WASPADAI FUTUR (LEMAH DALAM BERAMAL) KETIKA FITNAH MELANDA

WASPADAI FUTUR (LEMAH DALAM BERAMAL) KETIKA FITNAH MELANDA

السلام علسكم ورحمة الله وبركاته.
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﻣﻦ ﻭﺍﻻﻩ، ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ:

Sesungguhnya termasuk perkara yang diperhatikan adalah di sana muncul melemahnya semangat dalam mendakwahkan agama Allah Azza wa Jalla pada banyak para penuntut ilmu Salafiyun, setelah sebelumnya dakwah dalam keadaan penuh semangat terus-menerus dan sangat kuat. Perbolehkan bagi saya untuk menyebut secara khusus dakwah melalui situs internet. Saya ingat beberapa tahun yang lalu sahab.net sangat aktif dalam dakwah dengan segala bentuknya, seperti; menyebarkan perkataan para ulama dan faedah-faedah ilmiyah serta perkembangan terkini dan berita-berita masayikh dan para penuntut ilmu yang berkaitan dengan realita yang terjadi di tengah-tengah kaum  Muslimin. Sampai-sampai -demi Allah- banyaknya tulisan dan tanggapan atau komentar saling mengejar seiring dengan waktu, hingga sebagiannya luput dari kami karena sedemikian banyaknya dan cepat naik turun karena banyaknya pihak yang mengikuti artikel tersebut.

Tetapi -dan ini termasuk perkara yang menyedihkan- semangat ini telah berubah menjadi lemah, dan menjadi sesuatu yang menyedihkan ketika banyak para penuntut ilmu yang lebih senang memilih untuk mengasingkan diri dan menyelamatkan diri agar jangan sampai terkena gangguan sekecil apapun, setelah dakwah berjalan menghadapi berbagai hantaman keras berupa berbagai makar jahat yang besar yang digali oleh orang yang dahulu dia dianggap di atas dakwah Salafiyah. Dan perkara ini tidaklah lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh sebagian orang-orang yang terburu-buru semacam orang-orang Haddadiyah berupa usaha mencari-cari ketergelinciran atau kekeliruan setiap orang yang berani berbicara satu huruf saja dalam upaya untuk menjatuhkan semuanya dengan bersembunyi di balik jubah yang dipintal dengan bahan berupa tuduhan terlalu keras (mutasyaddid) dan ghuluw.

Realita inilah yang kita diperingatkan darinya oleh orang tua kita yang tercinta asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhaly hafizhahullah Ta’ala dengan ucapan beliau:

ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺘﺤﺮﻯ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻔﺮﻕ ﻭﺗﻤﺰﻕ ﺍﻟﺴﻠﻔﻴﻴﻦ ﻫﺆﻻﺀ ﻻ ﻳﺆﺗﻤﻨﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﺗﺴﻠﻂ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻷﺿﻮﺍﺀ.

“Orang-orang yang berusaha mencari-cari sebab-sebab yang akan memecah belah dan mencabik-cabik Salafiyyun, mereka ini tidak bisa dipercaya dalam urusan agama Allah dan wajib untuk membongkar kejahatan mereka.”

Sesungguhnya perkara ini wahai orang-orang yang mulia, yaitu berusaha memecah belah Salafiyyun dan menjatuhkan mereka, telah menyebabkan banyak pihak lebih memilih untuk mengasingkan diri dan meninggalkan dakwah agama Allah Azza wa Jalla, karena mereka takut dirinya akan disakiti oleh orang-orang yang dungu dan dijatuhkan kehormatannya oleh anak-anak muda.

Sesungguhnya penyakit ini terus terpendam dalam kegiatan kelompok yang melampaui batas ini yang hampir-hampir tidaklah mereka melihat kegiatan Salafiyun kecuali mereka berusaha menghancurkannya, dan tidaklah mereka melihat ada pelajaran ilmiyah kecuali mereka berusaha membuat manusia lari darinya, bahkan hampir-hampir tidaklah mereka melihat dua orang yang saling bersaudara dan saling mencintai karena Allah kecuali mereka berusaha memisahkan keduanya.

Namun di saat munculnya berbagai hal-hal yang menyakitkan yang bertubi-tubi ini, justru salah seorang diantara kita ada yang berangan-angan untuk duduk saja di tempat duduknya dalam keadaan aman dan tenang, atau dia ingin menulis sebuah kalimat yang mengajak kepada agama Allah Azza wa Jalla, tanpa perlu merasakan kegelisahan akan munculnya buruk sangka atau analisa ucapan yang menuduh niat-niat hati jika dia melakukannya.

