{"id":4996,"date":"2014-07-29T17:09:19","date_gmt":"2014-07-29T09:09:19","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=4996"},"modified":"2015-08-10T08:16:57","modified_gmt":"2015-08-10T00:16:57","slug":"membantah-hujah-praktik-nikah-mutah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=4996","title":{"rendered":"MEMBANTAH HUJAH PRAKTIK MUT&#8217;AH"},"content":{"rendered":"<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong>MEMBANTAH HUJAH PRAKTIK MUT&#8217;AH<\/strong><\/p>\n<div class=\"wrap-post\" style=\"color: #444444;\">\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #800000;\"><em>Ditulis oleh: \u00a0Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai<\/em><\/span><\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: left;\">\u0639\u064e\u0646\u0652 \u0639\u064e\u0644\u0650\u064a\u0651\u064d \u0623\u064e\u0646\u0651\u064e\u0647\u064f \u0633\u064e\u0645\u0650\u0639\u064e \u0627\u0628\u0652\u0646\u064e \u0639\u064e\u0628\u0651\u064e\u0627\u0633\u064d \u064a\u064f\u0644\u064e\u064a\u0651\u0650\u0646\u064f \u0641\u0650\u064a \u0645\u064f\u062a\u0652\u0639\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u0646\u0651\u0650\u0633\u064e\u0627\u0621\u0650 \u0641\u064e\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0645\u064e\u0647\u0652\u0644\u064b\u0627 \u064a\u064e\u0627 \u0627\u0628\u0652\u0646\u064e \u0639\u064e\u0628\u0651\u064e\u0627\u0633\u064d\u060c \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064e\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u0650, \u0646\u064e\u0647\u064e\u0649 \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064e\u0627 \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u062e\u064e\u064a\u0652\u0628\u064e\u0631\u064e \u0648\u064e\u0639\u064e\u0646\u0652 \u0644\u064f\u062d\u064f\u0648\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0652\u062d\u064f\u0645\u064f\u0631\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u0646\u0652\u0633\u0650\u064a\u0651\u064e\u0629\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ali bin Abi Thalib\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>\u00a0pernah mendengar Ibnu Abbas\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>ma bersikap lunak tentang praktik mut\u2019ah atas kaum wanita. Lalu, Ali bin Abi Thalib\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>\u00a0pun menegur, \u201cHati-hati, wahai Ibnu Abbas! Sebab, sesungguhnya Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam\u00a0<\/i>telah melarang praktik mut\u2019ah pada Perang Khaibar. Demikian juga, beliau melarang untuk mengonsumsi keledai peliharaan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Ibnu Abbas\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>\u00a0Membolehkan Mut\u2019ah?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Awalnya, Ibnu Abbas\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i><em>ma<\/em> memang memperbolehkan nikah mut\u2019ah (HR. al-Bukhari no. 5116 dan Muslim no. 1407). Namun, beliau diingkari oleh para sahabat, seperti Abdullah bin Umar, Abdullah bin az- Zubair, dan tentu saja Ali bin Abi Thalib\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>, sebagaimana halnya riwayat di atas. Dalam beberapa riwayat diterangkan bahwa pendapat Ibnu Abbas itu pun hanya dalam keadaan darurat, sebagaimana halnya hukum darah, bangkai, dan daging babi. Hanya saja, sebagian orang bermudah-mudah dengan fatwa tersebut. Akhirnya, Ibnu Abbas pun rujuk dan mencabut fatwa tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Abu \u2018Awanah (al-Mustakhraj, no. 4057) meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari ar-Rabi\u2019 bin Sabrah, beliau berkata, \u201cSebelum meninggal dunia, Ibnu Abbas telah rujuk dari fatwa tersebut.\u201d Lalu, apakah termasuk sikap adil, menisbatkan satu pendapat kepada seseorang, sementara ia sendiri telah rujuk dan mencabut pendapat tersebut?