SAMPAI KAPAN KITA MENASEHATI SESEORANG

SAMPAI KAPAN KITA MENASEHATI SESEORANG

(PERTANYAAN KEEMPAT)

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul hafizhahullah

Penanya: Sebagian orang menasehati seseorang sebanyak-banyaknya dan terus bersamanya hingga waktu yang lama, dia terus bolak-balik mendatanginya seakan-akan Allah mengkhususkannya untuk menangani orang itu saja. Apakah cara semacam ini termasuk amalan Salaf? Dan sebagian mereka ini kami jumpai terpengaruh dengan orang itu.

Asy-Syaikh:

Mereka terpengaruh dengan pihak yang menasehati?

Penanya: Dengan pihak yang dinasehati.

Asy-Syaikh:

Ya, nasehat bagi Allah, bagi Rasul-Nya, bagi Kitab-Nya, bagi pemimpin kaum Muslimin dan bagi mereka secara umum adalah dengan cara menjelaskan kebenaran kepada mereka dan mengingatkan mereka agar mewaspadai keburukan. Jadi seseorang jika dia menasehati orang lain, mengharapkan kebaikannya, serta mengharapkan rujuknya kepada kebenaran, maka tidak ada hal yang melarang untuk terus menasehati. Hanya saja, jika nampak tanda-tanda yang menunjukkan rasa tidak senang dari pihak yang dinasehati terhadap nasehat tersebut, atau nampak tanda-tanda dia ingin terus-menerus dalam menentang kebenaran, maka semacam ini tidak sepantasnya untuk terus menasehatinya, agar manusia tidak tertipu dengan pihak yang dinasehati tersebut dan menyangkanya di atas kebaikan.

Bahkan, jika pihak yang menasehati merasa bahwa pihak yang dinasehati terus-menerus dalam kebathilannya atau dia suka bermain-main atau pandai bersilat lidah dalam menerima kebenaran serta manusia bisa menyangka yang baik terhadap pihak yang dinasehati tersebut, maka dalam keadaan seperti ini wajib untuk memperingatkan manusia dari bahayanya agar mereka tidak terjebak dalam jerat-jeratnya.

Juga hendaknya setiap orang dari kita mengoreksi kembali niat dan keihlasannya dalam menyampaikan nasehat tersebut, apakah dia melakukannya ikhlas karena Allah dan dalam rangka menolong agama Allah Azza wa Jalla?! Ataukah dia melakukannya hanya karena kepentingan-kepentingan pribadi atau tujuan-tujuan dirinya sendiri, atau karena si fulan dan si alan yang memiliki kedudukan dalam hatinya?! Jika nasehat tersebut dilakukan semata-mata karena Allah, maka jika dia telah mengerahkan segenap kemampuannya dalam menyampaikan nasehat, namun dia tidak menjumpai sikap menerima pada pihak yang dinasehati, ketika itu hendaknya dia menghajrnya atau mentahdzirnya atau menjelaskan keadaannya kepada manusia dan tidak mendiamkan kebathilannya. Adapun jika nasehat tersebut dilakukan karena kepentingan-kepentingan lain, maka tidak diragukan lagi bahwa orang tersebut terjatuh pada hal-hal yang menyelisihi hakekat nasehat itu sendiri, wallahu a’lam.

Sumber artikel: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=108091

* Alih bahasa: Abu Almass
Jum’at, 25 Jumaadats Tsaniyah 1435 H

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.