APABILA SATU PERKARA DI SERAHKAN KEPADA YANG BUKAN AHLINYA, MAKA TUNGGULAH KEHANCURANNYA Asy Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i rahimahullah Semenjak manusia meninggalkan ulama dan (meninggalkan) merujuk kepada para ulama, mereka menjatuhkan diri… mereka menjatuhkan dirinya… menjatuhkan dirinya… menjatuhkan dirinya…!!! (وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ ) [سورة النساء : 83] ” Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ...
Apabila Satu Perkara Di Serahkan Kepada Yang Bukan Ahlinya, Maka Tunggullah Kehancurannya
Benarkah Mengumumkan Taubat Dalam Perkara Manhaj Merupakan Bid’ah
BENARKAH MENGUMUMKAN TAUBAT DALAM PERKARA MANHAJ MERUPAKAN BID’AH Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady Al-Madkhaly hafizhahullah Pertanyaan: Jika seorang mubtadi’ rujuk dari bid’ahnya dan bertaubat kepada Allah serta menempuh jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, apakah wajib atasnya untuk mengeluarkan sebuah kitab atau kaset untuk menjelaskan rujuknya dari bid’ah yang dia lakukan tersebut? Jazakumullahu khairan. Jawaban: Jika bid’ahnya tersebut telah mati dan tidak tersebar lagi, maka hal semacam ini tidak wajib. Adapun jika bid’ah tersebut masih tersebar dan pelakunya tersebut masih hidup ...
Amalan-Amalan Perisai Api Neraka
AMALAN-AMALAN PERISAI API NERAKA Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَثَلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهَا جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا وَجَعَلَ يَحْجُزُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَتَقَحَّمْنَ فِيهَا. قَالَ: فَذَلِكُمْ مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ أَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِّ النَّارِ؛ هَلُمَّ عَنْ النَّارِ! هَلُمَّ عَنِ النَّارِ! فَتَغْلِبُونِي تَقَحَّمُونَ فِيهَا “Permisalan diriku adalah seperti orang yang menyalakan api. Ketika api telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya, ...
Salafy Menilai Seorang Dari Temannya
SALAFY MENILAI SEORANG DARI TEMANNYA Musa bin Uqbah ash-Shuri datang ke Baghdad. Hal ini disampaikan kepada al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Kata beliau, انْظُرُوا عَلَى مَنْ نَزَلَ وَإِلَى مَنْ يَأْوِي “Perhatikan, kepada siapa dia singgah dan kepada siapa dia berlindung.” (al- Ibanah, 2/479—480 no. 511) Al-Imam al-Auza’i rahimahullah mengatakan, مَنْ سَتَرَ عَنَّا بِدْعََتَهُ لَمْ تَخْفَ عَلَيْنَا أُلْفَتُهُ “Siapa yang menyembunyikan bid’ahnya dari kita, tidak akan tersembunyi dari kita pertemanannya.”(al-Ibanah, 2/476, no. 498) Yahya bin Sa’id al-Qaththan menceritakan, tatkala Sufyan ats-Tsauri rahimahullah ...
Mengagungkan Masjid dan Hari Jum’at Dengan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam
MENGAGUNGKAN MASJID DAN HARI JUM’AT DENGAN SUNNAH RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAHI WASALLAM Ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan hafizhahullah Takwa adalah sumber seluruh kebaikan sehingga orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menyibukkan dirinya dengan berbagai kebaikan, baik terkait dengan dirinya maupun orang lain. Termasuk kebaikan yang muncul dari ketakwaan adalah amalan yang mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya, ذَالِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَآءِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul ...
Mengobati Jiwa dengan Menentang Keinginan Jeleknya
MENGOBATI JIWA DENGAN MENENTANG KEINGINAN JELEKNYA Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc hafizhahullah Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah bahwa di samping muhasabah, obat yang lain bagi jiwa yang ammarah bis-su’ adalah mukhalafah, yakni menentang hawa nafsu atau keinginan jeleknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (an-Nazi’at: 40—41) Al-Qurthubi Rahimahullah menafsirkan, “Maksudnya, memperingatkan jiwanya dari perbuatan maksiat dan perbuatan yang haram.” Sahl Rahimahullah mengatakan, “Meninggalkan ...
Jalan Meraih Manisnya Iman
JALAN MERAIH MANISNYA IMAN Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Isma’il Muhammad Rijal, Lc. hafizhaullah Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سَوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ “Tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman: (1) Allah Subhanahu ...
Orang Yang Jahil Tentang Tauhid
ORANG YANG JAHIL TENTANG TAUHID Pertanyaan: Apakah seseorang yang tidak mengetahui urusan yang berkaitan dengan tauhid diberi uzur? Jawab: Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin Rahimahullah menjawabnya sebagai berikut. Pemberian uzur karena jahil (bodoh) adalah satu hal yang pasti dalam seluruh urusan agama seorang hamba. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya Kami wahyukan kepadamu sebagaimana Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya.” sampai firman-Nya: “Para rasul yang memberi kabar gembira dan memberi peringatan, agar tidak ada lagi ...
Larangan Memberikan UCAPAN SELAMAT Kepada Orang-Orang Kafir Atas Hari-hari Raya Mereka
LARANGAN MEMBERIKAN “UCAPAN SELAMAT” KEPARA ORANG-ORANG KAFIR ATAS HARI-HARI RAYA MEREKA [termasuk ucapan “Selamat Natal”, atau “Selamat Tahun Baru”, (yakni tahun baru masehi atau imlek, dll), pen ] Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Adapun memberikan ucapan selamat kepada mereka (orang-orang kafir) atas syi’ar-syi’ar kufur yang menjadi kekhususan mereka maka hukumnya HARAM dengan kesepakatan (para ‘ulama). Ucapan selamat kepada mereka, (misalnya) dengan mengatakan, “Id (hari raya) kalian Mubarak”, atau “Bergembiralah dengan hari raya ini.” (Atau ungkapan-ungkapan lainnya yang kita ...
Hukum Turut Serta Dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru
HUKUM TURUT SERTA DALAM PERAYAAN NATAL DAN TAHUN BARU Sangat disesalkan, banyak kaum muslimin yang ternyata ikut-ikutan gembira dan ikut-ikutan merayakan hari raya/hari besar kaum kafir. Di antara adalah perayaan Natal dan Tahun Baru. Yang lebih parah adalah Tahun Baru, karena banyak dari kaum muslimin yang tidak mengerti bahwa itu termasuk perayaan/hari besar orang-orang kafir. Mereka beralasan bahwa Tahun Baru bersifat universal. Di samping tidak sedikit dari kaum muslimin yang ikut meramaikan perayaan Natal, atau sekadar membantu tetangganya yang ...