<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Satu dari Dosa Syiah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Na\u2019udzu billah minal hawa wal bida\u2019! Benar-benar sebuah kejahatan dan kekejian besar! Agama diperalat sebagai alat pembenaran untuk melakukan sebuah dosa nista. Dengan iming-iming praktik mut\u2019ah, sudah sekian banyak kaum\u00a0 muda menjadi korban paham Syiah yang menyesatkan. Setumpuk hadits palsu tentang pahala dan derajat tinggi bagi pelaku mut\u2019ah tanpa malu dan rasa takut kepada Allah\u00a0<i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i><\/i>\u00a0disodorkan kepada kaum muda. Kejahilan akan hakikat Islam semakin memperparah kondisi mereka. Akhirnya? \u201cSaya benar-benar menyesal! Lebih baik mati daripada hidup seperti ini. Saya menyangka praktik mut\u2019ah adalah bagian dari syariat Islam. Ternyata, dusta kaum Syiah belaka!\u201d sesal seorang pemuda.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Mut\u2019ah sendiri artinya bentuk akad dengan seorang wanita untuk berhubungan suami istri, baik dalam jangka waktu tertentu maupun tidak, asalkan tidak lebih dari empat puluh lima hari, tanpa ada keharusan menafkahi, tidak menyebabkan saling mewarisi, tidak mengharuskan nasab, dan tanpa masa iddah. Bahkan, kalangan Syiah tidak mensyaratkan adanya wali dan saksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Takhrij Hadits<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hadits di atas diriwayatkan oleh al- Imam al-Bukhari (no. 1407), al-Imam Muslim (no. 4216), Ahmad (1\/79), an-Nasa\u2019i (6\/125), at-Tirmidzi (no. 1121), dan Ibnu Majah (1961), lafadz hadits di atas adalah lafadz al-Imam Muslim rahimahumullah. Hadits di atas diriwayatkan dari Nabi Muhammad\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>\u00a0oleh Ali bin Abi Thalib\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>, sahabat yang dihormati, dimuliakan, dan dijunjung tinggi oleh seluruh kaum muslimin, termasuk oleh kaum Syiah. Bahkan, menurut Syiah, Ali bin Abi Thalib\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>\u00a0dianggap sebagai junjungan tertinggi mereka. Lantas mengapa mereka tidak meneladani Ali bin Abi Thalib\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>\u00a0yang menegaskan bahwa praktik mut\u2019ah telah diharamkan sampai hari kiamat?<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kemudian, siapakah perawi yang menyambung mata rantai sanad hadits di atas? Tidak lain putra kandung Ali bin Abi Thalib\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>\u00a0sendiri yang bernama Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, yang lebih dikenal dengan Muhammad bin al-Hanafiyyah. Siapakah perawi yang berikutnya? Dua orang perawi. Kedua-duanya adalah putra kandung Muhammad bin al- Hanafiyyah, cucu Ali bin Abi Thalib. Pertama, Al-Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib; yang kedua adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib. Bagi kaum Syiah yang mengaku cinta kepada Ali bin Abi Thalib<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>, buktikan kecintaan itu dengan meneladani beliau dan anak cucu beliau g yang telah melarang praktik mut\u2019ah!<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Hadits-Hadits tentang Mut\u2019ah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Riwayat dari Nabi Muhammad\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>\u00a0tentang praktik mut\u2019ah memang berbeda-beda. Ada sebagian riwayat menunjukkan tentang haramnya praktik mut\u2019ah, namun ada juga riwayat yang secara jelas menerangkan bolehnya praktik mut\u2019ah. Di sini salah satu letak keanehan kaum Syiah! Mereka berargumen dengan hadits-hadits yang membolehkan praktik mut\u2019ah, padahal mereka sendiri mencela dan menolak kitab-kitab hadits yang meriwayatkan tentang bolehnya praktik mut\u2019ah. Bagi mereka dan yang sependapat, hanya hadits-hadits yang membolehkan praktik mut\u2019ah saja yang diterima. Sementara itu, seorang muslim yang berusaha memahami hadits dengan bimbingan ulama, dengan mudahnya memahami riwayat-riwayat tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Jika riwayat-riwayat tersebut direkonstruksi dengan sejarah, kesimpulan akhirnya akan sejalan dengan keterangan al-Imam an Nawawi\u00a0<i>rahimahullah<\/i>\u00a0dalam Syarah Shahih Muslim. Beliau mengatakan, \u201cPendapat yang benar dan dipilih, pengharaman dan pembolehan nikah mut\u2019ah masing-masing terjadi sebanyak dua kali. Sebelum peristiwa Khaibar dihalalkan, kemudian pada saat perang Khaibar diharamkan. Lalu ketika terjadi Fathu Makkah\u2014termasuk Perang Authas karena bersambung\u2014, nikah mut\u2019ah diperbolehkan lagi. Akan tetapi, tiga hari kemudian, nikah mut\u2019ah diharamkan untuk selamanya sampai hari kiamat.