{"id":5115,"date":"2014-08-02T11:23:12","date_gmt":"2014-08-02T03:23:12","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=5115"},"modified":"2014-08-02T18:07:53","modified_gmt":"2014-08-02T10:07:53","slug":"sahabat-rasulullah-adalah-orang-orang-pilihan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=5115","title":{"rendered":"Sahabat Rasulullah adalah Orang-orang Pilihan"},"content":{"rendered":"<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/shahabat-rasulullah.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-5145\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/shahabat-rasulullah-300x195.jpg\" alt=\"shahabat rasulullah\" width=\"300\" height=\"195\" \/><\/a>SAHABAT RASULULLAH ADALAH ORANG-ORANG PILIHAN<\/strong><\/p>\n<div class=\"wrap-post\" style=\"color: #444444;\">\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ketika Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>mendakwahkan ajaran Islam, hanya segelintir orang yang mau mengikuti ajakan beliau. Sebagian besar manusia justru menentang beliau dengan permusuhan yang demikian keras. Orang-orang yang mau menerima ajakan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0itulah para shahabat. Mereka adalah umat yang memiliki keimanan yang paling tinggi kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em> dan Rasul-Nya\u00a0<em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>. Namun sayang, kini kaum muslimin banyak melupakan dan tidak mau berteladan kepada mereka. Padahal mereka adalah umat yang banyak mendapat pujian dari Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0<\/em>dan Rasul-Nya <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>, karena memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki oleh umat lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Di masa sekarang, shahabat Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>\u00a0telah menjadi sekelompok orang yang asing. Keberadaan mereka sebagai \u201cperantara\u201d agama yang dibawa Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>\u00a0kepada umat berikutnya telah banyak dilupakan orang. Ketika seseorang atau sekelompok orang mencoba memahami agama ini, sebagian besar tidak lagi menjadikan para shahabat sebagai rujukan. Tokoh-tokoh yang muncul belakangan atau pimpinan kelompoknya lebih mereka sukai untuk dijadikan sebagai teladan. Sementara para shahabat sebagai orang-orang yang paling baik pemahamannya terhadap agama malah mereka jauhi.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kalau ada sebagian kaum muslimin teringat kepada para shahabat Nabi\u00a0<em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>, biasanya mereka tidak lebih menjadikan kisah hidup para shahabat itu sebagai bahan cerita untuk anak-anak. Namun bagaimana pemahaman dan pengamalan mereka terhadap agama ini, hanya sedikit kaum muslimin yang mau menggali dan mengikuti mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Yang lebih ironis, ada orang-orang yang mengaku sebagai kaum muslimin namun memiliki kebencian demikian besar kepada para shahabat Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>. Mereka berani melakukan celaan terhadap seorang shahabat atau beberapa shahabat Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>, sementara di sisi lain Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em> dan Rasul-Nya <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>\u00a0justru memuji mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Para shahabat Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0adalah orang-orang yang memiliki banyak keutamaan. Mereka adalah generasi terbaik dari umat Islam, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>. Lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang telah diridhai oleh Allah, dan banyak di antara mereka ketika masih hidup sudah mendapatkan kabar gembira yaitu akan dimasukkan ke dalam jannah (surga). Tidak ada keutamaan yang demikian tinggi seperti ini didapatkan oleh umat manapun, terlebih umat setelah mereka.\u00a0Abdullah bin Mas\u2019ud \u00a0ketika menggambarkan tentang para shahabat Rasulullah \u00a0<em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>berkata:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cSesungguhnya Allah melihat hati para hamba, maka Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em> \u00a0melihat hati Muhammad <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>\u00a0adalah sebaik-baik hati para hamba, maka dipilih untuk diri-Nya dan Dia utus membawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati-hati para hamba setelah hati Muhammad <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>, maka Allah melihat hati-hati para shahabatnya adalah sebaik-baik hati para hamba, maka Allah jadikan mereka sebagai pendukung-pendukungnya, berperang membela agamanya. Maka apa yang dilihat oleh kaum muslimin itu sebagai kebaikan, maka di sisi Allah adalah baik. Dan apa yang dilihat oleh mereka sebagai kejelekan maka di sisi Allah adalah jelek pula.