Walaupun demikian keadaannya, bagi seorang salafy yang jujur mengaku mengikuti madzhab Salaf karena mengharapkan pahala dari Allah Azza wa Jalla, yang memahami besarnya berbagai bahaya yang akan dia hadapi, yang mengetahui bahwa dia termasuk sedikit orang yang akan selamat diantara banyaknya orang-orang yang akan binasa, yang beriman bahwa kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟﺪَّﺍﺭُ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓُ ﻧَﺠْﻌَﻠُﻬَﺎ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﺎ ﻳُﺮِﻳﺪُﻭﻥَ ﻋُﻠُﻮًّﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻟَﺎ ﻓَﺴَﺎﺩًﺍ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻗِﺒَﺔُ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ‏

“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menginginkan untuk menyombongkan diri dan tidak pula ingin berbuat kerusakan di muka bumi, dan  kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)

Tidak sepantasnya bagi dia untuk berputus asa dan berputus harapan, karena dia memahami dan meyakini firman Allah Ta’ala:

ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺍﺳْﺘَﻴْﺄَﺱَ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞُ ﻭَﻇَﻨُّﻮﺍ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻗَﺪْ ﻛُﺬِﺑُﻮﺍ ﺟَﺎﺀَﻫُﻢْ ﻧَﺼْﺮُﻧَﺎ

“Hingga apabila para rasul tidak memiliki harapan lagi dan mereka yakin telah didustakan, maka datanglah pertolongan Kami kepada mereka.” (QS. Yusuf: 110)

Tidak sepantasnya pula baginya untuk lesu dan malas karena takut binasa. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma dari Nabi shallallahu alaihi was sallam beliau bersabda:

ﺇِﻥَّ ﻟِﻜُﻞِّ ﻋَﻤَﻞٍ ﺷِﺮَّﺓً، ﻭَﻟِﻜُﻞِّ ﺷِﺮَّﺓٍ ﻓَﺘْﺮَﺓٌ، ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻓَﺘْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺳُﻨَّﺘِﻲ؛ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﻫْﺘَﺪَﻯ، ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺇِﻟَﻰ ﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻚَ؛ ﻓَﻘَﺪْ ﻫَﻠَﻚَ

“Sesungguhnya setiap amal memiliki masa semangat dan setiap semangat memiliki penurunan, maka barangsiapa yang ketika turun semangat terarah kepada sunnahku, dia akan mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang ketika turun semangat terarah kepada selainnya, maka dia akan binasa.”
(HR. Ahmad dan al-Baihaqy, dan dinilai shahih oleh al-Albany)

Kita butuh untuk kembali bersemangat dengan jujur dan kuat ya ikhwah untuk memikul beban berat dakwah yang penuh barakah ini dan tidak membiarkannya terlantar, yang akan menyebabkan ahli bid’ah dan para pengekor hawa nafsu bebas mengarahkan anak panah mereka terhadap kita dengan bertubi-tubi dari semua ketinggian dan dari semua arah. Seorang penyair mengatakan:

ﻟﻜﻞ ﺇﻟﻰ ﺷﺄﻭ ﺍﻟﻌﻼ ﺣﺮﻛﺎﺕ *** ﻭﻟﻜﻦ ﻋﺰﻳﺰ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺛﺒﺎﺕ

Setiap keinginan untuk meraih cita-cita yang tinggi memiliki gerakan usaha
Hanya saja sedikit sekali kekokohan itu pada orang-orang yang ingin meraihnya

Sesungguhnya banyak dalil yang mengajak kita untuk tidak turun semangat, tidak hancur, dan tidak lemah setelah kuat dan kokoh. Diantaranya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi was sallam kepada Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma:

ﻻَ ﺗَﻜُﻦْ ﻣِﺜْﻞَ ﻓُﻼَﻥٍ، ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻘُﻮﻡُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞَ ﻓَﺘَﺮَﻙَ ﻗِﻴَﺎﻡَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ

“Janganlah engkau seperti si fulan, dia dahulu biasa mengerjakan shalat malam lalu dia meninggalkannya.”
(HR. al-Bukhary dan Muslim)

Bahkan termasuk sifat mulia para malaikat yang disebutkan oleh Allah ketika memuji mereka adalah:

ﻳُﺴَﺒِّﺤُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞَ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﻻ ﻳَﻔْﺘُﺮُﻭﻥَ

