{"id":3727,"date":"2014-06-13T06:06:12","date_gmt":"2014-06-12T22:06:12","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=3727"},"modified":"2014-07-04T13:50:16","modified_gmt":"2014-07-04T05:50:16","slug":"bolehkah-shalat-di-masjid-yang-ada-kuburannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=3727","title":{"rendered":"Bolehkah Shalat di Masjid yang ada Kuburannya?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Bolehkah-Shalat-Di-Masjid-Yang-Ada-Kuburannya1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-3739\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Bolehkah-Shalat-Di-Masjid-Yang-Ada-Kuburannya1-300x195.jpg\" alt=\"Bolehkah Shalat Di Masjid Yang Ada Kuburannya1\" width=\"300\" height=\"195\" \/><\/a>SHALAT DI MASJID YANG ADA KUBURANNYA<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em><strong>Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad<\/strong><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">| | |<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Pertanyaan: \u00a0<\/strong><em>Bagaimana hukum shalat di masjid yang di sekitarnya (depan, belakang, kanan atau kiri) ada kuburan walaupun hanya satu kuburan. Jadi masjid tersebut tidak dibangun di atas kuburan (kuburan berada di luar dinding masjid dengan jarak\u00a0 \u00b12 atau 3 meter) atau kuburan tersebut tidak berada di luar masjid?<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Arif Rahmanto<br \/>\narif\u2026@yahoo.com<br \/>\n(Pertanyaan senada datang dari Hadi, Bintaro)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Jawab:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Berkaitan dengan permasalahan ini maka perlu dibahas dari dua sisi:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1. Shalat di area pekuburan.<br \/>\n2. Shalat menghadap ke kuburan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Masalah shalat di atas area pekuburan, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Iqtidha Shirathal Mustaqim (hal. 467): \u201cPara fuqaha telah berbeda pendapat mengenai shalat di area pekuburan, (hukumnya) haram atau makruh? Jika dikatakan haram maka apakah shalatnya tetap sah (meskipun pelakunya berdosa) atau tidak? Yang masyhur di kalangan kami <strong>[1]<\/strong> bahwa hukumnya haram dan shalatnya tidak sah (batal).\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Syaikhul Islam \u00a0juga berkata di dalam kitab yang sama pada halaman 460 berkenaan dengan masjid yang di bangun di atas kuburan <strong>[2]<\/strong>: \u201cAku tidak mengetahui adanya khilaf (perselisihan pendapat) tentang dibencinya shalat di masjid tersebut dan menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab kami shalat\u00a0 (tersebut) tidak sah (batal) karena adanya larangan dan laknat\u00a0 dari Rasulullah shalallahu \u2018alaihi wa sallam\u00a0 terhadap perkara itu.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Jadi shalat di area pekuburan (tanpa masjid) begitu pula di masjid yang dibangun di atas kuburan hukumnya haram menurut pendapat yang masyhur di kalangan Hanabilah mengikuti pendapat Al-Imam Ahmad sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hazm darinya dan dibenarkan (dirajihkan) oleh Ibnu Hazm. (Lihat Ahkamul Janaiz karya Al-Albani hala. 273-274). Dan pendapat ini dirajihkan (dipilih) pula oleh Syaikhul Islam sebagaimana dalam Al-Ikhtiyarat Al-\u2019Ilmiyyah hal. 25, Asy-Syaukani dalam Nailul Authar (2\/134), Asy-Syaikh Ibnu \u2018Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti\u2019 (2\/232-236) dan Syarh Bulughul Maram (kaset)\u00a0<strong>[3].<\/strong> Begitu pula Ibnul Qayyim menegaskan batalnya shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan dalam Zadul Ma\u2019ad (3\/572) dan Syaikh kami Muqbil bin Hadi Al-Wadi\u2019i dalam Ijabatus Sail hal. 200.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Para ulama rahimahumullah mengatakan haram dan shalatnya batal berdasarkan 3 dalil:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>1.<\/strong> Hadits Abu Sa\u2019id Al-Khudri \u00a0yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Syaikhul Islam dalam Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim hal. 462-463, Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 270, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi\u2019i dalam Ash-Shahihul Musnad (1\/277-278), bahwa Rasulullah shalallahu \u2018alaihi wa sallam bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cBumi itu semuanya merupakan masjid (tempat shalat) kecuali kuburan dan kamar mandi.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>2.