Puasa Wanita Hamil Yang Disertai Pendarahan

PUASA WANITA HAMIL YANG DISERTAI PENDARAHAN

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz رحمه الله

Pertanyaan: Saya telah berpuasa Ramadhan sebulan lamanya, namun saya ragu bahwa 90 % puasa saya itu tidak diterima. Yang demikian itu terjadi karena di dalam perutku ada seorang janin dan saya mengalami pendarahan. Saat ini kesehatanku begitu lemah dan saya tidak mampu berpuasa. Apabila dahulu puasaku itu tidak sah, maka apa yang harus saya lakukan?

Jawaban:

Apabila wanita berpuasa saat tengah mengandung janin di dalam perutnya lalu ia mengalami pendarahan, maka puasanya itu tetap sah. Karena pendarahan yang dialaminya ketika tengah hamil tidaklah berpengaruh apapun, tidak teranggap sebagai darah haidh dan tidak pula sebagai darah nifas. Karena janin itu ada di dalam perutnya, maka darah itu bukanlah nifas dan bukan pula darah haidh. Karena mayoritas wanita hamil itu tidaklah mengalami haidh.

Dan menurut pendapat yang menyatakan bahwa wanita hamil itu terkadang mengalami haidh, maka mereka mempersyaratkan bahwa darah yang keluar itu harus dalam keadaan tetap sesuai dengan kebiasaannya yang pertama.

Apabila wanita yang mengajukan pertanyaan ini darahnya menjadi samar atasnya …. pendarahan yang terputus-putus, berbeda tidak sesuai dengan keadaan pertamanya dahulu yang ia lihat sebelum hamil, maka ini semua termasuk darah fasad (rusak), puasanya tetap sah, dan tidak ada kewajiban qadha baginya.

Dan segala puji hanya milik Allah. Karena darah yang keluar ketika wanita sedang hamil, kebanyakannya merupakan darah rusak, tidak teratur, terkadang bertambah dan terkadang berkurang, terkadang datang lebih awal dan terkadang datang lebih lambat, kondisinya berbeda-beda, maka yang demikian itu tidaklah teranggap.
Adapun bila dikirakan bahwa darah itu sesuai dengan keadaannya yang pertama sebelum ia hamil, sesuai dengan keadaannya, tidak berubah, datang sesuai dengan kebiasaannya, maka dikatakan oleh sebagian ‘ulama bahwa itu adalah darah haidh, wajib baginya duduk (tidak mengerjakan shalat) dan tidak berpuasa. Sebagaimana dikatakan oleh segolongan para ‘ulama.

Namun sebagian lainnya dari kalangan para ‘ulama memandang bahwa meskipun darah itu sesuai dengan kebiasaan dan keadaannya yang pertama (sebelum hamil), maka tetap saja tidak teranggap dan wanita hamil itu tidaklah mengalami haidh. Ini pendapat yang masyhur di kalangan para ‘ulama.

Dan kebanyakan wanita hamil itu hanyalah mengalami darah goncang, berubah-ubah, pendarahan yang tidak teratur, maka yang semacam ini tidaklah teranggap menurut seluruh para ‘ulama. Tidak perlu ditengok. Puasanya sah dan shalatnyapun tetap sah.

Namun pada keadaan ini wajib atasnya untuk tetap menjaga diri baik dengan kapas atau yang semisalnya. Dan wajib atasnya untuk tetap berwudhu setiap kali hendak shalat. Apabila telah masuk waktu shalat, ia berwudhu pada tiap kali shalat. Lalu ia menunaikan shalat dengan keadaannya yang suci meskipun darah itu masih saja keluar. Karena ia tengah diuji dengan perkara ini, sebagaimana seorang yang mengalami salisul baul (kencing yang terus menerus), atau juga seperti wanita yang mengalami istihadhah yang ia tidak dalam keadaan hamil. Keadaannya sama. Maka darah yang keluar bersamanya ini adalah darah fasad (darah rusak), tidak berpengaruh padanya. Akan tetapi ia harus beristinja (cebok) setelah masuk waktu shalat dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, lalu menunaikan shalat sesuai dengan keadaannya. Dan bila ia menjamak antara Zhuhur dan ‘Ashar, antara Maghrib dan ‘Isya, maka tidak mengapa. Hanya saja ia harus beristinja tiap kali hendak shalat? Ya. Apabila waktu shalat sudah masuk, ia beristinja lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian menunaikan shalat Zhuhur dan ‘Ashar dengan menjamak keduanya, Maghrib dan ‘Isya dengan menjamak keduanya sebagaimana Nabi ‘alaihish shalatu was salam telah mengajari sebagian shahabiyah. Dan bila bersamaan dengan itu, ia juga mandi ketika hendak shalat Zhuhur dan ‘Ashar dengan sekali mandi, demikian juga Maghrib dan ‘Isya dengan sekali mandi dalam rangka menjaga kebersihan dan kesegaran, maka ini baik karena itu dinasehatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi was salam kepada sebagian wanita yang mengalami istihadhah.