\u201d Sahabat Rabi\u2019 bin Sabrah\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>\u00a0berkata,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: left;\">\u0623\u064e\u0645\u064e\u0631\u064e\u0646\u064e\u0627 \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650, \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u062a\u0652\u0639\u064e\u0629\u0650 \u0639\u064e\u0627\u0645\u064e \u0627\u0644\u0652\u0641\u064e\u062a\u0652\u062d\u0650 \u062d\u0650\u064a\u0646\u064e\u00a0 \u062f\u064e\u062e\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0645\u064e\u0643\u0651\u064e\u0629\u064e\u060c \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0644\u064e\u0645\u0652 \u0646\u064e\u062e\u0652\u0631\u064f\u062c\u0652 \u0645\u0650\u0646\u0652\u0647\u064e\u0627 \u062d\u064e\u062a\u0651\u064e\u0649 \u0646\u064e\u0647\u064e\u0627\u0646\u064e\u0627 \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064e\u0627<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cPada tahun Fathu Makkah, Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>\u00a0mengizinkan kami untuk melakukan mut\u2019ah ketika kami memasuki kota Makkah. Kemudian, tidaklah kami keluar meninggalkan kota Makkah kecuali dalam keadaan Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>\u00a0telah mengharamkannya untuk kami.\u201d (HR. Muslim no. 1406)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Pada saat itu, Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>\u00a0bersabda,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: left;\">\u064a\u064e\u0627 \u0623\u064e\u064a\u0651\u064f\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u064f\u060c \u0625\u0650\u0646\u0650\u0651\u064a \u0642\u064e\u062f\u0652 \u0643\u064f\u0646\u0652\u062a\u064f \u0623\u064e\u0630\u0650\u0646\u0652\u062a\u064f \u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0641\u0650\u064a \u0627 \u0633\u0652\u0627\u0644\u0650\u0652\u062a\u0650\u0645\u0652\u062a\u064e\u0627\u0639\u0650 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0646\u0651\u0650\u0633\u064e\u0627\u0621\u0650\u060c \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u064e \u0642\u064e\u062f\u0652 \u062d\u064e\u0631\u0651\u064e\u0645\u064e \u0630\u064e\u0644\u0650\u0643\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0642\u0650\u064a\u064e\u0627\u0645\u064e\u0629\u0650\u060c \u0641\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0639\u0650\u0646\u0652\u062f\u064e\u0647\u064f \u0645\u0650\u0646\u0652\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0634\u064e\u064a\u0652\u0621\u064c \u0641\u064e\u0644\u0652\u064a\u064f\u062e\u064e\u0644\u0650\u0651 \u0633\u064e\u0628\u0650\u064a\u0644\u064e\u0647\u064f \u0648\u064e \u062a\u064e\u0623\u0652\u062e\u064f\u0630\u064f\u0648\u0627 \u0645\u0650\u0645\u0651\u064e\u0627 \u0622\u062a\u064e\u064a\u0652\u062a\u064f\u0645\u064f\u0648\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0634\u064e\u064a\u0652\u0626\u064b\u0627<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cWahai manusia, sesungguhnya dahulu aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan mut\u2019ah atas kaum wanita. Sesungguhnya Allah telah\u00a0<i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i><\/i>\u00a0mengharamkan mut\u2019ah sampai hari kiamat. Barang siapa masih terikat mut\u2019ah dengan wanita, tinggalkanlah dia dan janganlah kalian mengambil kembali barang yang telah diberikan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Ijma\u2019 Ulama<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Selain itu, seluruh ulama kaum muslimin telah sepakat tentang haramnya praktik mut\u2019ah. Jadi, siapa pun yang berpendirian bolehnya praktik mut\u2019ah, sama artinya dengan menyelisihi ijma\u2019 kaum muslimin. Ibnu Hubairah\u00a0<i>rahimahullah<\/i>\u00a0menegaskan, \u201cAlim ulama telah berijma\u2019 bahwa nikah mut\u2019ah hukumnya batil. Tidak ada sedikit pun perselisihan di antara mereka.