{"id":13530,"date":"2015-12-08T19:42:55","date_gmt":"2015-12-08T12:42:55","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=13530"},"modified":"2015-12-08T19:42:55","modified_gmt":"2015-12-08T12:42:55","slug":"penyimpangan-penyimpangan-asyariyah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=13530","title":{"rendered":"PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN ASY&#8217;ARIYAH"},"content":{"rendered":"<p><strong>PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN ASY&#8217;ARIYAH<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\"><em>Ditulis oleh:\u00a0Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak<\/em><\/span><\/p>\n<p>Setelah kita menelusuri sosok Imam Abul Hasan al-Asy\u2019ari, ternyata beliau adalah salah seorang ulama Ahlus Sunnah, bahkan dengan tegas beliau menyatakan berakidah seperti akidah al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Sekarang masih ada satu pertanyaan yang perlu kita jawab, yaitu Benarkah Asy\u2019ariyah termasuk golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah?<\/p>\n<p>Untuk menjawab masalah ini kita harus mengetahui hakikat kelompok ini dan pemikiran-pemikirannya.<\/p>\n<p><strong><em>Siapakah Asy\u2019ariyah?<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Kelompok Asy\u2019ariyah adalah kelompok yang mengklaim dirinya sebagai Ahlus Sunnah dan menganut paham al-Imam Abul Hasan al-Asy\u2019ari rahimahullah. Benarkah pengakuan mereka? Karena banyak yang mengaku dirinya sebagai Ahlus Sunnah, padahal akidahnya jauh dari akidah Ahlus Sunnah.<\/p>\n<p>Allah Subhanahuwata\u2019ala berfirman: \u201cDatangkanlah bukti kalian, jika kalian orang-orang yang benar.\u201d (al-Baqarah: 111). Kata pepatah Arab: Semua orang mengaku sebagai kekasih Laila Padahal Laila tidak mengakui mereka sebagai kekasihnya<\/p>\n<p><strong><em>Sejarah Munculnya Paham Asy\u2019ariyah<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Telah kita ketahui bahwa bibit pemikiran Asy\u2019ariyah muncul ketika Abul Hasan al-Asy\u2019ari mengkritisi pemikiran Mu\u2019tazilah ayah tirinya yakni Abu Ali al-Jubba\u2019i, padahal itu terjadi jauh setelah masa generasi utama berakhir, bahkan setelah zaman Imam Ahlus Sunnah al-Imam Syafi\u2019i rahimahullah. Berarti, di zaman sahabat, tabiin, tabiut tabiin, bahkan di zaman al-Imam Malik, Abu Hanifah, dan al-Imam Syafi\u2019i, belum ada yang namanya paham Asy\u2019ariyah. Telah kita ketahui pula bahwa Abul Hasan al-Asy\u2019ari sendiri telah rujuk dari pendapatnya, menegaskan bahwa beliau di atas akidah al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Jadi siapakah panutan Asy\u2019ariyah, jika imam yang empat saja tidak mengenal paham mereka?!<\/p>\n<p><strong><em>Sumber Ilmu Asy\u2019ariyah<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Asy\u2019ariyah adalah satu kelompok ahlul kalam, yakni mereka yang berbicara tentang Allah Subhanahuwata\u2019ala dan agama-Nya tidak berlandaskan al-Qur\u2019an dan as-Sunnah, mereka mengutamakan ra\u2019yu (akal) mereka dalam membahas perkara agama. Oleh karena itu, kita akan mendapatkan penyimpangan mereka dalam ber-istidlal (pengambilan dalil).<\/p>\n<p>Di antara prinsip mereka yang menyimpang dalam berdalil:<\/p>\n<ol>\n<li>Dalil-dalil sam\u2019i adalah dalil-dalil dari al-Qur\u2019an dan as-Sunnah mutawatir, bukan hadits-hadits ahad, karena hadits ahad bukanlah hujah dalam masalah akidah.<br \/>\nAr-Razi berkata dalam Asasut Tadqis, \u201cAdapun berpegang dengan hadits ahad dalam mengenal Allah Subhanahuwata\u2019ala tidaklah diperbolehkan.\u201d<\/li>\n<li>Mendahulukan akal daripada dalil. Hal ini telah disebutkan oleh al-Juwaini, ar-Razi, al-Ghazali, dan lainnya. Sebagai contoh: Ar-Razi menjelaskan dalam Asasut Taqdis, \u201cJika nash bertentangan dengan akal maka harus mendahulukan akal.