{"id":3587,"date":"2014-06-14T06:23:50","date_gmt":"2014-06-13T22:23:50","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=3587"},"modified":"2014-07-04T13:49:53","modified_gmt":"2014-07-04T05:49:53","slug":"lemahnya-hujah-taklid","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=3587","title":{"rendered":"Lemahnya Hujah Taklid"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\">\n<p style=\"text-align: left;\"><strong><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Lemahnya-Hujah-Taklid.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-3759\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Lemahnya-Hujah-Taklid-300x195.jpg\" alt=\"Lemahnya Hujah Taklid\" width=\"300\" height=\"195\" \/><\/a>LEMAHNYA HUJAH TAKLID<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em><strong>Ditulis oleh al-Ustadz Idral Harits<\/strong><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">| | |<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ada sebagian orang yang membolehkan taklid. Namun, ternyata hujah mereka sangat lemah. Seandainya ada yang mengatakan bahwa sebagian ulama membolehkan taklid dengan dalil dari al-Qur\u2019an, sesungguhnya pendapat itu juga sudah dibantah oleh ulama yang lain, bahkan menjelaskan kerusakan taklid ini. Berikut ini kami sebutkan keterangan dari al-Imam ash-Shan\u2019ani t tentang masalah ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Beliau mengatakan, \u201cAdapun dalil mereka yang membolehkan taklid ini di antaranya adalah firman Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>,<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cMaka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui!\u201d<\/em><strong>\u00a0(an-Nahl: 43)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Mereka menyatakan bahwa dalam ayat ini Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0memerintah mereka yang tidak mengetahui supaya bertanya kepada orang yang lebih mengetahui.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Jawabnya:<\/strong>\u00a0Pertama, kita katakan bahwasanya mengikuti satu mazhab imam tertentu dan menerima seluruh pendapatnya\u2014yang tidak boleh seseorang keluar dari pendapat itu sedikit pun\u2014adalah perbuatan bid\u2019ah. Setiap bid\u2019ah adalah sesat. Maka, apa artinya berdalil dengan satu kebid\u2019ahan?<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Perbuatan ini dikatakan sebagai satu kebid\u2019ahan karena para\u00a0<em>muqallid<\/em>\u00a0(orang yang taklid,\u00a0<em>red.<\/em>) tidak mungkin dapat menyebutkan satu orang di zaman para sahabat yang mengikuti atau taklid kepada sahabat lainnya dalam segala tindak-tanduk dan pendapatnya, atau menggugurkan pendapat sahabat yang lain, atau menakwil ayat-ayat dan hadits agar sesuai dengan pendapat serta keyakinan orang yang diikutinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hal ini jelas diketahui oleh siapa pun bahwa tidak pernah terjadi demikian di kalangan para sahabat, bahkan di zaman tiga generasi terbaik umat ini, seperti yang telah dinyatakan oleh Rasulullah<em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em>,<br \/>\n\u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u064f \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u0650 \u0642\u064e\u0631\u0652\u0646\u0650\u064a* \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u064a\u064e\u0644\u064f\u0648\u0646\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e \u064a\u064e\u0644\u064f\u0648\u0646\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u064a\u064e\u0641\u0652\u0634\u064f\u0648 \u0627\u0644\u0652\u0643\u064e\u0630\u0650\u0628\u064f<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cSebaik-baik generasi adalah generasiku (yang aku hidup pada masanya), kemudian (generasi) berikutnya, dan berikutnya, kemudian (mulai) tersebarlah kedustaan.\u201d<\/em>\u00a0(<strong>HR. at-Tirmidzi<\/strong>\u00a0dari Umar ibnul Khaththab\u00a0<em>radhiyallahu \u2018anhu<\/em>)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Bid\u2019ah taklid ini baru muncul sesudah tiga abad pertama ini. Adapun ayat yang mereka jadikan sebagai dalil, maka sesungguhnya Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0memerintah orang yang tidak berilmu untuk bertanya kepada\u00a0<em>ahli dzikr<\/em>\u00a0(ulama). Yang dimaksud dengan\u00a0<em>adz-Dzikr<\/em>\u00a0adalah\u00a0<em>al-Qur\u2019an<\/em>\u00a0dan as-Sunnah sebagaimana juga dinyatakan oleh Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dalam firman-Nya,<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDan ingatlah apa yang dibacakan di rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabimu)!\u201d<\/em><strong>\u00a0(al-Ahzab: 34)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Juga firman-Nya,<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cDialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur\u2019an) dan al-Hikmah (as-Sunnah).\u201d<\/em><strong>\u00a0(al-Jumu\u2019ah: 2)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong><br \/>\n<\/strong>Dengan demikian, perintah Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0dalam ayat ini adalah perintah kepada orang yang jahil (bodoh) supaya bertanya kepada orang yang mengerti tentang al-Qur\u2019an dan hadits Rasulullah\u00a0<em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em>\u00a0mengenai hal-hal yang terdapat pada keduanya. Apabila ulama sudah menerangkan keduanya kepada yang bertanya, wajib bagi si penanya untuk mengikuti keterangan yang disampaikan ulama tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Perhatikanlah Ibnu \u2018Abbas\u00a0<em>radhiyallahu \u2018anhuma<\/em>, bagaimana dia bertanya kepada para sahabat yang lain tentang apa yang diucapkan dan dikerjakan Rasulullah\u00a0<em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em>. Demikian pula bagaimana para sahabat bertanya kepada para istri Rasulullah\u00a0<em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em>tentang hal-hal yang luput dari penglihatan mereka, khususnya kepada \u2018Aisyah\u00a0<em>radhiyallahu \u2018anha<\/em>. Demikian pula keadaan para tabi\u2019in dan tabi\u2019ut tabi\u2019in, mereka bertanya kepada yang lain tentang ucapan dan perbuatan Rasulullah\u00a0<em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">#######<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Dalil kedua<\/strong>\u00a0mereka adalah hadits tentang seorang pekerja yang berzina dengan istri majikannya. Ayah pekerja ini mengatakan, \u201cSaya bertanya kepada ahli ilmu dan mereka menerangkan bahwa anakku harus dihukum cambuk 100 kali serta diasingkan selama satu tahun dan istri orang ini harus dirajam.