\u201d Al-Qurthubi\u00a0<i>rahimahullah<\/i>menyatakan, \u201cSeluruh riwayat bersepakat bahwa masa diperbolehkannya nikah mut\u2019ah tidaklah terlalu lama. Kemudian, setelah itu nikah mut\u2019ah diharamkan. Berikutnya, ulama salaf dan khalaf telah berijma\u2019 tentang diharamkannya nikah mut\u2019ah, kecuali kaum Rafidhah yang tidak perlu dianggap.\u201d (Taudhihul Ahkam, karya Alu Bassam 5\/294)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Selain beliau berdua, masih banyak lagi ulama yang menyatakan bahwa praktik mut\u2019ah diharamkan secara ijma\u2019, antara lain al-Jashash\u00a0<i>rahimahullah<\/i>\u00a0(Tafsir 2\/153), Ibnul Mundzir\u00a0<i>rahimahullah<\/i>\u00a0(Majmu\u2019 Syarhil Muhadzab, 16\/254), Ibnu Abdil Barr\u00a0<i>rahimahullah<\/i>\u00a0(al-Istidzkar, 16\/294), al-Maziri\u00a0<i>rahimahullah<\/i>\u00a0(al-Mu\u2019lim, 2\/131), al-Qadhi \u2018Iyadh\u00a0<i>rahimahullah<\/i>\u00a0(Syarah Muslim 9\/181), dan al-Hamadzani\u00a0<i>rahimahullah<\/i>\u00a0(al- I\u2019tibar, hlm. 177).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Apakah Umar bin al-Khaththab\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>\u00a0yang Melarang Mut\u2019ah?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sebuah riwayat dari Jabir bin Abdillah\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>\u00a0diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 1405).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Beliau mengatakan,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: left;\">\u0641\u064e\u0639\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627\u0647\u064f\u0645\u064e\u0627 \u0645\u064e\u0639\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650, \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0646\u064e\u0647\u064e\u0627\u0646\u064e\u0627 \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064f\u0645\u064e\u0627\u00a0 \u0639\u064f\u0645\u064e\u0631\u064f \u0641\u064e\u0644\u064e\u0645\u0652 \u0646\u064e\u0639\u064f\u062f\u0652 \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u064e\u0627<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cKami melakukan keduanya (mut\u2019ah dan haji tamattu\u2019) di masa Rasulullah. Kemudian Umar melarang kami untuk melakukannya. Sejak itu, kami tidak mengulanginya lagi.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kaum Syiah bersandar kepada riwayat Jabir di atas untuk mempertahankan praktik mut\u2019ah. Alasan mereka, bukan Nabi Muhammad\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>\u00a0yang melarang, melainkan Umar bin al-Khaththab\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>. Lihatlah bagaimana mereka memaksakan pendapat! Padahal ketika Umar bin Khaththab\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>\u00a0diangkat sebagai Amirul Mukminin (Ibnu Majah, 1963), beliau menyampaikan khutbah, \u201cSesungguhnya, dahulu, Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>\u00a0memang mengizinkan kita selama tiga hari untuk melakukan mut\u2019ah, tetapi setelah itu beliau\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>\u00a0mengharamkannya. Demi Allah, tidaklah aku mengetahui ada seseorang yang melakukan mut\u2019ah dalam keadaan dia muhshan kecuali pasti akan aku rajam dia dengan batu.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kecuali jika dia mampu mendatangkan empat saksi yang memberikan kesaksian bahwa Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>\u00a0telah menghalalkannya setelah diharamkan.\u201d Ath-Thahawi\u00a0<i>rahimahullah<\/i>\u00a0(Ma\u2019anis Sunan, 2\/258) mengatakan, \u201cInilah Umar yang telah melarang mut\u2019ah untuk kaum wanita di hadapan para sahabat yang lain\u00a0 dan beliau tidak diingkari. Hal ini menunjukkan bahwa para sahabat sepakat dengan beliau untuk melarang mut\u2019ah. Kesepakatan mereka ini\u2014untuk melarang mut\u2019ah\u2014adalah dalil bahwa hukum diperbolehkannya mut\u2019ah telah dihapus, sekaligus sebagai hujah.