{"id":4701,"date":"2014-07-17T04:02:10","date_gmt":"2014-07-16T20:02:10","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=4701"},"modified":"2014-07-17T10:31:24","modified_gmt":"2014-07-17T02:31:24","slug":"kisah-asbabub-ukhdud-para-pembuat-parit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=4701","title":{"rendered":"Kisah Ashhabul Ukhdud (Para Pembuat Parit)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/kisah-ashabul-uhdud.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-4702\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/kisah-ashabul-uhdud-300x206.jpg\" alt=\"kisah ashabul uhdud\" width=\"300\" height=\"206\" srcset=\"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/kisah-ashabul-uhdud-300x206.jpg 300w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/kisah-ashabul-uhdud-1024x704.jpg 1024w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/kisah-ashabul-uhdud.jpg 1154w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>KISAH \u00a0ASHHABUL \u00a0UKHDUD <em>( Para Pembuat Parit)<\/em>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ditulis oleh: \u00a0<em>Al-Ustadz Abu Muhammad Harits<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sudah menjadi Sunnatullah pada makhluk-makhluk-Nya bahwa akan senantiasa terjadi pertikaian antara al-haq dengan yang batil sepanjang masa dan di manapun jua. Adalah satu ketetapan pula dari Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> bahwa setiap orang yang mengatakan dirinya beriman tentu tidak lepas dari berbagai ujian. Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cAlif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: \u2018Kami telah beriman\u2019, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.\u201d<\/em> (Al-\u2019Ankabut: 1-3)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah Shalallahu \u2018alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Sa\u2019d bin Abi Waqqash yang bertanya kepada beliau:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cWahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?\u201d Beliau menjawab: \u201cPara Nabi. Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (iman)-nya. Kalau imannya kokoh, maka berat pula ujiannya. Apabila imannya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar imannya. Dan senantiasa ujian itu menimpa seorang hamba sampai membiarkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak lagi mempunyai dosa.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Salah satu di antara sebab-sebab yang paling utama menangnya iman dan ajaran dien ini serta jelasnya hakikat berita yang disampaikan para rasul adalah munculnya para penentang yang memusuhi para rasul tersebut dari kalangan orang-orang yang suka mengada-adakan kedustaan yang nyata. Sebagaimana firman Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).\u201d (Al-An\u2019am: 112)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.\u201d (Al-Furqan: 31)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hal itu tidak lain karena al-haq ini, semakin ditentang dan dilawan dengan berbagai syubhat, maka Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> munculkan hal-hal yang dengan itu Dia tampakkan al-haq itu adalah haq, dan yang batil adalah batil. Seperti ayat-ayat yang terang, yang akan menampakkan dalil-dalil tentang al-haq tersebut dan bukti-buktinya yang nyata, serta rusaknya argumentasi (baca: syubhat) yang menghadang al-haq tersebut. Bahkan, dengan cara apapun ahlul batil berusaha menyembunyikan atau menutup-nutupi al-haq, maka al-haq itu pasti semakin menjulang dan menang. Maha Benar Allah Yang berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan katakanlah: \u2018Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap\u2019. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.\u201d (Al-Isra`: 81)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dan firman-Nya:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.\u201d (Al-Anbiya`: 18)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Bani Israil Sepeninggal Nabi Musa<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>\u00a0<\/strong>Bani Israil adalah umat yang dahulunya hidup di bawah bimbingan Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> dan Rasul-Nya. Tetapi setelah mereka hidup jauh dari masa nubuwah bahkan dari tuntunan Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em>\u00a0 dan Rasul-Nya, mereka diuji dengan berbagai kesulitan dan kehinaan. Itulah janji dan ketetapan yang telah Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> berlakukan atas makhluk-makhluk-Nya. Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: \u2018Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.\u2019 Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.\u201d (Al-Isra`: 4-5)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapa yang dikuasakan untuk menindas mereka. Namun yang jelas, penindasan tersebut tidak lain adalah karena kezaliman, kemaksiatan, dan kekafiran yang mereka perbuat. Sedangkan Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em>, tidaklah menzalimi siapapun dari makhluk ciptaan-Nya. Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.