{"id":29330,"date":"2017-05-26T14:58:48","date_gmt":"2017-05-26T07:58:48","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=29330"},"modified":"2018-03-10T05:05:38","modified_gmt":"2018-03-09T22:05:38","slug":"dialog-sahabat-yang-mulia-ibnu-abbas-dengan-kaum-khawarij-teroris","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=29330","title":{"rendered":"DIALOG SAHABAT YANG MULIA IBNU ABBAS DENGAN KAUM KHAWARIJ (TERORIS)"},"content":{"rendered":"<p><strong>DIALOG SAHABAT IBNU ABBAS DAN KAUM KHAWARIJ (TERORIS)<\/strong><\/p>\n<p>Wajibnya kembali kepada sahabat dalam memahami Islam<\/p>\n<p>Jauh dari jalan sahabat Rasulullah n dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah, adalah pertanda kesesatan dan alamat kebinasaan. Dalam sebuah wasiatnya yang agung, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam\u00a0mewanti-wanti\u00a0umat ini agar selalu berjalan di atas jalan mereka yang lurus. Beliau shalallahu alaihi wa sallam bersabda:<\/p>\n<p>\u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0647\u064f \u0645\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u0639\u0650\u0634\u0652 \u0645\u0650\u0646\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0641\u064e\u0633\u064e\u064a\u064e\u0631\u064e\u0649 \u0627\u062e\u0652\u062a\u0650\u0644\u064e\u0627\u0641\u064b\u0627 \u0643\u064e\u062b\u0650\u064a\u0631\u064b\u0627 \u0641\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0633\u064f\u0646\u0651\u064e\u062a\u0650\u064a \u0648\u064e\u0633\u064f\u0646\u0651\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u0652\u062e\u064f\u0644\u064e\u0641\u064e\u0627\u0621\u0650 \u0627\u0644\u0631\u0651\u064e\u0627\u0634\u0650\u062f\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0647\u0652\u062f\u0650\u064a\u0650\u0651\u064a\u0652\u0646\u064e \u062a\u064e\u0645\u064e\u0633\u0651\u064e\u0643\u064f\u0648\u0627 \u0628\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0639\u064e\u0636\u0651\u064f\u0648\u0627 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u064e\u0627 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0648\u064e\u0627\u062c\u0650\u0630\u0650<\/p>\n<p>\u201cMaka sungguh, siapa yang hidup di antara kalian akan menyaksikan perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Al-Khulafa yang mendapat bimbingan dan petunjuk, pegang eratlah sunnah itu dan gigitlah dengan geraham-geraham kalian.\u201d[1]<\/p>\n<p>Nasihat ini ternyata tidak dihiraukan oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, kaum Khawarij misalnya. Meski mereka orang yang rajin ibadah, tekun berzikir bahkan jidat-jidat mereka hitam terluka karena banyaknya shalat malam, namun tatkala jalan yang mereka tempuh bukan jalan sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam \u2013salaf\u00a0(pendahulu) umat ini\u2013 mereka pun Allah subhanahu wa ta&#8217;ala sesatkan hingga terjerumus dalam jurang kebinasaan. Demikianlah ketentuan Allah subhanahu wa ta&#8217;ala atas mereka yang menentang Rasul shalallahu alaihi wa sallam dan meninggalkan jalan sahabat-sahabatnya.<\/p>\n<p>\u201cDan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya,\u00a0dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.\u201d\u00a0(An-Nisa: 115)<\/p>\n<p>Rentetan peristiwa tarikh adalah mata rantai-mata rantai bersambung yang tak terpisahkan. Wafatnya Khalifah Ar-Rasyid Utsman bin Affan radhiyallahu anhu dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dalam keadaan syahid dan terzalimi adalah bagian dari akibat buruk pemahaman Khawarij yang jauh dari sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Mereka memang ahli baca Qur\u2019an, bahkan menghafalnya. Mereka ahli ibadah, bahkan di sebagian besar waktunya. Namun ketika mereka telah tinggalkan sahabat dalam memahami wahyu Allah subhanahu wa ta&#8217;ala, mereka pun terjatuh dalam jurang kebinasaan.