{"id":5149,"date":"2014-08-03T08:02:41","date_gmt":"2014-08-03T00:02:41","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=5149"},"modified":"2014-08-03T08:02:41","modified_gmt":"2014-08-03T00:02:41","slug":"bahaya-berteman-dengan-ahlul-bidah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=5149","title":{"rendered":"Bahaya Berteman Dengan Ahlul Bid\u2019ah"},"content":{"rendered":"<div class=\"crumbs\" style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/header-forum-salafy-66.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-5197\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/header-forum-salafy-66-300x195.jpg\" alt=\"header forum salafy 66\" width=\"300\" height=\"195\" \/><\/a>BAHAYA BERTEMAN DENGAN AHLUL BID&#8217;AH<\/strong><\/div>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Ditulis oleh: \u00a0Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak<\/em><\/p>\n<div class=\"wrap-post\" style=\"color: #444444;\">\n<p style=\"text-align: left;\">Diantara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama\u2019ah adalah tidak bermajelis dan tidak berteman dengan ahlul bid\u2019ah (orang yang gemar melakukan amalan yang tidak diajarkan Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Jiwa setiap insan telah diciptakan dalam keadaan lemah. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cAllah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.\u201d (An-Nisa\u2019: 28)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Oleh karena itu, Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0dengan rahmat-Nya membimbing hamba-hamba-Nya kepada perkara yang bisa membantu menjaga agama mereka, berupa berteman dengan orang-orang baik dan shalih. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cDan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini.\u201d (Al-Kahfi: 28)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ibnu Katsir \u00a0berkata: \u201cYakni duduklah bersama hamba-hamba Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0yang berdzikir, membaca kalimat tauhid, bertahmid, bertasbih, dan bertakbir serta meminta kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0<\/em>pagi dan petang. Baik mereka orang fakir, kaya, ataupun lemah.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikian juga, Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em> melarang dan memperingatkan kita agar tidak berteman atau duduk bersama orang-orang yang jelek agamanya. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).\u201d (Al-An\u2019am: 68)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Orang yang paling besar mudharatnya jika dijadikan teman adalah ahlul bid\u2019ah (lihat keterangan tentang ahlul bid\u2019ah pada catatan kaki rubrik Manhaji, red.). Mudharat yang terjadi akibat berteman, bergaul, dan bermajelis dengan mereka lebih besar daripada mudharat yang terjadi karena bergaul dengan pelaku maksiat yang masih Ahlus Sunnah.\u00a0Oleh karena itu, telah masyhur dalam kitab-kitab ulama Ahlus Sunnah tentang peringatan agar tidak berteman atau bermajelis dengan mereka.\u00a0Diantara dalil hal ini adalah firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0<\/em>di atas:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).\u201d (Al-An\u2019am: 68)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Peringatan salaf agar tidak bergaul dengan ahlul bid\u2019ah<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Fudhail bin Iyadh<\/strong> berkata: \u201cBarangsiapa yang duduk bersama ahlul bid\u2019ah, maka hati-hatilah darinya. Barangsiapa yang duduk bersama ahlul bid\u2019ah dia tidak akan diberi hikmah. Aku menginginkan ada benteng dari besi yang memisahkan aku dengan ahlul bid\u2019ah\u2026\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Beliau berkata, \u201cAku bertemu orang-orang terbaik, dan mereka semua adalah Ahlus Sunnah, semuanya melarang bergaul dengan ahlul bid\u2019ah.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Al-Imam Ahmad<\/strong> berkata: \u201cTidaklah sepantasnya seseorang duduk dengan ahlul bid\u2019ah atau bergaul dengannya, tidak pula punya hubungan dekat dengannya.\u201d\u00a0Beliau juga berkata dalam suratnya kepada Musaddad: \u201cJanganlah kamu bermusyawarah dengan ahlul bid\u2019ah dalam perkara agamamu dan janganlah berteman safar dengannya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Pembaca yag budiman, demikianlah sikap salaf terhadap ahlul bid\u2019ah. Bukan malah menjadikannya sebagai pimpinan ataupun pembimbing, terlebih dalam masalah ibadah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Sikap terhadap orang yang bergaul dengan ahlul bid\u2019ah (hizbiyin)<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Ibnu Taimiyah<\/strong> \u00a0berkata: \u201cJika pergaulan seseorang adalah dengan orang-orang jelek, maka peringatkanlah orang darinya.\u201d<br \/>\nYahya bin Sa\u2019id Al-Qaththan berkata: Ketika Sufyan datang ke Bashrah, beliau melihat Rabi\u2019 bin Shubaih serta kedudukannya di sisi manusia. Beliau bertanya, \u201cBagaimana pemahamannya?\u201d Mereka menjawab, \u201cPemahamannya adalah Ahlus Sunnah.\u201d Beliau berkata, \u201cSiapa teman-temannya?\u201d Mereka menjawab, \u201cOrang-orang Qadariyyah (pengingkar takdir).