Silsilah: Agamaku Mengajarkanku … (Seri 14)

SILSILAH: Agamaku Mengajarkanku… (Seri ke 14)

Bersama: DR. Muhammad bin Umar Bazemul حفظه الله تعالى

Agamaku mengajariku:  Bahwa bagi setiap muslim ada kepemimpinan yang akan dipertanggungjawabkan darinya, maka seorang muslim tidaklah memikul tanggung jawab orang lain, dan mengambil janji untuk tidak mencabut ketaatan dari ahlinya; dari Ibnu ‘Umar dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bahwasanya beliau bersabda:

« ألا كلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيَّتِه فالأميرُ الَّذي على النَّاسِ راعٍ عليهم وهو مسؤولٌ عنهم والرَّجلُ راعي أهلِ بيتِه وهو مسؤولٌ عنهم والمرأةُ راعيةٌ على بيتِ بَعْلِها وولدِه وهي مسؤولةٌ عنهم وعبدُ الرَّجلِ راعٍ على مالِ سيِّدِه وهو مسؤولٌ عنه فكلُّكم راعٍ، كلُّكم مسؤولٌ عن رعيّتِه»

“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya; maka seorang penguasa yang membawahi manusia adalah pemimpin dan dia akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya, dan seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan dipertanggungjawabkan dari mereka, dan seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anaknya dan dia akan dipertanggungjawabkan dari mereka, dan seorang budak adalah pemimpin atas harta majikannya dan dia akan dipertanggungjawabkan darinya, maka ketahuilah bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya”. [1]

Dan sebagian orang menuntut dari orang lain agar menegakkan apa yang menjadi kewajiban-kewajiban selain mereka, sehingga dia menjerumuskan bagi Islam dan muslimin kerusakan, dan diantara contohnya: bahwa urusan-urusan kenegaraan dan apa yang ada padanya dari hal-hal yang terkait dari urusan penguasa, dan bantahan atas segala tuduhan di antara negara termasuk haknya penguasa, maka serahkan urusannya kepada penguasa dan jangan ikut campur di dalamnya, adapun masyarakat umum membikin bantahan maka ini termasuk dari mencabut sumpah dari ahlinya, hendaknya kita berhubungan dengan penguasa menyampaikan apa yang kita inginkan dan merekalah yang bertindak bukan kita; (disebutkan) dari ‘Ubadah Ibnus Shomit -rodhiallohu ‘anhu-:

«بايعْنا رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ على السمعِ والطاعةِ . في العُسرِ واليُسرِ . والمَنشطِ والمَكرهِ . وعلى أَثَرةٍ علينا . وعلى أن لا ننازعَ الأمرَ أهلَه . وعلى أن نقولَ بالحقِّ أينما كنّا . لا نخافُ في اللهِ لومةَ لائمٍ»

“Kami membaiat (bersumpah setia) Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- untuk dengar dan taat dalam keadaan susah maupun senang, semangat maupun tidak suka, dan atas kejelekan yang menimpa kami, dan untuk tidak melepaskan sumpah dari ahlinya, dan agar kita berkata dengan kebenaran dimanapun kita berada, kita tidak takut karena Alloh dari cercaan orang yang mencerca”. [2]

❃ ❃ ❃

Sumber:  Silsilah ‘allamani dieni Hal. 20-21

Alih Bahasa: Muhammad Sholehuddin Abu Abduh.

Catatan Kaki:

⑴ Dikeluarkan oleh Bukhori-Muslim.

⑵ Dikeluarkan oleh Bukhori-Muslim.

 

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.