<\/p>\n<p>Bukti kebodohan Khawarij dan jauhnya mereka dari\u00a0salaf\u00a0umat ini terlalu banyak untuk disebutkan. Cukuplah dalam lembar berikut kita simak dialog mereka bersama Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, putra paman Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam,\u00a0habrul ummah\u00a0(ulama umat ini). Dalam dialog tersebut kita bisa menyimak sejauh mana mereka menyimpang dari jalan sahabat, dan bagaimana mereka lebih mengedepankan\u00a0ra\u2019yu (logika) dan perasaan ketimbang jalan lurus yang telah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallan gariskan.<\/p>\n<p>Kita tinggalkan Abul Faraj Ibnul Jauzi rahimahullah meriwayatkan dialog tersebut dalam bukunya,\u00a0Talbis Iblis,\u00a0dengan sanadnya hingga Abdullah bin \u2018Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu anhu\u2026.<\/p>\n<p>*Cermin kebodohan Khawarij dalam memahami agama*<\/p>\n<p>Ibnu \u2018Abbas radhiyallahu anhu berkata: \u201cOrang-orang Khawarij memisahkan diri dari Ali radhiyallahu anhu, berkumpul di satu daerah untuk keluar dari ketaatan (memberontak) kepada khalifah. Mereka ketika itu berjumlah enam ribu orang.<\/p>\n<p>Semenjak Khawarij berkumpul, tidaklah ada seorang yang mengunjungi Ali radhiyallahu anhu melainkan dia berkata \u2013mengingatkan beliau\u2013: \u201cWahai Amirul Mukminin, mereka kaum Khawarij telah berkumpul untuk memerangimu.\u201d<\/p>\n<p>Beliau menjawab:\u00a0\u201cBiarkan mereka, aku tidak akan memerangi mereka hingga mereka memerangiku, dan sungguh mereka akan melakukannya.\u201d<\/p>\n<p>Hingga di suatu hari yang terik, saat masuk waktu dhuhur aku menjumpai Ali radhiyallahu anhu. Aku berkata: \u201cWahai Amirul Mukminin, tunggulah cuaca dingin untuk shalat dhuhur, sepertinya aku akan mendatangi mereka (Khawarij) berdialog.\u201d<\/p>\n<p>\u2018Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata: \u201cWahai Ibnu Abbas, sungguh aku mengkhawatirkanmu!\u201d<\/p>\n<p>Ibnu Abbas radhiyallahu anhu: \u201cWahai Amirul Mukminin, janganlah kau khawatirkan diriku. Aku bukanlah orang yang berakhlak buruk dan aku tidak pernah menyakiti seorang pun.\u201d Maka Ali radhiyallahu anhu mengizinkanku.<\/p>\n<p>\u201cJubah terbaik dari Yaman segera kupakai, kurapikan rambutku, dan kulangkahkan kaki ini hingga masuk di barisan mereka di tengah siang.\u201d<\/p>\n<p>Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: \u201cSungguh aku dapati diriku masuk di tengah kaum yang belum pernah sama sekali kujumpai satu kaum yang sangat bersemangat dalam ibadah seperti mereka. Dahi-dahi penuh luka bekas sujud, tangan-tangan menebal bak lutut-lutut unta. Wajah-wajah mereka pusat pasi karena tidak tidur, menghabiskan malam untuk beribadah.\u201d<\/p>\n<p>Kuucapkan salam pada mereka. Serempak mereka menyambutku: \u201cMarhaban, wahai Ibnu \u2018Abbas radhiyallahu anhu. Apa gerangan yang membawamu kemari?\u201d<\/p>\n<p>Aku berkata: \u201cSungguh aku datang pada kalian dari sisi sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar, juga dari sisi menantu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam[2]\u00a0yang kepada merekalah Al-Qur\u2019an diturunkan dan merekalah orang-orang yang paling mengerti makna Al-Qur\u2019an daripada kalian.