\u201d (Asy-Syaikh Al-Albani berkata: Hadits ini shahih secara mauquf, diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi, Ahmad dan lain-lainnya dengan sanad yang hasan. Dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dengan gambaran di atas, kita mengetahui bahwa para shahabat adalah orang-orang yang istimewa yang memang sengaja Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0pilih untuk mendukung Rasul-Nya\u00a0<em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em> dalam mendakwahkan Islam. Tidak hanya itu, mereka bahkan banyak berperang membela Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>\u00a0dan membela agamanya. Tentunya Ibnu Mas\u2019ud tidak berkata berdasar hawa nafsunya atau disebabkan sifat ta\u2019ashub (fanatisme) karena beliau sendiri adalah seorang shahabat. Tetapi beliau menyatakan demikian karena bukti-bukti yang jelas dari ucapan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0dan Rasul-Nya <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>. Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em> berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cMuhammad itu adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku\u2019 dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. (di antara tafsirnya adalah kekhusyukan dan tawadhu\u2019, ed.) Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.\u201d (Al-Fath: 29)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kalimat\u00a0 (\u201cdan orang-orang yang bersamanya\u201d) di dalam ayat ini tentunya yang langsung dipahami secara teksnya adalah para shahabat, walaupun tidak menutup kemungkinan masuknya selain shahabat karena kalimat ma\u2019ahu juga bermakna bersama Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>\u00a0dalam agamanya. Sehingga Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menyatakan bahwa ini adalah keutamaan umat Islam khususnya para shahabat Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>. (Lihat Tafsirul Qur\u2019anil \u2018Azhim, juz IV, hal. 215)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sehingga para ulama menyatakan bahwa ayat ini adalah dalil yang sangat kuat tentang keutamaan para shahabat dan sekaligus haramnya mencerca dan menjatuhkan kedudukan mereka. Al-Imam Malik berdalil dengan firman Allah: (\u201cAllah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir\u201d) bahwa orang-orang Syi\u2019ah Rafidhah yang membenci para shahabat adalah kafir. Ibnu Katsir berkata: \u201cSekelompok ulama menyepakati ucapan Al-Imam Malik tersebut.\u201d (Lihat Tafsirul Qur`anil \u2018Azhim, juz IV, hal. 216)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Oleh karena itu Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0dengan tegas menyatakan bahwa keridhaan-Nya adalah untuk orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka. Hal ini bermakna perintah untuk seluruh kaum muslimin agar mengikuti para shahabat Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0dalam menerapkan Al Qur`an dan As Sunnah.\u00a0Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cOrang-orang yang terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.\u201d (At-Taubah: 100)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Al-Imam Asy-Syaukani \u00a0berkata: \u201cMakna kalimat\u00a0 \u201c(dan orang-orang yang mengikuti mereka\u201d) adalah orang-orang yang mengikuti generasi pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshar yaitu orang-orang yang datang belakangan, baik dari kalangan para shahabat (yakni yang datang setelah Fathu Makkah), maupun yang setelah mereka sampai hari kiamat.\u201d (Fathul Qadir, juz 2 hal. 398 )<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Allah Pisahkan Munafiqin dari Para Shahabat<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Di antara syubhat kaum Syi\u2019ah dan kaum mutasyayyi\u2019in (kaum yang terpengaruh syubhat Syi\u2019ah) adalah ucapan: \u201cShahabat Nabi itu tidak semuanya mukmin, ada pula di antara mereka yang munafiq atau fasik,\u201d \u201cMasalah iman itu kan masalah hati, bisa jadi pada lahirnya mereka seperti mukmin akan tetapi hatinya kafir,\u201d atau ucapan: \u201cSiapa tahu Abu Bakar dan Umar ternyata munafiq.\u201d Ucapan-ucapan syubhat dan tasykik (membuat ragu) ini sering mereka ucapkan untuk meragukan kemuliaan dan keimanan para shahabat Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>, dan pada akhirnya menjatuhkan kedudukan mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sesungguhnya, jika pertanyaan mereka (kaum Syi\u2019ah) adalah: \u201cSiapa yang tahu hati mereka?\u201d Maka jawabannya sangat jelas. Allahlah Yang Maha Mengetahui hati mereka, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan sungguh Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang\u00a0 beriman, dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang munafiq.\u201d (Al-Ankabut: 11)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah berjanji akan memberitahu ciri-ciri mereka secara detail. Bahkan dalam beberapa kejadian Allah I telah memisahkan siapa munafiqin dan siapa mukmin yaitu para shahabat Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0yang mulia. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cAllah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, hingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)\u2026\u201d (Ali \u2018Imran: 179)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Tentang ayat ini, Ibnu Katsir berkata: \u201c\u2026yaitu pasti Allah akan berikan suatu cobaan yang akan menampakkan wali-wali-Nya dan mempermalukan musuh-musuh-Nya, dan akan diketahui siapa mukmin yang sabar dan siapa munafik yang jahat\u2026\u201d (Tafsir Ibnu Katsir, 1\/468).