Sikap Yang Benar Terhadap Kesalahan Seorang Ulama

Sikap Yang Benar Terhadap Kesalahan Seorang UlamaSIKAP YANG BENAR TERHADAP KESALAHAN SEORANG ULAMA

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady Al-Madkhaly Hafizhahullah

Pertanyaan: Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, ada dua pertanyaan tentang manhaj yang sepantasnya bagi seorang penuntut ilmu untuk berjalan di atasnya jika muncul kesalahan dari sebagian Masayikh, yaitu dari Masayikh dan para ulama, dan sebagian penuntut ilmu mendengar ada yang menggelari mereka dengan ucapan yang buruk atau menjatuhkan kehormatan mereka atau mencela mereka. Maka bagaimana bimbingan Anda terhadap hal semacam ini, terkhusus jika sebuah kesalahan muncul dari sebagian Masayikh?

Jawaban: Manhaj yang benar dalam hal ini adalah bahwasanya seorang ulama bisa saja keliru dan seorang ulama terkadang tidak tahu. Sebagian manusia jika mendapati seorang ulama keliru maka mereka ada yang mengatakan: “Ulama ini bodoh.” Ini merupakan manhaj yang menghancurkan. Malik pernah ditanya tentang 40 masalah, lalu beliau hanya menjawab 8 atau 6 atau 4 masalah saja, sedangkan tentang masalah lainnya beliau menjawab: “Allahu a’lam, Allahu a’lam, aku tidak tahu.” [1]

Abdurrahman bin Mahdy pernah menceritakan: “Ada seseorang datang kepada Malik bin Anas untuk menanyakan sesuatu kepada beliau, lalu Malik menjawab: “Aku tidak tahu.” Maka orang tersebut mengatakan: “Apakah saya harus mengatakan tentang Anda bahwa Anda tidak tahu?” Malik menjawab: “Ya, ceritakan tentang diriku bahwa aku tidak tahu!” [2]

Jadi seorang ulama yang jujur dan ikhlash, dia tidak akan peduli dikatakan sebagai orang yang berilmu ataupun dikatakan sebagai orang yang bodoh.

Seorang penuntut ilmu wajib untuk memiliki adab, dan tidak sepantasnya memiliki timbangan yang rusak atau zhalim semacam ini!!

Seseorang jika dia keliru dalam 2 atau 10 atau 20 kesalahan maka jangan engkau rendahkan dia! Dia memiliki ilmu wahai saudaraku! Hanya saja dia tidak mengetahui semua perkara, dia tidak menguasai segala sesuatu. Dan memang tidak ada seorang pun yang mengetahui semua ilmu secara menyeluruh, tidak Asy-Syafi’iy, tidak Ahmad, tidak Malik, dan tidak pula para Shahabat. Dahulu para tokoh Shahabat tidak mengetahui sebagian hadits, padahal Shahabat lain yang kedudukannya di bawah mereka ada yang menghafalnya. Namun demikian tidak ada seorang pun yang merendahkan mereka, dan tidak ada seorang pun yang menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang bodoh. Kita berlindung kepada Allah dari penilaian semacam ini.

Sekarang ini di medan dakwah ada orang-orang yang modelnya semacam ini. Jika ada seseorang keliru dalam satu kesalahan saja atau dia tidak mengetahui sebuah masalah, maka mereka mengatakan: “Demi Allah, dia adalah orang yang bodoh.”

Semacam ini adalah manhaj yang menghancurkan. Wajib atas kita untuk memuliakan para ulama dan memuliakan para penuntut ilmu. Dan hendaknya kaum Muslimin sebagian mereka menghormati sebagian yang lain. Dan hendaknya kita tidak menghalalkan kehormatan manusia hanya gara-gara engkau mendapati sedikit saja kesempatan untuk mencela saudaramu sesama muslim.

[As-ilah Risalah Fadhlil Ilmi wal Ulama’ hal 168-189]

Catatan kaki:

[1] Lihat: Al-Intiqaa’ karya Ibnu Abdil Barr hal 38, Tartiibul Madaarik karya Al-Qadhy Iyyadh I/146, dan Raf’ul Haajib an Mukhtashar Ibnil Haajib karya As-Subuky, I/245.

[2] Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam Masa-il-nya sebagaimana disebutkan dalam I’laamul Muwaqqi’iin karya Ibnul Qayyim, I/33 terbitan Al-Jiil, Al-Aajurry dalam Akhlaaqul Ulamaa’ hal. 113-114, dan Al-Khathib Al-Baghdady dalam Al-Faqiih wal Mutafaqqih no. 1117.

Sumber artikel:
http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=29&id=289

http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=53846

Alih Bahasa: Abu Almass

Ahad, 18 Dzulhijjah 1435 H

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.