Tiga Pesan Nabi Yang Agung

Tiga Pesan Nabi Yang AgungTIGA PESAN NABI NAN AGUNG

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.

Dari Abu Dzar radhiyallahuanhu, ia berkata: Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadaku:

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya kebaikan akan menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang mulia.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Birri Washshilah, hadits no. 1987. At-Tirmidzi mengatakan: Hadits ini hasan shahih. Asy-Syaikh Al-Albani menghasankan dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Pesan-pesan mulia dalam hadits ini meskipun Nabi Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam tujukan kepada sahabat Abu Dzar Jundub bin Junadah Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam, namun sebenarnya juga diarahkan kepada seluruh umatnya. Karena telah maklum dalam kaidah ushul fiqih bahwa pembicaraan Allah Subhanahuwata’ala dan Rasul-Nya (sebagai penentu syariat) bila diarahkan kepada seorang dari umat ini, maka itu sesungguhnya ditujukan pula kepada seluruh umat ini kecuali ada dalil yang menyatakan kekhususan.

Seperti itu pula kaidah yang lainnya, bahwa dianggap adalah keumuman lafadz bukan kekhususan peristiwa. Saudaraku, bila sahabat Nabi Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam sebagai generasi terbaik umat ini perlu diberi arahan dan disampaikan kepadanya pesan, maka kita yang hidup di masa sekarang tentunya lebih membutuhkan.

Tiga wasiat yang mulia ini adalah faktor utama seorang meraih kebahagiaan hidup di dunia yang fana ini dan akhirat yang abadi kelak. Karena wasiat tersebut mengandung bentuk pelaksanakan hak-hak Allah Subhanahuwata’ala dan hak hamba-hamba-Nya. Seseorang akan dianggap baik bila bagus hubungannya dengan Allah Subhanahuwata’ala dan bagus pergaulannya dengan sesama manusia. Oleh karena itu, banyak sekali ayat Al-Qur’an yang memerintahkan untuk mendirikan shalat dan memberikan zakat.

Pada amalan shalat terkandung kedekatan yang tulus antara hamba dengan Allah Subhanahuwata’ala, sedangkan amalan zakat mencerminkan sikap belas kasihan kepada orang yang kesulitan dan membutuhkan. Oleh karena itu, Nabi kita Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam banyak melakukan shalat dan memberikan shadaqah.

 Wasiat pertama dan paling utama dalam hadits ini adalah takwa kepada Allah Subhanahuwata’ala di manapun berada

Takwa, seperti dikatakan Thalq bin Habib rahimahullah, adalah: “Kamu melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahuwata’ala, di atas cahaya (ilmu) dari-Nya dengan mengharap pahala-Nya. Kamu (juga) meninggalkan bermaksiat kepada Allah Subhanahuwata’ala, di atas cahaya (ilmu) dari-Nya dan karena takut siksa-Nya.”

Umar bin Abdul Aziz radhiyallahuanhu mengatakan, “Takwa kepada Allah Subhanahuwata’ala adalah meninggalkan apa yang Allah Subhanahuwata’ala haramkan dan melaksanakan apa yang Ia wajibkan.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/400)

Allah Subhanahuwata’ala berfirman dengan menyebutkan sifat-sifat orang yang bertakwa:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 177).

Dari sini, maka takwa bukanlah kalimat yang sunyi dari makna dan bukan pula pengakuan yang kosong dari bukti. Takwa adalah kata yang sangat luas cakupannya. Takwa adalah melaksanakan apa yang dibawa oleh syariat Islam ini baik yang berupa aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlak. Karena takwa adalah bentuk pengabdian kepada Allah Subhanahuwata’ala, dia tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Bukan orang bertakwa yang sebenarnya bila dia di hadapan orang terlihat taat, namun di saat sendirian dia bermaksiat.

Seperti itu pula ketika berada di masjid terlihat ruku’ dan sujud namun di saat berada di pasar, di tempat kerja, dan tempat-tempat lainnya meninggalkan perintah Allah Subhanahuwata’ala dan melanggar batasan-batasan-Nya. Bertakwa kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan sebenar-benar takwa adalah dengan mensyukuri nikmat-Nya dan tidak mengkufuri serta mengingat Allah Subhanahuwata’ala dan tidak melupakan-Nya di saat lapang atau sempit, dalam kondisi senang ataupun sedih. Bagi orang yang bertakwa adalah janji kemuliaan di dunia dan akhirat. Diantara yang akan diperolehnya di dunia adalah:

  1. Dibukanya keberkahan, dimudahkan semua urusannya, dan diberikan dia rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
    “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)
    Juga firman-Nya:

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaaq: 2-3)

  1. Memperoleh dukungan dan bantuan dari Allah Subhanahuwata’ala.
  1. Dijaga oleh Allah Subhanahuwata’ala dari tipu daya musuh.

Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (Ali Imran: 120)

Adapun di akhirat kelak, mereka mendapatkan surga dengan segala kenikmatannya, yang jiwa-jiwa mereka akan senantiasa bahagia dan mata pun sejuk karenanya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya.” (Al-Qalam: 34)

Namun, ketakwaan yang sesungguhnya tidak akan diperoleh tanpa adanya ilmu. Dengan ilmu akan bisa dibedakan antara perintah dan larangan, kebaikan dan kejelekan. Bila ketakwaan telah menjadi baju bagi seseorang niscaya akan memunculkan sikap takut kepada Allah Subhanahuwata’ala dan selalu merasa diawasi oleh-Nya.

Inilah diantara rahasia mengapa tindak kejahatan di tengah masyarakat kita seolah tak bisa diakhiri, bahkan setiap hari semakin bertambah kejelekannya. Semua itu tidak lain karena rasa takut kepada Allah Subhanahuwata’ala melemah atau nyaris hilang. Memang, untuk tetap berada di atas ketakwaan tak semudah yang dibayangkan. Beragam bujuk rayu serta gangguan selalu menghadang. Akan tetapi manakala kita mengetahui manisnya buah yang akan dipetik dari ketakwaan, maka jalan untuk merealisasikannya terbuka lebar dan terasa mudah.

Wasiat atau pesan Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam yang kedua adalah agar melakukan amal kebaikan setelah terpeleset melakukan dosa dan kesalahan

Diantara faedah amal kebaikan adalah menghapus kesalahan. Memang, tak bisa dimungkiri bahwa terkadang seseorang terjerumus dalam kenistaan karena sekian banyak faktor. Diantaranya, lingkungan yang jelek, bisikan jiwa yang tidak baik, dan bujuk rayu setan. Jika iman seseorang itu lemah dan faktor-faktor tersebut menyelimutinya, akan sangat mudah seseorang tergelincir. Tetapi, Allah Subhanahuwata’ala lebih sayang terhadap hamba-Nya daripada hamba terhadap dirinya sendiri. Diantara bentuk kasih sayang-Nya bahwa dosa bisa dihapus dan dampak negatif dari dosa bisa hilang dengan bertaubat, istighfar, dan amal kebaikan yang dilakukan hamba.

Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Hud: 114)

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahuanhu berkisah bahwa dahulu ada seorang lelaki mencium seorang perempuan (yang tidak halal baginya). Kemudian lelaki itu datang kepada Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam dan menyebutkan perbuatannya. Maka turunlah kepadanya ayat tersebut. Orang itu berkata, “(Wahai Nabi), apakah hal ini khusus bagiku?” Nabi menjawab, “Bagi orang yang mengamalkannya dari umatku.” (Shahih Al-Bukhari no. 4687).

Hadits ini menunjukkan bahwa cahaya ketaatan mampu melenyapkan gelapnya kemaksiatan. Diantara ketaatan terbesar untuk menghapus dosa dan kesalahan adalah taubat dan istighfar kepada Allah Subhanahuwata’ala. Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah Subhanahuwata’ala, sebesar apapun kesalahan yang dilakukannya. Bila suatu saat seseorang digoda oleh setan sehingga terjatuh ke dalam lumpur dosa, maka bersegeralah kembali kepada Allah Subhanahuwata’ala pasti dia akan mendapati-Nya Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Bergegaslah untuk memperbaiki diri dengan melakukan kebaikan karena satu kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Subhanahuwata’ala menjadi sepuluh.

Banyak hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam yang menerangkan bahwa amal kebaikan akan menghapus kesalahan. Diantaranya sabda beliau Shalallahu’alaihi wa sallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa puasa Ramadhan karena dorongan iman dan mengharap pahala maka diampuni baginya apa yang telah lalu dari dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi, dosa yang bisa dihapus dengan amal kebaikan adalah dosa kecil. Adapun dosa besar dihapuskan dengan cara seseorang bertaubat kepada Allah Subhanahuwata’ala darinya. Ini pendapat jumhur (kebanyakan) ulama seperti dikatakan oleh Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah. (Jami’ul ‘Ulum 1/429)

Termasuk kasih sayang Allah Subhanahuwata’ala terhadap hamba-Nya, bila seseorang tidak memiliki dosa kecil, amal shalih yang dia lakukan dapat meringankan dosa besarnya sekadar menghapusnya dia terhadap dosa kecil. Jika dia tidak punya dosa kecil dan dosa besar, maka Allah Subhanahuwata’ala akan melipatgandakan pahala kepadanya. (Al-Wafi Syarh Arba’in hlm. 118).

