{"id":4955,"date":"2014-07-27T12:32:39","date_gmt":"2014-07-27T04:32:39","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=4955"},"modified":"2015-08-10T08:16:51","modified_gmt":"2015-08-10T00:16:51","slug":"kesan-indah-dalam-teguran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=4955","title":{"rendered":"KESAN INDAH DALAM TEGURAN"},"content":{"rendered":"<p style=\"color: #444444; text-align: left;\"><strong>KESAN INDAH DALAM TEGURAN<\/strong><\/p>\n<div class=\"wrap-post\" style=\"color: #444444;\">\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #800000;\"><em>Ditulis oleh: Al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dari Anas bin Malik <em>Radhiyallahu &#8216;anhu<\/em>, beliau berkisah:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSeorang Arab badui datang. Ia lantas buang air kecil di salah satu sudut masjid. Orang-orang berusaha untuk menghalangi, namun Nabi <em>Shalallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0justru melarang mereka. Setelah ia selesai dari hajatnya, Rasulullah <em>Shalallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0memerintahkan untuk menyediakan seember air. Kemudian, air tersebut diguyurkan ke tempat (buang air kecil) tersebut.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Derajat Hadits<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari (no. 221) dan Muslim (no. 284 &amp; 285).<br \/>\nDalam riwayat Abu Dawud (ash-Shahihah, 380) ditambahkan lafadz yang menyebutkan, \u201cLalu orang badui tersebut berdoa, \u2018Ya Allah, berikanlah rahmat untuk diriku dan Muhammad. Janganlah engkau merahmati orang lain selain kami.\u2019 Nabi Muhammad menyatakan, \u2018Sungguh, engkau telah mempersempit sesuatu yang luas\u2019.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Makna Hadits<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-\u2018Utsaimin berkata menjelaskan hadits ini, \u201cPada umumnya, watak asli orang-orang Arab dari pedalaman (badui) adalah kaku dan jahil terhadap hukum-hukum Allah <em>Subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0<\/em>\u00a0Apa yang ada di dalam hadits Anas\u00a0<em>Radhiyallahu &#8216;anhu<\/em> \u00a0ini adalah salah satu contohnya. Seorang Arab badui masuk ke Masjid Nabi di kota Madinah. Saat itu, Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0dan para sahabat sedang berada di dalam masjid. Orang badui tersebut lalu berjalan menuju salah satu sudut masjid, kemudian duduk dan buang air kecil. Perbuatan itu dianggap sebagai kesalahan besar oleh para sahabat. Mereka pun berteriak ingin menghalanginya. Akan tetapi, Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>\u00a0malah melarang mereka, karena kelemah lembutan dan perhatian beliau terhadap orang jahil. Dengan hal ini, beliau sekaligus memberi pengajaran kepada umat agar mereka menyelesaikan berbagai persoalan dengan cara hikmah dan lemah lembut. Bisa jadi, jika orang badui tersebut dilarang, ia akan bangkit berdiri (sebelum selesai hajatnya) dan benda najis justru akan mengenai pakaian dan badannya, serta tercecer pada beberapa tempat di dalam masjid. Bahkan, ia akan mengalami gangguan karena menghentikan hajatnya secara terpaksa.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Setelah menyelesaikan hajatnya dan hilanglah hal-hal yang dikhawatirkan di atas, Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0memerintah para sahabat menghilangkan bekas kencingnya dengan membersihkan tempat tersebut. Beliau <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0memerintahkan tempat itu diguyur dengan menggunakan seember air.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Al-Imam Muslim \u00a0menambahkan riwayat, \u201cSetelah itu Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda kepada orang badui tersebut, \u2018Sesungguhnya, masjid tidaklah pantas untuk membuang air atau kotoran. Masjid hanyalah untuk berzikir kepada Allah <em>Subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>, shalat, dan membaca Al-Qur\u2019an.\u2019 Atau sebagaimana yang disabdakan beliau.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Di dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Hurairah , Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0memerintah para sahabat untuk membiarkannya. Setelah itu, beliau <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda, \u201cSesungguhnya, kalian diutus untuk memberi kemudahan. Kalian tidaklah diutus untuk menimbulkan kesusahan.