SIKAP TERHADAP ORANG YANG MELEMAHKAN HADITS-HADITS SHAHIH MUSLIM DAN SHAHIH BUKHARI

SIKAP TERHADAP ORANG YANG MELEMAHKAN HADITS-HADITS SHAHIH MUSLIM DAN SHAHIH BUKHARI

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz رحمه الله

Pertanyaan:
Apa sikap kita kepada yang melemahkan (mendha’ifkan) hadits-hadits dalam Shahih Muslim atau Shahihul Bukhari?

Jawab:
Ini adalah keganjilan-keganjilan terhadap ulama, tidaklah mereka mengandalkannya kecuali pada hal-hal yang mudah di sisi Muslim -rahimahullah- yang telah diterangkan oleh Ad-Daruquthni dan selainnya. Dan yang wajib bagi ahlul ‘ilmi adalah talaqqi (menerima) hadits-hadits di dalam Shahihain (Shahihul Bukhari dan Shahih Muslim, pen.) dengan penerimaan terhadapnya sebagaimana dinyatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Al-Hafizh Ibnu Shalah dan selain keduanya.

Jika pada sebagian rijal (rijal hadits atau perawi hadits, pen.) yang dikeluarkan di dalam Shahihain terdapat kelemahan (dha’if), maka kedua pemilik kitab Shahih tersebut sungguh telah menyeleksi hadits-hadits mereka (yang padanya rijal yang lemah itu, pen.) pada hadits yang “laa ba’sa bihi” (“tidak mengapa dengannya”, derajat hadits yang masih dapat diterima, pen.).

Contohnya adalah Isma’il bin Abi Uwais, ‘Umar bin Hamzah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Al-Khaththab, dan sekelompok (rijal hadits) yang ada padanya kelemahan (dha’if), tapi kedua pemilik kitab Shahih telah menyeleksi dari hadits-hadits mereka apa yang tidak ada ‘illah (sebab kedha’ifan, pen.) padanya. Sebab selain rijal-rijal tersebut terdapat hadits-hadits yang banyak sehingga kesalahan pada sebagiannya atau pada rawi-rawinya setelah tercampurnya -jika memang pada yang tercampur-, maka kedua pemilik kitab Shahih tersebut telah menerangkan atau memperingatkan hal itu dan tidaklah keduanya meriwayatkan kecuali apa yang menurut mereka berdua telah benar/nyata keselamatan [riwayat hadits]nya.

Kesimpulannya bahwa apa yang telah diriwayatkan oleh kedua Syaikh itu telah diterima oleh umat dengan penerimaan terhadapnya. Maka janganlah didengar ucapan-ucapan orang yang mencela keduanya -semoga Allah merahmati keduanya- sebagaimana yang telah diterangkan oleh ahlul ‘ilmi di atas.

Dan yang diambil (dalam arti dikesampingkan, pen.) dari (Shahih) Muslim -semoga Allah merahmatinya- adalah riwayat hadits Abu Hurairah: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan tanah pada hari Sabtu…” Al-Hadits. Dan yang benar adalah bahwa sebagian riwayatnya -yang itu disandarkan (marfu’) sampai ke Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang mana itu adalah riwayat Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya- dari Ka’ab Al-Akhbar; karena ayat-ayat Qur`aniyyah dan hadits-hadits Qur`aniyyah yang shahih sungguh semuanya menunjukkan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan langit dan bumi serta yang ada di antara keduanya dalam enam hari, diawali pada hari Ahad dan berakhir di hari Jumat. Dengan itu mengertilah ahlul ‘ilmi tentang kesalahan yang meriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaih wa sallam- bahwa Allah menciptakan tanah pada hari Sabtu, kesalahan Ka’ab Al-Akhbar, dan siapa saja yang mengucapkan seperti itu. Karena yang demikian itu dari kisah-kisah Isra`iliyat yang bathil.

Sumber: http://tiny.cc/binbaz

Dan hanya Allah-lah pemberi taufik.

 

====================================

 س: ما موقفنا ممن يضعف أحاديث في صحيح مسلم أو صحيح البخاري؟
——————————
ج: هذا شذوذ عن العلماء لا يعول عليه إلا في أشياء يسيرة عند مسلم – رحمه الله – نبه عليه الدارقطني وغيره، والذي عليه أهل العلم هو تلقي أحاديث الصحيحين بالقبول والاحتجاج بها كما صرح بذلك الحافظ ابن حجر والحافظ ابن الصلاح وغيرهما، وإذا كان في بعض الرجال المخرج لهم في الصحيحين ضعف فإن صاحبي الصحيح قد انتقيا من أحاديثهم ما لا بأس به، مثل: إسماعيل بن أبي أويس، ومثل عمر بن حمزة بن عبد الله بن عمر بن الخطاب، وجماعات فيهم ضعف لكن صاحبي الصحيح انتقيا من أحاديثهم ما لا علة فيه؛ لأن الرجل قد يكون عنده أحاديث كثيرة فيكون غلط في بعضها أو رواها بعد الاختلاط إن كان ممن اختلط، فتنبه صاحبا الصحيحين لذلك فلم يرويا عنه إلا ما صح عندهما سلامته.
والخلاصة أن ما رواه الشيخان قد تلقته الأمة بالقبول فلا يُسمع كلام أحد في الطعن عليهما رحمة الله عليهما سوى ما أوضحه أهل العلم كما تقدم.
ومما أُخذ على مسلم – رحمه الله – رواية حديث  أبي هريرة: أن الله خلق التربة يوم السبت.. الحديث. والصواب أن بعض رواته وهم برفعه للنبي – صلى الله عليه وسلم- وإنما هو من رواية أبي هريرة – رضي

الله عنه – عن كعب الأحبار؛ لأن الآيات القرآنية والأحاديث القرآنية الصحيحة كلها قد دلت على أن الله سبحانه قد خلق السماوات والأرض وما بينهما في ستة أيام أولها يوم الأحد وآخرها يوم الجمعة؛ وبذلك علم أهل العلم غلط من روى عن النبي – صلى الله عليه وسلم- أن الله خلق التربة يوم السبت، وغلط كعب الأحبار ومن قال بقوله في ذلك، وإنما ذلك من الإسرائيليات الباطلة. والله ولي التوفيق.

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.