\u201d (Al-An\u2019am: 129)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Al-Qurthubi mengatakan dalam Tafsir-nya, menukil dari Ibnu Zaid: \u201cIni adalah ancaman keras bagi orang yang zalim. Jika dia tidak berhenti dari kezalimannya, niscaya Allah<em> Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> kuasakan atas dirinya orang zalim lainnya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ada pula yang menafsirkan ayat ini dengan mengatakan: \u201cKami serahkan sebagian mereka (yang zalim itu) kepada yang lain karena kekafiran yang mereka pilih untuk diri mereka.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Syahdan, di zaman Bani Israil, jauh sepeninggal Nabi Musa, di saat Bani Israil semakin jauh dari masa nubuwah dan tuntunan Nabi mereka, bergelimang kemaksiatan dan kekafiran, Allah<em> Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> kuasakan atas diri mereka orang-orang yang zalim dan bengis tidak berperikemanusiaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Al-Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, pada Kitab Az-Zuhd war Raqa`iq, bab Qishshah Ashhabil Ukhdud (no. 3005), dari Shuhaib bin Sinan , bahwa Rasulullah Shalallahu \u2018alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya):<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Pada zaman dahulu, sebelum masa kalian ada seorang raja, dia mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir ini sudah semakin tua, dia berkata kepada raja tersebut: \u201cSaya sudah tua, carikan untukku seorang pemuda remaja yang akan saya ajari sihir.\u201d Maka raja itupun mencari seorang pemuda untuk diajari ilmu sihir. Adapun pemuda itu, di jalanan yang dilaluinya (menuju tukang sihir) itu ada seorang rahib (ahli ibadah). Lalu dia duduk di majelis rahib tersebut, mendengarkan wejangannya dan ternyata uraian tersebut menakjubkannya. Akhirnya, jika dia mendatangi tukang sihir itu, dia melewati majelis si rahib dan duduk di sana. Kemudian, setelah dia menemui tukang sihir itu, dia dipukul oleh tukang sihir tersebut. Pemuda itupun mengadukan keadaannya kepada si rahib. Kata si rahib: \u201cKalau engkau takut kepada si tukang sihir, katakan kepadanya: \u2018Aku ditahan oleh keluargaku.\u2019 Dan jika engkau takut kepada keluargamu, katakan kepada mereka: \u2018Aku ditahan oleh tukang sihir itu\u2019.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ketika dia dalam keadaan demikian, datanglah seekor binatang besar yang menghalangi orang banyak. Pemuda itu berkata: \u201cHari ini saya akan tahu, tukang sihir itu yang lebih utama atau si rahib.\u201d Diapun memungut sebuah batu dan berkata: \u201cYa Allah, kalau ajaran si rahib itu lebih Engkau cintai daripada ajaran tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini agar manusia bisa berlalu.\u201d Pemuda itu melemparkan batunya hingga membunuhnya. Akhirnya manusiapun dapat melanjutkan perjalanannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kemudian pemuda itu menemui si rahib dan menceritakan keadaannya. Si rahib berkata kepadanya: \u201cWahai ananda, hari ini engkau lebih utama daripadaku. Kedudukanmu sudah sampai pada tahap yang aku lihat saat ini. Sesungguhnya engkau tentu akan menerima cobaan, maka apabila engkau ditimpa satu cobaan, janganlah engkau menunjuk diriku.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Pemuda itupun akhirnya mampu mengobati orang yang dilahirkan dalam keadaan buta, sopak (belang), dan mengobati orang banyak dari berbagai penyakit. Berita ini sampai ke telinga teman duduk sang raja, yang buta matanya. Diapun menemui pemuda itu dengan membawa hadiah yang banyak, lalu berkata: \u201cSemua hadiah yang ada di sini adalah untuk engkau, saya kumpulkan, kalau engkau dapat menyembuhkan saya (dari kebutaan ini).\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Anak muda itu menjawab: \u201cSebetulnya, saya tidak dapat menyembuhkan siapapun. Tapi yang menyembuhkan itu adalah Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em>. Kalau engkau beriman kepada Allah<em> Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em>, saya doakan kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em>, tentu Dia sembuhkan engkau.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Teman sang raja itupun beriman kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em>, lalu Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> menyembuhkannya. Kemudian dia menemui sang raja dan duduk bersamanya seperti biasa. Raja itu berkata kepadanya: \u201cSiapa yang sudah mengembalikan matamu?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dia menjawab: \u201cRabbku.\u201d Raja itu menukas: \u201cApa kamu punya tuhan selain aku?\u201d Orang itu berkata: \u201cRabbku dan Rabbmu adalah Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em>.\u201d Raja itupun menangkapnya dan tidak berhenti menyiksanya sampai dia menunjukkan si pemuda. Akhirnya si pemuda ditangkap dan dibawa ke hadapan raja tersebut. Sang raja berkata: \u201cWahai anakku, telah sampai kepadaku kehebatan sihirmu yang dapat menyembuhkan buta, sopak, dan kamu berbuat ini serta itu.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Pemuda itu berkata: \u201cSesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan siapapun. Tapi yang menyembuhkan itu adalah Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em>.