\u201d (Tanbihul Afham 1\/87\u201488)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Asy-Syaikh Alu Bassam menerangkan alasan sikap lemah lembut Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0terhadap orang badui tersebut, yaitu agar nasihat dan pelajaran lebih mudah diterima saat beliau sampaikan. (Taisirul \u2018Allam 1\/88)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Menumbuhkan Mental Seorang Penasihat<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Al-Imam an-Nawawi menjelaskan, \u201cKetahuilah, sesungguhnya pembahasan ini, yaitu amar ma\u2019ruf nahi mungkar, telah sering diabaikan semenjak dahulu. Hanya sedikit yang tersisa. Kewajiban ini adalah urusan besar. Dengannya, urusan menjadi tegak dan kokoh, karena jika keburukan telah banyak menyebar, siksa akan dirasakan oleh orang baik dan orang jahat. Apabila mereka tidak mencegah perbuatan zalim, telah dekat masanya Allah <em>Subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0akan menurunkan siksa secara merata. Hendaknya orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya berhati-hati akan ditimpakan kepada mereka ujian atau azab yang pedih. Semestinya, para pencari akhirat dan pengejar ridha Allah <em>Subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0memerhatikan kewajiban ini karena manfaatnya sangat besar. Lebih-lebih saat sebagian besar amar ma\u2019ruf nahi mungkar telah hilang. Hendaknya ia mengikhlaskan niat dan tidak merasa takut terhadap orang yang ia ingkari karena kedudukannya amat tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sesungguhnya Allah <em>Subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.\u201d (al-Hajj: 40)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.\u201d (Ali Imran: 101)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.\u201d (al-Ankabut: 69)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, \u201cKami telah beriman\u201d, dan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (al-Ankabut: 2\u20143)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ketahuilah, pahala yang diperoleh itu sesuai dengan kadar kesulitan. Hendaknya, ia tidak meninggalkan kewajiban ini dengan alasan persahabatan, hubungan kasih sayang, sengaja mengelak, mencari muka, atau mempertahankan kedudukan. Sebab, persahabatan dan hubungan kasih sayang menghadirkan kehormatan dan hak. Sebagai bentuk haknya, ia memberinya nasihat, membimbingnya kepada kemaslahatan akhirat, dan menyelamatkan dirinya dari mudarat.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Teman dan kekasih adalah orang yang berusaha memperbaiki urusan akhiratnya meskipun menyebabkan dunianya berkurang. Adapun musuh adalah orang yang berupaya melenyapkan atau mengurangi urusan akhiratnya meskipun dengan itu ia memperoleh gambaran manfaat di dunia. Sesungguhnya, Iblis lah musuh kita, sedangkan para nabi adalah kekasih kaum mukminin karena usaha mereka untuk kemaslahatan akhirat dan hidayah mereka.<br \/>\nKita memohon, agar Allah Yang Mahamulia mencurahkan taufik kepada kita, orang-orang tercinta, dan kaum muslimin secara keseluruhan sehingga memperoleh keridhaan-Nya. Semoga Allah <em>Subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0<\/em>mencurahkan kedermawanan dan rahmat-Nya untuk kita. Wallahu a\u2019lam.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Pelaksana amar ma\u2019ruf nahi mungkar sendiri semestinya bersikap lemah lembut agar lebih memungkinkan meraih tujuan. Al-Imam asy-Syafi\u2019i t pernah berpetuah, \u201cBarang siapa menegur saudaranya secara diam-diam, ia telah memberikan untuknya nasihat dan menghiasi dirinya. Adapun seseorang yang menegur saudaranya secara terbuka (di muka umum), ia telah membuat saudaranya malu dan merasa buruk.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Di antara bentuk amar ma\u2019ruf nahi mungkar yang diremehkan oleh sebagian besar kaum muslimin adalah ketika seseorang menyaksikan orang lain menjual barang dagangan yang memiliki cacat atau semisalnya. Ia tidak mengingkarinya, tidak juga memberitahu si pembeli tentang cacat tersebut. Ini adalah kesalahan fatal. Para ulama telah menjelaskan bahwa orang yang mengetahuinya wajib mengingkari si penjual dan memberitahu si pembeli. Wallahu a\u2019lam. (Syarah Shahih Muslim 2\/24)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Agar Teguran Dirasakan Indah<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Seorang muslim, pelaku dakwah, mesti mempertimbangkan banyak sisi dalam menjalani kehidupan pribadi seorang muslim, terutama dalam mengajak atau menegur. Berikut ini beberapa hal yang dapat kami sajikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Teguran dan nasihat harus dilandasi asas kelembutan. Dengan demikian, pihak yang dinasihati atau ditegur akan benar-benar merasakan niat baik dari pihak yang memberi nasihat. Dengan asas kelembutan dan kasih sayang, nasihat dan teguran akan mudah diterima, mengena dalam hati, dan membuahkan berkah.