Yang Lebih Utama Adalah Tidak Mengatamkan Al-Quran Kurang Dari Tiga hari

YANG LEBIH UTAMA ADALAH TIDAK MENGATAMKAN AL-QURAN KURANG DARI TIGA HARI

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz رحمه الله

Pertanyaan:  Syaikh, apa nasehatmu bagi orang-orang yang berlalu sebulan bahkan beberapa bulan, tidak menyentuh Kitabullah al-Karim tanpa udzur dan engkau dapati salah seorang di antara mereka senantiasa mengikuti perkembangan majalah-majalah yang tidak berfaedah?  [1] 

Jawaban: 

Disunnahkan bagi seorang mukmin dan mukminah untuk memperbanyak membaca Kitabullah disertai dengan tadabur dan merenungi maknanya, baik melalui mushaf atau  hafalannya, berdasarkan firman Allah Subhanah, 

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ 

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” [Q.S. Shad: 29] 

Dan firman-Nya, 

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ 

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Menyukuri.” [Q.S. Fathir: 29-30] 

Qiraah yang disebutkan mencakup qiraah dan ittiba. Qiraah yang disertai tadabbur, dicerna dengan akal dan ikhlas karena Allah merupakan pengantar menuju ittiba’ dan terdapat padanya pahala yang besar. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi –shallallahu ‘alalihi wasallam–, 

«اقرءوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه» 

“Bacalah al-Quran, sesungguhnya dia datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pengikutnya.” Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim pada kitab Shahihnya [no. 1337]. 

Beliau –shallallahu ‘alalihi wasallam– juga bersabda, 

«خيركم من تعلم القرآن وعلمه» 

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya.” Diriwayatkan oleh al-Imam Al-Bukhari [no. 4639]. 
Beliau –shallallahu ‘alalihi wasallam–juga bersabda, 

«من قرأ حرفا من القرآن فله حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول [ألم] ، حرف. ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف» 

“Siapa saja yang membaca satu huruf dari Kitabullah, mendapatkan satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan bahwa ‘Alif Lam Mim’ satu huruf. Namun Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf. “ [H.R. at-Tirmidzi no. 2910] 
Nabi –shallallahu ‘alalihi wasallam– pernah berkata kepada Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash –radhiyallahu ‘anhuma– “Bacalah al-Quran setiap bulan.” Dia berkata, ‘Sesungguhnya saya mampu lebih banyak daripada itu.’ Beliau bersabda, “Bacalah dalam waktu tujuh hari.” [H.R. Muslim no. 1964]. 

Dahulu para shahabat Nabi –shallallahu ‘alalihi wasallam– mengatamkan al-Quran dalam waktu tujuh hari. 

Wasiatku bagi seluruh pembaca al-Quran untuk memperbanyak membaca al-Quran disertai dengan penuh tadabur dan merenunginya, ikhlas karena Allah dan bermaksud untuk meraih faedah dan ilmu. Hendaklah dia mengatamkannya setiap bulan. Jika mungkin baginya untuk mengatamkan kurang dari tujuh hari, itu suatu kebaikan yang besar. Boleh baginya untuk mengatamkannya kurang dari tujuh hari, namun yang afdhal tidak mengatamkannya kurang dari tiga hari, karena ini merupakan batasan terkecil yang dibimbingkan oleh Nabi –shallallahu ‘alalihi wasallam– kepada Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash –radhiyallahu ‘anhuma–. Dan qiraah yang kurang dari tiga hari menyebabkan ketergesa-gesaan serta tidak menadaburinya. 

Tidak boleh membaca dari mushaf kecuali dalam keadaan suci. Adapun jika membacanya melalui hafalannya, tidak mengapa untuk membacanya tanpa harus berwudhu. Adapun orang junub, tidak boleh untuk membaca dari mushaf, tidak pula dari hafalannya hingga dia mandi. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dan ahli Sunan dengan sanad yang hasan dari shahabat Ali –radhiyallahu ‘anhu–, dia berkata, ‘Dahulu Nabi –shallallahu ‘alalihi wasallam–, tidak ada yang menghalangi beliau untuk membaca al-Quran selain junub.’ [H.R. an-Nasai no. 266] 

Hanya kepada Allah kita memohon taufik. 

[1] Disebar di Fatawa Islamiyah yang dikumpulkan oleh Muhammad al-Musnid 4/16. 

Sumber: 
Majmu’ Fatawa al-‘Allamah AbdulAziz bin Baz rahimahullah jilid 24 hal. 415-418 


Alih bahasa: 
Abu Bakar Jombang 
Thalib Darul hadits Fiyusy 
Rabu, 15 Rajab 1435 H

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.