Zikir Setelah Shalat Witir
ZIKIR SETELAH SHALAT WITIR
Sahabat Abdurrahman bin Abzaa radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِـ { سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى }، وَ { قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ }، وَ { قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ }، وَكَانَ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ : ” سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ “. ثَلَاثًا، وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالثَّالِثَةِ
“Dahulu dalam shalat witir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Al-A’la, surah Al-Kafirun, dan surah Al-Ikhlas. Kemudian setelah salam, beliau membaca sebanyak tiga kali,
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
SUBHAANAL MALIKIL QUDDUUS
dan mengeraskan suaranya pada bacaan ketiga.” (HR. An-Nasai no. 1732. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasai no. 1732)
Dalam riwayat Imam An-Nasai yang lain,
طَوَّلَ فِي الثَّالِثَةِ
“Memanjangkan suaranya pada bacaan ketiga.” (HR. An-Nasai no. 1734. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasai no. 1733)
Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menerangkan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca zikir ini setelah selesai dari shalat witir. Setelah salam di rakaat ganjil (rakaat terakhir) beliau membaca:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
SUBHAANAL MALIKIL QUDDUUS
Zikir ini, telah shahih dibaca berulang (yakni tiga kali). Pada bacaan yang terakhir (yakni yang ketiga) beliau mengeraskan dan memanjangkan suaranya. (Lihat Syarh Sunan Abi Dawud Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad rekaman no. 115)
Maksud “memanjangkan suaranya” pada bacaan yang terakhir (yakni yang ketiga) adalah bacaannya lebih dipanjangkan daripada bacaan pertama dan kedua. (Lihat Syarh Sunan an-Nasai Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad rekaman no. 327)
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan,
“Zikir ini termasuk salah satu sunnah (bimbingan Rasul) yang seharusnya dihidupkan kembali, sebagai ganti dari banyak bacaan-bacaan yang diucapkan di berbagai negeri. Bahkan, setiap tempat memiliki bacaan dan kebiasaan masing-masing. Sungguh, telah banyak sunnah (ajaran Rasul) dimatikan (tidak diperhatikan) oleh umat.” (Lihat Silsilah al-Huda wa an-Nur rekaman 574)
Artikel Terkait
WAFATNYA SEORANG ULAMA DAN ORANG SHALIH
10 Juli 2025
JIKA SHALAT ID DI MASJID, APAKAH TETAP SHALAT TAHIYATUL MASJID?
13 Mei 2021
Taat Kepada Allah Dan Menjauhi Maksiat
17 Juni 2020
Sumber Segala Kebaikan Dan Keburukan
6 Juni 2020
Cara Nahi Mungkar Dengan Kalbu
28 Mei 2020