Saudaraku, perlu diingat bahwa dosa yang kita lakukan akan berdampak negatif terhadap keimanan, kejiwaan, rezeki, dan seluruh keadaan kita. Sungguh tiada suatu bala’ (musibah) turun menimpa manusia kecuali karena dosa. Petaka tidaklah dicabut kecuali dengan taubat dan amal shalih. Mari kita banyak-banyak mengaca diri dengan memperbaiki kondisi. Semoga Allah Subhanahuwata’ala akan mengubah keadaan menjadi baik dan diberkahi.

Wasiat ketiga: Menggunakan akhlak yang mulia dalam pergaulan dengan sesama

Dengan menjalankan pesan ini, keserasian hidup bermasyarakat akan terwujud dan ketenteraman akan menebar. Adalah Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam seorang yang memiliki budi pekerti yang baik. Segala akhlak mulia dan perangai terpuji ada pada diri beliau sehingga kita diperintah untuk mencontohnya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik.” (Al-Ahzab: 21)

Karena akhlak mulia termasuk pokok peradaban dalam kehidupan manusia, Islam telah menjunjung tinggi kedudukannya dan sangat memerhatikannya. Banyaknya ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam adalah bukti terbaik atas pentingnya hal ini. Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam menyebutkan sabdanya:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah Subhanahuwata’ala) untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menshahihkannya dalam Shahih Al-Adab)

Baiknya akhlak adalah bukti atas baiknya keimanan seseorang. Pemiliknya akan memetik janji surga dan dekat majelisnya dengan Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam di hari kiamat. Berbudi pekerti yang luhur juga sebab utama seseorang meraih kecintaan dari manusia. Seharusnya kita banyak menghiasi diri dengan akhlak mulia. Misalnya, dengan silaturahmi, memaafkan kesalahan, rendah hati, dan tidak menyombongkan diri serta bertutur kata yang lembut.

Ibnul Mubarak rahimahullah mengatakan, “(Salah satu) bentuk akhlak mulia adalah wajah yang selalu berseri, memberikan kebaikan, dan mencegah diri dari menyakiti orang.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/457).

Telah terbukti bahwa apa yang disebutkan oleh Ibnul Mubarak rahimahullah adalah akhlak mulia yang cepat mendatangkan kecintaan dari manusia. Cerahnya wajah saat berjumpa dengan saudaranya, diiringi senyuman dan ucapan salam, akan memunculkan suasana keakraban tersendiri. Akan tersebar diantara mereka ruh kasih sayang. Memberi kebaikan kepada orang lain, artinya seseorang mencurahkan sebagian yang dimilikinya untuk kebaikan orang lain. Pemberian itu bisa berupa harta, tenaga, saran, dan bahkan dukungan dalam kebaikan. Sebab, biasanya orang akan mencintai orang yang berbuat baik kepadanya.

Menahan diri dari menyakiti orang, adalah karena setiap individu masyarakat menginginkan berlangsungnya kehidupan mereka dengan nyaman dan damai. Sehingga bila ada yang menimpakan gangguan kepada mereka dalam bentuk apa pun, ketenangan menjadi terusik dan keretakan di tengah masyarakat tak bisa dihindarkan. Untuk bisa berhias diri dengan akhlak mulia tentu ada beberapa cara, diantaranya:

  1. Menelaah sejarah kehidupan Nabi Muhammad n berikut apa yang terkandung di dalamnya berupa perangai-perangai beliau yang terpuji.
  1. Memilih lingkungan dan teman yang baik.
  1. Duduk di majelis ulama untuk menimba ilmu mereka serta bersuri tauladan dengan mereka.

Demikianlah sekelumit penjelasan seputar tiga pesan Rasulullah Shalallahu’alaiihi wa sallam yang mulia, semoga Allah Subhanahuwata’ala memberikan karunia-Nya kepada kita untuk menjalankannya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: Majalah Asy Syariah

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.