\u00a0Juga Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0mengancam orang-orang munafiq untuk membongkar kedok mereka dalam ayat-Nya:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cAtau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka ? Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatanmu.\u201d (Muhammad: 29-30)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Para Shahabat adalah Orang-orang yang Telah Lulus Ujian<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0 memiliki hikmah dalam taqdir-Nya ketika menguji setiap orang yang mengaku beriman dengan berbagai macam ujian, sehingga terlihat siapa di antara mereka yang benar-benar beriman dan siapa yang berdusta (munafiq).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cAlif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan\u00a0 (saja)\u00a0 berkata: \u2018Kami telah beriman\u2019, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.\u201d (Al-\u2019Ankabut: 1-3)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ujian pertama yang dihadapi oleh orang-orang yang beriman dari kalangan para shahabat Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>adalah gangguan dan penyiksaan dari kaumnya di Makkah. Sebagian mereka disiksa dengan api, sebagian lainnya diusir, dicela dan dicaci-maki dengan berbagai macam tuduhan yang keji.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dengan demikian semua orang paham bahwa para shahabat yang masuk Islam di Makkah sebelum hijrah adalah orang-orang yang terbukti keimanannya dan terbebas dari tuduhan munafiq, karena tidak mungkin ada seorang yang berpura-pura masuk Islam ketika itu dicaci-maki dan disiksa.\u00a0Ujian berikutnya adalah perintah hijrah yaitu meninggalkan negerinya, tanah tumpah darahnya serta meninggalkan sanak saudaranya yang masih kafir untuk menaati perintah Allah dan Rasul-Nya <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>. Maka Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0 katakan tentang mereka:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201c(Juga) bagi orang faqir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.\u201d (Al-Hasyr: 8)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dalam ayat ini Allah memuji para Muhajirin dengan kalimat Ash-Shadiqin (orang-orang yang jujur dan benar imannya).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikian pula orang-orang yang beriman di Madinah, mereka menyambut dan mempersiapkan tempat bagi para Muhajirin, bahkan mereka lebih mementingkan tamu-tamunya tersebut melebihi diri dan keluarganya. Maka Allah pun memuji para shahabat dari kalangan Anshar tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) \u2018mencintai\u2019 orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.\u201d (Al-Hasyr: 9)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dalam ayat ini Allah menjuluki kaum Anshar dengan kalimat Al-Muflihun (orang-orang yang akan mendapatkan kemenangan dan kemuliaan).\u00a0 Merekalah yang disebut As-Sabiqunal Awwalun yaitu Muhajirin dan Anshar, sebagaimana disebutkan dalam Surat At-Taubah ayat 100 di atas.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Jihad sebagai Tolok Ukur<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ketika kaum muslimin mulai kuat dan di Madinah bertambah banyak , muncullah orang-orang yang berpura-pura mengaku sebagai muslim, pengikut Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>. Hal ini mereka lakukan agar terlindung dirinya dan hartanya, yakni karena takut dibunuh dan dirampas hartanya sebagai pampasan perang.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Tentu saja mereka itu adalah kaum yang paling tidak suka terhadap sesuatu yang akan mengorbankan diri dan hartanya. Sehingga ketika turun perintah untuk berjihad, terlihatlah yang paling pertama menolak dan menghindarinya -dengan alasan yang dibuat-buat-, adalah para munafiqin. Dengan perintah untuk berjihad ini terpisahlah dengan jelas antara dua golongan yaitu mereka yang lulus (mukmin) dan yang gagal (munafiq).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan sesungguhnya Kami benar-benar\u00a0 akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) keadaan kalian.\u201d (Muhammad: 31)<\/em>.\u00a0Tentang yang lulus pada ujian ini, Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0\u00a0katakan:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia.\u201d (Al-Anfal: 74)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.\u201d (Al-Hujurat: 15)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dalam ayat di atas, Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0kembali memuji mereka dan menggelari mereka sebagai Ash-Shadiqun yaitu orang-orang yang jujur dan benar keimanannya, bukan munafiqin.\u00a0Adapun orang-orang yang tidak jujur alias pendusta, berpura-pura masuk Islam, tetapi memendam kekafiran dan penentangan dalam hatinya, mereka telah gagal dalam menghadapi ujian yang berat ini. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0tampakkan kemunafiqan mereka dalam beberapa peristiwa.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Setiap kali mereka berupaya untuk menghindari jihad dengan berbagai kedustaan dan sumpah palsu, Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0menurunkan ayat-Nya yang menceritakan alasan-alasan mereka itu. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0\u00a0katakan dalam ayat-ayat tersebut dengan kalimat: \u201cBerkata munafiqin\u2026\u201d atau kalimat \u201cBerkata dengan mulutnya yang tidak ada dalam hatinya\u2026\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sehingga Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>\u00a0dan para shahabatnya mengerti tentang siapa orang-orang munafiqin. Bahkan kaum muslimin pun mengetahuinya.\u00a0Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSupaya diketahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: \u201cMarilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).\u201d Mereka berkata: \u201cSekiranya kami mengetahui peperangan, tentulah kami mengikutimu.\u201d Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.\u201d (Ali \u2018Imran: 167)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cApakah kalian tidak memperhatikan orang-orang munafiq yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: \u201cSesungguhnya jika kalian diusir niscaya kamipun akan keluar bersama kalian; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kalian, dan jika kalian diperangi pasti kami akan membantu kalian.\u201d Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.\u201d (Al-Hasyr: 11)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201c(Ingatlah), ketika orang-orang munafiq dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: \u201cMereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya\u201d. (Allah berfirman): \u201cBarangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.\u201d (Al-Anfal: 49)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cAllah berfirman: Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:\u201dAllah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.\u201d (Al-Ahzab: 12)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Selain dengan kalimat-kalimat tersebut di atas, Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0\u00a0juga jelaskan tentang mereka dengan kalimat yang semakna dan senada seperti Al-Mukhallafuun yakni orang-orang yang menghindar dari jihad, \u201cyang tidak jujur\u201d, atau \u201cyang di hatinya ada penyakit\u201d dan lain-lainnya.\u00a0Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cOrang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: \u201cJanganlah kalian berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini\u201d. Katakanlah: \u201cApi jahannam itu lebih sangat panas(nya)\u201d, jika mereka mengetahui.\u201d (At-Taubah: 81)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cOrang-orang Badui yang\u00a0 tertinggal\u00a0 (tidak\u00a0 turut\u00a0 ke\u00a0 Hudaibiyah)\u00a0 akan mengatakan:\u00a0 \u201cHarta\u00a0 dan\u00a0 keluarga\u00a0 kami\u00a0 telah\u00a0 merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami,\u201d mereka mengucapkan dengan lidahnya\u00a0 apa yang\u00a0 tidak\u00a0 ada\u00a0 dalam\u00a0 hatinya. Katakanlah: \u201cMaka siapakah (gerangan) yang\u00a0 dapat\u00a0 menghalang-halangi\u00a0 kehendak\u00a0 Allah\u00a0 jika\u00a0 Dia\u00a0 menghendaki kemudharatan bagimu atau\u00a0\u00a0 jika\u00a0 Dia\u00a0 menghendaki\u00a0 manfaat\u00a0 bagimu? Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.\u201d (Al-Fath: 11)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cDan orang-orang yang beriman berkata: \u2018Mengapa tiada diturunkan suatu surat?\u2019 Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka.\u201d (Muhammad: 20)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Demikianlah, dengan adanya perintah jihad, terpisahlah antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang munafiq. Dan para shahabat adalah orang-orang yang telah terbukti keimanan mereka, sehingga mereka sama sekali bukan kaum munafiq. Dengan keimanan yang jujur itulah Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0memberi kemuliaan yang demikian banyak kepada mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber : <strong><a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/sahabat-rasulullah-adalah-orang-orang-pilihan\/\" target=\"_blank\">Majalah Asy Syariah<\/a><\/strong><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAHABAT RASULULLAH ADALAH ORANG-ORANG PILIHAN Ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed Ketika Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0mendakwahkan ajaran Islam, hanya segelintir orang yang mau mengikuti ajakan beliau. Sebagian besar manusia justru menentang beliau dengan permusuhan yang demikian keras. Orang-orang yang mau menerima ajakan Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0itulah para shahabat. Mereka adalah umat yang memiliki [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5145,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[1336,1335],"class_list":["post-5115","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-manhaj","tag-shahabatnabiorangorangpilihan","tag-wajibnyamengikutishahabat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5115","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5115"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5115\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5145"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5115"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5115"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5115"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}