<br \/>\nAbu Umamah meriwayatkan, \u201cAda seorang pemuda menemui Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>. Ia berkata, \u2018Wahai Rasulullah, apakah Anda mengizinkan saya untuk berbuat zina?\u2019 Para sahabat pun spontan bersuara. Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0lalu bersabda, \u2018Mendekatlah kemari!\u2019 Pemuda itu lalu mendekat dan duduk di hadapan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>. Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>kemudian bertanya, \u2018Relakah engkau jika hal itu terjadi pada ibumu?\u2019 Ia menjawab, \u2018Tentu tidak, Allah menjadikan saya sebagai tebusanmu.\u2019 Rasulullah <em>Shalallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0bersabda, \u2018Tentu demikian juga orang lain. Mereka tidak rela hal itu terjadi pada ibu mereka. Relakah engkau jika perbuatan tersebut terjadi pada putrimu?\u2019 Ia menjawab, \u2018Tentu tidak, Allah menjadikan saya sebagai tebusanmu.\u2019 Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0<\/em>bersabda, \u2018Tentu demikian juga orang lain. Mereka tidak rela hal itu terjadi pada putri mereka. Relakah engkau jika perbuatan tersebut terjadi pada saudara perempuanmu?\u2019<br \/>\n(Ibnu Auf menambahkan, Rasulullah\u00a0<em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em> juga menyebut bibi [dari ayah dan ibu])<br \/>\nPemuda itu selalu menjawab, \u2018Tentu tidak, Allah menjadikan saya untuk tebusanmu.\u2019<br \/>\nKemudian Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0meletakkan telapak tangan beliau di atas dada si pemuda, lalu mendoakannya:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0637\u064e\u0647\u0650\u0651\u0631\u0652 \u0642\u064e\u0644\u0652\u0628\u064e\u0647\u064f \u0648\u064e\u0627\u063a\u0652\u0641\u0650\u0631\u0652 \u0630\u064e\u0646\u0652\u0628\u064e\u0647\u064f \u0648\u064e\u062d\u064e\u0635\u0650\u0651\u0646\u0652 \u0641\u064e\u0631\u0652\u062c\u064e\u0647\u064f<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u2018Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan jagalah kemaluannya.\u2019\u00a0Setelah itu, tidak ada sesuatu yang lebih ia benci daripada perbuatan zina.\u201d (HR. Ahmad 3\/285, lihat ash-Shahihah, 1\/645 no. 370)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Perhatikanlah! Kita dapat menyaksikan cara yang ditempuh oleh Rasulullah\u00a0<em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em> dalam mengobati \u201cpenyakit\u201d sang pemuda. Beliau shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0melakukannya dengan penuh kelembutan, kasih sayang, dan cinta. Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0tidak mengambil sikap kasar, tidak pula menghadapinya dengan hati keras. Rasulullah\u00a0<em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em> justru berbicara melalui akal sehat si pemuda, berusaha menguatkan ruh kebaikan pada dirinya, dan memadamkan api syahwat darinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Pembaca\u2026<br \/>\nPada kesempatan lain, seseorang datang menemui Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0sambil berkata, \u201cWahai Rasulullah, binasalah aku!\u201d Rasulullah bertanya, \u201cApakah yang membuat dirimu binasa?\u201d Ia menjawab, \u201cAku telah menggauli istriku pada siang hari bulan Ramadhan, padahal aku sedang berpuasa.\u201d Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0lalu memerintahkan agar ia memerdekakan seorang budak. Orang itu berkata, \u201cAku tidak punya.\u201d Lantas, Rasulullah memerintahkannya untuk berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Ia mengatakan, \u201cAku tidak akan mampu.\u201d Kemudian, Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0memerintahkannya untuk memberi makan enam puluh orang miskin. Ia berkata, \u201cAku tidak mampu.\u201d Orang itu lalu duduk. Rasulullah\u00a0<em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em> lalu datang membawa sekeranjang kurma lalu bersabda\u00a0<em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em> , \u201cTerimalah ini dan bersedekahlah dengannya!