{"id":4679,"date":"2014-07-19T04:20:23","date_gmt":"2014-07-18T20:20:23","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=4679"},"modified":"2014-07-19T04:20:23","modified_gmt":"2014-07-18T20:20:23","slug":"menggenggam-bara-kesabaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=4679","title":{"rendered":"Menggenggam Bara Kesabaran"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/menggenggam-bara-kesabaran.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-4681\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/menggenggam-bara-kesabaran-300x207.jpg\" alt=\"menggenggam bara kesabaran\" width=\"300\" height=\"207\" srcset=\"https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/menggenggam-bara-kesabaran-300x207.jpg 300w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/menggenggam-bara-kesabaran-1024x707.jpg 1024w, https:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/menggenggam-bara-kesabaran.jpg 1149w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>MENGGENGGAM \u00a0BARA KESABARAN<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ditulis oleh: <em>\u00a0Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Berdasarkan wahyu ilahi, lebih dari seribu tahun yang lalu Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>telah mengabarkan sebuah kenyataan di akhir zaman dalam sabda beliau,<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u064a\u064e\u0623\u0652\u062a\u0650\u064a\u0652 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u0650 \u0632\u064e\u0645\u064e\u0627\u0646\u064c \u0627\u0644\u0635\u0651\u064e\u0627\u0628\u0650\u0631\u064f \u0641\u0650\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u062f\u0650\u064a\u0652\u0646\u0650\u0647\u0650 \u0643\u064e\u0627\u0644\u0652\u0642\u064e\u0627\u0628\u0650\u0636\u0650 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u062c\u064e\u0645\u0652\u0631\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cAkan tiba suatu masa pada manusia, siapa di antara mereka yang bersikap sabar demi agamanya, ia ibarat menggenggam bara api.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Seputar Hadits Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi (2\/42) dan Ibnu Baththah di dalam\u00a0<em>al-Ibanah<\/em><em>\u00a0<\/em>(1\/173\/2) dari sahabat mulia, Anas bin Malik\u00a0<em>radhiyallahu \u2018anhu<\/em>. Sanad hadits di atas memang\u00a0<em>dhaif<\/em>,hanya saja ditemukan beberapa hadits lain yang bisa menguatkannya. Setelah menjelaskan hadits-hadits penguat, asy-Syaikh al-Albani (<em>Silsilah Shahihah<\/em><em>\u00a0<\/em>2\/682)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">menerangkan, \u201dKesimpulannya, hadits di atas dihukumi\u00a0<em>shahih tsabit<\/em><em>\u00a0<\/em>dengan adanya haditshadits penguat. Sebab, tidak ada satu pun perawi di seluruh jalur periwayatan hadits yang patut dicurigai. Apalagi at- Tirmidzi dan ulama lainnya menyatakan hadits ini hasan.\u00a0<em>Wallahu a\u2019lam.<\/em>\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hadits di atas termasuk salah satu keajaiban dalam kitab\u00a0<em>Sunan<\/em><em>\u00a0<\/em>karya al-Imam at-Tirmidzi. Sebab, hadits ini adalah satu-satunya sanad\u00a0<em>tsulatsi<\/em><em>\u00a0<\/em>(antara Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0dan penulis kitab hanya dipisahkan oleh tiga perawi) di dalam\u00a0<em>Sunan at-Tirmidzi.<\/em><em>\u00a0<\/em>Bayangkan saja! Al-Imam at- Tirmidzi meninggal dunia pada tahun 279 H. Lebih dari 200 tahun jarak antara beliau dengan Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>, tetapi sanad beliau sangat indah, hanya dipisahkan oleh tiga perawi saja. Tidak seluruh kitab-kitab hadits memuat sanad\u00a0<em>tsulatsi<\/em>. Di dalam\u00a0<em>Shahih al-Bukhari<\/em><em>\u00a0<\/em>terdapat 22 sanad\u00a0<em>tsulatsi<\/em>. Adapun dalam\u00a0<em>Shahih Muslim<\/em>,\u00a0<em>Sunan Abu Dawud,<\/em><em>\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>Sunan an-Nasa\u2019i<\/em><em>\u00a0<\/em>tidak terdapat satu pun sanad\u00a0<em>tsulatsi<\/em>. Ada lima sanad\u00a0<em>tsulatsi<\/em><em>\u00a0<\/em>di dalam\u00a0<em>Sunan Ibnu Majah<\/em>. Yang paling banyak, sanad\u00a0<em>tsulatsi<\/em><em>\u00a0<\/em>ditemukan di dalam\u00a0<em>al-Musnad<\/em><em>\u00a0<\/em>karya al-Imam Ahmad, sebanyak 331 sanad. (<em>Tahqiqur Raghbah lil Khudair)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Menggenggam Bara Api?