\u201d\u00a0<strong>Sebagian Ulama Membolehkan?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Di dalam beberapa referensi, memang disebutkan beberapa nama sahabat dan tabi\u2019in yang memperbolehkan praktik mut\u2019ah. Sebut saja Abdullah bin Mas\u2019ud, Mu\u2019awiyah, Abu Sa\u2019id, Salamah dari kalangan sahabat, Amr bin Huraits, Thawus, dan Sa\u2019id bin Jubair rahimahumullah dari kalangan tabi\u2019in. Hanya saja, semua riwayat dari mereka tidak terlepas dari dua kemungkinan:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Mereka telah rujuk dan mencabut pendapat tersebut, atau<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Diriwayatkan melalui sanad yang lemah. Al Hafizh Ibnu Hajar\u00a0<i>rahimahullah<\/i>\u00a0membahas riwayat-riwayat tersebut secara rinci dalam kitab beliau Fathul Bari (10\/216\u2014218) dengan keterangan yang memuaskan. Walhamdulillah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Ayat Mut\u2019ah dalam Al-Qur\u2019an?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Syiah masih juga memperjuangkan praktik mut\u2019ah dengan menukil firman Allah\u00a0<i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i><\/i>di dalam surat an-Nisa\u2019 ayat 24,<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: left;\">\u0641\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0645\u0652\u062a\u064e\u0639\u0652\u062a\u064f\u0645 \u0628\u0650\u0647\u0650 \u0645\u0650\u0646\u0652\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0641\u064e\u0622\u062a\u064f\u0648\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0623\u064f\u062c\u064f\u0648\u0631\u064e\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0641\u064e\u0631\u0650\u064a\u0636\u064e\u0629\u064b \u06da<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cMaka istri-istri yang telah kamu nikmati (campur) di antara mereka, berikanlah kepada mereka mut\u2019ahnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Mayoritas ahli tafsir menerangkan bahwa ayat di atas berkenaan dengan akad nikah yang biasa dikenal, bukan praktik mut\u2019ah. Maksudnya, jika salah seorang di antara kalian menikahi seorang wanita, hendaknya ia menyerahkan mahar untuknya. Memang ada beberapa ahli tafsir yang menyatakan bahwa ayat ini terkait dengan praktik mut\u2019ah. Akan tetapi, mereka sendiri menegaskan bahwa hukum mut\u2019ah telah mansukh (gugur) dengan hadits-hadits yang sahih. Wallahu a\u2019lam.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Selain ayat di atas, kalangan Syiah juga menyebutkan beberapa ayat al- Qur\u2019an yang diklaim sebagai landasan dari praktik mut\u2019ah. Ayat-ayat tersebut antara lain; al-Baqarah: 236, al- Baqarah: 241, al-Ahzab: 28, dan al-Ahzab: 49.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Cukuplah sebagai jawaban untuk mereka, pernyataan tegas az-Zujjaj (Syarah an-Nasa\u2019i karya al-Atyubi 28\/), \u201cSesungguhnya, sebagian kalangan telah terjatuh dalam kesalahan fatal berkenaan ayat ini karena kebodohan mereka terhadap lughah (bahasa Arab).\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Seorang Pemuda dan Rasulullah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sebagai bukti lain kejahatan kaum Syiah dalam praktik mut\u2019ah, mereka sendiri\u2014terutama kalangan tokoh dan pimpinan Syiah\u2014akan merasa keberatan jika praktik mut\u2019ah itu dilakukan terhadap keluarga mereka, baik ibu, istri, putri, saudara perempuan, maupun bibi mereka. Semakin jelaslah bahwa praktik mut\u2019ah adalah praktik zina yang dilakukan atas nama agama. Na\u2019udzu billah min dzalik. Simaklah hadits Abu Umamah\u00a0<i><i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i><\/i>\u00a0berikut ini, yang dikeluarkan oleh al- Imam Ahmad\u00a0<i>rahimahullah<\/i>\u00a0dan dinyatakan sahih oleh al-Albani. Seorang pemuda datang menemui Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>\u00a0untuk meminta izin agar diperbolehkan melakukan perbuatan zina.