\u201d Ia berkata,<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0623\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0623\u064e\u0641\u0652\u0642\u064e\u0631\u064e \u0645\u0650\u0646\u0650\u0651\u064a \u064a\u064e\u0627 \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650\u061f \u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0645\u064e\u0627 \u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e \u0644\u064e\u0627\u0628\u064e\u062a\u064e\u064a\u0652\u0647\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0647\u0652\u0644\u064f \u0628\u064e\u064a\u0652\u062a\u064d \u0623\u064e\u0641\u0652\u0642\u064e\u0631\u064f \u0645\u0650\u0646\u0650\u0651\u064a<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cApakah untuk orang yang lebih fakir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, di antara dua gunung ini tidak ada keluarga yang lebih fakir daripada kami.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0pun tertawa hingga terlihat geraham beliau. Beliau <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda, \u201cBerikanlah untuk makan keluargamu sendiri!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hadits di atas, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1936) dan Muslim (no. 1111), hendaknya menjadi pegangan setiap muslim dalam hidupnya. Dalam kelembutan, ada samudra kebaikan. Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0pun tertawa, bukan tertawa biasa. Sebab, geraham beliau pun terlihat. Mengapa? Orang itu datang sambil mengatakan, \u201cBinasalah aku!\u201d Akan tetapi, ia pulang membawa keberuntungan. Bagaimana, jika salah seorang dari kita yang mengalaminya? Mungkin dengan mudah kita menyalahkan orang tersebut. Mungkin dengan ringan kita akan memperolok-olok dirinya. Atau bahkan, kita akan menghinanya hanya karena ia terjatuh dalam kesalahan. Hendaknya seorang muslim tidak merasa senang ketika saudaranya terjatuh dalam kesalahan. Sebaliknya, ia justru berusaha memperbaiki saudaranya sebagaimana halnya ia ingin dirinya baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Sufyan ats-Tsauri berkata, \u201cSeseorang tidak boleh menegakkan amar ma\u2019ruf nahi mungkar melainkan jika ia memiliki tiga perangai: lemah lembut dalam mengajak dan melarang, bersikap adil dalam mengajak dan melarang, serta berilmu tentang apa yang diajak dan dilarangnya.\u201d (al-Wara\u2019, al-Imam Ahmad hlm. 166)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064e \u0631\u064e\u0641\u0650\u064a\u0642\u064c \u064a\u064f\u062d\u0650\u0628\u064f\u0651 \u0627\u0644\u0631\u0650\u0651\u0641\u0652\u0642\u064e \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0645\u0652\u0631\u0650 \u0643\u064f\u0644\u0650\u0651\u0647\u0650 \u0648\u064e\u064a\u064f\u0639\u0652\u0637\u0650\u064a \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0645\u064e\u0627 \u0644\u064e\u0627 \u064a\u064f\u0639\u0652\u0637\u0650\u064a \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0652\u0639\u064f\u0646\u0652\u0641\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Mahalembut. Ia mencintai kelembutan dalam setiap hal. Ia akan memberikan (kebaikan) pada kelembutan sesuatu yang tidak Ia berikan pada kekerasan.\u201d (HR. al-Bukhari dan Muslim)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Sebagai bentuk kelembutan, ia menjaga harga diri dan kehormatan saudaranya yang muslim dengan memberi nasihat atau teguran secara baik dan tidak menceritakan kesalahannya ke sana-kemari. Al-Imam asy-Syafi\u2019i t pernah memberikan petuah, \u201cBarang siapa menegur saudaranya secara diam-diam, ia telah memberinya nasihat dan menghiasi dirinya. Adapun seseorang yang menegur saudaranya secara terbuka, ia telah membuat saudaranya malu dan merasa buruk.\u201d (Syarah Shahih Muslim, an-Nawawi 2\/24)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Lain halnya jika saudaranya melakukan kesalahan secara terang-terangan, merasa bangga, mengulanginya setelah ditegur, dan memberikan dampak buruk yang besar, ia dapat menegurnya secara terbuka agar khalayak umum dapat berhati-hati dan menghindarinya. Wallahu a\u2019lam.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Yang harus diperhatikan juga dalam amar ma\u2019ruf nahi mungkar adalah penguasaan tentang kondisi orang, tabiat, watak masyarakat, dan waktu. Dengan demikian, cara penyampaian dan metode pelaksanaan akan sesuai dengan kadar dan kemampuan. Cara penyampaian kepada orang awam tentu berbeda dengan cara penyampaian kepada orang yang terpelajar. Demikian juga antara orang pandai dan orang jahil.