<\/strong> Hadits \u2018Aisyah, Rasulullah shalallahu \u2018alaihi wa sallam\u00a0 bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cAllah melaknat Yahudi dan Nashara dikarenakan mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.\u201d (HR. Al-Bukhari no. 435 dan Muslim no. 529) \u00a0\u00a0\u00a0 Syaikhul Islam t dalam Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim hal. 462 berkata: \u201cTermasuk di antaranya shalat di pekuburan meskipun tidak ada bangunan masjid di sana, karena hal itu juga masuk dalam kategori menjadikan kuburan sebagai masjid sebagaimana kata \u2018Aisyah <strong>[4]<\/strong>: \u201cKalau bukan karena hal itu maka sungguh kuburan Rasulullah akan ditampakkan <strong>[5]<\/strong>, akan tetapi beliau khawatir (takut) kuburannya akan dijadikan\u00a0 masjid.\u201d Dan bukanlah maksud \u2018Aisyah \u00a0pembangunan masjid semata, karena para shahabat g tidak akan melakukan pembangunan masjid di sisi\u00a0 kuburan Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam. Jadi maksud Aisyah \u00a0adalah kekhawatiran bahwa orang-orang akan melakukan shalat di sisi kuburan Rasulullah shalallahu \u2018alaihi wa sallam.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Setiap tempat yang dimaksudkan untuk shalat padanya berarti telah dijadikan masjid. Bahkan setiap tempat shalat maka itu dinamakan masjid meskipun tidak ada bangunan masjidnya, sebagaimana kata Rasulullah<strong> [6]<\/strong>:\u00a0 \u201cTelah dijadikan bumi bagiku sebagai masjid (tempat shalat) dan alat untuk bersuci (dengan tayammum).\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>3.<\/strong> Alasan bahwa shalat di area pekuburan dimungkinkan sebagai wasilah yang menyeret kepada penyembahan kuburan atau tasyabbuh (menyerupai) para penyembah kubur.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kemudian perlu diketahui bahwa tidak ada perbedaan antara area pekuburan yang penghuni (kuburan)nya baru satu, atau dua, dan seterusnya. Yang jelas kalau suatu area tanah tertentu telah disediakan untuk pekuburan maka jika telah ada satu mayat yang dikuburkan berarti telah menjadi pekuburan. Ini menurut pendapat yang kuat (rajih) yang dipilih oleh Asy-Syaukani dalam Nailul Authar (2\/134), Syaikhul Islam dalam Al-Iqtidha (hal. 460) dan Asy-Syaikh Ibnu \u2018Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti\u2019 (2\/235)<strong> [7]<\/strong>. Dan hukum ini berlaku sama saja selama dia shalat di area pekuburan, baik kuburannya di hadapan orang yang shalat, di sampingnya atau di belakangnya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Ikhtiyarat hal. 25 dan Syarh Bulughul Maram (kaset).<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Begitu pula halnya dengan shalat di masjid yang dibangun di atas satu kuburan atau lebih, sama saja baik kuburannya di depan orang yang shalat atau tidak. Asy-Syaikh Ibnu \u2018Utsaimin dalam Syarh Bulughul Maram (kaset) berkata: \u201cDemikian pula hukumnya kalau suatu masjid dibangun di atas suatu kuburan karena masjid itu masuk dalam kategori area pekuburan, mengingat bahwa ketika kuburannya dalam masjid maka berarti masjid itu telah menjadi tempat pekuburan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Adapun jika suatu mayat dikuburkan dalam masjid (yang telah dibangun lebih dulu) maka wajib hukumnya untuk membongkar kuburan tersebut kemudian dipindahkan ke pekuburan kaum muslimin dan tidak boleh dibiarkan tetap dalam masjid. Namun shalat di dalam masjid tersebut tetap sah selama kuburannya bukan di depan orang yang shalat, karena jika demikian (kuburannya di depan orang yang shalat \u2013red) maka shalatnya batal.\u201d<br \/>\nApa yang ditegaskan oleh Asy-Syaikh Ibnu \u2018Utsaimin di atas bahwa shalat menghadap ke kuburan <strong>[8]<\/strong> tidak sah merupakan pendapat Ibnu Qudamah dalam Al-Mugni (2\/50), Syaikhul Islam dalam Al-Ikhtiyarat hal. 25, Ibnu Hazm dan ini merupakan pendapat Al-Imam Ahmad sebagaimana diriwayatkan darinya oleh Ibnu Hazm sebagaimana dalam Ahkamul Janaiz hal. 273-274. Asy-Syaikh Ibnu \u2018Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti\u2019 (2\/247) setelah beliau menegaskan haramnya shalat menghadap ke pekuburan dan pendapat yang mengatakan makruh adalah marjuh (lemah), kemudian beliau berkata: \u201cKalau dikatakan bahwa shalatnya tidak sah maka sungguh sisi kebenarannya kuat, karena Rasulullah shalallahu \u2018alaihi wa sallam\u00a0telah bersabda dalam hadits Abi Martsad Al-Ghanawi:<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\u201cJanganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan pula shalat menghadapnya.