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sebagai bentuk kesempurnaan\u00a0<em>iblagh risalah<\/em><em>\u00a0<\/em>(penjelasan tugas kerasulan), Nabi Muhammad\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0seringkali menjelaskan sesuatu dengan contoh nyata yang disaksikan di dalam kehidupan seharihari. Dengan demikian, maksud dari risalah dan nubuwah dapat dimengerti dan dipahami dengan baik. Salah satu contohnya adalah hadits Anas bin Malik di atas. Beliaum memberitakan tentang kondisi pengikut setia beliau di akhir zaman, yang mesti berkorban besar demi berdiri kokoh di atas kebenaran. Masa-masa yang dipenuhi dengan godaan syahwat dan syubhat, kejahilan yang semakin merata, ilmu yang dicabut dengan wafatnya para ulama, dan semakin lemahnya semangat untuk mencari kebenaran hakiki. Dalam kondisi semacam itu, seorang hamba yang bertekad menegakkan\u00a0<em>dinul islam<\/em><em>\u00a0<\/em>secara utuh dan\u00a0<em>kaffah<\/em><em>\u00a0<\/em>harus menjalani hari-hari sulit. Sulit dan beratnya menggenggam kebenaran diibaratkan oleh Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0dengan sulit dan beratnya menggenggam bara api.\u00a0<em>Nas\u2019alullahul i\u2019anah.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Al-Imam al-Munawi\u00a0<em>rahimahumallah<\/em>\u00a0(<em>Faidhul Qadir<\/em><em>\u00a0<\/em>6\/590) menjelaskan hadits di atas, \u201cRasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0memberikan perumpamaan tentang sesuatu yang abstrak dengan hal yang nyata. Artinya, seorang hamba yang bersikap sabar untuk melaksanakan hukum-hukum al-Qur\u2019an dan as-Sunnah, pasti akan merasakan permusuhan dan kebencian dari kalangan ahlul bid\u2019ah dan kelompok-kelompok sesat. Hal ini disamakan dengan seseorang yang menggenggam bara api dengan telapak tangannya, bahkan lebih dahsyat lagi. Hadits ini termasuk mukjizat Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>. Sebab, beliau memberitakan tentang sesuatu yang bersifat gaib dan kemudian benar-benar terjadi.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ath-Thibi\u00a0<em>rahimahumallah<\/em>\u00a0(<em>Marqatil Mafatih<\/em><em>\u00a0<\/em>15\/307) menjelaskan, \u201cMakna hadits di atas, sebagaimana halnya seseorang yang menggenggam bara api tidak mampu bersabar karena tangannya akan terbakar, demikianlah pula seorang hamba yang ingin menegakkan agama sepenuhnya. Ia akan merasa kesulitan untuk tetap tegar di atas agamanya. Sebab, maksiat lebih dominan dan mayoritas manusia adalah para pelaku maksiat. Demikian pula kefasikan telah menyebar, ditambah lagi dengan lemahnya keimanan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Bukan Sebatas Berita<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Apakah hadits ini hanya sebatas berita saja? Tidak! Alangkah sayang dan cintanya Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0kepada umat ini. Beliau mewariskan sebuah nasihat emas untuk umat agar mereka benar-benar mempersiapkan diri sebaik-baiknya di dalam menghadapi kenyataan pahit ini. Jangan terkejut! Jangan kaget! Jangan bersedih! Melewati hari-hari di dunia dalam keterasingan demi menegakkan al-Qur\u2019an dan as-Sunnah adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Jika Anda dibenci, dimusuhi, dijauhi, dan dikucilkan hanya karena ingin menjalankan ibadah sesuai tuntunan al-Qur\u2019an, as-Sunnah, dan pemahaman Salafus Shalih, berbahagialah. Tidak perlu berkecil hati dan tidak usah bergundah gulana. Mengapa harus berkecil hati? Sesungguhnya Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0telah bersabda di dalam hadits Abu Hurairah<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0628\u064e\u062f\u064e\u0623\u064e \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u0633\u0652\u0644\u064e\u0627\u0645\u064f \u063a\u064e\u0631\u0650\u064a\u0628\u064b\u0627 \u0648\u064e\u0633\u064e\u064a\u064e\u0639\u064f\u0648\u062f\u064f \u0643\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0628\u064e\u062f\u064e\u0623\u064e \u063a\u064e\u0631\u0650\u064a\u0628\u064b\u0627 \u0641\u064e\u0637\u064f\u0648\u0628\u064e\u0649 \u0644\u0650\u0644\u0652\u063a\u064f\u0631\u064e\u0628\u064e\u0627\u0621\u0650<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cIslam mulai dalam keadaan terasing. Islam pasti akan kembali terasing sebagaimana permulaannya. Maka, Thuba untuk mereka yang terasing.