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Abbas al-Anbari berkisah, \u201cAku pernah berjalan bersama Abu Abdillah (al-Imam Ahmad) di kota Basrah. Lalu aku mendengar seseorang berkata kepada orang lain, \u2018Wahai anak zina!\u2019 Orang itu pun membalas, \u2018Apa anak zina!?\u2019 Aku pun berhenti, sementara Abu Abdillah terus berjalan. Lalu, al-Imam Ahmad menoleh ke arahku, \u2018Wahai Abul Fadhl, ayo terus jalan!\u2019 Aku mengatakan, \u2018Kita telah mendengar (apa yang mereka ucapkan), kita wajib (mengingatkan).\u2019 Al-Imam Ahmad segera menjawab, \u2018Peristiwa tadi tidak termasuk\u2019.\u201d (al-Amru bil Ma\u2019ruf, al-Khallal hlm. 114).\u00a0Saat itu, al-Imam Ahmad tidak mengingatkan pelaku (yang mengucapkan kata-kata kotor) karena orang itu berasal dari kalangan rendahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3. Saat menegur atau menyampaikan nasihat, pertimbangkanlah baik buruknya, maslahat dan mafsadahnya. Akankah memunculkan kebaikan, ataukah justru melahirkan kemungkaran yang lebih parah?<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ibnul Qayyim (I\u2019lamul Muwaqqi\u2019in 3\/4) menjelaskan, <em>\u201cSesungguhnya, Nabi shallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0telah menetapkan syariat untuk umatnya dalam hal mengingkari kemungkaran, dengan tujuan munculnya kebaikan yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0dan Rasul-Nya\u00a0shalallahu &#8216;alaihi wa sallam . Apabila konsekuensi dari mengingkari satu bentuk kemungkaran adalah menimbulkan kemungkaran yang lebih besar lagi dan lebih dimurkai oleh Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0dan Rasul-Nya, tidak diperkenankan untuk mengingkarinya meskipun Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0membencinya dan membenci pelakunya. Siapa saja yang memerhatikan berbagai peristiwa yang pernah terjadi dalam Islam, baik besar maupun kecil, ia pasti menemukan bahwa ajaran semacam ini telah diabaikan. Demikian juga kurangnya kesabaran dalam mengingkari kemungkaran sehingga ia berusaha menghilangkannya dengan tergesa-gesa. Akhirnya, usahanya justru menimbulkan kemungkaran yang jauh lebih parah. Sungguh, Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0telah menyaksikan kemungkaran terbesar di Makkah, namun beliau shalallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak dapat mengubahnya. Bahkan, sekalipun Makkah telah dibukakan oleh Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala\u00a0\u00a0untuk beliau dan menjadi negeri Islam, ditambah keinginan kuat beliau untuk mengubah letak Ka\u2019bah dengan mengembalikannya pada posisi fondasi Ibrahim. Akan tetapi, itu semua beliau shallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0urungkan, padahal beliau mampu. Beliau shallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0khawatir hal itu akan menimbulkan kemungkaran yang lebih parah, yaitu penolakan dari Quraisy, sementara mereka baru saja masuk ke dalam Islam dan baru beberapa saat terlepas dari kekafiran.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Faedah Hadits<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hadits ini mengandung beberapa faedah. Kami menukilkannya dari penjelasan asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin \u00a0dalam kitab Syarah Bulughul Maram, dengan beberapa perubahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Orang jahil tidak dapat diajak berbicara sebagaimana orang pandai, namun mereka disikapi dengan kelembutan. Orang Arab badui tersebut menyangka bahwa sudut masjid yang lapang itu seperti tempat lapang biasa, dapat digunakan untuk buang air kecil.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Keumuman watak masyarakat pedalaman adalah kejahilan. Sama halnya dengan masyarakat pedalaman, orang yang tidak aktif menghadiri majelis ilmu dan majelis ulama, seringnya akan mengalami kejahilan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3. Bertindak segera dalam mencegah kemungkaran. Sebab, para sahabat cepat-cepat mencegah kemungkaran dan melarang orang badui tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">4. Apabila satu bentuk kemungkaran tidak hilang melainkan dengan memunculkan kemungkaran yang lebih besar, untuk sementara boleh tidak diingkari. Artinya, kemungkaran itu didiamkan hingga tiba waktu yang tepat. Dalilnya adalah sikap Rasulullah <em>Shalallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0melarang para sahabat yang hendak menghentikan hajat orang badui tersebut. Penjelasannya telah diterangkan di atas.