\u201d<\/li>\n<li>Nash-nash al-Qur\u2019an dan as-Sunnah dhaniyatud dalalah (kandungannya hanya bersifat kira-kira), tidak menetapkan keyakinan dan kepastian.<\/li>\n<li>Menakwil nash-nash al-Qur\u2019an dan as-Sunnah tentang nama-nama dan sifat Allah Subhanahuwata\u2019ala.<\/li>\n<li>Sering menukil ucapan falasifah (orang-orang filsafat), ini kental sekali dalam kitab-kitab mereka sepeti Ihya Ulumudin. (Lihat Ta\u2019kid Musallamat Salafiyah, Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyairah)<\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #ff0000;\"><strong><em>Penyimpangan-Penyimpangan Asy\u2019ariyah<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n<p>Allah Subhanahuwata\u2019ala menjelaskan bahwa jalan kebenaran hanya satu, Allah Subhanahuwata\u2019ala berfirman: \u201cDan inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia.\u201d (al-Anam: 153). Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam menjelaskan bahwa jalan tersebut adalah jalannya dan jalan yang telah ditempuh para sahabatnya, beliau Shalallahu\u2019alaihi wa sallam bersabda:<br \/>\n\u201cUmatku terpecah menjadi 73 golongan: 72 di neraka dan Subhanahuwata\u2019ala yang selamat. Mereka adalah al-jama\u2019ah.\u201d<\/p>\n<p>Atau dalam riwayat lain: \u201d(mereka adalah yang berjalan) di atas jalanku dan jalan sahabatku.\u201d merekalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Ahlul Hadits.Ketika Asy\u2019ariyah menyelisihi jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah maka mereka pun terjatuh dalam penyimpangan-penyimpangan dalam prinsip agama. Di antara penyimpangan mereka:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Dalam masalah tauhid<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Asy\u2019ariyah menyatakan tauhid adalah (sekadar) menafikan berbilangnya pencipta\u2026 sehingga umumnya mereka menafsirkan kalimat tauhid hanya sebatas tauhid rububiyah, yaitu tidak ada pencipta atau tidak ada yang bisa mencipta selain Allah Subhanahuwata\u2019ala. Mayoritas mereka tidak mengenal tauhid uluhiyah.Adapun Ahlus Sunnah meyakini bahwa tauhid ada tiga: tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat. Ahlus Sunnah meyakini bahwa tauhid adalah kewajiban pertama atas seorang hamba, terkhusus tauhid uluhiyah, karena untuk itulah manusia diciptakan. Allah Subhanahuwata\u2019ala berfirman: \u201cDan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.\u201d (adz-Dzariat: 56)<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Dalam masalah iman<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Asy\u2019ariyah dalam masalah iman di atas mazhab Murji\u2019ah Jahmiyah. Mereka menyatakan iman hanyalah tasdiq bilqalbi (pembenaran dengan hati). Mereka menyatakan bahwa iman hanyalah membenarkan. Mereka tidak menyatakan amal termasuk dari iman dan tidak memvonis seseorang telah terjatuh dalam kekafiran dengan semata kesalahan amalan anggota badan. Mereka pun akhirnya terjatuh dalam menakwilkan ayat-ayat al-Qur\u2019an dan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam. Adapun Ahlus Sunnah menyatakan bahwa iman adalah keyakinan dengan hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan, bisa bertambah dan berkurang. Iman bertambah dengan melaksanakan ketaatan dan berkurang dengan sebab perbuatan maksiat.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong>Dalam masalah asma wa sifat<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Asy\u2019ariyah memiliki kebid\u2019ahan dengan menetapkan sifat ma\u2019ani tujuh sifat saja. Dasar mereka dalam menetapkannya adalah akal. Tujuh sifat yang mereka tetapkan pun tidak bermakna seperti makna yang ditetapkan Ahlus Sunnah. Kemudian ditambah oleh seorang tokoh mereka yakni as-Sanusi menjadi dua puluh. Mereka mengingkari sifat-sifat lainnya yang terdapat dalam al-Qur\u2019an dan as-Sunnah. Mereka tidak menetapkan satu pun sifat fi\u2019liyah bagi Allah Subhanahuwata\u2019ala (seperti istiwa, nuzul, cinta, ridha, marah, dan lainnya). Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkan semua nama Allah Subhanahuwata\u2019ala dan sifat-sifat-Nya yang telah disebutkan dalam al-Qur\u2019an dan as-Sunnah tanpa tahrif, takwil (penyelewengan), dan tamtsil (penyerupaan dengan makhluk).<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><strong>Dalam masalah al-Qur\u2019an<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa al-Qur\u2019an adalah kalamullah bukan makhluk. Dalil-dalil tentang masalah ini sangatlah banyak. Allah Subhanahuwata\u2019ala berfirman:<br \/>\n\u201cDan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah (yakni al-Qur\u2019an).\u201d (at-Taubah:Rasulullah Shalallahu\u2019alaihi wa sallam bersabda: \u201cAdakah kaum yang mau membawa dan melindungiku, karena sesungguhnya Quraisy telah mencegahku untuk menyampaikan kalam Rabbku (al-Qur\u2019an).\u201d Dalam masalah inilah para ulama Ahlus Sunnah dizalimi. Al-Imam Ahmad dan para ulama Ahlus Sunnah lainnya mendapatkan cobaan yang dahsyat. Orang-orang Mu\u2019tazilah berhasil menghasut penguasa ketika itu sehingga menjadikan paham Mu\u2019tazilah sebagai akidah resmi dan memaksa semua orang untuk mempunyai keyakinan ini.<\/p>\n<p>Berapa banyak para ulama Ahlus Sunnah meninggal dalam mempertahankan akidah Ahlus Sunnah dan sebagian lainnya terzalimi (di antaranya dengan dipenjara). Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa semua yang tertulis dalam mushaf, dihafal di dada adalah al-Qur\u2019an. Ahlus Sunnah meyakini bahwa kalamullah adalah dengan huruf dan suara, dapat didengar dan dapat dimengerti. Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, \u201cAl-Qur\u2019an adalah kalamullah bukan makhluk. Jangan engkau lemah untuk mengatakan, \u2018Bukan makhluk.\u2019 Sesungguhnya kalamullah itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari Dzat Allah Subhanahuwata\u2019ala, dan sesuatu yang berasal dari Dzatnya itu bukanlah makhluk. Jauhilah berdebat dengan orang yang hina dalam masalah ini dan golongan lafzhiyah (ahlul bid\u2019ah yang mengatakan, \u2018Lafadzku ketika membaca al-Qur\u2019an adalah makhluk\u2019) dan lainnya atau dengan orang yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini yang berkata, \u2018Aku tidak tahu al-Qur\u2019an itu makhluk atau bukan makhluk, tetapi yang jelas al-Qur\u2019an itu adalah kalamullah\u2019. Orang ini (yang tawaquf) adalah ahlul bid\u2019ah sebagaimana halnya orang yang mengatakan bahwa al-Qur\u2019an adalah makhluk. Ketahuilah, (keyakinan Ahlus Sunnah adalah) al-Qur\u2019an adalah kalamullah, bukan makhluk.\u201d (Lihat Ushulus Sunnah)<br \/>\nMu\u2019tazilah telah sesat dalam masalah ini dan lainnya. Kesesatan Mu\u2019tazilah karena mereka menyatakan al-Qur\u2019an adalah makhluk bukan kalamullah. Adapun penyimpangan Asy\u2019ariyah karena mereka mencocoki Ahlus Sunnah dari satu sisi dan menyepakati Mu\u2019tazilah dari sisi lainnya. Kaum Asy\u2019ariyah berkata, \u201cAl-Qur\u2019an maknanya adalah kalamullah, adapun lafadznya adalah hikayat (ungkapan) dari kalamullah, artinya lafadz al-Qur\u2019an, menurut mereka, adalah makhluk.\u201d Hal ini karena dalam pandangan Mu\u2019tazilah, Allah Subhanahuwata\u2019ala tidak berbicara, dan dalam pandangan Asy\u2019ariyah Allah Subhanahuwata\u2019ala berbicara tapi hanya dalam jiwanya, tidak terdengar.