\u201d Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari t, dan mereka mengatakan bahwa Rasulullah<em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em>\u00a0tidak mengingkari taklid kepada orang yang lebih berilmu daripada orang tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Jawabnya:<\/strong>\u00a0Orang ini bertanya kepada ahli ilmu dan mereka memberi fatwa dengan Sunnah Rasulullah\u00a0<em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em>\u00a0mengenai ketetapan (sunnah) tersebut dalam masalah itu. Hadits ini merupakan pendukung bagi ayat tersebut, karena yang dimaksud dengan bertanya kepada ahli dzikr adalah bertanya tentang al-Kitab (al-Qur\u2019an) dan as-Sunnah, bukan tentang pendapat mereka pribadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">#######<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Dalil mereka berikutnya<\/strong>, seperti disebutkan dalam firman Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>,<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cTidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.\u201d<\/em>\u00a0<strong>(at-Taubah: 122)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Mereka menyatakan, wajibnya menerima peringatan yang disampaikan itu, dan ini berarti taklid kepada mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Jawabnya:<\/strong>\u00a0Ini menunjukkan ketidaktahuan mereka tentang pengertian lafadz\u00a0<em>indzar<\/em>\u00a0(memberi peringatan). Seseorang baru dikatakan memberi peringatan apabila dia menyampaikannya dengan hujah (dalil) yang jelas. Adapun orang yang memberi peringatan tanpa hujah atau dalil, dia belumlah dikatakan memberi peringatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dengan demikian, pengertian \u201cmemberi peringatan\u201d dalam ayat ini adalah memberi keterangan kepada mereka dengan hujah dan bukti sesuai dengan apa yang telah mereka pahami dari hukum-hukum Islam ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Bukankah sudah jelas bagi kita bagaimana para malaikat penjaga neraka berkata kepada para penghuni neraka, seperti dalam firman Allah,<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cApakah belum pernah datang kepada kamu seorang pemberi peringatan?\u201d Mereka menjawab, \u201cBenar ada. Sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, lalu kami dustakan dia dan kami katakan, \u2018Allah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar\u2019.\u201d Dan mereka berkata pula, \u2018Seandainya kami mau mendengar atau memikirkannya niscaya kami tidak akan menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala\u2019.\u201d<\/em><strong>\u00a0(al-Mulk: 8\u201410)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Mereka mengakui bahwa memang sudah datang seorang pemberi peringatan kepada mereka. Peringatan tersebut tidak lain adalah dengan hujjah atau dalil. Namun, mereka mendustakan peringatan tersebut dengan sikap menentang. Kemudian Allah\u00a0<em>subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>\u00a0menyatakan,<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>\u201cMereka pun mengakui dosa mereka.\u201d<\/em>\u00a0<strong>(al-Mulk: 11)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Akhirnya mereka berkata dengan penuh penyesalan seperti yang disebutkan dalam ayat tersebut. (Seandainya kami mau mendengar) yakni seandainya kami mau mengamalkan apa yang kami dengar, (atau memikirkannya) artinya seandainya kami beramal dengan apa yang kami pahami. Kalau bukan demikian, sebagaimana sudah dimaklumi bahwa sesungguhnya mereka mendengar dan memahami namun mereka tidak mengamalkannya. Ini menunjukkan seolah-olah mereka tidak mempunyai pendengaran dan pikiran.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Inilah sekelumit jawaban atas alasan atau dalil orang-orang yang membolehkan taklid.<br \/>\n<em>Wallahu a\u2019lam bish-shawab.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sumber: <a href=\"http:\/\/asysyariah.com\/306\/\" target=\"_blank\"><strong>Majalah Asy Syariah Online<\/strong><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LEMAHNYA HUJAH TAKLID Ditulis oleh al-Ustadz Idral Harits | | | Ada sebagian orang yang membolehkan taklid. Namun, ternyata hujah mereka sangat lemah. Seandainya ada yang mengatakan bahwa sebagian ulama membolehkan taklid dengan dalil dari al-Qur\u2019an, sesungguhnya pendapat itu juga sudah dibantah oleh ulama yang lain, bahkan menjelaskan kerusakan taklid ini. Berikut ini kami sebutkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3759,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[1045],"class_list":["post-3587","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-manhaj","tag-lemahnya-hujah-taklid"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3587","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3587"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3587\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3759"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3587"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3587"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3587"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}