\u201d<\/p>\n<p>Pembaca\u00a0rahimakumullah,\u00a0sebelum kita lanjutkan penuturan Ibnul Jauzi , perhatikan sejenak jawaban Ibnu \u2018Abbas radhiyallahu anhu yang sarat makna dan penuh keindahan. Kata-kata itu sesungguhnya mutiara yang sangat berharga, yang mengingatkan akan kedudukan sahabat Muhajirin dan Anshar sekaligus nasihat bagaimana seharusnya prinsip seorang muslim dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah yaitu: mengembalikan kepada pemahaman sahabat yang kepada merekalah Al-Qur\u2019an diturunkan, dan merekalah orang yang paling mengerti Al-Kitab dan As-Sunnah. Dalam jawaban ini, beliau juga ingin tegaskan besarnya kedudukan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu di sisi Allah subhanahu wa ta&#8217;ala, sebagai menantu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Mungkin dengan ini mereka menyadari kesesatan yang mereka berada di atasnya dan segera bertaubat untuk tidak memerangi Ali radhiyallahu anhu.<\/p>\n<p>Begitu mendengar ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu yang penuh makna dan merupakan prinsip hidup \u2013yang tentunya tidak mereka sukai karena menyelisihi prinsip sesat mereka\u2013, berkatalah sebagian Khawarij memberi peringatan: \u201cJangan sekali-kali kalian berdebat dengan seorang Quraisy (yakni Ibnu \u2018Abbas radhiyallahu anhu,\u00a0pen.). Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman:<\/p>\n<p>\u201cSebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.\u201d\u00a0(Az-Zukhruf: 58)<\/p>\n<p>Betapa bodohnya mereka gunakan ayat ini untuk mencela Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, padahal beliau lebih mengerti Al-Qur\u2019an, sebagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berdoa untuknya:\u00a0\u201cYa Allah, faqihkan ia dalam agama dan ajarkanlah ia tafsir.\u201d<\/p>\n<p>Ibnul Jauzi\u00a0rahimahullah kembali melanjutkan riwayat kisah ini: Berkata dua atau tiga orang dari mereka: \u201cBiarlah kami yang akan mendebatnya!\u201d.<\/p>\n<p>Aku berkata: \u201cWahai kaum, datangkan untukku alasan, mengapa kalian membenci menantu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam beserta sahabat Muhajirin dan Anshar, padahal kepada merekalah Al-Qur\u2019an diturunkan,\u00a0Tidak ada pula seorang pun dari sahabat yang bersama kalian, dan ia (Ali radhiyallahu anhu adalah orang) yang paling mengerti dengan tafsir Al-Qur\u2019an?\u201d<\/p>\n<p>Mereka berkata: \u201cKami punya tiga alasan.\u201d<\/p>\n<p>Aku berkata: \u201cSebutkan (tiga alasan kalian).\u201d<\/p>\n<p>Mereka berkata:\u00a0\u201cPertama:\u00a0Sungguh dia telah jadikan manusia sebagai hakim (pemutus perkara) dalam urusan Allah subhanahu wa ta&#8217;ala, padahal Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman:<\/p>\n<p>\u201c\u2026Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah&#8230;\u201d\u00a0(Yusuf: 40)<\/p>\n<p>Hukum manusia tidak ada artinya di hadapan firman Allah subhanahu wa ta&#8217;ala.[3]<\/p>\n<p>Aku berkata: \u201cIni alasan kalian yang pertama. Lalu apa lagi?\u201d<\/p>\n<p>Mereka berkata: \u201cAdapun yang kedua, sesungguhnya dia telah berperang dan membunuh[4]\u00a0tapi kenapa tidak mau menawan dan mengambil ghanimah? Kalau mereka (Aisyah dan barisannya) itu mukmin tentu tidak halal bagi kita memerangi dan membunuh mereka. Tidak halal pula tawanan-tawanannya.\u201d<\/p>\n<p>Ibnu Abbas\u00a0radhiyallahu anhu berkata: \u201cLalu apa alasan kalian yang ketiga?\u201d<\/p>\n<p>Mereka berkata: \u201cKetiga: Dia telah hapus sebutan\u00a0Amirul Mukminin\u00a0dari dirinya. Kalau dia bukan amirul mukminin (karena menghapus sebutan itu) berarti dia adalah\u00a0amirul kafirin(pemimpin orang-orang kafir).