<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li><strong>Dalam masalah takdir<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Mereka jabriyah dalam masalah takdir, hanya menetapkan iradah (kehendak) kauniyah dan tidak menetapkan iradah syar\u2019iyah. Menurut mereka, seorang hamba tidak memiliki qudrah (kuasa), mereka hanya menetapkan kemampuan dan qudrah seorang hamba ketika berbuat saja, mereka menafikan adanya qudrah hamba sebelum berbuat. Adapun Ahlus Sunnah menetapkan adanya iradah kauniyah dan syar\u2019iyah, menetapkan masyiah dan qudrah bagi hamba.<\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li><strong>Penyimpangan Asy\u2019ariyah dalam masalah takwil\/penyelewengan<\/strong><br \/>\nSebagai contoh, ar-Razi dan al-Amidy menakwilkan makna istiwa menjadi: menguasai, mengalahkan, serta pasti terjadinya takdir dan hukum ilahiyah. (Asasut Taqdis dan Ghayatul Maram). Contoh lain, menakwilkan sifat wajah. Al-Baghdadi berkata, \u201cYang sahih menurut kami yang dimaksud wajah adalah dzat.\u201d (Ushuluddin)<\/li>\n<\/ol>\n<p>Disebutkan oleh Ibnu Taimiyah bahwa takwil yang ada di tengah-tengah manusia seperti takwil yang disebutkan oleh Ibnu Faurak dalam kitab Takwil, Muhammad bin Umar ar-Razi dalam kitabnya Ta\u2019sisut Taqdis, juga ada pada Abul Wafa Ibnu Aqil dan Abu Hamid al-Ghazali, takwil-takwil tersebut adalah takwil yang bersumber dari Bisyr al-Marisi, seorang tokoh Mu\u2019tazilah. (Lihat Majmu Fatawa: 5\/23)<\/p>\n<ol start=\"7\">\n<li><strong>Penyimpangan Asy\u2019ariyah dalam masalah illat (sebab\/hikmah) dalam perbuatan Allah Subhanahuwata\u2019ala. Mereka tidak menetapkan \u2018ilat (sebab) dan hikmah bagi perbuatan Allah Subhanahuwata\u2019ala.<\/strong> Adapun Ahlus Sunnah menyatakan semua yang Allah Subhanahuwata\u2019ala lakukan mengandung hikmah yang sangat tinggi.<\/li>\n<li><strong>Orang-orang Asy\u2019ariyah setelah masa Abul Ma\u2019ali al-Juwaini mengingkari bahwa Allah Subhanahuwata\u2019ala di atas makhluk-Nya.<\/strong><\/li>\n<li><strong>Mereka memperluas permasalahan karamah hingga menyatakan bahwa mukjizat para nabi mungkin saja terjadi atas para wali.<\/strong><\/li>\n<li><strong>Menetapkan Allah Subhanahuwata\u2019ala dilihat tanpa dari arah. Hingga akhir ucapan mereka mengingkari ru\u2019yah (bahwa kaum mukminin akan melihat Allah Subhanahuwata\u2019ala di akhirat)<\/strong><\/li>\n<li><strong>Menyatakan akal tidak bisa menetapkan baik buruknya sesuatu.<\/strong><\/li>\n<li><strong>Menyatakan tidak sah keislaman seseorang setelah mukallaf sampai ragu terlebih dahulu.<\/strong><br \/>\n(Lihat Takidat Musallamat Salafiyah hlm. 35\u201436, dan Mauqif Ibnu Taimiyah minal Asya\u2019irah)<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Sumber:<\/strong> Majalah asy Syariah edisi 74<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN ASY&#8217;ARIYAH Ditulis oleh:\u00a0Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak Setelah kita menelusuri sosok Imam Abul Hasan al-Asy\u2019ari, ternyata beliau adalah salah seorang ulama Ahlus Sunnah, bahkan dengan tegas beliau menyatakan berakidah seperti akidah al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Sekarang masih ada satu pertanyaan yang perlu kita jawab, yaitu Benarkah Asy\u2019ariyah termasuk golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah? [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10156,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[3330],"class_list":["post-13530","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akidah","tag-penyimpangan-penyimpangan-asyariyah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13530","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13530"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13530\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/10156"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13530"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13530"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13530"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}