\u201d<\/em><em>\u00a0<\/em>(HR. Muslim)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">An-Nawawi\u00a0<em>rahimahumallah<\/em>\u00a0(dalam\u00a0<em>Syarah Shahih Muslim<\/em>) menyebutkan beberapa penafsiran dari kata\u00a0<em>Thuba<\/em>. Ada yang mengartikannya dengan kebahagiaan, penyejuk mata, kebaikan, surga, sebuah pohon di dalam surga, dan beberapa makna lain. Lalu an-Nawawi\u00a0<em>rahimahumallah<\/em>menyimpulkan,\u00a0<em>\u201c<\/em>Semua pendapat di atas sangat mungkin untuk dipahami dari hadits di atas.\u00a0<em>Wallahu a\u2019lam.<\/em>\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Berbahagialah Anda yang hidup dalam keterasingan karena memilih hidup di dunia sebagaimana yang dituntunkan oleh Allah\u00a0<em>Subhanahu wata\u2019ala<\/em>\u00a0dan Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>. Kehidupan yang telah dijalani dan diteladankan pula oleh para sahabat, tabi\u2019in, tabi\u2019ut tabi\u2019in, dan para pengikut mereka dengan baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Para Nabi Pun Merasakan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Seberat dan sesulit apapun cobaan dan ujian yang mesti dihadapi oleh seorang muslim demi menegakkan tauhid dan as-Sunnah, hakikatnya masih belum seberapa jika dibandingkan dengan cobaan yang pernah dihadapi dan dirasakan oleh para nabi. Ya, para nabi lebih berat cobaannya. Mereka didustakan oleh kaumnya, diusir, diancam, disakiti secara fisik, dituduhdengan keji, bahkan tidak sedikit dari mereka yang dibunuh. Oleh sebab itu, sering-seringlah membaca kisah para nabi dan rasul di dalam berdakwah menyampaikan kebenaran. Sungguh, membaca kisah-kisah mereka akan menyejukkan hati, terkhusus kisah Nabi Muhammad\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>. Allah\u00a0<em>Subhanahu wata\u2019ala<\/em>\u00a0berfirman,<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0648\u064e\u0625\u0650\u0630\u0652 \u064a\u064e\u0645\u0652\u0643\u064f\u0631\u064f \u0628\u0650\u0643\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0643\u064e\u0641\u064e\u0631\u064f\u0648\u0627 \u0644\u0650\u064a\u064f\u062b\u0652\u0628\u0650\u062a\u064f\u0648\u0643\u064e \u0623\u064e\u0648\u0652 \u064a\u064e\u0642\u0652\u062a\u064f\u0644\u064f\u0648\u0643\u064e \u0623\u064e\u0648\u0652 \u064a\u064f\u062e\u0652\u0631\u0650\u062c\u064f\u0648\u0643\u064e \u06da \u0648\u064e\u064a\u064e\u0645\u0652\u0643\u064f\u0631\u064f\u0648\u0646\u064e \u0648\u064e\u064a\u064e\u0645\u0652\u0643\u064f\u0631\u064f \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u06d6 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0627\u0643\u0650\u0631\u0650\u064a\u0646\u064e<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.\u201d<\/em><em>\u00a0<\/em>(al-Anfal: 30)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Jika Anda diancam untuk dipenjarakan, diusir, bahkan dibunuh hanya karena Anda ingin menegakkan agama Islam sesuai dengan tuntunan Rasulullah n, janganlah bersedih dan berkecil hati. Sungguh, Allah pasti membela hamba-Nya yang ingin membela agama-Nya!<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Pandangan Manusia Umumnya Adalah Dunia, Jangan Terpukau!<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Salah satu faktor yang dapat membantu seorang muslim untuk tetap kokoh, tegar, dan tabah di atas kebenaran adalah tidak terpukau dan silau dengan kehidupan duniawi di sekelilingnya. Biarlah \u201ckeindahan\u201d duniawi mereka kejar dengan penuh ambisi dan nafsu angkara. Adapun baginya, kehidupan akhirat lebih baik. Umar bin al-Khaththab (<em>Shahih Muslim<\/em><em>\u00a0<\/em>no. 1479) pernah menemui Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0di dalam ruang khusus beliau. Melihat kesederhanaan Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0dan bekas tikar kasar yang tampak terlihat di pinggang Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>, Umar\u00a0<em>radhiyallahu \u2018anhu<\/em>\u00a0pun menangis.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0bertanya kepada Umar tentang sebab dia menangis. Umar lalu menyampaikan kepada Rasulullah tentang kehidupan Raja Persia dan Raja Romawi yang penuh dengan kesenangan dan kelezatan duniawi. Sementara itu, beliau adalah seorang hamba terpilih dan utusan Allah\u00a0<em>Subhanahu wata\u2019ala<\/em>. Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0lalu bersabda,<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0623\u064e\u0645\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0631\u0652\u0636\u064e\u0649 \u0623\u064e\u0646\u0652 \u062a\u064e\u0643\u064f\u0648\u0646\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u064e\u0627 \u0627\u0644\u062f\u0651\u064f\u0646\u0652\u064a\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0643\u064e \u0627\u0644\u0652\u0622\u062e\u0650\u0631\u064e\u0629\u064f<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cApakah engkau tidak ridha? Dunia untuk mereka sementara kenikmatan di akhirat nanti untukmu?\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Benar. Seorang muslim yang sungguh-sungguh ingin mencontoh Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>\u00a0pasti merasakan kesempitan duniawi. Bukankah memang dunia adalah penjara bagi seorang mukmin? Namun,kesempitan duniawi itu tidaklah berarti setitik pun dibandingkan ketenteraman jiwa selama hidup di dunia dan kebahagiaan hakiki di surga Allah\u00a0<em>Subhanahu wata\u2019ala<\/em>kelak. Allah\u00a0<em>Subhanahu wata\u2019ala<\/em>\u00a0berfirman,<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0645\u064f\u062f\u0651\u064e\u0646\u0651\u064e \u0639\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u064a\u0652\u0643\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0645\u064e\u0627 \u0645\u064e\u062a\u0651\u064e\u0639\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0628\u0650\u0647\u0650 \u0623\u064e\u0632\u0652\u0648\u064e\u0627\u062c\u064b\u0627 \u0645\u0651\u0650\u0646\u0652\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0632\u064e\u0647\u0652\u0631\u064e\u0629\u064e \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u064a\u064e\u0627\u0629\u0650 \u0627\u0644\u062f\u0651\u064f\u0646\u0652\u064a\u064e\u0627 \u0644\u0650\u0646\u064e\u0641\u0652\u062a\u0650\u0646\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0641\u0650\u064a\u0647\u0650 \u06da \u0648\u064e\u0631\u0650\u0632\u0652\u0642\u064f \u0631\u064e\u0628\u0651\u0650\u0643\u064e \u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u064c \u0648\u064e\u0623\u064e\u0628\u0652\u0642\u064e\u0649\u0670<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya.Dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal.\u201d<\/em><em>\u00a0<\/em>(Thaha: 131)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Al-Hafizh Ibnu Katsir\u00a0<em>rahimahumallah<\/em>\u00a0menjelaskan ayat di atas, \u201cAllah lberfirman kepada Nabi Muhammad\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wasallam<\/em>, \u2018Janganlah engkau terpukau dengan mereka, kaum yang berlebihan materi dan hidup dalam kemewahan, dan yang semisal mereka. Sebab, semua itu hanyalah bunga-bunga kehidupan yang akan sirna dan kenikmatan yang sementara. Kami hanya ingin menguji mereka, dan alangkah sedikitnya hamba- Ku yang pandai bersyukur\u2019.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Sikap Seorang Muslim<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ketika hati terasa sempit dan dada menjadi sesak karena menyaksikan pahitnya ujian dan cobaan di dunia. Ia ingin mengamalkan ajaran Islam seutuhnya, namun ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sikap apa yang harus dipilih oleh seorang muslim dalam kenyataan semacam ini? Ia tidak boleh putus asa dari rahmat Allah\u00a0<em>Subhanahu wata\u2019ala<\/em>. Ia harus yakin dan berprasangka baik bahwa Allah\u00a0<em>Subhanahu wata\u2019ala<\/em>\u00a0pasti membalas dengan ganjaran terbaik. Ia harus tetap beribadah semaksimal mungkin dan memperbanyak doa kepada Allah\u00a0<em>Subhanahu wata\u2019ala<\/em>. Di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Demi Allah, Dia tidak akan menyelisihi janji Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sebagai khatimah, marilah kita resapi nasihat indah penyejuk jiwa dari asy- Syaikh Abdurrahman as-Sa\u2019di berikutini. Setelah menerangkan hadits Anas bin Malik\u00a0<em>radhiyallahu \u2018anhu<\/em>\u00a0di atas\u00a0<em>(<\/em>dalam\u00a0<em>Bahjah Qulubil Abrar)<\/em>, beliau menutup kajian hadits dengan menyimpulkan, \u201cDalam kondisi semacam ini, seorang mukmin hanyalah bisa berdoa,<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u0644\u064e\u0627 \u062d\u064e\u0648\u0652\u0644\u064e \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u0642\u064f\u0648\u0651\u064e\u0629\u064e \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0644\u0647\u0650\u060c \u062d\u064e\u0633\u0652\u0628\u064f\u0646\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0648\u064e\u0646\u0650\u0639\u0652\u0645\u064e \u0627\u0644\u0648\u064e\u0643\u0650\u064a\u0652\u0644\u064f\u060c\u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u062a\u064e\u0648\u064e\u0643\u0651\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627\u060c \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f\u0645\u0651\u064e \u0644\u064e\u0643\u064e \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0645\u0652\u062f\u064f\u060c \u0648\u064e\u0625\u0650\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0634\u0652\u062a\u064e\u0643\u064e\u0649 \u0648\u064e\u0623\u064e\u0646\u0652\u062a\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0633\u0652\u062a\u064e\u0639\u064e\u0627\u0646\u064f \u0648\u064e\u0628\u0650\u0643\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0633\u0652\u062a\u064e\u063a\u064e\u0627\u062b\u064f \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062d\u064e\u0648\u0652\u0644\u064e \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u0642\u064f\u0648\u0651\u064e\u0629\u064e \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0639\u064e\u0644\u0650\u064a\u0651\u0650 \u0627\u0644\u0639\u064e\u0638\u0650\u064a\u0652\u0645<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cTidak ada usaha dan kekuatan selain dengan izin Allah. Cukuplah Allah bagi kami, Dialah sebaik-baik Dzat yang dipasrahi (urusan), kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Allah, milik-Mulah segala pujian, kepada-Mulah tempat mengadu, Engkaulah Dzat yang dimintai pertolongan, kepada-Mulah diminta kebebasan dari kesempitan. Tidak ada usaha dan kekuatan selain dengan izin Allah, Yang Mahatinggi dan Mahaagung.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kemudian, ia berusaha sesuai dengan kemampuannya untuk menegakkan keimanan, nasihat, dan dakwah. Ia berusaha untuk bersikap\u00a0<em>qanaah<\/em><em>\u00a0<\/em>dengan hasil yang sedikit jika tidak memungkinkan hasil yang banyak. Ia juga berusaha untuk menghilangkan keburukan dan meminimalkannya, jika selain itu tidak memungkinkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Barang siapa bertakwa kepada Allah\u00a0<em>Subhanahu wata\u2019ala<\/em>, pasti Dia akan menunjukkan jalan keluar untuknya. Barang siapa bertawakal kepada Allah\u00a0<em>Subhanahu wata\u2019ala<\/em>, Allah\u00a0<em>Subhanahu wata\u2019ala<\/em>cukup untuknya. Barang siapa bertakwa kepada Allah\u00a0<em>Subhanahu wata\u2019ala<\/em>, pasti Allah\u00a0<em>Subhanahu wata\u2019ala<\/em>akan memudahkan seluruh urusannya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Wallahul muwaffiq ila ahdas sabil<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber : <a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/hadits-menggenggam-bara-kesabaran\/\" target=\"_blank\"><strong>Majalah Asy Syariah<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MENGGENGGAM \u00a0BARA KESABARAN Ditulis oleh: \u00a0Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai Berdasarkan wahyu ilahi, lebih dari seribu tahun yang lalu Rasulullah\u00a0Shallallahu \u2018alaihi wasallamtelah mengabarkan sebuah kenyataan di akhir zaman dalam sabda beliau, \u064a\u064e\u0623\u0652\u062a\u0650\u064a\u0652 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u0650 \u0632\u064e\u0645\u064e\u0627\u0646\u064c \u0627\u0644\u0635\u0651\u064e\u0627\u0628\u0650\u0631\u064f \u0641\u0650\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u062f\u0650\u064a\u0652\u0646\u0650\u0647\u0650 \u0643\u064e\u0627\u0644\u0652\u0642\u064e\u0627\u0628\u0650\u0636\u0650 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u062c\u064e\u0645\u0652\u0631\u0650 \u201cAkan tiba suatu masa pada manusia, siapa di antara mereka yang bersikap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4681,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[1224],"class_list":["post-4679","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasehat","tag-menggenggambarakesabaran"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4679","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4679"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4679\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4681"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4679"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4679"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4679"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}