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Raja itu menangkapnya dan terus menerus menyiksanya sampai dia menunjukkan si rahib. Akhirnya si rahib ditangkap dan dihadapkan kepada sang raja dan dipaksa: \u201cKeluarlah dari agamamu.\u201d Si rahib menolak. Raja itu minta dibawakan sebuah gergaji, lalu diletakkan di atas kepala si rahib dan mulailah kepala itu digergaji hingga terbelah dua. Kemudian diseret pula teman duduk raja tersebut, dan dipaksa pula untuk kembali murtad dari keyakinannya. Tapi dia menolak. Akhirnya kepalanya digergaji hingga terbelah dua. Kemudian pemuda itu dihadapkan kepada raja dan diapun dipaksa: \u201cKeluarlah kamu dari keyakinanmu.\u201d Pemuda itu menolak.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Akhirnya raja itu memanggil para prajuritnya: \u201cBawa dia ke gunung ini dan itu, dan naiklah. Kalau kalian sudah sampai di puncak, kalau dia mau beriman (bawa pulang). Kalau dia tidak mau, lemparkan dia dari atas.\u201d Merekapun membawa pemuda itu ke gunung yang ditunjuk. Si pemudapun berdoa: \u201cYa Allah, lepaskan aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.\u201d Seketika gunung itu bergetar dan merekapun terpelanting jatuh. Pemuda itu datang berjalan kaki menemui sang raja. Raja itu berkata: \u201cApa yang dilakukan para pengawalmu itu?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kata si pemuda: \u201cAllah menyelamatkanku dari mereka.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kemudian raja itu menyerahkan si pemuda kepada beberapa orang lalu berkata: \u201cBawa dia dengan perahu ke tengah laut. Kalau dia mau keluar dari keyakinannya, (bawa pulang), kalau tidak lemparkan dia ke laut.\u201d Merekapun membawanya. Si pemuda berdoa lagi: \u201cYa Allah, lepaskan aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.\u201d Perahu itu karam dan mereka pun tenggelam. Sedangkan si pemuda berjalan dengan tenang menemui sang raja.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Raja itu berkata: \u201cApa yang dilakukan para pengawalmu itu?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kata si pemuda: \u201cAllah Subhanahu wa Ta\u2019ala menyelamatkanku dari mereka.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Lalu si pemuda melanjutkan: \u201cSesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kuperintahkan.\u201d Sang raja bertanya: \u201cApa itu?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kata si pemuda: \u201cKau kumpulkan seluruh manusia di satu tempat, kau salib aku di sebatang pohon dan ambil sebatang panah dari kantung panahku kemudian letakkan pada sebuah busur lalu ucapkanlah: \u2018Bismillah Rabbil ghulam\u2019 (Dengan nama Allah, Rabb si pemuda), dan tembaklah aku dengan panah tersebut. Kalau engkau melakukannya niscaya engkau akan dapat membunuhku.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Raja itupun mengumpulkan seluruh manusia di satu tempat dan menyalib si pemuda, kemudian mengeluarkan anak panah dari kantung si pemuda lalu meletakkannya pada sebuah busur dan berkata: \u201cBismillahi Rabbil ghulam\u201d, kemudian dia melepaskan panah itu dan tepat mengenai pelipis si pemuda. Darah mengucur dan si pemuda segera meletakkan tangannya di pelipis itu dan diapun tewas. Serta merta rakyat banyak yang melihatnya segera berkata: \u201cKami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Raja itupun didatangi pengikutnya dan diceritakan kepadanya: \u201cApakah anda sudah melihat, apa yang anda khawatirkan, demi Allah sudah terjadi. Orang banyak sudah beriman (kepada Allah).\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Lalu raja itu memerintahkan agar menggali parit-parit besar dan menyalakan api di dalamnya. Raja itu berkata: \u201cSiapa yang tidak mau keluar dari keyakinannya, bakarlah hidup-hidup dalam parit itu. (Atau: ceburkan ke dalamnya).\u201d Merekapun melakukannya, sampai akhirnya diseretlah seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. Wanita itu mundur (melihat api yang bernyala-nyala), khawatir terjatuh ke dalamnya (karena sayang kepada bayinya). Tapi bayi itu berkata kepada ibunya: \u201cWahai ibunda, bersabarlah, karena sesungguhnya engkau di atas al-haq.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> menceritakan kisah ini juga dalam Kitab-Nya yang mulia dalam surat Al-Buruj:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cDemi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar\u2026.