\u201d Beliau berkata, \u201cBerarti dia adalah pengingkar taqdir juga.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Ibnu Baththah<\/strong> berkata: \u201cSemoga Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0merahmati Sufyan Ats-Tsauri t. Beliau telah berucap dengan hikmah dan telah benar. Beliau berbicara dengan hikmah dan benar, juga dengan ilmu serta sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah yang dituntut oleh hikmah, dilihat oleh mata, dan dipahami orang yang punya bashirah. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0<\/em>berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cWahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu.\u201d (Ali \u2018Imran: 118)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Abu Dawud As-Sijistani pernah berkata kepada Al-Imam Ahmad<\/strong>, \u201cAku melihat ada seorang Ahlus Sunnah sedang bersama dengan ahlul bid\u2019ah. Apakah aku tinggalkan bicara dengannya?\u201d Al-Imam Ahmad menjawab, \u201cJangan. Engkau beritahu dia bahwa orang yang kamu lihat dia bersamanya adalah ahlul bid\u2019ah. Jika dia meninggalkan perbuatannya berbicara dengan ahlul bid\u2019ah tersebut, maka sambunglah hubungan dengannya. Namun jika tetap seperti itu, tinggalkanlah. Ibnu Mas\u2019ud berkata, \u2018Seseorang itu sama dengan temannya\u2019.\u201d\u00a0Wahai hamba Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>, janganlah engkau korbankan agamamu untuk dunia dengan berbasa-basi bersama ahlul bid\u2019ah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Ibnu Taimiyah<\/strong> berkata: \u201cJika dia beranggapan baik kepada ahlul bid\u2019ah \u2013mengaku bahwa dia belum tahu keadaan mereka\u2013 maka dia diberitahu tentang keadaan mereka. Jika setelah dijelaskan, dia tidak berpisah dengan mereka dan tidak menampakkan pengingkaran terhadap mereka, maka dia digabungkan dan disikapi seperti mereka.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Bahkan para ulama memerintahkan agar anak-anak pun dijauhkan sejak dini dari ahlul bid\u2019ah. Ibnul Jauzi berkata: \u201cTakutlah kalian kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0dari berteman dengan mereka. Wajib untuk mencegah anak-anak dari pergaulan bersama mereka, agar tidak ada pada hati mereka satu kebid\u2019ahan pun. Sibukkanlah mereka dengan hadits-hadits Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0agar lembut hati mereka.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Al-Imam Al-Barbahari berkata<\/strong>: \u201cJika nampak kepadamu dari seseorang satu kebid\u2019ahan, hati-hatilah darinya. Karena yang dia sembunyikan darimu lebih banyak dari yang ditampakkannya.\u201d (Dinukil dari Lammud Durril Mantsur)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikian salafus shalih sangat menjaga diri mereka, anak-anak serta sahabat-sahabat mereka dari kebid\u2019ahan dan ahlul bid\u2019ah.<br \/>\nMuhammad bin Sirin jika mendengar satu kata dari ahlul bid\u2019ah, dia meletakkan dua telunjuknya di dua telinganya dan berkata.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cTidak halal bagiku berbicara dengannya sampai dia berdiri dari majelisnya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Seorang ahlul ahwa (ahlul bid\u2019ah) berkata kepada kepada Ayub As-Sakhtiyani, \u201cWahai Abu Bakr (yakni Ayub), aku ingin bertanya kepadamu satu kata.\u201d Ayub berkata seraya berisyarat dengan telunjuknya, \u201cTidak, walaupun setengah kata.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Salaf menerima berita temannya<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Datang Dawud Al-Ashbahani ke Baghdad. Dia berbicara dengan lemah lembut kepada Shalih bin Ahmad bin Hanbal untuk memintakan izin agar bisa bertemu dengan ayahnya (yakni Al-Imam Ahmad bin Hanbal). Shalih pun datang ke ayahnya dan berkata, \u201cAda seseorang minta kepadaku agar bisa bertemu denganmu.\u201d Beliau bertanya, \u201cSiapa namanya?\u201d Shalih menjawab, \u201cDawud.\u201d Beliau bertanya lagi, \u201cDarimana dia?\u201d Shalih khawatir membeberkan jati dirinya kepada Al-Imam Ahmad, namun beliau terus bertanya hingga paham siapa yang ingin berjumpa dengannya. Maka Al-Imam Ahmad berkata, \u201cMuhammad bin Yahya An-Naisaburi telah menulis surat kepadaku tentang orang ini bahwa orang ini berpendapat bahwa Al-Qur\u2019an adalah makhluk, maka janganlah dia mendekatiku.\u201d Shalih berkata, \u201cWahai ayah, dia menafikan dan mengingkari tuduhan ini.\u201d Al-Imam Ahmad berkata, \u201cMuhammad bin Yahya lebih jujur darinya. Jangan izinkan dia masuk kepadaku.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Efek negatif bermajelis dengan ahlul bid\u2019ah<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Duduk bergaul dengan ahlul bid\u2019ah banyak sisi negatifnya dalam masalah agama. Diantaranya:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0 Orang yang duduk dengan ahlul bid\u2019ah tersebut akan terkena syubhat dan tidak bisa membantahnya, akhirnya dia terjerumus dalam kebid\u2019ahan mereka.\u00a0<strong>Sufyan Ats-Tsauri<\/strong>\u00a0berkata, \u201cSeseorang yang duduk dengan ahlul bid\u2019ah tidak akan selamat dari satu diantara tiga perkara: menjadi fitnah bagi yang lainnya, masuk dalam hatinya kebid\u2019ahan hingga dia tergelincir dengannya, atau dimasukkan oleh Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>ke dalam neraka \u2026\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ketika ada orang yang berkata kepada Ibnu Sirin, \u201cSesungguhnya fulan (salah seorang ahlul bid\u2019ah, red.) ingin datang dan berbicara denganmu.