\u201d<\/p>\n<p>Ibnu \u2018Abbas radhiyallahu anhu berkata: \u201cAdakah pada kalian alasan selain ini?\u201d Mereka berkata: \u201cCukup sudah bagi kami tiga perkara ini!\u201d<\/p>\n<p>*Bantahan Ibnu \u2018Abbas atas kebodohan Khawarij*<\/p>\n<p>Pembaca\u00a0rahimakumullah,\u00a0lihatlah bagaimana Khawarij bermudah-mudah mengambil vonis kafir, dan mengambil sikap memberontak bahkan kepada khalifah Ar-Rasyid yang penuh keutamaan dan kemuliaan. Alasan-alasan mereka adalah syubhat yang sangat lemah dan menunjukkan kebodohan mereka dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah serta an jauhnya mereka dari pemahaman sahabat.<\/p>\n<p>Selanjutnya, mari kita simak bagaimana Ibnu Abbas mendudukkan syubhat-syubhat tersebut.<\/p>\n<p>Ibnu \u2018Abbas berkata: \u201cUcapan kalian bahwa Ali radhiyallahu anhu telah menggunakan manusia dalam memutuskan perkara (untuk mendamaikan persengketaan antara kaum muslimin -pen), sebagai jawabannya akan kubacakan ayat yang membatalkan syubhat kalian. Jika ucapan kalian terbantah, maukah kalian kembali (kepada jalan yang benar)?\u201d<\/p>\n<p>Mereka berkata: \u201cYa, tentu kami akan kembali.\u201d<\/p>\n<p>Ibnu \u2018Abbas radhiyallahu anhu berkata: \u201cKetahuilah, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta&#8217;ala telah menyerahkan di antara hukum-Nya kepada hukum (keputusan) manusia, seperti dalam menentukan harga kelinci (sebagai tebusan atas kelinci yang dibunuh saat ihram[5].) Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman:<\/p>\n<p>\u201cHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya,\u00a0menurut putusan (hukum) dua orang yang adil di antara kamu,\u00a0sebagai hadyu yang dibawa sampai ke Ka\u2019bah, atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.\u201d\u00a0(Al-Maidah: 95)<\/p>\n<p>Demikian pula dalam perkara perempuan dan suaminya yang bersengketa, Allah subhanahu wa ta&#8217;ala juga menyerahkan hukumnya kepada hukum (keputusan)\u00a0manusia untuk mendamaikan antara keduanya. Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman:<\/p>\n<p>\u201cDan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya,\u00a0maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.\u00a0Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.\u201d\u00a0(An-Nisa: 35)<\/p>\n<p>Maka demi Allah subhanahu wa ta&#8217;ala jawablah oleh kalian. Apakah diutusnya seorang manusia untuk mendamaikan hubungan mereka dan mencegah pertumpahan darah di antara mereka[6]\u00a0lebih pantas untuk dilakukan, atau hukum manusia perihal darah seekor kelinci dan urusan pernikahan wanita? Menurut kalian manakah yang lebih pantas?\u201d<\/p>\n<p>Mereka katakan: \u201cBahkan inilah (yakni mengutus manusia untuk mendamaikan manusia dari pertumpahan darah) yang lebih pantas.\u201d<\/p>\n<p>Ibnu \u2018Abbas radhiyallahu anhu berkata: \u201cApakah kalian telah keluar dari masalah pertama?\u201d Mereka berkata: \u201cYa.\u201d<\/p>\n<p>Ibnu Abbas melanjutkan: \u201cAdapun ucapan kalian bahwa Ali radhiyallahu anhu telah memerangi\u00a0tapi tidak mau mengambil\u00a0ghanimah\u00a0dari yang diperangi dan tidak menjadikan mereka sebagai tawanan, sungguh (dalam alasan kedua ini) kalian telah mencerca ibu kalian (yakni Aisyah).\u00a0[7]<\/p>\n<p>Demi Allah !! Kalau kalian katakan bahwa Aisyah bukan ibu kita (yakni kafir), kalian sungguh telah keluar dari Islam (karena mengingkari firman Allah). Demikian pula kalau kalian menjadikan Aisyah sebagai tawanan perang dan menganggapnya halal sebagaimana tawanan lainnya (sebagaimana layaknya orang-orang kafir), maka kalianpun keluar dari Islam. Sesungguhnya kalian berada di antara dua kesesatan, karena Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman:<\/p>\n<p>\u201cNabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri\u00a0dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.