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Itulah kisah yang Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> ceritakan dalam Kitab-Nya yang mulia agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudah mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Beberapa faedah dari kisah ini, di samping apa yang telah diuraikan sebelumnya ialah<\/strong>:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Belajar di waktu muda lebih mudah untuk menangkap pelajaran dan memahami. Inilah alasan tukang sihir itu memilih remaja daripada yang sudah tua. Demikianlah yang dituntunkan para ulama kita, hingga sebagian mereka mengatakan: \u201cBelajar di waktu muda bagai mengukir di atas batu, dan belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">2. Kemenangan dakwah bukan hanya diukur banyaknya orang yang mengikuti da\u2019i di saat dia masih hidup. Boleh jadi setelah dia meninggal dunia, orang banyak mulai menyadari kebenaran yang disampaikannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">3. Termasuk sebuah kemenangan adalah ketika seorang mukmin lebih memilih api yang membakar dirinya daripada hilangnya keimanan yang ada di dalam dadanya. Inilah yang terlihat dari seorang wanita yang lemah dengan bayinya yang masih dalam buaian. Wanita itu merasa iba kalau anaknya ikut terbakar, tapi Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> jadikan anak bayi itu mampu berbicara menasihati ibunya agar tetap kokoh di atas keimanannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">4. Sifat Rahmat Allah<em> Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em>, di saat begitu hebatnya kekejaman orang-orang kafir terhadap orang-orang yang beriman, di mana mereka dengan tanpa perikemanusiaan membakar hidup-hidup orang-orang yang menyatakan dirinya beriman, Allah k masih memberi kesempatan bagi orang-orang kafir itu untuk bertaubat.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">5. Ayat ini merupakan salah satu dari sekian hiburan (tasliyah) bagi umat Muhammad, yang Al-Qur`an ini turun di tengah-tengah mereka, bahwasanya kepahitan dan penderitaan yang mereka alami bukanlah sesuatu yang baru. Kekejaman dan penindasan terhadap kaum mukminin sudah terjadi di masa-masa para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad Shalallahu \u2018alaihi wa Sallam. Bahkan Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cApakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: \u2018Bilakah datangnya pertolongan Allah?\u2019 Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.\u201d<\/em> (Al-Baqarah: 214)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">6. Di antara buah keimanan yang jujur dan kokoh ialah jauh dari sifat tertipu dengan keadaan diri sendiri. Perhatikanlah ucapan si pemuda remaja itu. Bukan dia yang menyembuhkan penyakit atau kebutaan, tapi Allah l-lah yang menyembuhkan dan mengembalikan kebutaan seseorang. Tidak sepantasnya pula orang yang berilmu menisbahkan nikmat Allah yang dirasakannya kepada diri mereka sendiri. Seolah-olah semua yang diperolehnya adalah karena kepintaran dan kecakapannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">7. Allah mengabulkan doa orang yang sedang terjepit\/kesulitan jika dia berdoa kepada-Nya. Maka apabila seorang yang sedang dalam kesulitan\/terjepit memohon sesuatu kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> dengan penuh keyakinan, pasti Allah <em>Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> mengabulkan permintaannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">8. Di samping sebagai hiburan bagi kaum mukminin, ayat ini juga merupakan ancaman dan peringatan bagi orang-orang musyrik dan kafir di manapun mereka berada. Allah Maha menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Kalau Allah<em> Subhanahu wa Ta\u2019ala<\/em> tidak membalas perbuatan mereka itu di dunia ini, maka sesungguhnya balasan yang setimpal akan mereka dapatkan di akhirat, di saat mereka akhirnya merasakan panasnya jahannam dan siksaan yang membakar, sebagaimana yang dahulu mereka lakukan terhadap kaum mukminin di dunia. Oleh sebab itu, hendaklah orang-orang yang mengaku dirinya beriman bersabar dengan kesempitan dan kepahitan yang mereka alami di dunia ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">RasulullahShalallahu \u2018alaihi wa Sallam bersabda, dalam hadits Shuhaib:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cSungguh menakjubkan urusan orang-orang yang beriman itu. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan itu tidak dirasakan siapapun kecuali orang yang beriman. Kalau dia ditimpa kesenangan dia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan apabila dia ditimpa kesusahan dia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.\u201d Wallahul muwaffiq<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber : <a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/kisah-asbabub-ukhdud-para-pembuat-parit\/\" target=\"_blank\"><strong>Majalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KISAH \u00a0ASHHABUL \u00a0UKHDUD ( Para Pembuat Parit)\u00a0 Ditulis oleh: \u00a0Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Sudah menjadi Sunnatullah pada makhluk-makhluk-Nya bahwa akan senantiasa terjadi pertikaian antara al-haq dengan yang batil sepanjang masa dan di manapun jua. Adalah satu ketetapan pula dari Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala bahwa setiap orang yang mengatakan dirinya beriman tentu tidak lepas dari berbagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4702,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[269],"tags":[1231],"class_list":["post-4701","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kisah","tag-kisahashhabulukhdud"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4701","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4701"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4701\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4702"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}