobil, diajukan kepada beliau beberapa persoalan yang membutuhkan jawaban dari beliau, atau dibacakan kepada beliau beberapa kitab. Setibanya di kantor, beliau turun dari mobil dan berjalan kaki menuju ruangan pribadi beliau. Berbagai tulisan dan persoalan pun diajukan kepada beliau hingga memasuki ruangan tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">5. Di ruangan pribadi tersebut, beliau mengerjakan berbagai tugas harian yang berat dengan penuh semangat, seperti menyelesaikan berbagai kasus dan persoalan yang diajukan kepada beliau, menyambut para delegasi\/tamu, mengeluarkan fatwa terkait pertanyaanpertanyaan yang berdatangan dari para penanya, melayani para pengunjung yang sedang mengalami kasus talak, dan sebagainya. Hal ini berlangsung hingga pukul 14.30 siang atau lebih sedikit. Dengan demikian, seringkali beliau menjadi orang yang terakhir keluar dari kantor. Setelah itu beliau pulang ke rumah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">6. Dalam perjalanan menuju rumah (di atas mobil), diajukan kembali kepada beliau berbagai persoalan, atau dibacakan kitab. Jika tidak ada yang membacakan, beliau manfaatkan untuk berzikir dan membaca al-Qur\u2019an. Dalam kesempatan itu pula terkadang beliau manfaatkan untuk mendengarkan siaran berita radio pukul 14.30.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">7. Setiba di rumah, beliau langsung disambut oleh banyak orang. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai keperluan dengan beliau. Ada yang meminta fatwa, ada yang sekadar mengucapkan salam, ada yang mempunyai kasus talak, ada yang meminta bantuan, orang fakir, pejabat, dan pengunjung dari daerah yang dekat ataupun jauh. Beliau ucapkan salam kepada mereka, kemudian mempersilakan para tamu tersebut untuk menyantap hidangan makan siang yang telah disediakan di rumah beliau. Beliau makan siang sembari berbincang dengan mereka, menanyakan keadaan mereka, dan menjawab berbagai pertanyaan mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Setelah dirasa cukup, beliau berhenti dan masih menemani mereka beberapa saat agar mereka tidak terburu-buru menyelesaikan makan. Kemudian beliau berdiri untuk mencuci tangan seraya mengatakan, \u201cTidak usah terburu-buru, masing-masing hendaknya melanjutkan makannya.\u201d Ketika beliau berdiri menuju tempat cuci tangan, mulailah diajukan berbagai pertanyaan kepada beliau. Setelah mencuci tangan, beliau kembali ke tempat yang semula. Jika waktu agak sempit dan masuk waktu ashar, maka beliau mengambil air wudhu, menjawab azan lalu berangkat ke masjid. Namun, jika masih tersisa banyak waktu, beliau<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">meluangkan waktu untuk duduk-duduk bersama para tamu sambil minum teh dan memakai minyak wangi, kemudian masuk ke dalam rumah sejenak. Beliau keluar saat dikumandangkan azan ashar guna berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat ashar.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">8. Seusai shalat ashar, imam masjid membacakan beberapa poin dari kitab Riyadhush Shalihin, al-Wabilush Shayyib, atau Kitabut Tauhid, atau yang lainnya, lalu beliau menerangkannya kepada para jamaah. Berikutnya, beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan di majelis tersebut. Kemudian beliau pulang ke rumah untuk beristirahat. Dalam perjalanan menuju rumah pun, beliau masih menjawab banyak pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang berjalan mengiringi beliau.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">9. Menjelang maghrib, beliau mengambil air wudhu lalu pergi ke masjid untuk menunaikan shalat maghrib. Seusai shalat, beliau pulang ke rumah dan melakukan shalat ba\u2019diyah maghrib. Kemudian beliau duduk bersama orangorang yang mengunjungi beliau dengan problemnya masing-masing. Hal itu jika tidak ada jadwal mengajar atau memberikan catatan penting dalam acara seminar.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">10. Saat azan isya dikumandangkan, beliau menjawabnya, lalu beranjak menuju masjid untuk menunaikan shalat isya. Ketika tiba di masjid, beliau menunaikan shalat tahiyatul masjid. Seusai shalat sunnah tersebut, imam masjid segera membacakan beberapa hadits untuk diterangkan kepada para jamaah oleh beliau. Setelah itu beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan. Kemudian ditnuaikanlah shalat isya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">11. Seusai shalat isya, jika tidak ada janji di luar rumah, ceramah, undangan khusus, undangan walimah nikah, mengunjungi orang sakit, atau agenda yang semisalnya, beliau langsung pulang ke rumah. Beliau manfaatkan waktu tersebut untuk membaca beberapa persoalan yang membutuhkan solusi, atau memuraja\u2019ah beberapa kitab. Terkadang ada acara rapat di rumah beliau, terkadang pula kedatangan para tamu, atau ada rekaman untuk siaran radio, atau ceramah via telepon untuk kaum muslimin di luar negeri.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">12. Setelah itu, beliau makan malam bersama para tamu, para pegawai di kantor pribadi (di rumah) beliau, dan siapa saja yang hadir saat itu. Selepas makan malam, beliau melanjutkan pekerjaan yang dilakukan sebelum makan malam, atau melanjutkan perbincangan dengan para tamu beliau, atau duduk untuk membaca beberapa kitab, atau menyelesaikan beberapa persoalan yang membutuhkan solusi dari beliau hingga larut malam. Terkadang hingga pukul 23.00 atau pukul 24.00 malam. Kemudian beliau masuk ke bagian dalam rumah, lalu berjalan-jalan sekitar 30 menit, setelah itu beranjak tidur. Demikianlah agenda harian asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang penuh ilmu, hikmah, derma, dan berbagai kegiatan bermanfaat lainnya. Semoga menjadi teladan dan pelajaran berharga bagi kita semua. Amin.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber Bacaan:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u2022 Majmu\u2019 Fatawa Ibn Baz, program al-Maktabah asy-Syamilah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u2022 Asy-Abdul Aziz bin Baz Namudzaj Minar Ra\u2019ilil Awwal, karya Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, program al- Maktabah asy-Syamilah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u2022 Al-Mauqi\u2019 ar-Rasmi lisy Syaikh Abdil Aziz bin Baz (Situs Resmi asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u2022 Durus lisy Syaikh Abdil Aziz bin Baz, program al-Maktabah asy-Syamilah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber :<a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/kajian-utama-mengenal-lebih-dekat-as-y-syaikh-abdul-aziz-bin-baz-rahimahullah\/\" target=\"_blank\"><strong> Makalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MENGENAL LEBIH DEKAT ASY SYAIKH ABDUL AZIZ BIN BAZ RAHIMAHULLAH Ditulis oleh: \u00a0Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi Akidah (Prinsip Keyakinan) Beliau Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang yang berakidah lurus. Akidah beliau tegak di atas al-Qur\u2019an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wasallam serta bimbingan generasi terbaik umat ini (as-salafush shalih). Di antara akidah yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5321,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2215],"tags":[1382],"class_list":["post-5290","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-permata-salaf","tag-mengenal-lebih-dekat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baz-rahimahullah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5290","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5290"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5290\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5321"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5290"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5290"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5290"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}