“Mereka terus-menerus bertasbih sepanjang malam dan siang tanpa jenuh.” (QS. Al-Anbiya’: 20)

Terus-menerus melakukan kebaikan merupakan perkara besar walaupun hanya sedikit. Rasulullah shallallahu was sallam bersabda:

ﺃَﺣَﺐُّ ﺍﻷَﻋْﻤَﺎﻝِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ- ﺃَﺩْﻭَﻣُﻬَﺎ ﻭَﺇِﻥْ ﻗَﻞَّ

“Amal yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah yang paling kontinyu walaupun sedikit.”
(HR. al-Bukhary dan Muslim)

Yang lebih berbahaya adalah bahwasanya melemahnya semangat termasuk sifat orang-orang munafik, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﻳُﺨَﺎﺩِﻋُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻫُﻮَ ﺧَﺎﺩِﻋُﻬُﻢْ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗَﺎﻣُﻮﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻼﺓِ ﻗَﺎﻣُﻮﺍ ﻛُﺴَﺎﻟَﻰ ﻳُﺮَﺍﺀُﻭﻥَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻭَﻻ ﻳَﺬْﻛُﺮُﻭﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻻَّ ﻗَﻠِﻴﻼً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah pasti membalas tipuan mereka, dan jika mereka berdiri untuk mengerjakan shalat maka mereka bangkit dengan penuh kemalasan, mereka melakukannya hanya ketika dilihat oleh manusia dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit saja.” (QS. An-Nisa’: 142)

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﺭَﺍﺩُﻭﺍ ﺍﻟْﺨُﺮُﻭﺝَ ﻷَﻋَﺪُّﻭﺍ ﻟَﻪُ ﻋُﺪَّﺓً ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻧْﺒِﻌَﺎﺛَﻬُﻢْ ﻓَﺜَﺒَّﻄَﻬُﻢْ ﻭَﻗِﻴﻞَ ﺍﻗْﻌُﺪُﻭﺍ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻘَﺎﻋِﺪِﻳﻦَ

“Seandainya mereka benar-benar ingin ikut keluar ke medan perang, pasti mereka melakukan persiapan, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka sehinngga Allah menjadikan mereka bermalas-malasan dan dikatakan kepada mereka; duduklah saja bersama orang-orang yang tidak berjihad.” (QS. At-Taubah: 42)

Sesungguhnya melemahnya semangat akan menyebabkan seseorang terluput dari sebuah keutamaan yang besar, yaitu penjagaan Allah dan perhatian-Nya. Telah disebutkan dalam sebuah hadits qudsi:

ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺰَﺍﻝُ ﻋَﺒْﺪِﻱ ﻳَﺘَﻘَﺮَّﺏُ ﺇِﻟَﻲَّ ﺑِﺎﻟﻨَّﻮَﺍﻓِﻞِ ﺣَﺘَّﻰ ﺃُﺣِﺒَّﻪُ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺘُﻪُ؛ ﻛُﻨْﺖُ ﺳَﻤْﻌَﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺴْﻤَﻊُ ﺑِﻪِ، ﻭَﺑَﺼَﺮَﻩُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳُﺒْﺼِﺮُ ﺑِﻪِ، ﻭَﻳَﺪَﻩُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻳَﺒْﻄُﺶُ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺭِﺟْﻠَﻪُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻳَﻤْﺸِﻲ ﺑِﻬَﺎ، ﻭَﺇِﻥْ ﺳَﺄَﻟَﻨِﻲ؛ ﻷُﻋْﻄِﻴَﻨَّﻪُ، ﻭَﻟَﺌِﻦِ ﺍﺳْﺘَﻌَﺎﺫَﻧِﻲ؛ ﻷُﻋِﻴﺬَﻧَّﻪُ، ﻭَﻣَﺎ ﺗَﺮَﺩَّﺩْﺕُ ﻋَﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﺃَﻧَﺎ ﻓَﺎﻋِﻠُﻪُ ﺗَﺮَﺩُّﺩِﻱ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْﺲِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ، ﻳَﻜْﺮَﻩُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ، ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺃَﻛْﺮَﻩُ ﻣَﺴَﺎﺀَﺗَﻪُ‏

“Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah nafilah (mustahab) hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang dia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Jika dia meminta kepada-Ku pasti Aku akan memberinya, jika dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti Aku akan melindunginya. Dan tidaklah Aku ragu terhadap sesuatu yang harus Aku lakukan seperti keraguan-Ku ketika hendak mencabut nyawa seorang mu’min, karena dia membenci kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya.”
(HR. al-Bukhary)

