{"id":5128,"date":"2014-08-04T04:51:24","date_gmt":"2014-08-03T20:51:24","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=5128"},"modified":"2014-08-04T09:08:59","modified_gmt":"2014-08-04T01:08:59","slug":"kisah-nabi-hud","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=5128","title":{"rendered":"Kisah Nabi Hud"},"content":{"rendered":"<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/kisah-nabi-hud.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-5129\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/kisah-nabi-hud-300x194.jpg\" alt=\"kisah nabi hud\" width=\"300\" height=\"194\" \/><\/a>KISAH NABI HUD<\/strong><\/p>\n<div class=\"wrap-post\" style=\"color: #444444;\">\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Ditulis oleh: Al-Ustadz Idral Harits<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0mengutus Nabi Hud <em>\u2018alaihissalam<\/em>\u00a0kepada bangsa \u2018Aad, generasi pertama yang tinggal di daerah Ahqaf di wilayah Hadhramaut (Yaman), ketika semakin bertambahnya kejahatan dan kesewenang-wenangan mereka terhadap para hamba Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>. Mereka berkata, sebagaimana dalam ayat:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSiapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?\u201d<\/em> (Fushshilat:15)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Selain itu, kaum \u2018Aad juga melakukan kesyirikan terhadap Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dan pendustaan terhadap para rasul. Maka, Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0mengutus Nabi Hud \u2018Alaihissalam\u00a0ke tengah-tengah mereka untuk mengajak mereka agar menyerahkan segala ibadah hanya untuk Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0satu-satunya dan melarang dari perbuatan syirik serta kesewenang-wenangan terhadap hamba-hamba Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Beliau mengajak kaumnya dengan segala cara serta mengingatkan mereka akan berbagai nikmat yang telah Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berikan berupa kebaikan dunia, kelebihan rezeki, dan kekuatan fisik. Tapi mereka menolak seruan tersebut dan menampakkan sikap sombong, tidak mau menyambut seruan Nabi Hud \u2018<em>alaihissalam<\/em>. Mereka bahkan mengatakan, seperti diceritakan Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cWahai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata.\u201d<\/em> (Hud: 53)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Mereka telah melakukan pendustaan dengan pernyataan ini. Karena tidak ada satu nabi pun, melainkan pasti telah Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berikan ayat-ayat, yang semestinya dengan ayat itu semua orang akan beriman. Seandainya tidak ada yang menjadi ayat-ayat (tanda-tanda kebenaran) para rasul tersebut kecuali ajaran agama yang mereka bawa itu sendiri, itu pun sudah cukup menjadi dalil atau bukti paling utama bahwasanya ajaran agama ini berasal dari sisi Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Di samping kokoh dan sistematisnya untuk kemaslahatan manusia, kapan dan di mana saja, sesuai dengan situasi dan kondisi, kebenaran berita yang ada dalam agama ini berupa perintah terhadap seluruh kebaikan dan larangan dari segala kejahatan, turut menjadi bukti kebenaran para rasul. Juga masing-masing rasul itu membenarkan rasul yang datang sebelumnya dan menjadi saksi akan kebenaran dakwahnya. Sekaligus membenarkan dan menjadi saksi pula bagi rasul yang akan datang setelahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Nabi Hud \u2018Alaihissalam\u00a0sendirian dalam berdakwah. Beliau menganggap mimpi-mimpi kaumnya sebagai suatu kebodohan dan menyatakan mereka sesat, serta mencela sesembahan mereka. Sementara kaum Nabi Hud \u2018Alaihissalam\u00a0adalah orang-orang yang tubuhnya sangat kuat dan suka berbuat sewenang-wenang. Mereka menakut-nakuti Nabi Hud \u2018Alaihissalam\u00a0dengan sesembahan mereka. Bila tidak berhenti berdakwah, niscaya Nabi Hud \u2018Alaihissalam\u2014menurut ancaman mereka\u2014akan ditimpa penyakit gila dan kejelekan. Namun Nabi Hud \u2018Alaihissalam\u00a0justru terang-terangan melemparkan tantangan kepada mereka dan berkata:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah oleh kalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan, dari selain-Nya. Sebab itu kerahkanlah segala tipu daya kalian terhadapku dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Rabbku dan Rabb kalian. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus.\u201d<\/em> (Hud: 54\u201456)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Maka ayat mana lagi yang lebih besar dari tantangan Nabi Hud \u2018Alaihissalam\u00a0kepada musuh-musuhnya yang sangat menentang seruan beliau dengan berbagai macam cara. Ketika kejahatan mereka telah melampaui batas, Nabi Hud \u2018Alaihissalam\u00a0meninggalkan dan mengancam mereka dengan turunnya azab Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>. Maka datanglah azab tersebut menyebar di seluruh cakrawala. Mereka dilanda kekeringan yang ganas sehingga sangat membutuhkan siraman air hujan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Di saat mereka dalam keadaan bergembira melihat awan tebal di atas mereka dan berkata:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cInilah awan yang akan menurunkan hujan.