{"id":5125,"date":"2014-08-05T05:56:17","date_gmt":"2014-08-04T21:56:17","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=5125"},"modified":"2014-08-05T05:56:17","modified_gmt":"2014-08-04T21:56:17","slug":"kisah-nabi-syuaib","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=5125","title":{"rendered":"Kisah Nabi Syu\u2019aib"},"content":{"rendered":"<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Kisah-nabi-syuaib.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-5126\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Kisah-nabi-syuaib-300x195.jpg\" alt=\"Kisah nabi syuaib\" width=\"300\" height=\"195\" srcset=\"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Kisah-nabi-syuaib-300x195.jpg 300w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Kisah-nabi-syuaib-1024x666.jpg 1024w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Kisah-nabi-syuaib.jpg 1244w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>KISAH NABI SYU&#8217;AIB<\/strong><\/p>\n<div class=\"wrap-post\" style=\"color: #444444;\">\n<p style=\"text-align: left;\"><strong><em>Ditulis Oleh: \u00a0Al-Ustadz Abu Muhammad Harits<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang yang sebenarnya tidak terdesak untuk melakukan perbuatan tersebut dosanya lebih besar daripada orang yang berbuat maksiat karena memang ia terdesak untuk berbuat demikian. Seperti umat Nabi Syu\u2019aib yang telah dikaruniai harta yang berlimpah namun mereka masih berbuat dosa dengan melakukan kecurangan dalam timbangan. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0pun mengadzab mereka dengan adzab yang pedih.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0<\/em>mengangkat Syu\u2019aib &#8216;<em>alaihis sallam<\/em> menjadi Nabi dan mengutus beliau ke negeri Madyan. Kejahatan yang dilakukan penduduk Madyan tidak hanya melakukan kesyirikan tetapi juga berbuat curang dalam timbangan dan takaran. Juga melakukan kecurangan dalam bermuamalat dan mengurangi hak orang lain. Nabi Syu\u2019aib <em>alaihis sallam<\/em>\u00a0mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah saja dan melarang mereka berbuat syirik. Beliau juga memerintahkan agar berbuat adil dan jujur dalam bermuamalat, serta mengingatkan mereka agar jangan merugikan orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Nabi Syu\u2019aib mengingatkan kaumnya tentang kebaikan yang telah Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0<\/em>limpahkan kepada mereka berupa rizki yang beraneka ragam. Sesungguhnya dengan itu semua, mereka tidak perlu sampai menzalimi manusia dalam urusan harta. Nabi Syu\u2019aib <em>alaihis sallam<\/em>\u00a0juga mengancam dengan adzab yang mengepung mereka di dunia sebelum di akhirat nanti. Namun mereka menyambutnya dengan ejekan dan menolak seruan itu sambil mengejek. Mereka berkata:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cHai Syu\u2019aib, apakah shalatmu (agamamu) menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.\u201d (Hud: 87)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Yakni, kami tetap akan bertahan menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami. Dan kami akan tetap berbuat terhadap harta kami dengan berbagai bentuk muamalat yang kami inginkan, tidak berada di bawah aturan atau ketetapan Allah dan para rasul-Nya.\u00a0Nabi Syu\u2019aib <em>alaihis sallam<\/em>\u00a0berkata (sebagaimana firman Allah):<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cHai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan dianugerahkan kepadaku daripada-Nya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahnya?\u201d (Hud: 88)<\/em>.\u00a0Maksudnya, bahwa Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0telah mencukupi aku (dengan rizki-Nya).\u00a0Firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.\u201d (Hud: 88)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Yakni, tidaklah aku melarang kalian dari berbagai muamalat yang buruk dan di dalamnya terdapat perbuatan yang menzalimi manusia, melainkan aku adalah orang pertama yang meninggalkannya, padahal Allah telah memberi aku harta dan memperluas rizki untukku. Dan saya sangat membutuhkan adanya hubungan muamalat ini. Namun saya terikat dengan kewajiban taat kepada Rabbku. Saya tidak bermaksud dengan tindakan dan perintahku ini kepada kalian kecuali mendatangkan perbaikan. Artinya, semampu saya, saya akan berusaha agar keadaan dunia dan akhirat kalian menjadi baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku berserah diri dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.\u201d (Hud: 88)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kemudian beliau mengancam mereka dengan siksaan yang pernah menimpa umat-umat yang masa dan tempatnya di sekitar mereka.\u00a0Firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cJanganlah sekali-kali pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu berbuat aniaya sehingga kamu ditimpa adzab seperti yang menimpa kaum\u00a0 Nuh atau kaum Hud atau kaum Shalih, sedangkan kaum Luth tidak (pula) jauh dari kalian.