Bahkan sesungguhnya melemahnya semangat menyelisihi perintah Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman ketika membekali Musa dan Harun alaihimas salam untuk menghadapi Fir’aun:

ﺍﺫْﻫَﺐْ ﺃَﻧْﺖَ ﻭَﺃَﺧُﻮﻙَ ﺑِﺂﻳَﺎﺗِﻲ ﻭَﻻ ﺗَﻨِﻴَﺎ ﻓِﻲ ﺫِﻛْﺮِﻱ‏

“Pergilah engkau dan saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku dan janganlah kalian berdua jenuh dalam mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 41)

Maksudnya: Janganlah kalian berdua turun semangat dari mengingat Allah dan jangan melemah darinya.

Pembicaraan tentang tema ini akan panjang, dan saya tidak ingin memberatkan pembaca yang mulia. Maka ijinkan saya menutupnya dengan nukilan yang diberkahi dari dua orang syaikh yang mulia:
Asy-Syaikh al-Allamah Muqbil al-Wadi’iy rahimahullah Ta’ala:

Yang saya wasiatkan kepada kalian hendaknya kalian sungguh-sungguh dan semangat meraih ilmu yang bermanfaat. Adapun menurunnya semangat maka itu juga terjadi pada kita semua. Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:

ﺇِﻥَّ ﻟِﻜُﻞِّ ﻋَﻤَﻞٍ ﺷِﺮَّﺓً، ﻭَﻟِﻜُﻞِّ ﺷِﺮَّﺓٍ ﻓَﺘْﺮَﺓٌ، ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻓَﺘْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺳُﻨَّﺘِﻲ؛ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﻫْﺘَﺪَﻯ، ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺇِﻟَﻰ ﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻚَ؛ ﻓَﻘَﺪْ ﻫَﻠَﻚَ

“Sesungguhnya setiap amal memiliki masa semangat dan setiap semangat memiliki penurunan, maka barangsiapa yang ketika turun semangat terarah kepada sunnahku, dia akan mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang ketika turun semangat terarah kepada selainnya, maka dia akan binasa.”

Tetapi tidak sepantasnya kita ragu terhadap apa yang kita yakini. Saya ingin kita merasa cukup dengan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena Allah Azza wa Jalla berfirman:

ﻭَﺇِﻥْ ﺗُﻄِﻊْ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻳُﻀِﻠُّﻮﻙَ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ‏

“Dan jika engkau mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, pasti mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)

Allah juga berfirman:

ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﻟَﻮْ ﺣَﺮَﺻْﺖَ ﺑِﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ‏

“Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman, walaupun engkau sangat menginginkan.” (QS. Yusuf: 103)

Juga firman-Nya:

ﻭَﻗَﻠِﻴﻞٌ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱَ ﺍﻟﺸَّﻜُﻮﺭُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”

Jadi tidak sepantasnya kita tertipu dengan jumlah yang banyak dan menurunnya semangat, bahkan sepantasnya setiap kali kita melihat manusia berpalingnya manusia, kita harus semakin semangat demi agama, semakin semangat menuntut ilmu yang bermanfaat, dan semakin semangat berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi was sallam. Inilah yang seharusnya.

Seorang sunni sepantasnya untuk memberi pengaruh kepada orang lain, bukannya terpengaruh.   Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:

ﻋُﺮِﺿَﺖْ ﻋَﻠَﻲَّ ﺍﻷُﻣَﻢُ، ﻓَﺮَﺃﻳْﺖُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﻭَﻣَﻌَﻪُ ﺍﻟﺮَّﻫْﻂُ، ﻭَﺍﻟﻨَّﺒﻲُّ ﻭَﻣَﻌَﻪ ﺍﻟﺮَّﺟُﻼﻥِ، ﻭَﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻣَﻌَﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ‏

“Telah ditampakkan kepadaku umat-umat terdahulu, maka aku melihat seorang nabi hanya diikuti oleh beberapa orang saja, nabi yang lain hanya diikuti oleh dua orang, dan seorang nabi sama sekali tidak memiliki pengikut.”

Jadi terkadang ada seorang nabi yang tidak memiliki pengikut, padahal kita tidak sebanding dengan nabi tersebut. Walaupun demikan nabi tersebut tetap kokoh, sehingga sepantasnya bagi kita untuk kokoh di atas kebenaran.