\u201d (HR. Muslim)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hadits ini menunjukkan haramnya shalat menghadap ke area pekuburan atau ke kuburan-kuburan atau ke satu kuburan (sekalipun). Dan juga karena alasan dilarangnya shalat di area pekuburan terdapat pula pada shalat menghadap ke kuburan. Maka selama seseorang masuk dalam kategori shalat menghadap ke kuburan atau ke area pekuburan berarti dia telah masuk dalam larangan. Jika demikian maka shalatnya tidak sah berdasarkan hadits (di atas): \u201cJanganlah kalian shalat menghadap ke kuburan.\u201d Jadi larangan menghadap ke kuburan khusus ketika shalat, maka barangsiapa shalat menghadap ke kuburan berarti terkumpul pada amalannya antara ketaatan dan maksiat, dan tidak mungkin seseorang mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta\u2019ala\u00a0dengan cara demikian.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Jika ditanyakan apa yang dianggap batas pemisah antara dia dengan kuburan? Kami katakan: Dinding merupakan pemisah, kecuali jika itu dinding pekuburan maka ada sedikit keraguan dengannya. Namun jika ada dinding lain yang memisahkan antara kamu dan pekuburan maka tidak ada keraguan lagi bahwa itu tidak masuk dalam larangan. Demikian pula jika antara kamu dan pekuburan ada jalan, atau antara kamu dan pekuburan ada jarak pemisah, yang sebagian ulama menyatakan seperti jaraknya pembatas shalat. Berdasarkan ini berarti jaraknya dekat. Namun ini tetap menyisakan keraguan, karena seseorang yang melihat engkau shalat sementara di depanmu ada pekuburan sejarak 3 hasta tanpa dinding pemisah, dia akan menyangka engkau shalat menghadap ke kuburan. Jika demikian berarti butuh jarak yang cukup, yang dengannya diketahui bahwa engkau shalat tidak menghadap ke kuburan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Jika demikian maka apabila ada masjid yang dikelilingi oleh kuburan dari luar dinding masjid (termasuk di depannya) maka shalat di dalamnya sah, dan hal ini telah ditegaskan oleh Syaikh kami Muqbil bin Hadi Al-Wadi\u2019i dalam Ijabatus Sail hal. 200. Sementara itu sebagian ulama Hanabilah dan dinukilkan dari Al-Imam Ahmad (berpendapat) bahwa tidak boleh shalat di masjid yang di depannya ada kuburan hingga ada dinding lain selain dinding masjid sebagai pemisah (lihat Al-Ikhtiyarat hal. 20). Dengan demikian, sebaiknya menghindari shalat di masjid tersebut jika ada masjid lain, meskipun shalat di situ tetap sah sebagaimana kata Asy-Syaikh Ibnu \u2018Utsaimin dan Asy-Syaikh Muqbil rahimahumullah.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Wallahu a\u2019lam bish-shawab.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Keterangan:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">1 Maksudnya kalangan fuqaha Hanabilah (pengikut madzhab Al-Imam Ahmad).<br \/>\n2\u00a0 Dalam arti kuburannya di dalam masjid.<br \/>\n3 Syarah hadits Abu Sa\u2019id Al-Khudri yang akan disebutkan nanti.<br \/>\n4 Setelah Aisyah meriwayatkan hadits di atas: \u201cAllah melaknat \u2026. Dan seterusnya.\u201d<br \/>\n5 Artinya beliau akan dikuburkan di luar rumah, di pekuburan Baqi\u2019 misalnya, bersama para shahabat g. Lihat Al-Qaulul Mufid syarah Kitabut Tauhid (1\/347) karya Asy-Syaikh Al-\u2019Utsaimin.<br \/>\n6 HR. Al-Bukhari no. 330 dan Muslim no. 520 dari Jabir.<br \/>\n7\u00a0 Karena ada sebagian ulama menganggap bahwa yang dilarang adalah bila sudah ada 3 kuburan atau lebih.<br \/>\n8 Dalam arti dia di luar area pekuburan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber :<strong><a href=\"http:\/\/asysyariah.com\" target=\"_blank\"> Majalah Asysyariah online<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SHALAT DI MASJID YANG ADA KUBURANNYA Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad | | | Pertanyaan: \u00a0Bagaimana hukum shalat di masjid yang di sekitarnya (depan, belakang, kanan atau kiri) ada kuburan walaupun hanya satu kuburan. Jadi masjid tersebut tidak dibangun di atas kuburan (kuburan berada di luar dinding masjid dengan jarak\u00a0 \u00b12 atau 3 meter) atau kuburan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3739,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[1037],"class_list":["post-3727","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akidah","tag-bolehkah-shalat-di-masjid-yang-ada-kuburannya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3727","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3727"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3727\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3739"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3727"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3727"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3727"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}