\u201d (Hud: 89)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Beliau menawarkan kepada mereka agar bertaubat dan membangkitkan keinginan mereka untuk bertaubat. Nabi Syu\u2019aib <em>\u2018Alaihissalam<\/em>\u00a0berkata, sebagaimana firman Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em> :<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan mohonlah ampunan kepada Rabb kalian kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.\u201d (Hud: 90).\u00a0<\/em>Namun semua seruan itu tidak berfaidah sedikitpun. Mereka berkata:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cKami tidak banyak mengerti apa yang kamu katakan.\u201d (Hud: 91)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Perkataan ini jelas karena sikap keras kepala mereka dan kebencian yang sangat besar terhadap kebenaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seseorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami sudah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami.\u201d (Hud: 91)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dan firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cSyu\u2019aib menjawab: \u2018Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandangan kalian daripada Allah, sedangkan Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.\u2019\u201d (Hud: 92)<br \/>\nDan ketika melihat kekerasan mereka, beliau berkata:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan (dia berkata): \u2018Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa adzab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah (adzab Allah), sesungguhnya akupun menunggu bersama kalian.\u2019 Dan ketika datang adzab Kami, Kami selamatkan Syu\u2019aib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat dari Kami. Sedangkan orang-orang yang dzalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka.\u201d (Hud: 93-94)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kemudian Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0<\/em>mengirimkan rasa panas yang hebat kepada mereka yang menyumbat pernafasan mereka sehingga mereka hampir tercekik karena dahsyatnya. Di saat demikian, Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0<\/em>mengirimkan awan dingin yang menaungi mereka, lalu merekapun panggil memanggil untuk bernaung di bawahnya. Setelah mereka berkumpul di bawahnya, tiba-tiba muncullah nyala api demikian hebat membakar mereka hingga merekapun mati dalam keadaan mendapat adzab, kehinaan dan kutukan sepanjang masa.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Beberapa Pelajaran<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0 Merugikan timbangan dan takaran secara khusus ataupun merugikan manusia secara umum merupakan kejahatan yang pantas menerima adzab di dunia dan akhirat.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0 Kemaksiatan yang terjadi pada seseorang yang sebetulnya tidak ada faktor pendorong dalam dirinya dan tidak pula berhajat kepada kemaksiatan itu, dosanya lebih besar dibandingkan orang yang bermaksiat didorong oleh suatu keinginan atau kebutuhan. Oleh karena itu, zina yang dilakukan oleh seorang tua atau orang yang sudah pernah menikah, jauh lebih buruk keadaannya dibandingkan zina yang dilakukan oleh seorang pemuda atau orang yang belum pernah menikah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3.\u00a0\u00a0\u00a0 Begitu pula kesombongan pada diri seorang fakir (miskin), jauh lebih buruk keadaannya dibandingkan kesombongan yang dimiliki oleh seseorang yang mempunyai harta. Demikian pula pencurian yang dilakukan oleh orang yang sebetulnya tidak membutuhkan harta curian itu, dosanya jauh lebih besar daripada pencurian yang dilakukan oleh orang yang memang sangat membutuhkan harta yang dicurinya. Oleh karena inilah Nabi Syu\u2019aib <em>\u2018Alaihissalam<\/em>\u00a0mengatakan sebagaimana disebutkan dalam ayat:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSesungguhnya aku melihat kalian dalam keadaan yang baik (mampu).\u201d\u00a0<\/em> (Hud: 84)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Yakni, kalian dalam keadaan penuh kenikmatan dan kesenangan yang berlimpah, maka apa sesungguhnya yang mendorong kalian sehingga kalian begitu tamak kepada apa yang ada di tangan manusia dengan cara yang diharamkan?<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">4. Pelajaran yang lain, firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu.\u201d<\/em>\u00a0 (Hud: 86)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Di dalamnya terdapat dorongan untuk rela dengan apa yang diberikan Allah, merasa cukup dengan yang halal dan (menjauhi) yang haram, membatasi pandangan kepada milik sendiri dan tidak perlu melihat kepada harta benda manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">5. Dalam kisah ini, terdapat dalil bahwa shalat merupakan sebab terlaksananya suatu kebaikan dan meninggalkannya merupakan suatu kemungkaran serta ditunaikannya nasehat untuk sesama hamba Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>. Orang-orang kafir mengetahui hal itu sebagaimana mereka katakan kepada Nabi Syu\u2019aib <em>\u2018Alaihissalam<\/em>, firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0menceritakan tentang ucapan mereka:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cApakah shalatmu yang menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.