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dengan penuh kasih sayang, Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>\u00a0mengarahkan cara berpikir pemuda tersebut. Beliau bertanya, \u201cRelakah engkau jika hal itu terjadi pada ibumu? Relakah engkau jika hal itu terjadi pada putrimu? Relakah engkau jika hal itu terjadi pada saudara perempuanmu? Relakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (dari jalur ayah)? Relakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (dari jalur ibu)?\u201d Setiap kali Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>\u00a0bertanya, pemuda itu pasti menjawab, \u201cTentu tidak! Demi Allah! Allah\u00a0<i><i>Subhanahu wata\u2019ala<\/i><\/i>\u00a0menjadikanku sebagai tebusan Anda.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah\u00a0<i>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/i>\u00a0bersabda, \u201cKalau begitu, orang-orang pun tidak rela jika hal itu terjadi pada ibu, putri, saudara perempuan, dan bibi mereka!\u201d Oleh karena itu, siapa pun yang berpendapat tentang bolehnya praktik mut\u2019ah, apakah ia bisa menerima jika praktik mut\u2019ah dilakukan kepada ibu, putri, atau saudara perempuannya??? Masih banyak lagi sisi-sisi buruk dan jahat dari praktik mut\u2019ah yang tidak dapat diuraikan dalam pembahasan ringkas ini, baik secara sosial kemasyarakatan, kesehatan, tatanan keluarga, ekonomi, pelecehan kaum wanita, dan lain-lain. Namun, sedikit keterangan di atas sebenarnya telah lebih dari cukup untuk menegaskan haramnya praktik mut\u2019ah. Bagi orang yang berakal, tentunya! Wallahul muwaffiq.&#8217;<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber : <a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/hadist-membantah-hujah-praktik-mutah\/\" target=\"_blank\"><strong>Majalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MEMBANTAH HUJAH PRAKTIK MUT&#8217;AH Ditulis oleh: \u00a0Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0639\u064e\u0644\u0650\u064a\u0651\u064d \u0623\u064e\u0646\u0651\u064e\u0647\u064f \u0633\u064e\u0645\u0650\u0639\u064e \u0627\u0628\u0652\u0646\u064e \u0639\u064e\u0628\u0651\u064e\u0627\u0633\u064d \u064a\u064f\u0644\u064e\u064a\u0651\u0650\u0646\u064f \u0641\u0650\u064a \u0645\u064f\u062a\u0652\u0639\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u0646\u0651\u0650\u0633\u064e\u0627\u0621\u0650 \u0641\u064e\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0645\u064e\u0647\u0652\u0644\u064b\u0627 \u064a\u064e\u0627 \u0627\u0628\u0652\u0646\u064e \u0639\u064e\u0628\u0651\u064e\u0627\u0633\u064d\u060c \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064e\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u0650, \u0646\u064e\u0647\u064e\u0649 \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064e\u0627 \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u062e\u064e\u064a\u0652\u0628\u064e\u0631\u064e \u0648\u064e\u0639\u064e\u0646\u0652 \u0644\u064f\u062d\u064f\u0648\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0652\u062d\u064f\u0645\u064f\u0631\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u0646\u0652\u0633\u0650\u064a\u0651\u064e\u0629\u0650 Ali bin Abi Thalib\u00a0radhiyallahu \u2018anhu\u00a0pernah mendengar Ibnu Abbas\u00a0radhiyallahu \u2018anhuma bersikap lunak tentang praktik mut\u2019ah atas kaum wanita. Lalu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10156,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[923],"tags":[1304,1306,1305],"class_list":["post-4996","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hadits-2","tag-haditsnikahmutah","tag-kesesatansyiah","tag-mutahsyiah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4996","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4996"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4996\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/10156"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4996"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4996"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4996"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}