{"id":1082,"date":"2014-01-30T21:52:42","date_gmt":"2014-01-30T13:52:42","guid":{"rendered":"http:\/\/forumsalafy.net\/?p=1082"},"modified":"2014-08-16T06:07:47","modified_gmt":"2014-08-15T22:07:47","slug":"hukum-otopsi-jenazah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/forumsalafy.net\/?p=1082","title":{"rendered":"Hukum Otopsi Jenazah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\">\n<p style=\"text-align: left;\"><a href=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/hukumotopsijenasah1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-1083 size-medium\" src=\"http:\/\/forumsalafy.net\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/hukumotopsijenasah1-300x195.jpg\" alt=\"hukumotopsijenasah1\" width=\"300\" height=\"195\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>&#8220;HUKUM OTOPSI JENAZAH&#8221;<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Hukum otopsi jenazah muslim untuk belajar ilmu kedokteran Islam sebagai agama yang sempurna menetapkan beberapa kaedah untuk menjawab permasalahan yang belum terjadi pada\u00a0zaman Rosululloh.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Diantara kaedah tersebut adalah:<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Apabila bertentatangan antara dua kemaslahatan maka diambil maslahat yang terbesar demikian juga bila bertentangan antara dua mafsadah maka diambil yang paling ringan. (Al Qowaidul Fiqhiyah karya Asy Syaikh As Sa&#8217;di)<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Masalah otopsi dan bedah mayat muslim atau dzimmi masuk dalam kaedah ini, karena otopsi banyak mengandung faedah yang sangat besar seperti mengungkap tindakan kriminalitas mendeteksi sedini<br \/>\nmungkin adanya wabah menular sehingga cepat bisa diatasi dan beberapa manfaat lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Juga apa yang lakukan oleh mahasiswa kedokteran untuk melakukan\u00a0bedah mayat dalam rangka belajar banyak\u00a0mengandung manfaat untuk ummat. Semua ini walaupun bertentangan dengan maslahat menjaga kehormatan mayat, maka harus dilihat mana yang lebih besar masalahatnya sehingga bisa dihukumi boleh ataukah tidak ?<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kalau dilihat secara umum tentang keharusan menjaga<br \/>\nkelangsungan hidup manusia maka prektek bedah dengan tujuan seperti ini diperbolehkan. Wallahu A&#8217;lam.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Jika ada yang bertanya : <strong>Kenapa tidak digunakan\u00a0jasad binatang saja ?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Jawab : Ada perbedaan yang besar antara\u00a0organ tubuh manusia dengan organ tubuh binatang yang dengannya tidak mungkin dijadikan dasar dalam belajar kedokteran.\u00a0Sebagaimana dengan sangat jelas bagi mahasiswa fakultas kedokteran.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Namun kalau jasad yang di bedah itu mayat yang tidak\u00a0ma&#8217;shum, maka itulah yang lebih selamat.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Ada baiknya kita nukilkan teks fatwa Haiah kibarul\u00a0Ulama&#8217; no 47 tanggal 20\/8\/1396 H tentang pandangan<br \/>\nHai&#8217;ah terhadap praktek otopsi dan pembedahan\u00a0mayat muslim untuk tujuan kemaslahatan medis.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Jawab :<br \/>\nSetelah ditelaah ternyata masalah ini mengandung tiga\u00a0unsur, yaitu : <em>Otopsi mayat untuk mengetahui sebab<\/em><br \/>\n<em>kematian saat terjadi tindakan kriminalitas,<\/em>\u00a0Otopsi mayat untuk mengetahui adanya\u00a0wabah penyakit agar bisa diambil tindakan\u00a0preventif secara dini,\u00a0<em>Otopsi mayat untuk belajar ilmu kedokteran<\/em>, Setelah di bahas dan saling mengutarakan pendapat, maka majelis memutuskan sebagai berikut : Untuk masalah pertama dan kedua, majelis berpendapat<br \/>\ntentang diperbolehkannya untuk mewujudkan banyak kemaslahatan dalam bidang keamanan, keadilan dan tindakan preventif dari wabah penyakit. \u00a0Adapun mafsadah merusak kehormatan mayat yang di otopsi\u00a0bisa tertutupi kalau dibandingkan dengan\u00a0kemaslahatannya yang sangat banyak. Maka majlis sepakat menetapkan diperbolehkan melakukan otopsi\u00a0mayat untuk dua tujuan ini, baik mayat itu ma&#8217;shum ataukah tidak. Adapun yang ketiga yaitu yang berhubungan dengan\u00a0tujuan pendidikan medis, maka memandang bahwa\u00a0syariat islam datang dengan membawa serta<br \/>\nmemperbanyak kemaslahatan dan mencegah serta memperkecil mafsadah dengan cara melakukan mafsadah yang paling ringan serta maslahat yang paling besar, juga karena tidak bisa diganti dengan\u00a0membedah binatang, dan karena pembedahan ini\u00a0banyak mengandung maslahat seiring dengan perkembangan ilmu medis, maka majlis berpendapat<br \/>\nbahwa secara umum diperbolehkan untuk membedah mayat muslim. Hanya saja karena memang islam menghormati seorang muslim baik hidup maupun mati\u00a0sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu majah dari Aisyah bahwa<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Rosululloh bersabda :<br \/>\nMematahkan tulang mayit sama seperti mematahkanya ketika hidup. Juga melihat bahwa bedah itu mengihanakan<br \/>\nkehormatan jenazah muslim, padahal itu semua bisa dilakukan terhadap jasad orang yang tidak ma&#8217;shum, maka majlis berpendapat bahwa bedah tersebut boleh.\u00a0Hanya saja dilakukan terhadap mayat yang tidak ma&#8217;shum bukan terhadap mayat orang yang ma&#8217;shum.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Wallahul\u00a0Muwaffiq.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em>Faidah dari :<\/em>\u00a0<em><strong>Ustadz Abu Sufyan Sedayu Gresik<\/strong><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;HUKUM OTOPSI JENAZAH&#8221; Hukum otopsi jenazah muslim untuk belajar ilmu kedokteran Islam sebagai agama yang sempurna menetapkan beberapa kaedah untuk menjawab permasalahan yang belum terjadi pada\u00a0zaman Rosululloh. Diantara kaedah tersebut adalah: Apabila bertentatangan antara dua kemaslahatan maka diambil maslahat yang terbesar demikian juga bila bertentangan antara dua mafsadah maka diambil yang paling ringan. (Al Qowaidul [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1083,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[149],"tags":[375],"class_list":["post-1082","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fiqih","tag-hukum-otopsi-jenazah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1082","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1082"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1082\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1083"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1082"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1082"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/forumsalafy.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1082"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}