\u201d (Hud: 87).\u00a0Dan firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.\u201d<\/em> (Al-\u2018Ankabut: 45)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dari sini, diketahui hikmah dan rahmat Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0mengapa Dia wajibkan shalat ini kepada kita lima kali sehari semalam, (yaitu) karena begitu tinggi nilainya dan betapa besar manfaatnya dan sangat indah pengaruhnya. Segala pujian yang sempurna hanya bagi Allah atas semua kenikmatan itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">6. Seorang manusia dalam setiap gerak-geriknya dan dalam bermuamalat masalah harta berada di bawah ketentuan hukum syariat. Maka apa saja yang dibolehkan, itulah yang harus dikerjakan dan apa yang dilarang oleh syariat sudah tentu harus ditinggalkannya.<br \/>\nBarangsiapa yang menganggap dia bebas berbuat dengan hartanya dalam bermuamalat dengan cara yang baik ataupun buruk, maka sama saja keadaannya dengan orang yang menganggap amalan atau gerak-gerik badannya juga bebas tidak terikat aturan syariat. Dengan demikian, tidak ada bedanya menurut dia antara kekafiran dan keimanan, kejujuran dan kebohongan, perbuatan yang baik dan yang buruk, semua boleh.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Tentunya jelas bagi kita bahwa ini adalah madzhab (pendapat dan keyakinan) orang-orang ibahiyyin (yang menganggap mubah atau halalnya segala sesuatu), dan mereka ini merupakan sejahat-jahatnya makhluk. Dan madzhab kaum Nabi Syu\u2019aib <em>\u2018Alaihissalam<\/em>\u00a0tidak jauh berbeda dengan madzhab ini. Karena mereka mengingkari Nabi Syu\u2019aib <em>\u2018Alaihissalam<\/em>\u00a0yang melarang mereka dari muamalat yang bersifat dzalim, dan mengizinkan muamalat yang selain itu. Mereka menentangnya karena menganggap mereka bebas berbuat apa saja terhadap harta mereka. Sama seperti ini adalah perkataan orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSesungguhnya jual beli itu sama dengan riba.\u201d<\/em> (Al-Baqarah: 275)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Maka barangsiapa yang menyamakan antara yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah berarti dia telah menyimpang dari fitrah dan akalnya, setelah dia melakukan penyimpangan pula dari agamanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">7. Orang yang memberi nasehat kepada orang lain, memerintahkan (kebaikan) dan melarang mereka (dari kejelekan), agar sempurna penerimaan manusia terhadap nasehatnya itu, maka apabila dia memerintahkan suatu kebaikan hendaklah dia menjadi orang yang mula-mula mengerjakan kebaikan tersebut. Dan apabila dia melarang mereka dari suatu kemungkaran, maka hendaklah dia menjadi orang yang pertama sekali meninggalkan dan menjauhinya. Demikianlah yang dikatakan Nabi Syu\u2019aib sebagaimana firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.\u201d<\/em> (Hud: 88)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">8. Para nabi diutus dengan membawa kebaikan dan untuk memperbaiki, serta mencegah timbulnya kejahatan dan kerusakan. Maka seluruh kebaikan dan perbaikan dalam urusan agama dan dunia merupakan ajaran para nabi, terutama imam dan penutup para nabi tersebut yaitu Nabi Muhammad <i><i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i><\/i>. Beliau telah menampakkan dan mengulang kembali landasan utama ini dan telah pula meletakkan dasar-dasar yang besar manfaatnya, di mana mereka berjalan di atasnya dalam berbagai urusan duniawi, sebagaimana juga beliau telah meletakkan dasar-dasar utama dalam urusan agama.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">9. Pada dasarnya wajib bagi tiap orang\u00a0 untuk berupaya dengan sungguh-sungguh dalam kebaikan dan perbaikan, maka wajib pula baginya untuk meminta pertolongan Rabbnya dalam usaha tersebut. Dan agar dia mengetahui bahwa dia tidak mampu melakukan atau menyempurnakannya kecuali dengan pertolongan Allah, seperti yang dikatakan Nabi Syu\u2019aib <em>\u2018Alaihissalam<\/em>, sebagaimana dalam firman Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta&#8217;ala:<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku berserah diri dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.\u201d<\/em> (Hud: 88)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">10. Seorang da\u2019i yang mengajak umat kembali kepada Allah sangat membutuhkan sifat santun, akhlak yang baik dan kesanggupan mengimbangi perkataan dan perbuatan yang buruk yang ditujukan kepadanya dengan perbuatan yang sebaliknya. Dan sepantasnya dia tidak mempedulikan gangguan orang lain dan jangan sampai menghalangi mereka sedikitpun dari seruannya. Akhlak seperti ini yang paling sempurna hanya ada pada diri para rasul shalawatullah wa salamuhu \u2018alaihim.