\u201d Beliau berkata, \u201cKatakan kepadanya, jangan datang kepadaku. Sesungguhnya hati anak Adam itu lemah. Aku khawatir mendengar satu kalimat darinya kemudian hatiku tidak bisa kembali seperti semula.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0 Duduk dengan mereka menentang perintah Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0dan Rasul-Nya serta menyimpang dari jalan sahabat.<br \/>\nKarena Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em> berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cMaka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.\u201d<\/em> (An-Nur: 63)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3.\u00a0\u00a0\u00a0 Duduk dengan mereka menyebabkan kecintaan kepada mereka<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ibnu Mas\u2019ud \u00a0berkata, \u201cSeseorang hanya akan berteman dan berjalan dengan orang yang sejenis dengannya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">4.\u00a0\u00a0\u00a0 Duduk dengan mereka bermudharat bagi ahli bid\u2019ah itu sendiri<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Karena diantara hikmah menjauhi mereka adalah agar jera dan kemudian rujuk (keluar) dari kebid\u2019ahannya. Adanya orang yang dekat dengannya akan menjadi sebab jauhnya dia dari bertaubat, karena merasa jalan yang ditempuhnya adalah kebenaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">5.\u00a0\u00a0\u00a0 Duduk dengan mereka, menjadi sebab orang lain berburuk sangkanya kepadanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ini hanyalah sebagian dari keburukan yang kita ketahui. Hanya Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0yang tahu betapa banyak mafsadah yang muncul akibat duduk dan berteman dengan ahlul bid\u2019ah. Mudah-mudahan ini cukup sebagai nasihat bagi orang yang menginginkan keselamatan agamanya. (lihat Mauqif Ahlis Sunnah hal. 550-551)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Beberapa contoh kasus orang yang terjatuh dalam kesesatan karena berteman dengan ahlul bid\u2019ah<br \/>\nKesimpulannya, berteman dengan ahlul bid\u2019ah adalah bencana yang besar dan bahaya yang menyebar. Karena ahlul bid\u2019ah lebih berbahaya dari orang fasik. Banyak orang yang bergaul dengan ahlul bid\u2019ah dan tidak selamat dari kebid\u2019ahan mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Al-Imam Adz-Dzahabi \u00a0<\/strong>berkata \u2013dalam biografi Rawandi\u2013: Dia berteman dengan Rafidhah dan orang-orang menyimpang lainnya. Jika dihukum, dia menjawab, \u201cAku hanya ingin tahu ucapan-ucapan mereka.\u201d Sampai akhirnya dia pun menjadi mulhid (atheis\/penyimpang) dan turun dari dien dan millah (agama) ini.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Al-Imam Adz-Dzahabi<\/em> juga berkata \u2013dalam biografi Ibnu Aqil Al-Hanbali\u2013 ketika menukil ucapannya, beliau berkata, \u201cPara ulama Hanbali ingin agar aku menjauhi sekelompok ulama, padahal itu menyebabkan aku luput dari sebagian ilmu.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Al-Imam Adz-Dzahabi<\/em> mengomentari ucapannya: \u201cPara ulama melarangnya bergaul dengan Mu\u2019tazilah namun dia enggan menerimanya. Akhirnya dia terjatuh dalam jerat mereka dan menjadi lancang dalam menakwil dalil-dalil. Kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0sajalah kita memohon keselamatan.\u201d (Lihat Ni\u2019matul Ukhuwah hal. 21-25).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Wallahu a\u2019lam bish-shawab.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber : <a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/bahaya-berteman-dengan-ahlul-bidah\/\" target=\"_blank\"><strong>Majalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BAHAYA BERTEMAN DENGAN AHLUL BID&#8217;AH Ditulis oleh: \u00a0Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak Diantara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama\u2019ah adalah tidak bermajelis dan tidak berteman dengan ahlul bid\u2019ah (orang yang gemar melakukan amalan yang tidak diajarkan Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam). Jiwa setiap insan telah diciptakan dalam keadaan lemah. Allah subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0berfirman: \u201cAllah hendak memberikan keringanan kepadamu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5197,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[1348,1349],"class_list":["post-5149","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-manhaj","tag-bahaya-berteman-dengan-ahlul-bidah","tag-bahayanya-ahlul-bidah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5149","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5149"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5149\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5197"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5149"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5149"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5149"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}