\u201d<\/em> (al-Ahqaf: 24)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0pun berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201c(Bukan)! Bahkan itulah azab yang kalian minta supaya datang dengan segera.\u201d<\/em> (al-Ahqaf: 24)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Yaitu, kalian minta disegerakan dengan ucapan kalian, \u201cDatangkanlah apa yang engkau janjikan kepada kami bila engkau orang yang benar.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201c(Yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu.\u201d<\/em> (al-Ahqaf: 24\u201425)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Yakni, menghancurkan semua yang dilaluinya. Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cYang Allah timpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kamu lihat kaum \u2018Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).\u201d<\/em> (al-Haqqah: 7)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cMaka jadilah mereka tidak ada yang terlihat lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.\u201d<\/em> (al-Ahqaf: 25)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Semua itu terjadi di saat mereka dahulu senantiasa tertawa gembira, berada dalam kemuliaan yang sempurna, kemewahan dunia yang berlimpah, seluruh kabilah dan daerah-daerah di sekitarnya tunduk kepada mereka. Kemudian tiba-tiba Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0kirimkan kepada mereka angin yang sangat kencang dalam beberapa hari secara terus-menerus agar mereka merasakan siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Padahal sungguh azab akhirat itu lebih menghinakan, sedangkan mereka tidak diberi pertolongan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum \u2018Aad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum \u2018Aad (yaitu) kaumnya Hud itu.\u201d<\/em> (Hud: 60)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0menyelamatkan Nabi Hud \u2018Alaihissalam\u00a0serta orang-orang yang beriman bersamanya. Sesungguhnya di dalam kisah ini benar-benar terdapat ayat (bukti) yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0serta pemuliaan-Nya terhadap para rasul dan para pengikut mereka, pertolongan Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0kepada mereka di dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Juga ayat (tanda) tentang batilnya kesyirikan, serta kesudahannya yang sangat buruk dan mengerikan. Di dalamnya terdapat bukti atas kehidupan sesudah mati dan dikumpulkannya seluruh manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Pelajaran Penting dari Kisah Nabi Hud\u00a0\u2018Alaihissalam<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sebagaimana juga dalam kisah Nabi Nuh \u2018Alaihissalam, di dalam kisah ini terdapat beberapa pelajaran yang sama pada semua rasul, antara lain:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0 Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dengan hikmah-Nya mengisahkan tentang berita umat-umat yang bertetangga dengan kita di Jazirah Arab dan sekitarnya. Al-Qur\u2019an telah menyebutkan metode paling tinggi dalam memberikan pelajaran atau peringatan. Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0juga telah menerangkan berbagai pelajaran dengan keterangan yang sebenar-benarnya. Tentunya tidak diragukan lagi bahwa di daerah-daerah lain yang lebih jauh dari kita, di timur ataupun di barat, telah Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0utus seorang rasul kepada mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Begitu pula telah dipaparkan bagaimana sambutan, penolakan, atau pemuliaan serta akibat yang mereka terima. Tidak ada satu umat pun melainkan telah Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0utus kepada mereka seorang rasul.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Sangat bermanfaat bagi kita untuk mengingat kondisi daerah di sekitar kita serta apa yang kita terima dari generasi ke generasi. Juga apa yang dapat disaksikan dari peninggalan mereka kapan pun kita melewati bekas pemukiman mereka. Kita pun dapat memahami bahasa dan tabiat mereka lebih dekat, membandingkan dengan tabiat kita. Tentu saja manfaat ini sangat besar dan lebih pantas kita ingat daripada memaparkan keadaan umat yang belum pernah kita dengar tentang mereka, yang tidak kita kenal bahasa mereka, dan tidak sampai kepada kita keadaan mereka seperti yang Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0ceritakan kepada kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dari sini dapat disimpulkan bahwa mengingatkan orang dengan sesuatu yang lebih dekat dengan pemahaman mereka, lebih sesuai dengan keadaan mereka serta lebih mudah mereka dapatkan, akan lebih bermanfaat bagi mereka dibandingkan yang lain. Tentunya lebih pantas untuk disebutkan dengan cara yang lain meskipun juga mengandung kebenaran. Namun kebenaran itu bertingkat-tingkat. Seorang pengajar atau pendidik, bila dia menempuh cara ini, dan berupaya keras menyebarkan ilmu serta kebaikan kepada manusia dengan jalan-jalan yang mereka kenal, tidak membuat umat lari dari dakwah. Atau dengan suatu metode yang lebih tepat untuk menegakkan hujjah terhadap mereka, niscaya akan bermanfaat.