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Maka, perhatikanlah keadaan Nabi Syu\u2019aib dan kemuliaan akhlaknya bersama kaumnya. Bagaimana beliau mengajak kaumnya dengan segala macam cara, sementara mereka justru memperdengarkan kepada mereka kata-kata yang buruk dan membalas seruan itu dengan perbuatan-perbuatan yang keji. Beliau u tetap menunjukkan sikap santun, memaafkan mereka dan berbicara kepada mereka dengan kalimat-kalimat yang tidak keluar dari orang seperti beliau selain kebaikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Akhlak seperti ini adalah akhlak orang-orang yang berhasil dan memiliki keberuntungan yang besar. Dan tentunya pemiliknya mempunyai kedudukan mulia dan kenikmatan yang kekal di sisi Allah. Sehingga dengan ini semua, menjadi ringanlah baginya untuk mengobati umat yang telah demikian rusak akhlak mereka, (yang bagi orang lain) adalah suatu perkara yang sangat sulit dan bahkan lebih sulit daripada upaya membongkar sebuah gunung dari dasarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sementara itu kaumnya terus-menerus tenggelam dalam keyakinan dan pemikiran yang rusak dan bahkan mereka kerahkan semua harta, jiwa dan raga mereka untuk mengutamakan dan melebihkannya di atas segala-galanya. Apakah anda mengira, bahwa orang-orang seperti mereka ini akan merasa cukup puas hanya dengan ucapan semata bahwa keyakinan dan pemikiran yang mereka anut adalah salah dan rusak? Ataukah anda mengira bahwa mereka akan memaafkan orang yang mencaci-maki mereka dan menghina keyakinan mereka? Sekali-kali tidak, demi Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sesungguhnya mereka ini betul-betul membutuhkan bermacam-macam cara untuk memperbaiki keyakinan mereka, dan itu hanya dengan cara yang diserukan oleh para rasul. Di mana para rasul itu mengingatkan manusia dengan nikmat-nikmat Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em> dan bahwa Dzat yang sendirian memberikan kenikmatan kepada mereka itulah yang sesungguhnya berhak menerima peribadatan, apapun bentuknya. Juga para rasul itu menyebutkan kepada mereka berbagai kenikmatan yang terperinci dan tidak mungkin dapat dihitung oleh siapapun kecuali Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Para rasul itu mengingatkan pula bahwa dalam keyakinan dan pendirian mereka terdapat kerusakan dan penyimpangan, kegoncangan serta pertentangan yang dapat merusak keyakinan atau keimanan yang mendorong untuk ditinggalkan. Para rasul juga mengingatkan manusia tentang hari-hari Allah yang ada di hadapan dan di belakang mereka serta siksaan-Nya yang telah menimpa umat-umat yang mendustakan para rasul, mengingkari tauhid. Mereka mengingatkan bahwa hanya dengan beriman kepada Allah dan mentauhidkan-Nya akan mendapatkan kebaikan dan kemaslahatan serta kemanfaatan dalam agama dan dunia, yang tentunya akan menarik hati siapapun dan memudahkan untuk mencapai semua tujuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dengan ini semua maka seseorang membutuhkan sikap yang baik terhadap mereka. Minimal, adalah bersabar atas gangguan dan semua keburukan yang muncul dari mereka dan selalu berkata lemah-lembut dengan mereka. Dan perlunya pula mengupayakan semua jalan yang mengandung hikmah dan berdialog bersama mereka dalam berbagai urusan dengan mencukupkan sebagian yang diizinkan (diterima) jiwa mereka untuk menyempurnakannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">11. Perlu diperhatikan pula perlunya mendahulukan hal-hal yang paling utama kemudian yang berikutnya. Dan yang paling besar usahanya melaksanakan semua ini adalah penutup para nabi dan imam seluruh makhluk ini, yaitu Nabi Muhammad <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Wallahu a\u2019lam.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber : <a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/kisah-nabi-syuaib\/\" target=\"_blank\"><strong>Majalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KISAH NABI SYU&#8217;AIB Ditulis Oleh: \u00a0Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang yang sebenarnya tidak terdesak untuk melakukan perbuatan tersebut dosanya lebih besar daripada orang yang berbuat maksiat karena memang ia terdesak untuk berbuat demikian. Seperti umat Nabi Syu\u2019aib yang telah dikaruniai harta yang berlimpah namun mereka masih berbuat dosa dengan melakukan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5126,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[269],"tags":[1334],"class_list":["post-5125","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kisah","tag-kisahnabisyuaib"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5125","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5125"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5125\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5126"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5125"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5125"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5125"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}