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/node/18689

Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

*********************************

[١٦]

صيام الحامل مع وحود نزيف دم

إنني صمت من رمضان الشهر كله، وأنا عندي شك تسعين في المائة أن صيامي غير سليم، حيث أن عندي جنين في بطني ومعي نزيف، وأنا الآن صحتي ضعيفة ولا أستطيع الصيام، فإذا كان لم يصح صيامي فماذا أفعل؟

إذا صامت المرأة وفي بطنها جنين ومعها نزيف دم فصومها صحيح، لأن هذا النزيف الذي معها وهي حامل لا يؤثر شيئاً، ولا يعتبر حيضاً ولا نفاساً؛ لأن الولد موجود في البطن فليس بنفاس وليس بحيض، لأن الغالب أن الحامل لا تحيض، وعلى قول من قال أن الحامل قد تحيض فيشترطون أن يكون الدم مستقيماً على عادته الأولى، فإذا كانت المرأة التي سألت عن هذا السؤال إنما دمها ملتبس عليها وت….. نزيف يتقطع ويختلف ليس على عادته الأولى القديمة التي تراها قبل الحمل، فهذا كله من الفساد، وصومها صحيح، وليس عليها قضاء الصوم، والحمد لله، لأن الدم الذي مع الحامل في الغالب يكون دم فاسد، مختل، يزيد وينقص، ويتقدم ويتأخر، يتنوع، فهو لا يعتبر. أما لو قدر أنه على حالته الأولى قبل الحمل، على حالته، لم يتغير يأتي على عادته، فهذا قال بعض أهل العلم: إنه حيض، وأن عليها أن تجلس وأن لا تصوم، قاله جماعة من العلماء، وذهب آخرون من أهل العلم إلى أنه ولو كان على عادته وعلى حالته الأولى لا يعتبر، وأن الحامل لا تحيض، هذا قول مشهور لأهل العلم، لكن الغالب أن الحامل أنما يأتيها دم مضطرب، متغير، نزيف لا يستقر له قرار، فهذا لا يعتبر عند الجميع، ولا يلتفت إليه، وصومها صحيح، وصلاتها صحيحة، وعليها في هذه الحالة أن تتحفظ بقطن ونحوه وتتوضأ لوقت كل صلاة، إذا دخل الوقت تتوضأ لكل صلاة، وتصلي بطهارتها ولو أن الدم لا يزال يخرج معها، لأنها مبتلاة بهذا الشيء، مثل صاحب السلس، سلس البول، مثل المستحاضة التي ليست بحامل، سواء سوا، فهذا الدم الجاري معها دم فساد، لا يضرها، لكنها تستنجي في بعد دخول الوقت وتتوضأ وضوء الصلاة، وتصلي على حسب حالها، وإذا جمعت بين الظهر والعصر، وبين المغرب والعشاء، فلا بأس. لكنها لا بد أن تستنجي عند كل صلاة؟ نعم، إذا دخل الوقت تستنجي وتتوضأ وضوء الصلاة، وتصلي الظهر والعصر جميع، والمغرب والعشاء جميعاً كما علم النبي بعض الصحابيات -عليه الصلاة والسلام-، وإذا اغتسلت مع ذلك عند صلاة الظهر والعصر غسلاً واحداً، والمغرب والعشاء غسلاً واحدا من باب النظافة والنشاط فهذا حسن، لأنه أوصى به النبي -صلى الله عليه وسلم- بعض المستحاضات من النساء

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.