\u201d\u00a0(Al-Ahzab: 6)<\/p>\n<p>Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: \u201cApakah kalian telah keluar dari masalah ini?\u201d<\/p>\n<p>Mereka menjawab: \u201cYa.\u201d<\/p>\n<p>Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata lagi: \u201cAdapun ucapan kalian bahwasanya Ali radhiyallahu anhu telah menghapus sebutan\u00a0Amirul Mukminin\u00a0dari dirinya, maka (sebagai jawabannya) aku akan kisahkan kepada kalian tentang seorang yang kalian ridhai, yaitu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Ketahuilah, bahwasanya beliau di hari Hudaibiyah (6 H) melakukan\u00a0shulh\u00a0(perjanjian damai) dengan orang-orang musyrikin, Abu Sufyan dan Suhail bin \u2018Amr. Tahukah kalian apa yang terjadi?<\/p>\n<p>Ketika itu Rasulullah n bersabda kepada Ali radhiyallahu anhu: \u201cWahai Ali, tulislah perjanjian untuk mereka.\u201d Ali menulis: \u201cInilah perjanjian antara\u00a0Muhammad Rasulullah\u2026\u201d<\/p>\n<p>Segera orang-orang musyrik berkata: \u201cDemi Allah l! Kami tidak tahu kalau engkau rasul Allah subhanahu wa ta&#8217;ala Kalau kami mengakui engkau sebagai rasul Allah subhanahu wa ta&#8217;ala tentu kami tidak akan memerangimu.\u201d<\/p>\n<p>Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: \u201cYa Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa aku adalah Rasulullah. Wahai Ali tulislah: Ini adalah perjanjian antara\u00a0Muhammad bin Abdilah\u2026\u2019.\u201d (Rasulullah memerintahkan Ali untuk menghapus sebutan Rasulullah dalam perjanjian,\u00a0pen.)<\/p>\n<p>Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: \u201cDemi Allah, sungguh Rasulullah shalallahu lebih mulia dari Ali radhiyallahu anhu. Meskipun demikian, beliau menghapuskan sebutan Rasulullah dalam perjanjian Hudaibiyah\u2026\u201d (Apakah dengan perintah Rasul menghapuskan kata Rasulullah dalam perjanjian kemudian kalian mengingkari kerasulan beliau? Sebagaimana kalian ingkari keislaman Ali karena menghapus sebutan Amirul Mukminin?)<\/p>\n<p>Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: \u201cMaka kembalilah dua ribu orang dari mereka, sementara lainnya tetap memberontak (dan berada di atas kesesatan), hingga mereka diperangi dalam sebuah peperangan besar (yakni perang Nahrawan).\u201d[8]<\/p>\n<p>Demikian tiga syubhat Khawarij yang mereka jadikan sebagai alasan memberontak dan memerangi Ali radhiyallahu anhu. Semua syubhat tersebut terbantah dalam dialog mereka dengan Ibnu \u2018Abbas radhiyallahu anhu.\u00a0Maka selamatlah mereka yang mau mendengar sahabat dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah. Sedangkan mereka yang tidak mau kembali pada sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tetap dalam kebinasaan.<\/p>\n<p>Hingga terjadilah pertempuran Nahrawan. Fitnah pun berlanjut dan terjadilah pembunuhan Khalifah Ar-Rasyid Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu.<\/p>\n<p><strong>Sumber:\u00a0<\/strong><span style=\"color: #800000\"><a style=\"color: #800000\" href=\"http:\/\/bit.ly\/2rFyOfQ\">http:\/\/bit.ly\/2rFyOfQ<\/a><\/span><\/p>\n<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br \/>\n<strong>Catatan kaki:<\/strong><\/p>\n<p>[1]\u00a0HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676.<\/p>\n<p>[2]\u00a0Yakni Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu.<\/p>\n<p>[3]\u00a0Maksud mereka: Kenapa Ali radhiyallahu anhu melakukan\u00a0tahkim\u00a0(berhukum) dengan keputusan Abu Musa Al-Asy\u2019ari radhiyallahu anhu dari pihak beliau dan \u2018Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhu dari pihak Mu\u2019awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu anhu untuk melakukan\u00a0shulh\u00a0(perdamaian), demi\u00a0menjaga darah-darah muslimin setelah sebelumnya terjadi perang Shiffin di bulan Shafar tahun 37 H.<\/p>\n<p>[4]\u00a0Yaitu perang Jamal tahun 36 H. Perang antara barisan \u2018Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dan barisan Aisyah radhiyallahu anha. Hal yang harus diketahui tentang perang Jamal, bahwasanya dalam perang tersebut sama sekali Ali bin Abi Thalib maupun Aisyah tidak menginginkan adanya peperangan. Yang terjadi adalah keinginan Aisyah untuk melakukan\u00a0ishlah\u00a0(perbaikan hubungan) antara dua barisan kaum muslimin. Berangkatlah Aisyah menuju Bashrah bersama Thalhah, Az-Zubair dan sejumlah kaum muslimin dengan tujuan\u00a0ishlah. Perdamaian pun terjadi di antara kedua belah pihak. Namun para penyulut fitnah tidak tinggal diam dengan ketenangan dan perdamaian yang terwujud. Mereka melakukan makar dengan memunculkan penyerangan dari dua kubu sekaligus. Maka Ali menyangka beliau diserang, sehingga harus membela diri. Demikian pula Aisyah menyangka diserang sehingga harus membela diri, hingga terjadilah peperangan yang sesungguhnya tidak diinginkan. Yang harus diketahui pula, bahwasanya tidak ada seorang sahabat pun yang ikut dalam fitnah tersebut. (Lihat\u00a0Tasdid Al-Ishabah Fima Syajara Bainash-Shahabah, oleh Dziyab bin Sa\u2019d Al-Ghamidi)<\/p>\n<p>[5]\u00a0Haji atau \u2018umrah.<\/p>\n<p>[6]\u00a0Sebagaimana dilakukan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu mengirim Abu Musa Al-Asy\u2019ari radhiyallahu anhu untuk menghentikan perang Shiffin.<\/p>\n<p>[7]\u00a0Karena konsekuensinya adalah menjadikan Aisyah radhiyallahu anha sebagai tawanan perang, budak yang boleh dinikahi, padahal beliau adalah Ummul Mukminin yang haram bagi siapapun menikahi beliau sesudah wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.<\/p>\n<p>[8]\u00a0Talbis Iblis\u00a0Ibnul Jauzi dengan beberapa perubahan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DIALOG SAHABAT IBNU ABBAS DAN KAUM KHAWARIJ (TERORIS) Wajibnya kembali kepada sahabat dalam memahami Islam Jauh dari jalan sahabat Rasulullah n dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah, adalah pertanda kesesatan dan alamat kebinasaan. Dalam sebuah wasiatnya yang agung, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam\u00a0mewanti-wanti\u00a0umat ini agar selalu berjalan di atas jalan mereka yang lurus. Beliau shalallahu alaihi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13882,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[4391,4392,4393,4390],"class_list":["post-29330","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-manhaj","tag-dialogdenganteroris","tag-ibnuabbasdankhawarij","tag-jahilnyakhawarij","tag-khawarijteroris"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/29330","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=29330"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/29330\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/13882"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=29330"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=29330"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=29330"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}