Sikap Adil Ada Pada Semua Shahabat Nabi

Sikap Adil Ada Pada Semua Shahabat NabiSIKAP ADIL ADA PADA SEMUA SHAHABAT NABI

Pertanyaan: Baarakallahu fiikum wahai syaikh kami, pertanyaan ketiga di dalam pelajaran ini. Sang penanya berkata:

Baarakallahu fiikum,  salah seorang pengajar di Jami’ah berkata bahwa makna hadits ( …dan sunnah para khalifah ar rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku) yaitu jika para khalifah ar rasyidin bersepakat pada suatu perkara. Adapun jika ucapan salah satu khalifah saja maka itu bukan hujjah sampai seluruh khalifah itu bersepakat dan menyetujui perkara tersebut. Maka benarkah ucapan tersebut, baarakallahu fiikum, dan apa makna hadits ini ?

Jawaban (yakni dari Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah Al Jabiry hafidzahullah):

Ucapan ini salah. Dan orang yang mengucapkan ini bisa jadi dia bodoh dan bisa jadi dia suka main – main dalam dakwah.

Dan yang menjadi dalil kedustaan orang ini, sesungguhnya Utsman radhiyallahu anhu tatkala menetapkan  adzan pertama (yakni dalam sholat Jumat-pent) untuk mengingatkan orang – orang, maka kaum muslimin mengikutinya dan bersepakat atas keputusan itu. Mereka (para shahabat) tidak mencari Ali untuk menyetujui Utsman, tidak.

Maksud hadits itu ada dua:

Yang pertama, sesungguhnya Nabi sholallahu alaihi wa sallam memerintahkan hal itu berdasar wahyu Allah kepada beliau bahwasanya para khalifah radhiyallahu anhum – baik mereka sepakat semua atau sendirian – tidak akan pernah menyelisihi Sunnah Nabi sholallahu alaihi wa sallam dengan penyelisihan yang mengakibatkan perpecahan ataupun perselisihan.

Adapun jika terjadi perbedaan pendapat,  maka itu terjadi karena ijtihad. Seperti perbuatan Utsman radhiyallahu anhu yang tidak mengqashar sholat bersama orang – orang di Mina, maka orang – orang sholat di belakangnya dalam keadaan tidak setuju atas perbuatan itu. Tetapi Utsman seorang mujtahid, maka orang – orang memberinya udzur. Mereka tidak menyikapi Utsman seperti menyikapi orang kafir, tidak…

Demikianlah, contoh – contoh yang lain banyak. Maka pengajar Jami’ah ini bisa jadi dia bodoh, bisa jadi dia orang yang kacau, dia bukan orang yang benar.

Alih bahasa: Abu Mas’ud Surabaya hafizhahullah

Download Audio Di Sini

**************************

Sumber : http://ar.miraath.net/fatwah/10422

:السؤال

بارك الله فيكم شيخنا، السؤال الثالث في هذا الدرس، يقول السائل: بارك الله فيكم، قال أحد المُدَرِّسين في الجامعة أن معنى ((وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ بَعْدِي))أي إذا أجمعوا على أمر، أمَّا قولهم أحدهم فقط فليس بحجة حتى يُجمعوا ويوافقوه عليه؛ فما صحة هذا القول – بارك الله فيكم- وما معنى هذا الحديث؟

الجواب:

خطأ، وهذا إمَّا جاهل وإما لعَّاب، ودليل كَذِبه أنَّ عثمان – رضي الله عنه- لمَّا سنَّ الأذان الأول لتنبيه الناس؛ المسلمون تَبِعوه وأجمعوا على ذلك، ما طلبوا أن ينضم إليه عَلِيّ، لا، المقصود شيئان:

الأول:   أن النبي – صلَّى الله عليه وسلَّم- أمر بذلك لِمَا أوحى الله إليه أنَّ هؤلاء الخلفاء – رضي الله عنهم- سواء كان الجماعة منهم أو الفرد لن يخالف سنة النبي – صلَّى الله عليه وسلَّم- مخالفة توجب الفرقة أو توجب المباينة، وإن حصل خلاف فهو مِمَّا فيه اجتهاد كما فعل عثمان – رضي الله عنه- لَمَّا أتمَّ بالناس في مِنَى، فالناس صلَّوْا خلفه مع استنكارهم لكن هو مجتهد عذروه،لم يقوموا عليه قيام على كافر؛ لا، وهكذا، يعني الأمثلة كثيرة؛ فهذا إمَّا جاهل وإما مُلبِّس – أعني المدرِّس هذا- ليس بصحيح.

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.