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0telah mengisyaratkan hal ini pada bagian akhir kisah bangsa \u2018Aad. Firman Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitar kalian, dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang.\u201d<\/em> (al-Ahqaf: 27)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Yakni telah Kami sebutkan berbagai macam ayat atau tanda kekuasaan Kami:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSupaya mereka kembali (bertaubat).\u201d<\/em> (al-Ahqaf: 28)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Yaitu agar lebih mudah untuk mendapatkan pelajaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3. Menjadikan bangunan-bangunan yang besar dan megah sebagai suatu kebanggaan, kesombongan, dan perhiasan serta menindas hamba-hamba Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dengan sewenang-wenang adalah perbuatan yang sangat tercela dan merupakan warisan generasi yang melampaui batas. Sebagaimana diterangkan Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dalam kisah bangsa \u2018Aad yang diingkari oleh Nabi Hud \u2018Alaihissalam:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cApakah kalian mendirikan bangunan pada tiap-tiap tanah yang tinggi untuk bermain-main?\u201d<\/em> (asy-Syu\u2019ara: 128)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Secara umum bangunan untuk istana, benteng, rumah, dan bangunan lainnya; mungkin saja dijadikan tempat tinggal karena memang dibutuhkan. Kebutuhan itu sendiri beraneka ragam dan berbeda-beda tingkatnya. Semua ini adalah perkara mubah (dibolehkan) dan justru menjadi wasilah (sarana) kepada kebaikan apabila disertai dengan niat yang lurus.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Atau dapat pula dijadikan sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh dan menjaga keamanan suatu daerah, atau manfaat lain bagi kaum muslimin. Ini juga termasuk rangkaian jihad di jalan Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>, berkaitan dengan perintah harus berhati-hati terhadap musuh.<br \/>\nNamun bisa saja itu semua dimanfaatkan demi kesombongan dan kekejaman terhadap hamba-hamba Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>, atau pemborosan harta yang sebenarnya dapat digunakan di jalan yang bermanfaat. Ini tentu saja merupakan hal yang sangat dicela oleh Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0pada bangsa \u2018Aad atau yang lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">4. Pelajaran yang lain bahwa akal pikiran ataupun kecerdasan dan yang mendukung semua itu serta hasil atau pengaruh yang ditimbulkan, betapa pun besar dan luasnya, tetap tidak akan bermanfaat bagi pemiliknya kecuali bila ia imbangi dengan keimanan kepada Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dan para rasul-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sedangkan orang yang menentang ayat-ayat Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>, mendustakan para rasul Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>, walaupun mendapatkan kesempatan atau diberi tangguh untuk menikmati kehidupan dunia, kesudahan yang akan dia hadapi nanti sangatlah buruk. Pendengaran, penglihatan, dan akalnya tidak akan dapat membelanya sedikit pun jika datang keputusan Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>. Sebagaimana yang Allah <em>Subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0sebutkan dalam kisah \u2018Aad:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka perolok-olokkan.\u201d<\/em> (al-Ahqaf: 26)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dalam ayat lain:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cKarena itu, tidaklah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sesembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang. Dan sesembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.\u201d<\/em> (Hud: 101)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Wallahu a\u2019lam.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber: <a title=\"Kisah Nabi Hud\" href=\"http:\/\/asysyariah.com\/kisah-nabi-hud\/\" target=\"_blank\"><strong>Majalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KISAH NABI HUD Ditulis oleh: Al-Ustadz Idral Harits Allah Subhanahu wa ta\u2019ala\u00a0mengutus Nabi Hud \u2018alaihissalam\u00a0kepada bangsa \u2018Aad, generasi pertama yang tinggal di daerah Ahqaf di wilayah Hadhramaut (Yaman), ketika semakin bertambahnya kejahatan dan kesewenang-wenangan mereka terhadap para hamba Allah Subhanahu wa ta\u2019ala. Mereka berkata, sebagaimana dalam ayat: \u201cSiapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?\u201d (Fushshilat:15) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5129,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[269],"tags":[1341],"class_list":["post-5128","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kisah","tag-kisah-nabi-hud"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5128","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5128"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5128\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5129"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5128"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5128"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5128"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}