Saya merasa kagum dengan ucapan seorang Nasrani yang masuk Islam kepada sebagian ulama ketika dia melihat kelembekan pada kaum Muslimin dan berbagai kefasikan dan kejahatan yang terjadi di tengah-tengah mereka, serta tidak komitmennya mereka, “Saya telah yakin bahwa agama ini benar. Demi Allah, seandainya seluruh penduduk bumi semuanya murtad, saya akan berpegang teguh dengan agama ini.”

Bahkan Nabi shallallahu alaihi was sallam juga diperintah agar beliau meyakinkan diri beliau bahwa beliau benar-benar nabi utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka kita juga diperintahkan untuk meyakinkan diri kita bahwa kita di atas kebenaran, dan kita tidak boleh mengatakan, “Kami tidak tahu, mungkin kami demikian atau demikian…” Manusia kebanyakan di atas kebathilan, dan yang menjadi penengah antara kita dengan manusia adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi was sallam.

ﻭَﻣَﺎ ﺍﺧْﺘَﻠَﻔْﺘُﻢْ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﺤُﻜْﻤُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ‏

“Dan apa saja yang kalian perselisihkan maka keputusannya kembali kepada Allah.” (QS. Asy-Syura: 10)

Sumber: Gharatul Asyrithah ala Ahlil Jahl was Safsathah, jilid 1 hal. 106-107, terbitan Darul Haramain.

Asy-Syaikh Al-Allamah Rabi’ al-Madkhaly hafizhahullah Ta’ala

Pertama: Saya nasehatkan kepada saya sendiri sebelum engkau agar bertakwa kepada Allah Jalla wa Ala serta selalu merasa diawasi oleh-Nya dalam keadaan tersembunyi maupun nampak terang-terangan. Ini yang pertama.
Kedua: Merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dan berdoa kepada-Nya  dalam keadaan tersembunyi maupun nampak terang-terangan agar Allah mengarunikan hidayah kepada kita semua serta memberi kami dan kalian semangat untuk melakukan ketaatan kepada-Nya. Hati juga bisa merasakan kejenuhan dan kebosanan. Dan jika hati jenih maka jiwa bisa buta sehingga akan merasakan keletihan. Maka manfaatkan masa semangat dengan sebaik-baiknya. Dan jika datang masa memlemahnya semangat dan keletihan maka jangan engkau paksa. Kemudian juga hendaknya engkau bermajelis dengan orang-orang shalih dan orang-orang baik, memperbanyak membaca Kitab Allah Azza wa Jalla, dan memperhatikan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi was sallam. Kemudian setelah itu bermajelis dengan orang-orang baik agamanya yang jika engkau lalai maka mereka akan mengingatkan dirimu, jika engkau tergelincir maka mereka akan meluruskanmu, mengarahkan dirimu, dan membantu dirimu untuk menghadapi dirimu dan menghadapi orang-orang yang jahat dan jiwa yang selalu menyuruh kepada keburukan serta menolongmu dalam menghadapi syaithan dengan seizin Allah, sehingga mereka akan menyelamatkan dirimu. Jika engkau mau melakukan semua itu maka bergembiralah dengan kebaikan. Tetapi juga perbanyaklah doa dan perbanyaklah merendahkan diri dan mengadu kepada Allah Jalla wa Alla, dan berusahalah doa tersebut pada waktu-waktu mustajab. Semangatlah melakukan semua itu dan kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengarunikan ketaatan kepadanya untuk kami dan kalian semua.

Sumber: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=9259

Sebagai penutup:
Allah Ta’ala berfirman:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺻْﺒِﺮُﻭﺍ ﻭَﺻَﺎﺑِﺮُﻭﺍ ﻭَﺭَﺍﺑِﻄُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkan kesabaran, siagalah di perbatasan, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)

Allah juga berfirman:

ﻭَﺟَﺎﻫِﺪُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺟِﻬَﺎﺩِﻩِ‏

“Dan hendaklah kalian berjihad membela agama Allah dengan sebenar-benarnya jihad.” (QS. Al-Hajj: 78)

Dan juga firman-Nya:

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺟَﺎﻫَﺪُﻭﺍ ﻓِﻴﻨَﺎ ﻟَﻨَﻬْﺪِﻳَﻨَّﻬُﻢْ ﺳُﺒُﻠَﻨَﺎ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻤَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ‏

“Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami sungguh Kami benar-benar akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang suka berbuat kebaikan.” (QS. Al-Ankabut: 69)

ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ.

Saudara kalian: Abu Abdillah Muhammad bin Yahya al-Ghazy as-Salafy

Sumber artikel: www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=156036

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.