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">5. Tanah akan menjadi suci dengan menuangkan air di atasnya, tidak perlu menggalinya, seperti yang dikerjakan oleh sebagian orang. Cukup dengan menuangkan air pada tempat yang terkena najis, tanah pun menjadi suci. Namun, jika najis itu berbentuk benda, seperti tinja, benda najis tersebut dihilangkan baru kemudian dituangkan air pada tempatnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">6. Untuk menyucikan najis yang mengenai tanah tidak ditentukan jumlah tuangan air atasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">7. Air seni manusia hukumnya najis. Oleh sebab itu, Rasulullah <em>Shalallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0memberikan perintah untuk menyucikannya. Ada riwayat yang menjelaskan ancaman siksa untuk orang yang tidak membersihkan atau menyucikan diri dari air seni.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">8. Salah satu syarat sah shalat adalah kesucian tempat. Masjid adalah tempat melaksanakan shalat. Jika kesucian tempat bukan termasuk syarat shalat, tentu Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam\u00a0tidak akan memerintah para sahabat untuk menuangkan air pada tempat tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">9. Tidak diperbolehkan meletakkan benda najis dalam masjid. Demikian juga membuang sampah di masjid meskipun sampah tersebut benda yang suci karena masjid harus dibersihkan dari kotoran dan sampah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">10. Menjaga kesucian masjid adalah wajib hukumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">11. Indahnya akhlak, metode pengajaran, dan hikmah Rasulullah shallahu &#8216;alaihi wa sallam.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">12. Bagusnya cara Rasulullah <em>Shalallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0memberi penjelasan. Beliau membimbing, tidak pantas benda kotor dan najis berada di dalam masjid. Masjid dibangun untuk melaksanakan ibadah kepada Allah <em>Subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>, seperti shalat, zikir, dan yang semisalnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">13. Aktivitas keduniaan tidak seharusnya dilakukan di dalam masjid. Masjid tidak boleh digunakan untuk kegiatan jual beli, mengumumkan kehilangan barang, atau melakukan profesi usaha. Contoh mudahnya, seorang penjahit diharamkan bekerja menjahit di dalam masjid karena masjid dibangun hanyalah untuk mendekatkan diri kepada Allah <em>Subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Semoga ringkasnya pembahasan ini tidak mengurangi manfaat yang diperoleh. Mudah-mudahan semakin bertambahnya ilmu dan pengalaman, beriring dengan perjalanan waktu, Allah <em>Subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>\u00a0menjadikan kita sebagai hamba yang selalu berhias dengan sifat hikmah dan kelembutan. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.<br \/>\nWallahu a\u2019lam.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber : <a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/kesan-indah-dalam-teguran\/\" target=\"_blank\"><strong>Majalah AsySyariah<\/strong><\/a><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KESAN INDAH DALAM TEGURAN Ditulis oleh: Al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai Dari Anas bin Malik Radhiyallahu &#8216;anhu, beliau berkisah: \u201cSeorang Arab badui datang. Ia lantas buang air kecil di salah satu sudut masjid. Orang-orang berusaha untuk menghalangi, namun Nabi Shalallahu \u2018alaihi wasallam\u00a0justru melarang mereka. Setelah ia selesai dari hajatnya, Rasulullah Shalallahu \u2018alaihi wasallam\u00a0memerintahkan untuk menyediakan seember [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10156,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[923],"tags":[1290,1291],"class_list":["post-4955","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hadits-2","tag-kesanindahdalamteguran","tag-lembutnyadakwahrasulullah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4955","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4955"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4955\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/10156"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4955"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4955"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4955"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}